
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Kini usia pernikahan Boby dan Novia sudah hampir tiga bulan. Hari-hari yang mereka jalani begitu indah.
Semakin hari hubungan mereka semakin dekat. Boby begitu pintar memanjakan Novia. Banyak hal ia lakukan untuk menarik simpati Novia.
Begitu juga Novia. Tanpa ia sadari, ia telah melakukan banyak hal yang membuat Boby semakin betah dan nyaman berada di sisinya. Dia menjadi tempat bersandar untuk suaminya. Menjadi tempat berkeluh kesah tentang banyak hal.
Kini hari-hari Novia sudah tidak begitu di sibukkan dengan pekerjaan rumah, karena pembantu Boby yang dulu minta cuti pulang kampung telah kembali. Sekarang Novia sudah tidak di perbolehkan mencuci baju dan membersihkan rumah lagi. Hanya memasak saja yang ia boleh lakukan. Karena semenjak menikah dengan dia, Boby merasa ketagihan dengan masakannya.
Novia juga jadi merasa tidak kesepian. Jika suaminya pulang kerja sampai larut malam atau meninjau proyek di luar kota, dia sudah ada teman ngobrol di rumah. Tapi Boby membuat peraturan, jika dia sudah di rumah, maka dia melarang bi Susi untuk ke rumah utama. Kecuali ada keadaan yang membutuhkan beliau.
Bi Susi sudah lama bekerja sama Bu Vera. Sudah semenjak Boby masih kuliah di Australia. Beliau dulu adalah pembantu di rumah Boby yang di Jakarta. Tapi beliau aslinya dari kota K. Karena beliau rumahnya paling dekat dengan rumah Boby yang di Semarang, maka Bu Vera menyuruhnya untuk ikut Boby.
Bi Susi orangnya keibuan dan baik hati. Oleh karena itu Novia suka sekali bercerita dengan beliau.
I love it when you call me senorita..
Ponsel Novia berbunyi. Entah sudah yang ke berapa kali ponsel itu berbunyi, tapi tidak di indahkan sama yang punya.
" Siapa mbak? Sudah bunyi dari tadi kok tidak di angkat." tanya bi Susi ketika mereka sedang sibuk memasak di dapur.
" Orang iseng kali bi. Biarin aja lah."
Sebenarnya Novia sudah tahu siapa yang menelepon. Tapi memang sengaja tidak dia angkat.
Candra yang menghubunginya. Sudah semenjak hampir dua bulan, Candra sering menelepon atau mengirim pesan. Tapi Novia tidak menghiraukannya. Karena dia tidak ingin kenangan masa lalunya menghalangi hati dan pikiran yang telah dia tata untuk sang suami.
Kini, sedikit demi sedikit, Boby telah memasuki hati dan pikirannya. Bunga-bunga cinta telah mulai bersemi di hatinya untuk sang suami. Novia bersyukur ternyata tidak sulit untuk membuka hatinya untuk Boby.
" Assalamualaikum..." suara seseorang membuyarkan lamunannya.
" Waalaikum salam. " jawab Novia dan bi Susi bersamaan.
Ternyata sang suami sudah pulang dari kantor. Novia segera menghampiri. Mencium punggung tangan sang suami dan mengambil jas yang ada di lengan suaminya. Itulah kebiasaan yang dilakukan Novia semenjak menikah. Boby merasa terharu dengan sikap istrinya.
" Kok sudah pulang mas jam segini?"
__ADS_1
" Kangen sama istriku yang cantik."
" Gombalanmu receh mas." Novia menanggapinya dengan santai.
Boby menampilkan senyum manisnya.
" Apa itu mas?" tanya Novia ketika melihat Boby menenteng tas.
Boby mengangkat tas tersebut.
" Biasa, kerjaan bulananmu."
" Lho, baru tanggal berapa ini mas? Biasanya kan akhir bulan. "
" Iya. Ini kan sudah mau akhir tahun. Biasanya kalau akhir tahun, akan ada libur. Jadi, semua pembukuan dan laporan akhir tahun apapun akan mulai di bereskan sekarang. Biar bulan depan pekerjaan tidak terlalu banyak. "
Novia manggut-manggut sambil mulutnya membentuk huruf o.
" Ya udah sini. Biar aku taruh di ruang kerjamu. Berarti lembur nih kita ntar malam." Novia mengambil tas dari tangan Boby.
" Oke. " Novia berlalu depan membawa jas dan tas yang berisi laporan keuangan ke ruang kerja Boby.
Semenjak Novia menjadi istri Boby dan tinggal di rumahnya, Boby mempercayakan laporan keuangan perusahaan konstruksinya untuk di periksa oleh Novia. Novia cukup jeli dalam memeriksa keuangan.
Bahkan Boby juga sering meminta bantuan Novia untuk menghitung budget proyek pembangunan ketika perusahaannya akan ikut tender. Dan apa yang di hitung Novia, semuanya tepat sasaran.
Sungguh beruntung Boby memiliki istri seperti Novia.
" Mau aku buatin minum apa? Kopi atau lemon tea hangat?"
" Kopi aja. Biar nggak ngantuk. "
" Oke. Kamu mandi dulu sana gih. Aku buatin kopi. Nanti baju gantinya aku siapin di tempat tidur. "
Boby mengangguk. Duh, senengnya punya istri yang perhatian kayak gini.
__ADS_1
Boby masuk ke dalam kamarnya dan mandi. Sedangkan Novia juga masuk ke kamar Boby beberapa saat setelah Boby masuk untuk menyiapkan baju ganti untuk Boby.
Setelah itu dia membuatkan Boby secangkir kopi dan di bawa ke taman belakang. Tempat favorit Boby.
Setelah kopi tersaji, nampak Boby keluar dari kamar menuju taman belakang dengan rambut yang masih menetes karena habis mandi.
" Makasih ya. " Boby menyeruput kopi.
" Nov, aku udah dari kemarin mau tanya ke kamu kok lupa terus. "
" Tanya apa mas?"
" Aku udah transfer uang bulanan dua kali ke kartu yang aku kasih ke kamu dulu. Kenapa tidak pernah kamu pakai? Bahkan uang yang ada di dalam kartu itu sebelum aku transfer uang bulanan, isinya masih utuh."
" Maaf mas. Tapi gajiku masih cukup untuk kebutuhanku."
" Nov, aku sudah pernah bilang, kamu itu tanggung jawabku. Semua kebutuhanmu, seharusnya aku yang mencukupi. Jika kamu punya penghasilan sendiri, lebih baik kamu simpan. Dan kamu ambil uang dari kartu yang aku kasih ke kamu. "
" Iya deh mas, iya... Besok aku habisin. "
Boby tersenyum mendengar jawaban dari Novia. Tidak mungkin Novia bakal habisin uang yang ada di kartu itu.
" Kamu nggak pingin beli baju baru, sepatu, atau tas gitu?"
" Nggak lah mas. Buat apa buang-buang duit. Kalau yang sudah ada masih pantas untuk di gunakan."
Boby geleng-geleng kepala. Istrinya memang luar biasa. Kalau perempuan lain pasti udah belanja terus ngabisin uang Boby.
" Udah ah bahas uangnya. Mending kita makan sekarang. Biar nanti habis sholat magrib kita bisa mulai mengecek laporannya. "
Novia bangkit dari duduknya menuju ke ruang makan dan Boby mengikutinya dari belakang.
****
bersambung
__ADS_1