
Hari Sabtu telah tiba. Seharian Novia hilir mudik di rumahnya. Bukan karena apa, tapi dia gugup karena mau bertemu calon mertua. Dia takut kalau ternyata mertuanya itu galak, kayak yang ada di sinetron-sinetron. Ibu yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Adzan Maghrib berkumandang. Novia segera mengambil air wudhu. Kemudian dia melaksanakan shalat magrib. Setelah sholat, dia berdoa semoga pertemuannya dengan calon mertua di beri kelancaran.
Setelah melipat mukena, Novia segera berganti baju dan berdandan tipis. Setengah jam kemudian.
Tok...tok...tok...bunyi pintu di ketuk.
" Nov, nak Boby udah sampai sini. Cepetan." terdengar suara ibu dari balik pintu.
" Iya Bu. " jawab Novia.
Kemudian Novia keluar dari kamar. Dia buru-buru menuju ruang tamu.
Melihat Novia di hadapannya, Boby sempat tercekat dengan penampilan Novia. Malam itu Novia mengenakan gamis modern yang panjang dan kerudung khimar. Malam ini Novia terkesan begitu dewasa, elegan, dan cantik tentunya.
Cantik. Dia selalu tampak cantik dengan pakaian apapun. Apalagi kalau tanpa pakaian..batin Boby. Kemudian dia menggelengkan kepala pelan. Dasar pikiran mesum. Entah kenapa setelah mengenal Novia, kepribadian Boby agak berubah. Atau mungkin aslinya memang seperti ini.
" Berangkat sekarang? " terdengar suara Novia membuyarkan lamunan Boby.
" Eh, iy-iya..Ayo.." kemudian Boby berdiri. Mereka berdua lalu berpamitan dengan Bu Arum.
Di dalam mobil Novia tampak resah dan gugup. Boby memperhatikan sikap Novia sedari tadi. Di lihatnya, Novia meremas jari jemarinya.
" Kamu kenapa Nov? Tanganmu berkeringat. Kamu sakit ? " tanya Boby sambil memegang tangan Novia tapi tetap pandangannya ke arah jalan yang ada di depannya.
Novia terkejut dengan sentuhan tangan Boby.
" Nggak... nggak pa-pa. " jawab Novia sambil menggelengkan kepala.
Kemudian tangan Boby beralih ke dahi Novia.
" Nggak panas. Tapi kok tanganmu berkeringat. "
" Aku nggak pa-pa kok. Aku juga sehat. "
" Oh, I know. Kamu tegang ya? Gugup mau ketemu calon mertua? " tebak Boby sambil melirik ke arah Novia sesaat kemudian dia tersenyum. Dia menggenggam tangan Novia lembut.
" Tenang aja. Mamaku baik kok. Kamu pasti suka kalau ketemu dia." ucap Boby memberi kekuatan kepada Novia. Terlihat Novia mengangguk.
Sedikit demi sedikit, Novia terlihat mulai rileks. Tangannya sudah tidak berkeringat lagi. Melihat itu, Boby melepas genggamannya. Dia menaruh tangannya diatas kemudi kembali.
•••
" Jadi ini, calon mantu mama?" tanya Bu Vera, mamanya Boby agak heboh.
__ADS_1
Novia menjabat tangan dan mencium tangan Bu Vera.
" Cantik. Pantesan anak mama kecantol. " ucap Bu Vera sambil melirik ke arah anaknya.
Kemudian mereka berbincang panjang lebar. Bu Vera menanyakan banyak hal mengenai calon menantunya ini. Novia pun demikian. Dia merasa di sambut hangat oleh mamanya Boby. Ketegangan dan kecemasan akan mertua galak, menguap begitu saja setelah dia berbicara dengan Bu Vera.
Saking asyiknya mereka ngobrol, Boby tidak punya kesempatan untuk ikut nimbrung. Di sana dia hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Sesekali dia melotot ke mamanya tatkala sang mama menceritakan kejadian-kejadian lucu tentang dia.
" Ya Allah, mama seneng banget punya calon mantu seperti kamu. Mama berasa punya anak perempuan. Mama jadi pengen jalan-jalan berdua aja sama kamu. Kalau jalan sama anak mama ini nggak asyik. "
" Tante bisa aja. "
" Mama. Panggil mama. Jangan Tante. Oke ! "
Novia hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
" Besok kalau kamu udah nikah sama anak mama ini, kalau dia nakal, bilang aja ke mama. Ntar biar mama jewer kupingnya. Eh, jangan. Mama culik kamu aja. Biar dia bingung nyari kamu. Oke? "
" Beres ma. "
" Kalian ini kenapa sih. Wah, bisa berabe ni kalau mama ngajarin calon istriku yang nggak bener. " protes Boby. Dan disambut tawa oleh mama dan Novia.
••••
Tapi seharian Novia tampak kurang bersemangat. Dia masih tidak yakin dengan keputusannya. Padahal malam ini dia akan di lamar secara resmi oleh Boby. Tidak ada kebahagiaan di mata dan di hati Novia.
Bayangan Candra terkadang melintas. Dia masih tetap menduduki posisi yang sama di hati Novia. Pertunangan tidak bisa menghapus sosok Candra di hati Novia.
Tepat jam tujuh malam, rombongan calon suami Novia tiba di rumah mereka. Seluruh keluarga Novia yang ada di sana langsung heboh. Penasaran seperti apakah calon suami Novia. Karena mereka belum pernah bertemu.
Terlihat Boby, Bu Vera, pak Harso beserta istrinya, dan tak ketinggalan, Andre juga turut serta.
Ada dua pria muda di sana. Membuat keluarga Novia semakin penasaran yang manakah calon suami Novia.
Keluarga besar Novia menyambut tamu dengan suka cita. Setelah tamu dipersilahkan untuk duduk, Novia di panggil oleh sepupunya untuk keluar.
Malam itu penampilan Novia agak berbeda. Dia mengenakan kebaya modern dan berhijab tentunya. Tapi yang membuat berbeda, malam itu dia berdandan agak beda. Biasanya dia yang hanya memakai bedak dan lipstik tipis warna soft, malam ini dia dipaksa di dandani oleh sepupunya. Matanya memakai eye shadow, memakai maskara supaya bulu matanya menjadi lebih lentik. Pipinya di beri blush-on tipis. Bibirnya di beri lipstik berwarna peach agak tebal.
Melihat penampilan Novia, Boby sempat bengong. Ternyata dia bisa dandan begitu. batin Boby sambil tersenyum.
Setelah Novia duduk, acara lamaran di mulai. Keluarga Boby memperkenalkan diri kepada keluarga besar Novia. Keluarga Novia yang awalnya penasaran dengan calon suami Novia, sekarang tidak lagi.
Setelah acara perkenalan, pak Harso menjelaskan tujuan mereka datang. Lamaran dari keluarga bobypun diterima oleh keluarga Novia.
Seserahan pun diberikan. Keluarga besar Novia takjub melihat seserahan yang di bawa oleh keluarga Boby. Semuanya barang branded. Bahkan perhiasannya pun tidak sembarang. Salah satu sepupu Novia yang saat ini masih kuliah, langsung tahu kisaran harga perhiasan tersebut.
__ADS_1
Acara di lanjutkan dengan pertunangan. Cincin yang telah di pilih Novia karena ngerjain Boby, kini cincin itu telah di pakaikan mama Boby di jari manis Novia. Cincin yang tampak berkilauan. Mengingat hal itu, Novia tampak sangat merasa bersalah terhadap Boby.
Kemudian acara yang terakhir adalah pembicaraan mengenai tanggal pernikahan. Mama Boby meminta supaya pernikahan di lakukan secepatnya.
" Untuk acara pernikahannya, bagaimana kalau kita laksanakan bulan depan? " usul Bu Vera.
Mendengar hal itu Novia agak terkejut. Dia langsung mendongakkan kepala yang sedari tadi hanya menunduk. Boby pun tak terlewatkan dengan kejadian itu. Dia melihat Novia begitu terkejut. Karena sedari tadi, dia sering mencuri pandang ke arah Novia. Dia melihat dari awal dia menatap Novia tadi, dia tidak melihat kebahagiaan di sana.
" Apa tidak terlalu cepat itu Bu?" tanya omnya Novia balik.
" Bukankah niat baik itu bisa dilaksanakan lebih cepat lebih baik pak? " jawab Bu Vera sambil tersenyum.
" Sebenarnya kalau saya, terserah anak-anak saja bu."
" Bagaimana denganmu Bob?" tanya Bu Vera ke anaknya.
Sebelum menjawab, Boby mengarahkan pandangannya ke Novia. Terlihat Novia juga memandangnya. Boby tahu maksud dari pandangan mata Novia. Pandangan itu seolah-olah meminta dirinya untuk menolak keinginan mamanya.
Kemudian Boby beralih memandang ke arah lain.
" Saya setuju sama mama. Niat baik sebaiknya jangan di tunda-tunda. Menghindari fitnah, pak. "
Setelah berucap, Boby kembali menatap Novia. Boby melihat kekecewaan di sana. Maaf, Nov. Aku harus egois. Ucap hati kecil Boby.
" Baiklah kalau begitu. Sebelumnya saya minta maaf, kami ini kan dari Jawa. Jadi kami harus mencari dulu tanggal yang baik untuk menikahkan mereka. " ungkap pak Samsul.
" Hen, kamu kan punya teman yang biasa menghitung tanggal baik untuk pernikahan. Coba kamu hubungi. Minta tolong untuk di carikan hari baiknya kapan. " lanjut pak Samsul ke adiknya.
Kemudian pak Hendro segera menghubungi temannya. Dan sungguh kebetulan, temannya itu langsung menerima panggilan. Setelah seperempat jam menghitung dan menimbang, akhirnya hari baik itu di dapat.
" Sudah dapat mas. Mas Seno bilang, tanggal 12 bulan depan itu hari yang baik untuk Novia menikah. Bagaimana? "
" Insyaallah. Semoga memang hari yang baik." jawab pak Samsul.
Boby tersenyum sumringah. Lain dengan Novia. Mukanya semakin di tekuk.
" Wah, saya juga setuju. Berarti tiga minggu dari sekarang ya. "
Setelah pembicaraan tentang tanggal pernikahan, keluarga Boby pamit undur diri.
****
bersambung
Jangan lupa like dan vote nya ya kak.... kasih komentar juga. Jadi kalau ada kekurangan, bisa author perbaiki...🙏🙏
__ADS_1