
" Kamu kerja part time di sini mas? " tanya Novia setelah menenggak habis juice jambu milik Candra.
Candra tersenyum. " Kedai ini milikku. "
" Punya mas? " tanya Novia memastikan.
Candra mengangguk.
" Sejak kapan mas punya kedai ini? Kok Nov nggak pernah tahu? "
" Sudah lumayan lama. Ketika mas kerja di pabrik dulu, mas sudah mulai merintis kedai ini. Maaf kalau mas belum memberi tahu kamu. Rencananya, mas mau kasih kejutan saat ulang tahunmu beberapa bulan yang lalu. Yah, sekalian mas mau melamar kamu. " Candra sedikit menunduk untuk menghilangkan kegugupannya.
" Mas.." Novia mengernyit belum mengerti arah pembicaraan Candra.
" Mas, akan cerita. Tapi dik Nov janji, jangan terlalu di pikirkan ya. Anggap saja mas sedang curhat sama sahabat mas. "
Novia mengangguk.
Candra tersenyum sebelum melanjutkan ceritanya. " Dik Nov ingat, dulu pernah bilang sama mas, kalau dik Nov pengen punya usaha sambilan. Mempunyai sebuah kedai. Diam-diam mas mulai merintis bisnis ini. Mas dulu berharap, ketika kita menikah, maka bisnis ini akan kita jalankan berdua. Dik Nov pasti bertanya-tanya kenapa namanya Alisy cafe kan? "
Candra kembali tersenyum. " Karena mas mendirikan bisnis ini untuk kamu, jadi mas kasih nama, nama kamu. "
" Bentar... bentar...mas bilang menikah? Melamar? Novia tidak mengerti. Bukankah mas selalu menolak kembali sama Novia?"
" Mas minta maaf kalau mas selalu bilang tidak bisa kembali. Sebenarnya bukan itu yang ada di hati mas. Mas berniat untuk menikahimu. Tapi takdir berkata lain. Sekarang dik Nov sudah jadi istri orang lain. Jadi, sudah tidak usah di bahas saja. Nanti malah jadi baper. " Candra tertawa ringan.
Novia tersenyum. " Sekali lagi, maafkan Novia ya mas. "
" Mas tadi bilang, jangan di pikirkan. Oh iya, karena dik Nov udah sampai di sini, maka dik Novia harus mencicipi menu di sini. Oke..."
" Tapi mas..Nov..."
" Eits... tidak ada penolakan. Sebentar. Mas ambilkan buku menunya. Sepertinya mas masih menyimpan buku menu di sini. " potong Candra sambil berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya untuk mencari buku menu.
" Ini dia. " Candra menemukan buku menu yang di carinya. " Ayo pilih. Kamu mau makan apa?"
Novia menerima buku menu itu. Kemudian membukanya. Ketika matanya melihat gambar ayam bakar dengan sambal cabe hijau, tiba-tiba Novia menelan liurnya.
Novia menunjukkan gambar itu ke Candra.
" Kamu mau ayam bakar ini?" tanya Candra.
__ADS_1
Novia mengangguk. " Sama sambalnya ini. "
Candra mengangguk sambil tersenyum melihat ekspresi wajah Novia yang seperti anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu.
Kemudian Candra keluar untuk menyiapkan makanan yang di inginkan Novia. Dia memasak makanan yang di inginkan Novia sendiri. Karena dia ingat, Novia tidak suka masakan dari chef.
Setelah hampir setengah jam, akhirnya makanan yang di pilih Novia jadi. Candra segera membawanya ke ruang kerjanya.
Novia sedang merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruang kerja Candra ketika Candra masuk.
" Makanan siap. Ayo makan. "
Candra menaruh piring di atas meja, kemudian mengambil sendok dan menyendok nasi juga ayam bakar. Candra berniat menyuapi Novia. Tapi Novia menolak.
" Novia makan sendiri aja mas. " Novia hendak mengambil sendok yang ada di tangan Candra. Tapi Candra menjauhkan sendok itu dari jangkauan Novia.
" Mas suapi. Mas nggak yakin kamu makan jika pakai tangan kamu sendiri. "
" Sama aja mas. Nov palingan juga muntah. "
" Belum di coba kan. Mas yakin, kalau mas yang suapi, pasti nggak pengen muntah. Hem?"
" Hem?" Candra mengarahkan sendok itu ke depan mulut Novia.
Novia menggeleng. " Nggak mau pakai sendok. Pakai tangan langsung. "
Candra tersenyum mendengar permintaan Novia. Dia bangkit dari duduknya, pergi ke wastafel yang ada di ruangannya, untuk mencuci tangan. Setelahnya dia kembali duduk di sofa di depan Novia duduk.
Dia mengambil nasi sambal, juga ayam bakar dari piring menggunakan tangannya dan mengarahkan ke mulut Novia. Novia membuka mulutnya.
Suapan pertama masuk ke dalam perut dengan aman. Begitu juga dengan suapan kedua dan seterusnya sampai nasi di piring habis tak bersisa.
Candra tersenyum puas melihat Novia bisa menghabiskan nasinya tanpa merasa mual di perutnya.
" Benar kan yang mas bilang? Kamu tidak memuntahkan makananmu kalau di suapi sama mas?"
Novia mengangguk sambil tersenyum canggung.
" Kalau begitu, mulai besok, sepulang dari bekerja, minta Remon nganterin kesini. Mas suapi kamu. Biar bayimu juga mendapat nutrisi dengan baik. " Candra mengusap kepala Novia dengan tangan kirinya sambil berdiri untuk mencuci tangannya.
Novia tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
" Bibi kok lama ya belanjanya? Ini udah mau sore. "
" Coba kamu telepon saja. "
Novia kemudian mengambil ponselnya dan menelepon bi Susi.
" Assalamualaikum bi. "
" Waalaikum salam mbak. "
" Bibi udah selesai belum belanjanya? Kok lama banget bi. "
" Bibi udah selesai dari tadi. Ini bibi udah di cafe ' Alisy'" bi Susi sengaja menekankan nama Alisy untuk menggoda Novia sambil tersenyum.
Bi Susi sadar betul bahwa Candra sangat mencintai Novia. Pertama kali melihat nama cafe itu, bibi yakin kalau itu adalah salah satu ungkapan rasa sayang Candra untuk Novia.
" Bibi. Kenapa nggak nyusul Novia bi. Ya udah, Novia keluar sekarang. "
Panggilan di akhiri.
" Mas, bibi sudah ada di depan. " ucap Novia sambil membereskan tasnya.
" Ya udah, yuk kedepan. "
Mereka berjalan beriringan keluar dari ruangan Candra. Sebenarnya banyak para pegawai Candra yang berbisik-bisik membicarakan Novia dan Candra. Mereka bertanya- tanya siapakah perempuan hamil yang di bawa bosnya itu ke dalam ruangan. Karena setahu mereka, bosnya itu belum menikah.
" Bibi, Remon... Sudah dari tadi?" tanya Candra.
" Lumayan mas Candra. Nih, sudah habis satu gelas. " jawab Remon menunjukkan gelas yang sudah kosong.
" Kok tidak di suguhi makan?" Ucap Candra sambil mencari pegawainya yang sedang tidak melayani pembeli.
" Sudah mas Candra. Tidak usah. Terimakasih. Sudah sore. Kita harus segera pulang. Takutnya mas Boby sampai di rumah duluan. " jawab bibi.
" Ayo Bi." ajak Novia.
Kemudian mereka saling berpamitan dan meninggalkan cafe itu.
****
bersambung
__ADS_1