
Berani-beraninya dia. gumam Boby sambil mengepal tangannya.
Segera dia berjalan dengan langkah lebar mendekati istrinya. Secepat kilat dia meraih tangan Novia yang berpegangan pada lengan dokter Sigit.
Novia dan dokter Sigit terkejut dengan kehadiran Boby yang tiba-tiba. Di tambah lagi tatapan horor dari mata Boby.
" Terimakasih sudah membantu ISTRI saya. " ucap Boby dengan menekan kata istri dalam ucapannya.
" Oh, sama-sama bapak. Kalau pak Boby sedang ada urusan, bilang saja sama saya. Saya dengan senang hati menemani dan membantu ISTRI bapak. " jawab dokter Sigit dengan menekan kata istri juga dalam ucapannya.
Sepertinya dokter Sigit sengaja membuat Boby kesal. Ada rasa puas melihat Boby yang seperti kebakaran jenggot melihat istrinya bersama dengan laki-laki lain. Dokter Sigit tersenyum geli dalam hati.
Penampilan suami Novia berubah. Kalau seperti ini, dia jadi terlihat jauh lebih muda. Benar juga kalau aku kalah cepat mendapatkan Novia. Awas saja kalau sampai dia lengah sedikit. batin dokter Sigit.
" Pfft.." Novia menahan tawa mendengar ucapan dokter Sigit dan melihat wajah suaminya.
Kini ganti Boby yang menatapnya dengan tatapan horor. Novia langsung mengalihkan pandangannya.
" Ayo kembali ke kamar. " ajak Boby dengan nada agak ketus.
Boby mulai menggandeng Novia. Dia memegang bahu Novia.
" Dokter, terimakasih banyak sudah menjadi teman ngobrol. " ujar Novia dengan senyum manisnya.
" Sama-sama ibu Novia. " jawab dokter Sigit dengan senyum yang tak kalah manisnya.
Boby mengajak Novia berjalan menuju ke kamar yang ada di lantai delapan. Selama perjalanan tidak ada yang membuka suara sama sekali.
Sesekali Novia melirik ke wajah suaminya. Sebenarnya dia juga terkejut dengan penampilan Boby. Sepertinya Boby habis dari salon. Rambutnya sudah pendek dan rapi, jambang dan kumis juga sudah tercukur bersih. Penampilan Boby sudah kembali seperti ketika mereka baru menikah. Cukup satu kata dari Novia, 'Ganteng'.
Senyum simpul terbit dari bibir Novia. Tentu saja Boby tidak menyadari senyuman Novia karena dia masih di hinggapi kecemburuan yang tidak jelas.
Sampai di kamar, Novia menepis tangan Boby yang ada di bahunya. Dia berjalan sendiri tanpa bantuan Boby. Tentu saja Boby agak terkejut.
" Ngapain aja kamu sama dokter ganjen tadi? " tanya Boby ketus.
__ADS_1
" Dokter Sigit namanya. "
" Masa bodoh sama namanya. Ngapain aja kamu tadi? "
" Cuma ngobrol. "
" Nggak mungkin cuma ngobrol doang kalian jadi akrab gitu. Pakai pegangan tangan lagi. "
" Dia cuma bantuin aku jalan. Aku belum bisa jalan tanpa ada yang bantu. Toh aku juga nggak pegangan sambil bergelayut manja. " jawab Novia dengan santai
" Oh, jadi kamu pengen gitu bisa bergelayut manja sama dokter ganjen itu? " tanya Boby sambil menaikkan suaranya satu oktaf.
" Kamu ini kenapa sih mas? Nggak jelas banget. "
" Aku nggak suka kamu deket sama laki-laki nggak jelas gitu. "
" Nggak jelas gimana. Dia seorang dokter kalau mas lupa. Dokter yang udah banyak bantu aku. Lagian kita juga cuma ngobrol. "
" Pokoknya aku nggak suka. "
" Kamu nggak suka aku bicara sama orang lain, gitu? Terus kalau ada yang mau ngajak aku bicara, aku harus diam aja? Iya? "
" Ha?? Darimana kamu punya pikiran seperti itu. Jelas-jelas dia tahu aku wanita bersuami. "
" Dari matanya aku bisa lihat kalau dia suka sama kamu. Dari cara dia memandang kamu. "
Novia tersenyum tipis.
" Itu hak dia kalau memang dia suka sama aku. Yang penting dia tahu aku sudah punya suami. Toh aku juga masih tahu batasan. Aku sadar diri kalau aku adalah perempuan bersuami. Aku nggak bakal macam-macam. Nggak bakal bergelayut manja sama dia. Nggak bakal pegang-pegang tangan dia. Nggak bakal ngelupain suami dan anakku meskipun dia lebih tampan dari suamiku." cerocos Novia panjang lebar.
Boby hanya bisa diam. Karena apa yang di katakan Novia dialah yang pernah melakukannya.
" Ah iya lupa. Aku juga nggak bakalan pergi keluar kota hanya BERDUA sama dia. " tegas Novia
Deg!
__ADS_1
Boby kalah telak. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Dia jadi salah tingkah.
" Kenapa diam? Merasa bersalah? Iya? Salah kamu mas kalau cemburu terhadapku. Meskipun aku marah sama kamu, aku nggak akan selingkuh."
" Sorry. Aku minta maaf. " ucap Boby lirih.
Novia diam tanpa menjawab apapun. Dia hanya menghela nafas berat.
Boby berjalan mendekatinya. Diraihnya tangan Novia. Tapi Novia segera menepisnya.
" Novia, maaf. Aku ..aku hanya cemburu. Cemburu kan menandakan kalau aku benar-benar cinta sama kamu. Aku takut kehilangan kamu. "
Novia tetap diam tak mengindahkan perkataan Boby. Dia malah berjalan menuju ke kamar mandi. Boby mengikutinya dari belakang.
" Nov, maaf ya...Sayang.... maafkan aku..."
Dan Brak! Suara pintu di tutup dengan agak keras.
Karena terkejut, Boby melangkah ke belakang.
Dok...dok...dok....Boby mengetuk pintu kamar mandi.
" Sayang...maaf ....yang....maaf ya....aku janji nggak kayak gini lagi deh. Aku juga janji nggak bakal ngulangi kesalahanku yang dulu. Aku janji...aku hanya akan menghabiskan sisa hidupku sama kamu dan anak-anak kita. Aku janji hanya mencintai dan akan terus mencintai kamu dan anak-anak kita. Yang.... jangan diam aja...Nov...Novia..."
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Sejurus Boby langsung tersenyum manis menyambut Novia keluar dari kamar mandi.
" Awas! Minggir. Aku udah wudhu. Jangan pegang-pegang!" ucap Novia masih tetap ketus.
" Oh, tungguin aku. Kita jamaah. Aku ambil wudhu dulu. " Boby bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Novia beneran menunggu Boby selesai berwudhu. Mereka sholat magrib berjamaah. Kemudian Novia mengambil Al-Qur'an untuk di bacanya. Boby mendengarkan dengan seksama bacaan Novia. Setelah itu, mereka sholat isya berjamaah.
Semenjak kejadian pegang tadi, Novia kembali mendiamkan Boby.
__ADS_1
****
bersambung