Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
Jodoh Candra


__ADS_3

Sore itu aku dan Aisyah kembali bertemu. Kami bertemu di cafe ' Alisy ' milikku. Aku mengajak Aisyah berbincang di dalam ruang kerjaku.


Saat memasuki ruang kerjaku, Aisyah agak terkejut melihat seorang anak kecil sedang asyik bermain di sana. Yah, Athar. Sore itu aku menjemput Athar di rumahnya dan mengajaknya jalan-jalan.


" Siapa anak ganteng ini? " tanya Aisyah sambil berjalan menuju tempat Athar bermain.


" Dia anakku. " jawabku.


" Athar? " tanya Aisyah sambil memandangku sekilas.


Ku jawab pertanyaan Aisyah dengan anggukan. Ku lihat wajah Aisyah berbinar. Sepertinya dia menyukai Athar.


" Halo, ganteng. " sapa Aisyah kepada Athar.


Athar mendongak memandang Aisyah, kemudian tersenyum. Aisyah ikut duduk di tempat area Athar bermain. Sengaja aku membuat tempat khusus bermain untuk Athar di ruanganku supaya dia betah jika sedang kuajak ke cafeku.


" Lagi main apa? "


" Ikin yumah. " jawab Athar dengan bahasa khasnya.


" Ooo, bikin rumah-rumahan. Pinter banget sih. Wah, rumahnya bagus banget. " ujar Aisyah kagum dengan hasil karya Athar. " Dia yang buat ini mas? " tanya Athar kepadaku.


" Iya. Sudah beberapa hari dia membuat itu. Dan hari ini terlihat hasilnya. Sepertinya dia mengikuti jejak papanya. " jelasku.


" Memang apa pekerjaan papanya? "


" Papanya seorang kontraktor. Dia seorang arsitektur. "


" Oooo..." jawab Aisyah manggut-manggut.


" Aku keluar sebentar. Titip Athar ya. "


Aisyah mengangguk. Akupun keluar dari ruanganku. Aku pergi ke dapur cafe dan meminta chefku untuk membuatkan makanan untukku, Aisyah, juga makanan kesukaan Athar.


Kemudian aku pergi ke kasir sebentar. Mengecek catatan yang di buat oleh pegawaiku. Setelah memberi instruksi ke beberapa pegawaiku, aku kembali ke ruang kerjaku.


Saat aku membuka pintu ruanganku, aku agak terkejut dengan pemandangan yang aku lihat. Aisyah sedang duduk di sofa sambil memangku Athar sambil menyenandungkan sholawat.


Ku lihat Athar tertidur pulas dalam pangkuannya. Si kecilku terlihat sangat nyaman berada dalam pangkuan Aisyah.


Baru kali aku melihat Athar merasa nyaman dengan seorang wanita selain Novia. Apa benar pilihan ibu ini? Apa aku harus mencoba membuka hatiku untuk Aisyah? Jika memang Aisyah bisa menerima semua kekuranganku, mungkin aku memang harus berusaha menerima dia.


Ku tutup pintu ruanganku yang membuat Aisyah terkejut dan menoleh ke arahku. Dia menaruh jari telunjuknya di bibir, memberiku isyarat untuk tidak membuat suara. Aku mengangguk dan tersenyum.


" Sepertinya dia kecapekan bermain. " ucap Aisyah dengan suara lirih sambil mengelus pipi Athar lembut.


Aku mendekatinya untuk mengambil alih Athar dari pangkuannya.

__ADS_1


" Biar dia di sini aja. Kasihan kalau di angkat. Dia baru saja tertidur. " larang Aisyah.


" Nanti kamu capek. Biar dia tidur di pangkuanku aja. "


Aisyah menggeleng, " Nggak pa-pa. Aku suka. "


Akhirnya aku biarkan Athar tetap dalam pangkuan Aisyah. Aku mendudukkan diriku di sofa depan sofa yang di duduki Aisyah.


" Sepertinya kamu menyukai anak kecil. "


Aisyah mengangguk masih sambil menatap Athar.


" Aku suka anak kecil. Apalagi Athar. Dia lucu sekali. Ganteng lagi. Mama papanya pasti juga cantik dan ganteng. "


" Kamu benar sekali. Papanya seorang laki-laki yang tampan. Bahkan sangat tampan sehingga Novia tidak mau meninggalkannya untuk kembali bersamaku. "


" Kalau boleh Aisyah tahu, kenapa mas Candra dan mamanya Athar bisa berpisah? "


" Panjang ceritanya. Apa tidak apa-apa jika aku menceritakannya? Bukankah hanya akan membuatmu sakit hati? "


Aisyah tersenyum. Kemudian menggeleng.


" Mas, kita belum memulai apapun. Aku hanya ingin mendengar banyak tentangmu. Bukankah itu awal yang baik? Jikalau kita tidak berjodoh, kita tetap bisa menjadi teman baik. "


Sungguh mulia hati Aisyah ini. Mungkin sebaiknya aku menceritakan saja sejarahku dengan Novia. Jika memang dia bisa menerimanya, maka aku akan berusaha membuka hatiku untuknya.


" Jadi, apa nama cafe ini adalah nama belakang mbak Novia? "


" Iya. Awalnya aku membuat cafe ini karena aku tahu, Novia sangat menginginkan mempunyai sebuah cafe. Kemudian aku membuatnya, dan berencana akan ku berikan ketika aku melamarnya. Tapi ternyata aku keduluan papanya Athar. " jawabku tersenyum miris.


" Apa mbak Novia mengetahui tentang cafe ini? "


" Aku memberitahunya. Ketika aku membawanya pergi di waktu dia bermasalah dengan suaminya. Aku mencoba melamarnya. Awalnya aku yang kepedean tentang perasaan Novia. Aku kira Novia masih mencintaiku. Tapi aku salah. Hati Novia telah berubah. Hatinya telah menjadi milik suaminya seutuhnya. Akhirnya aku merelakan Novia kembali bersama dengan suaminya karena aku tahu, Novia akan bahagia bersama suaminya."


" Kamu hebat mas. Bisa ikhlas merelakan mbak Novia bersama laki-laki lain. Bahkan kamu masih tetap bisa berada di dekat mereka. Itu pasti sangat menyakitkan. "


" Mungkin kamu benar. Tapi entah kenapa aku baik-baik saja dengan itu. Bagiku, bisa tetap dekat dengan Athar, sudah suatu kepuasan. Anak itu sudah menempati tempat tersendiri di hatiku. Bahkan sebelum dia lahir ke dunia ini. "


Aisyah manggut-manggut mendengar penjelasanku.


" Apa setelah mendengar kejujuranku ini, kamu berubah pikiran Aisyah? "


" Maksudnya? "


" Apa kamu akan menolak keinginan ibuku yang ingin menjodohkan kita? " tanyaku hati-hati.


" Kalau memang kita berjodoh, aku tidak keberatan dengan masa lalumu. Semua orang pasti punya masa lalu. Jujur, Aisyah malah senang jika bisa berjodoh dengan mas Candra. Karena Aisyah yakin, dengan melihat cinta mas untuk mbak Novia, maka mas Candra akan bisa menjadi lelaki yang setia. Menjadi istrimu, akan menjadi suatu keberuntungan untukku. "

__ADS_1


" Benarkah? "


" Aisyah yakin itu. Suatu saat, jika mas Candra bisa mencintai Aisyah, maka cinta mas Candra akan seperti cinta mas Candra untuk mbak Novia. Cinta yang setia. "


" Apa kamu yakin, aku bisa mengubah pemilik dari hatiku? "


" Insyaallah. Semua itu berasal dari hati mas sendiri. "


" Lalu, bagaimana denganmu? Apa kamu juga bisa mencintaiku? "


" Insyaallah. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan berkehendak. Kalau memang kita berjodoh, kita akan berusaha untuk saling mencintai. "


" Baiklah. Sepertinya aku menyukai cara pandangmu. Apa kamu mencobanya denganku? "


" Maksudnya mas? "


" Apa kamu mau menjadi kekasihku? "


" Aisyah minta maaf mas. Aisyah takut dosa. Aisyah tidak ingin menjalin hubungan dengan lawan jenis jika bukan hubungan yang halal. "


Aku menghela nafas panjang. Bismillahirrahmanirrahim. Ku ucap doa dalam hatiku.


" Jadi, apa kamu mau menjadi istriku? Dengan segala kekuranganku? Apa kamu mau membantuku untuk mengubah arah hatiku? " tanyaku dengan hati-hati.


Aku melihat wajah Aisyah merona. Dia menunduk. Aku menunggu jawaban darinya.


Aisyah tampak menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dia mengangguk.


Tanpa sadar, kedua sudut bibirku melengkung ke atas. Hatiku terasa sejuk.


" Terimakasih, Aisyah. "


" Kita akan mencobanya bersama-sama. "


" Iya. Aku akan segera menemui kedua orang tuamu untuk melamarmu. Tapi, apa tidak masalah buatmu jika Athar tetap menjadi anakku? Tetap memanggilku ' ayah ' ? "


" Tidak masalah. Aku juga menyukainya. Dan dia juga akan memanggilku ' ibu ' nantinya. Jika mbak Novia dan mas Boby tidak keberatan tentunya. "


" Aku yakin, mereka tidak akan keberatan. Aku akan mengenalkanmu dengan mereka. "


Aisyah mengangguk dan tersenyum lembut. Senyuman Aisyah selembut senyuman Novia dalam pandanganku.


Candra POV end


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2