
Candra POV
Ibuku selalu saja mendesakku untuk segera menikah. Beliau mengatakan kalau usiaku sudah tidak muda lagi.
" Nak, kapan kamu mau menikah? " tanya ibuku .
" Bu, sudah berapa kali kita membicarakan hal ini. Jawaban Candra masih tetap sama. Candra belum berpikir hal itu. " jawabku.
" Candra, bapak sama ibu ini sudah tua. Kami juga ingin berkesempatan menggendong cucu. "
" Athar kan juga cucu ibu. Bukankah ibu sama bapak juga menyayangi Athar seperti cucu kalian sendiri? " tanyaku.
Yah, orang tuaku juga sangat menyayangi Athar. Mereka mengijinkan aku untuk menganggap Athar sebagai anakku. Orang tuaku adalah orang yang paling tahu bagaimana perasaanku terhadap Novia.
" Ibu tahu. Ibu juga sangat menyayanginya. Tapi dia kan bukan darah daging kamu. Ibu pengennya cucu dari kamu. "
" Bu..."
" Nak, Novia sudah bahagia dengan suaminya. Kamu nggak bisa terus menunggunya seperti ini. Kamu juga butuh kehidupan sendiri. Membangun rumah tanggamu sendiri. "
" Candra tahu itu Bu. Tapi Candra masih sulit untuk menghilangkan perasaan Candra buat Novia Bu. Candra takut, kalau Candra menikah tapi perasaan Candra masih bersama Novia. "
Ibu menghela nafas panjang.
" Candra, sekarang kamu pilih. Kamu masih mau ibu mengijinkan kamu untuk menganggap diri kamu sebagai ayahnya Athar, atau kamu lupakan Athar? "
" Maksudnya? " aku semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan ibuku.
" Ibu sudah memilihkan calon istri buat kamu. Kamu temui dia nanti. "
" Ah...! " aku berkacak pinggang sambil menengadahkan kepalaku. Pusing rasanya mendengar ucapan ibu barusan. Ibu menjodohkanku dengan seorang gadis. Apa ibu pikir aku tidak bisa mencari calon istriku sendiri. Ku elus dahiku.
" Ibu yakin dia akan menjadi istri yang baik. Dia gadis Sholehah. Ibu juga sudah menceritakan tentang kamu ke dia." tambah ibuku.
" Bu..." aku mencoba memprotes.
" Kamu pilih. Kamu mau sama gadis pilihan ibu, atau ibu akan menjauhkan kamu dari Athar. "
Ancaman paling menakutkan yang pernah ibu ucapkan. Aku paling tidak bisa kalau harus terpisah dari Athar. Anak itu sudah benar-benar aku anggap sebagai anakku sendiri. Darah dagingku sendiri.
" Baiklah Bu. Candra akan menemuinya. Candra akan memutuskan setelah Candra bertemu dengannya. " jawabku dan kemudian aku berlalu dari hadapan ibuku.
__ADS_1
Aku berencana akan menemui gadis itu sore ini sesuai dengan yang ibu inginkan. Aku akan mencoba mengenalnya. Apa benar gadis itu seperti yang ibu katakan.
••••
Sore harinya di sebuah restoran di kota Semarang. Aku duduk berhadapan dengan seorang gadis. Dia berhijab. Wajahnya terlihat begitu lembut. Sepertinya dia juga pemalu. Karena semenjak kedatanganku, dia bahkan hampir tidak pernah memandangku. Dia selalu menunduk.
" Halo. Kamu pasti sudah mengenalku bukan? " tanyaku.
Gadis di depanku ini hanya menjawab dengan anggukan.
" Nama kamu siapa? " tanyaku kembali.
" Aisyah Rahma. Panggil Aisyah saja. " jawabnya masih dengan menunduk.
" Oh, Aisyah. Kamu dari mana bisa mengenal ibuku? "
" Kami bertemu pertama kali ketika ada pengajian di kampung sebelah. Beliau sangat baik. "
" Oh...Lalu, apa yang ibuku ceritakan tentangku? "
" Hah? " dia nampak terkejut. Dia memandang ke arahku sebentar karena terkejut. Wajahnya manis. Dia juga lucu. Melihat ekspresi terkejutnya membuatku ingin tertawa.
Ketika menyadari kalau pandangan kami bertemu, Aisyah menundukkan kepalanya kembali.
Aisyah mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya karena aku yakin dia sedang gelisah saat ini.
" Apa kamu mau menerima perjodohan ini? "
Lama Aisyah tidak menjawab pertanyaanku yang ini.
Setelah beberapa saat akhirnya dia membuka suaranya. " Aisyah hanya menyerahkan semuanya sama Allah. Jika memang mas Candra adalah jodoh Aisyah, maka Aisyah akan menerimanya dengan ikhlas. "
" Apa kamu mencintaiku? "
" Terus terang, Aisyah belum tahu kalau soal itu. "
" Apa kamu mau menikah tanpa adanya cinta? "
" Kalau kita mencintai seseorang sebelum halal, maka Aisyah tidak akan melakukan itu. Aisyah takut dosa. Jadi Aisyah hanya akan mencintai seseorang yang sudah halal bagi Aisyah. "
Sungguh jawaban yang sangat tak terduga. Aku jadi speechless mendengar jawabannya.
__ADS_1
" Kalau memang kita di takdirkan berjodoh, maka aku,...akupun akan menjalaninya. " jawabku.
Tampak Aisyah menarik sudut bibirnya. Tapi kemudian aku melanjutkan kata-kataku, " Tapi sebelum itu, aku akan mengatakan dengan jujur, kriteria istri yang aku harapkan saat ini. "
Aisyah mengangkat wajahnya memandangku sebentar, kemudian menunduk kembali.
" Saat ini aku masih punya cinta untuk seorang wanita. Tapi, wanita itu saat ini haram untuk kumiliki. " aku menjeda kata-kataku untuk mengambil nafas dalam-dalam.
" Mungkin saat ini, cintaku terhadapnya masih sama dengan cintaku terhadapnya waktu pertama kali aku mengenal cinta. Karena dia adalah cinta pertamaku. "
Aisyah mengangguk meskipun dia terkejut dengan kejujuranku. Tapi dia berusaha menutupinya.
" Dan satu lagi yang harus aku katakan padamu. Saat ini aku mempunyai seorang anak laki-laki. Siapapun yang bersedia menjadi istriku, harus bisa menerima anakku seperti anaknya sendiri. "
Kali ini Aisyah tidak bisa lagi menutupi kekagetannya. Dia mendongak.
" Apa ibu tidak mengatakan ini kepadamu? "
" Tidak. " jawab Aisyah sambil menggelengkan kepalanya. " Setahuku mas Candra belum menikah. Bagaimana mungkin bisa mempunyai anak? Apa mungkin...???" Aisyah tidak melanjutkan kata-katanya.
Di luar dugaanku. Kupikir dia terkejut karena aku mempunyai anak karena aku telah menikah. Tapi sepertinya dia berpikir aku mempunyai anak di luar pernikahan. Sungguh polos sekali gadis ini. Membuatku ingin selalu tertawa.
" Hei. Aku memang belum menikah. Dan aku juga tidak pernah berzina. Anak itu adalah anak dari mantan kekasihku dan suaminya tentu saja. Tapi aku sangat menyayanginya seperti anakku sendiri. Panjang ceritanya kalau harus di ceritakan detailnya. "
Aisyah manggut-manggut mendengar penjelasanku.
" Hubunganku dengan mantan kekasihku, juga suaminya memang rumit pada awalnya. Tapi kini hubungan kami baik. Seperti saudara. Kami membesarkan anak mereka bersama-sama. Athar, anak yang sangat menggemaskan." ucapku sambil tersenyum membayangkan tingkah lucu Athar.
" Boleh Aisyah bertemu dengannya? "
" Siapa? "
" Athar. "
" Tentu. Kamu juga pasti menyukainya jika sudah bertemu dengannya. "
Aisyah tersenyum memandangku sebentar sebelum dia menunduk kembali.
Pertemuan kami hari itu berjalan dengan baik. Entah kenapa aku merasa Aisyah berbeda dengan gadis-gadis di luar sana. Tapi tetap saja Novia yang paling istimewa buatku.
Kamipun berjanji akan bertemu kembali dengan si gantengku Athar. Aisyah bilang, ingin berkenalan dengan Athar.
__ADS_1
****
bersambung