
Jleb!! Benar dugaan Candra tadi. Candra mengusap wajahnya kasar, kemudian menyender di senderan sofa dan tangan kanannya memegang dagunya. Tidak menjawab sama sekali permintaan Bu Vera.
" Tante memang sengaja meminta ijin nak Candra dulu untuk membawa menantu Tante. Karena bagaimanapun juga, nak Candra lah yang selama ini sudah menjaga dan merawat Novia. Rasanya kok tidak etis kalau tante langsung membawa Novia begitu saja. " tambah Bu Vera.
" Maaf bu. Bukannya saya melarang ibu membawa Novia. Karena bagaimanapun juga Novia adalah menantu ibu. Ibu lebih berhak atas Novia daripada saya. Tapi..." Candra menjeda omongannya sesaat untuk mengambil nafas panjang.
" Tapi terus terang berat bagi saya untuk melepas Novia. Bukannya saya sok atau bagaimana. Tapi memang saya yang paling tahu kondisi Novia juga anaknya. Saya merasa tidak bisa membiarkan Novia sama orang lain. "
" Tante ini ibu mertua. Berarti Tante ini ibunya. Bukan orang lain. "
" Maaf bu. Bukan begitu maksud saya. Saya hanya tidak yakin Novia akan baik-baik saja jika bukan dengan saya. "
Novia, bi Susi dan Remon hanya menjadi pendengar setia perdebatan dua orang yang ada di situ.
Sebenarnya Novia senang ada orang lain lagi selain Candra yang mau membantunya. Apalagi itu malah mama mertuanya. Novia merasa sangat tidak enak kepada Candra. Dia sudah sangat merepotkan Candra. Padahal Candra bukan siapa-siapa buat dia. Candra hanyalah sosok mantan kekasih. Selain itu, Novia juga merasa kalau Candra masih mengharapkannya. Sedangkan dia tidak bisa memberikan harapan kosong terhadap Candra.
Akhirnya Novia angkat bicara.
" Mas, bisa kita bicara berdua? " tanya Novia.
Candra beralih pandangan ke Novia. Dia mengangguk.
" Ma, sebentar ya. " ucap Novia ke Bu Vera sambil tersenyum lembut.
Dia bengun dari duduknya di bantu Bu Vera. Candra hendak membantunya juga, tapi dia masih kalah cepat dengan Bu Vera. Sebenarnya Bu Vera agak tidak rela kalau menantunya itu dekat-dekat dengan laki-laki lain.
" Makasih ma. " ucap Novia. Bu Vera mengangguk sambil tersenyum.
Novia beranjak berlalu dari ruang tengah. Diikuti Candra dari belakang. Sesampainya di dapur, Novia mulai berbicara dengan candra.
" Mas, tolong ijinin Novia ikut mama ya. " pinta Novia dengan sangat hati-hati.
Candra mengusap wajahnya kasar kemudian berkacak pinggang.
" Mas..." Novia memegang tangan Candra yang satunya.
" Nov tahu, mas Candra sangat mengkhawatirkan Novia. Novia terimakasih banyak untuk itu."
" Nggak dik. Mas nggak bisa ngebiarin kamu pergi dari sisi mas. Mas pasti akan sangat khawatir. "
" Iya mas. Tapi mama Vera juga punya hak atas anak ini. Jadi biarkan mama bertanggungjawab atas diri Novia sampai anak ini lahir. Biaya persalinan dan biaya untuk anak ini tidak sedikit mas. "
" Mas tahu itu. Tapi mas mampu membiayainya. Semuanya dik. "
__ADS_1
" Novia tahu mas. Tapi Novia yang tidak enak hati sama mas. Novia sudah banyak banget ngerepotin mas. Jadi ijinkan mama Vera ikut bertanggungjawab atas Novia dan cucunya ya mas. " bujuk Novia.
" Bagaimana jika suamimu tahu kamu ada sama mamanya? Kamu bisa anfal lagi dik. Dan mas nggak mau itu terjadi. Mas nggak mau kehilangan kamu. "
" Hidup dan mati itu Allah yang mengatur. Insyaallah jika memang Allah menghendaki Nov berumur panjang, maka hal itu pasti terjadi. Lagian tadi mama juga udah janji nggak akan membiarkan Novia bertemu sama mas Boby. Mama pasti pegang janjinya. "
Candra menunduk sambil meremas rambut bagian belakangnya.
" Mas, jika memang kita berjodoh, insyaallah Novia pasti kembali bersama mas. " imbuhnya.
Candra terlihat menghela nafas panjang dan berat. Seberat keputusan yang harus diambilnya.
Setelah terdiam beberapa saat, Candra meninggalkan Novia begitu saja tanpa sepatah katapun. Candra kembali ke ruang tengah, kemudian duduk di tempatnya yang tadi. Novia hanya bisa mengikutinya dari belakang dengan diam. Novia sudah pasrah apapun keputusan yang diberikan Candra, dia akan mengikutinya.
" Saya akan membiarkan ibu membawa Novia. Tapi ada syaratnya. " ucap Candra memecah keheningan yang ada di ruangan itu.
Wajah sumringah tercipta dari wajah Bu Vera.
" Apa nak syaratnya? "
" Pertama, saya mohon sama ibu, jangan melarang saya untuk selalu menghubungi Novia. Karena saya harus bisa memantau keadaannya. "
" Iya. Tante tidak akan melarangmu. "
" Pasti. "
" Dan yang ketiga, tolong jangan larang saya untuk bertemu Novia suatu saat nanti. Itu saja syarat dari saya Bu. "
" Iya. Tante terima persyaratan darimu. Tante akan selalu memberimu kabar tentang Novia. "
" Tolong jaga Novia dengan baik ya Bu. Jangan biarkan suaminya menyakitinya kembali. "
" Iya. Iya. " ucap Bu Vera sambil tersenyum hangat.
" Novia, ayo Mama bantu kamu siap-siap. "
" Ijinkan saya yang membantu Novia. Mungkin ini terakhir kalinya saya bisa membantu Novia. "
" Baiklah nak. "
" Ayo dik. " ajak Candra kepada Novia.
Kali ini dia yang membantu Novia bangkit dari duduknya. Kemudian mereka berjalan masuk ke kamar Novia.
__ADS_1
Di dalam kamar, Candra tidak membiarkan Novia ikut siap-siap. Dia melakukan semuanya sendiri. Novia hanya duduk di tepi ranjang sambil mengamati Candra yang sibuk mempacking baju-bajunya.
Setelah semua barang Novia selesai di kemas, Candra berjalan mendekat ke arah Novia yang saat itu sedang berdiri hendak membantu Candra.
Sampai di depan Novia, Candra bersimpuh di hadapan Novia, mensejajarkan kepalanya dengan perut Novia. Kemudian di elusnya pelan perut Novia.
" Nak, jaga mama kamu baik-baik ya. Maafkan ayah tidak bisa menemani kalian. Jangan nakal di perut mama ya sayang. Sampai ketemu lagi ketika kamu sudah lahir di dunia ini. Ayah sayang kamu nak. " bisik Candra di depan perut Novia yang seakan-akan dia sedang berbicara dengan bayi yang ada di kandungan Novia.
Novia yang masih bisa mendengar bisikan Candra, merasa terenyuh. Dia meneteskan air matanya.
Candra bangkit dari bersimpuhnya. Ketika dia kembali berdiri, dia melihat Novia yang menangis.
" Hey, jangan menangis. Kalau kamu nangis kayak gini, mas malah semakin berat buat lepasin kamu."
Novia menyeka air matanya.
" Makasih ya mas. Buat ketulusan mas selama ini. Terimakasih juga mas begitu sayang sama anak Novia. "
Candra tersenyum sambil mengangguk.
" Boleh mas peluk kamu sebagai salam perpisahan? " pinta Candra.
Novia tersenyum dan mengangguk. Kemudian Candra langsung memeluknya. Erat sekali pelukan itu. Seakan-akan tidak akan terlepas. Novia membalas pelukan Candra. Dan itu membuat Candra tidak dapat menahan air matanya.
Novia melepas pelukannya.
" Eh, kok malah jadi saling menangis. Kayak kita nggak bakal ketemu aja. " ucap Novia sambil tertawa dan menyeka air matanya.
Candra pun juga tertawa dan menyeka air matanya.
" Yuk, keluar. Kasihan mamamu lama menunggu. "
Merekapun keluar bersamaan. Bu Vera menyambut mereka dengan senyuman kasihnya. Candra menyerahkan koper Novia ke Remon.
" Novia pamit ya. Doa'in Novia supaya Novia baik-baik saja ya mas. " pamit Novia sambil menjabat tangan Candra.
Candra mengangguk, " Pasti. Mas pasti akan selalu mendoakanmu. Kapan-kapan mas akan nengokin kamu. Mungkin besok kalau kamu lahiran, mas akan nungguin kamu. "
Novia mengangguk sambil tersenyum. Kemudian mereka semua saling berpamitan.
****
bersambung
__ADS_1