Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
48. Rifa dan Remon


__ADS_3

Hari sudah hampir sore. Novia menunggu Boby menjemputnya. Tapi Boby tak kunjung datang. Apa mungkin Boby lupa kalau dia sudah berjanji akan menjemput istrinya.


Novia mengambil ponselnya yang sudah dia taruh di dalam tas. Dia memutuskan untuk menghubungi Boby terlebih dahulu.


Tut...Tut ..Tut...bunyi panggilan tersambung.


" Halo. "


" Assalamualaikum mas. "


Boby menjauhkan sedikit ponsel dari telinganya. Menengok siapakah yang menelepon. Karena suaranya mirip suara sang istri. Agak kaget dia membaca nama yang tertera di sana. Tumben istrinya menghubunginya terlebih dahulu.


" Waalaikum salam, Nov."


" Mas, jadi jemput nggak? Kalau nggak jadi jemput, aku naik grab aja. "


" Astaghfirullah...Aku lupa Nov. Sorry. Ini aku lagi meeting sama bagian perencanaan. Sekitar satu jam lagi baru selesai. Aku jemput kamu agak nanti ya. "


" Kalau nanti kemaleman mas. Aku naik grab aja lah. "


" Big no. Kamu nggak boleh naik grab. Kamu tunggu bentar, aku suruh Remon jemput kamu, terus kamu kesini. Kita pulang bareng, oke."


" Terserah kamu lah mas. Aku tunggu kalau gitu. "


Panggilan diakhiri. Novia kembali ke rumah. Karena menunggu Remon menjemputnya akan memakan waktu agak lama.


" Suamimu belum jemput, Nov?" tanya pak Samsul ketika bertemu Novia di ruang makan.


" Belum pak. Mas Boby masih ada meeting. Ini nanti Remon yang jemput. " jawab Novia sambil mendudukkan dirinya di kursi makan.


Novia menyomot tempe goreng yang tadi di goreng ibunya.


Setengah jam kemudian, Remon tiba.


" Assalamualaikum..." sapa Remon.


" Waalaikum salam. Eh, bang Remon. Bentar bang. Bang Re masuk aja dulu." jawab Novia


" Iya, mbak. " Remon masuk ke dalam rumah.


Baru dia akan mendudukkan dirinya di sofa, dia teringat kalau ponselnya tertinggal di mobil. Dia tidak jadi duduk. Dia hendak kembali ke mobil saat dia tertabrak seseorang.


" Au...au...au..." Rifa memegang dahinya.


Remon terkejut karena ada cewek cantik yang tiba-tiba masuk ke halaman rumah Novia menabraknya karena terlalu asyik melihat ponselnya.


" Kalau jalan, matanya buat lihat jalan neng. Jangan ke hp. "


Rifa spontan mendongakkan kepalanya sambil masih mengelus jidatnya.


" Omo...omo... Oppa!" teriak Rifa terkejut melihat siapa yang ada di depannya.


" Saya masih muda kali neng. Belum opa-opa."


" Ish. Maksud saya Abang. Oppa itu kakak tampan artinya. Bukan kakek. Tadi saya pikir saya nabrak tembok. Eh, ternyata abang ganteng." ucap Rifa konyol.


" Oh. Neng ini kebanyakan nonton drama Korea ya."


" Eehh, kok Neng. Namanya saya bukan Neng Abang... Kenalan dulu deh." Rifa mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Remon. Remon menerima jabatan tangan Rifa.


" Rifalia Sukmajaya. Panggil aja Rifa. "


" Remon Ahmad. Panggil aja Remon."

__ADS_1


" Abang Remon, mau ketemu siapa di sini?"


" Mau jemput mbak Novia. "


" Lho, mbak Nov di sini? Sejak kapan? Aku nggak di kasih tahu. Aku kan kangen banget sama dia. "


Rifa langsung berlalu masuk ke rumah mencari Novia. Melupakan seseorang yang terbengong di sana karena baru aja dia mau menjawab pertanyaan Rifa, eh malah yang bertanya sudah ngacir duluan.


" Mbak Nov...mbak....mbak Nov...." teriak Rifa memanggil Novia.


" Rifa .. ngapain teriak-teriak??"


" Mbak Nov..." Rifa langsung menghambur memeluk Novia. " Rifa kangen..."


Novia membalas pelukan Rifa. Novia memang sangat dekat dengan saudara-saudaranya. Apalagi Rifa ini. Rifa ini kalau sudah di samping Novia, kolokannya pasti keluar.


" Ya Allah Rif...kayak satu tahun nggak ketemu. "


Rifa melepas pelukannya. Dia bergelayut di lengan Novia tatkala Novia berjalan keluar menuju ruang tamu. Ternyata Remon juga sudah duduk di sofa. Sampai Novia duduk di sofa, Rifa masih bergelayut di lengannya. Melihat pemandangan itu membuat Remon geli.


" Kamu ini masih sama kayak dulu. Kamu ini udah besar lho. Udah kuliah semester empat. Udah pinter pacaran. Masih aja kayak anak kecil gini."


" Biarin. Cuma sama mbak Nov aja kok. Nggak ada yang lihat. "


" Tuh...ada yang lihat. " tunjuk Novia ke Remon.


" Astaghfirullah hal adzim..Lupa aku kalau ada oppa di sini. " Rifa bergegas memperbaiki duduknya dan melepas tangannya dari lengan Novia.


" Udah terlanjur lihat kali Rif."


Rifa hanya nyengir kuda. Remon hanya melihat komunikasi antara Novia dan saudaranya itu sambil tersenyum kecil.


" Mbak Nov udah mau balik ?"


" He'em." Novia mengangguk.


" Aku disini udah dari kemarin siang. "


" Loh, kok aku nggak tahu. Mbak Nov kok nggak kasih tahu. Aku kan kangen pingin cerita-cerita." ucap Rifa sambil memainkan kuku jarinya.


" Tiap malam juga chat terus. Udah cerita-cerita juga. "


" Ihhhh, beda lah. Asyik kalau ketemu langsung."


" Mau curhat apa? Dapat gebetan baru? Baru juga dua bulan. "


" Ishhh....mbak Nov ini. Jangan buka kartu kenapa? Malu tuh sama Abang ganteng." Rifa pura-pura cemberut.


Remon semakin melebarkan senyumnya melihat ekspresi berubah-ubah di wajah Rifa. Lucu juga ni cewek. Cantik lagi. Ah, mikir apa gue ini. Gumam hati kecil Remon.


" Mbak, kita berangkat sekarang? Mungkin sebentar lagi meeting pak bos udah selesai. " ucap Remon sambil melihat jam tangannya.


" Ya udah, yuk." Novia beranjak berdiri.


" Yah, mbak Nov. Kapan lagi kesini?"


" Belum tahu. Kenapa nggak kamu aja yang kerumahku?"


" Boleh... boleh..." Rifa mengacungkan jempolnya. " Eh, tapi aku nggak tahu rumahmu di mana mbak."


" Kalau itu tenang aja. Kamu tinggal telepon aku. Aku akan minta tolong bang Re buat jemput kamu. "


" Oke banget kalau itu. Apalagi yang jemput Abang ganteng."

__ADS_1


Novia hanya menggeleng melihat tingkah Rifa. Kemudian Novia segera berpamitan dengan bapak dan ibunya.


•••


" Yang tadi itu adiknya mbak Novia?" tanya Remon ketika mereka sudah dalam perjalanan ke kantor Boby.


" Iya. Dia adik sepupuku. "


" Kadang konyol juga. "


" Yah, begitulah si Rifa. Kadang kalau sifat konyolnya udah keluar wah, bisa sampai ribet."


Remon tersenyum. " Sepertinya dia deket banget sama mbak Novia."


" Iya. Sudah dari kecil kita deket. Walaupun usianya sama aku terpaut 6 tahun, tapi kadang pemikiran kami sejalan. Makanya dia seneng banget curhat apapun sama aku. "


I love it when you call me senorita..


Ponsel Novia berbunyi. Segera dia mengambilnya dari dalam tas.


" Assalamualaikum mas. "


" Aku udah selesai meeting. Kamu kok belum sampai sini?"


" Iya mas bentar lagi nyampek."


" Aku tunggu." panggilan di akhiri.


Tak lama kemudian mereka sampai di depan kantor Boby. Terlihat Boby sudah menunggunya di lantai dasar. Setelah melihat mobil yang membawa sang istri tiba, Boby segera beranjak menyusul Novia di depan kantor.


Remon keluar terlebih dulu dari mobil. Baru aja Novia melepas seatbelt nya, dan akan keluar dari mobil, terasa seseorang masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi. Novia menoleh, dan mendapati Bobylah yang duduk di sana.


" Mas Boby..."


" Nggak usah turun. Kita langsung pergi makan baru setelah itu kita pulang."


Boby membantu Novia memasang seatbeltnya kembali. Kini jarak antara mereka begitu dekat. Sengaja Boby memperlambat gerakannya. Supaya dia bisa berlama-lama berada sedekat ini dengan istrinya.


Deg...deg...Deg...bunyi jantung Novia.


Setelah seatbelt terpasang, ' cup ' sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Novia. Secara spontan Novia memandang ke arah Boby. Dan 'cup' kini satu kecupan lagi mendarat di kening Novia.


Novia masih tak bergeming setelah mendapat dua kali kecupan dari Boby. Boby melihatnya dengan tersenyum, dan dia membiarkan Novia tetap terbengong, dia menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya.


" Modus ya mas." protes Novia ketika kesadarannya kembali.


Boby menanggapi dengan tersenyum sambil melirik Novia dan mengusap ujung kepala Novia yang tertutup kerudung dengan tangan kirinya.


" Habisnya kangen. " jawab Boby singkat.


Novia menatap keluar jendela sambil tersenyum. Hatinya berbunga-bunga mendengar jawaban Boby.


" Tadi kenapa lama?" tanya Boby.


" Tadi pas mau berangkat, ada sedikit drama. Biasa mas Miss drakor merajuk karena aku pulang, tapi nggak kasih tahu dia. "


Boby kembali tersenyum.


" Kamu meeting kok sampai sore gini. "


" Iya. Aku mau ikut tender beberapa minggu lagi. Tender besar. Pertama kalinya aku akan mengikuti tender seperti ini. Pesaingku kontraktor yang berkelas semua. Doa'in ya. Aku dapat tender itu. "


" Pasti aku doa'in. "

__ADS_1


****


TBC


__ADS_2