
"'Huekkk...huekkk..." suara muntah seseorang.
" Mas, kok muntah lagi? " tanya Novia. Rupanya Boby yang muntah-muntah.
" Hueekkk...."
Novia memijit pelan tengkuk suaminya.
Setelah di rasa tidak ada yang keluar, Boby mengambil air untuk berkumur. Kemudian Novia memapahnya untuk ke ranjang. Tubuh Boby begitu lemas.
Setelah membantu Boby rebahan, Novia mengambil minyak kayu putih dan membalurkannya ke perut, dada, dan punggung Boby.
" Kita ke dokter ya? " ajak Novia.
" Kemarin kan aku udah ke dokter, Nov. " jawab Boby dengan suara yang lemah.
" Tapi keadaan kamu masih gini mas. Kita ke rumah sakit aja kalau gitu. " ajak Novia cemas.
Boby menggeleng.
" Bentar lagi juga baikan. Habis tidur bentar, pasti baikan. Kemarin dan kemarinnya lagi juga gitu. " ucap Boby lirih.
" Ya udah, kalau gitu, mas istirahat dulu. Aku masakin buat sarapan nanti. " ucap Novia sambil menyelimuti tubuh Boby.
" Sayang. " cekal Boby ketika Novia beranjak dari duduknya.
" Hm? "
" Buatin aku sup ayam bening. Sepertinya enak. "
" Iya. " jawab Novia mengangguk.
Kemudian dia pergi ke dapur untuk memasak dan membiarkan suaminya beristirahat.
Selang beberapa waktu, akhirnya sup request Boby telah siap. Novia masuk ke kamar untuk melihat apakah suaminya sudah bangun apa belum.
Novia membuka pintu kamar dengan sangat pelan, kemudian dia masuk.
" Sudah bangun, sayang? " tanya Novia.
Ternyata Boby sudah bangun. Dia sudah memainkan ponselnya sambil rebahan di tempat tidur.
Melihat istrinya memasuki kamar, Boby menoleh ke pintu dan tersenyum.
__ADS_1
" Sudah. " jawab Boby.
" Gimana? Masih mual dan lemes? "
Boby tersenyum kembali dan menggeleng.
" Seperti kemarin. Aku sekarang baik-baik saja. Sudah nggak mual. Juga sudah nggak lemes lagi."
" Beneran? " tanya Novia masih tampak cemas.
" Hm. Tapi kira-kira aku ini sebenarnya kenapa ya? Kemarin kata dokter, semuanya yang ada di tubuhku normal semua. Dia bilang aku ini sehat. Tapi kenapa setiap pagi aku selalu merasa mual dan lemes. Tapi kalau udah siangan, rasa itu hilang begitu saja. Bahkan aku belum meminum obat. " ucap Boby sambil berpikir keras.
Novia juga ikut berpikir. Kemudian terbersit sesuatu di dalam pikirannya.
" Selain merasa mual dan lemes, apa ada hal lain yang aneh yang terjadi sama kamu mas? "
" Misalnya? "
" Ya... mungkin kamu nggak tahan dengan bau-bau tertentu. Atau mungkin kamu tiba-tiba ingin makan sesuatu begitu? "
Boby nampak berpikir dan mengingat-ingat.
" Sepertinya iya. Di kantor, tiba-tiba aku nggak suka sama bau parfumnya si Andre. "
" Ha? " Novia terkejut senang melihat kalender. Dia tersenyum.
Boby bangun dari tidurannya, kemudian berjalan mendekati Novia.
" Kenapa dengan tanggal yang? "
Novia menggeleng. Dia belum mau berterus terang tentang kecurigaannya ke Boby.
" Tidak ada apa-apa. Mmm, mas, gimana kalau nanti sore kita ke dokter kandungan? " tanya Novia.
" Kenapa tiba-tiba ingin ke dokter kandungan. "
" Nggak pa-pa. Pengen periksa aja. Lama aku nggak ke dokter. " ucap Novia sambil memegang kedua pipi suaminya.
" Baiklah. Aku akan pulang cepat hari ini. " jawab Boby sambil mengelus pucuk kepala Novia yang tertutup kerudung dan mengecupnya singkat.
" Kamu mau ke kantor? Kan masih nggak enak badan. "
" Aku harus ke kantor hari ini. Ada beberapa pekerjaan yang harus selesai hari ini. Aku juga udah baik-baik aja sekarang. "
__ADS_1
" Ya udah, kalau gitu kita sarapan dulu. Sup ayamnya udah jadi. "
" Aku ganti baju dulu sekalian. "
" Bentar. Aku siapin. "
Kemudian Novia berjalan menuju ke almari dan mengambil satu setel baju kerja untuk Boby.
" Athar udah berangkat sekolah? "
" Udah. Tadi di jemput sama mas Candra. Katanya sekalian mau ke cafe. "
Boby mengangguk dan sambil berganti baju di bantu oleh Novia. Novia memakaikan kemejanya dan mengancingkannya. Dan tangan Boby melingkar sempurna di pinggang Novia.
" Beres. Sudah rapi. " ucap Novia sambil melihat penampilan Boby.
Boby mengecup puncak kepala Novia. " Terimakasih, sayang. I love you everyday and everytime. "
" I love you too. "
Mata mereka saling menatap dalam cinta. Membuat Boby mengarahkan bibirnya ke bibir Novia. Mengecupnya sekilas.
" Sarapan pembuka. " ucap Boby setelah melepas pagutan bibirnya.
" Mmm, ayo kita sarapan yang sebenarnya. " ujar Novia sambil tersenyum manis.
Kemudian mereka keluar dari kamar berjalan menuju dapur sambil bergandengan tangan.
Mereka melalui sesi sarapan dengan tenang. Boby tampak sangat menikmati sup ayam buatan istrinya.
" Sayang, apa kamu mengganti resep sup ayammu? " tanya Boby ketika dia telah menyelesaikan sarapannya.
" Tidak. Resepnya tetap sama. Emang kenapa? Apa tidak enak? " tanya Novia.
Boby menggeleng. " Supnya sangat... sangat istimewa. Ini sungguh lezat. "
" Makasih mas. Kamu selalu suka dengan masakanku. " jawab Novia.
Setelah selesai semuanya, Boby berpamitan untuk pergi ke kantor. Novia menemaninya sampai depan rumah. Seperti biasanya, dia mencium punggung tangan Boby, dan Boby mencium kedua pipi Novia.
Hari itu, Novia meminta Aksan untuk mengantar Boby ke kantor. Dia tidak membiarkan Boby menyetir sendiri. Meskipun Boby bilang baik-baik saja, tapi tetap saja dia cemas.
****
__ADS_1
bersambung