Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
105. Seratus lima


__ADS_3

Perlahan, suster meletakkan si kecil di pangkuan Novia. Kemudian membuka baju atas Novia dan memposisikan si kecil biar bisa menyusu. Boby membantu Novia memegang si kecil.


Si kecil menyusu dengan semangatnya. Ini adalah kali pertama dia meminum ASI langsung dari pabriknya.


Boby menitikkan air mata ketika melihat anaknya menyusu ke ibunya dengan senangnya.


Sedangkan di dunia yang lain, Novia mendengar suara tangis seorang anak kecil. Di sela-sela tangisnya, anak kecil itu memanggil-manggil ' mama '.... Panggilan yang seolah-olah di tujukan kepadanya.


Novia berdiri dari duduknya, berusaha mencari sumber suara itu. Novia melangkahkan kakinya dengan keyakinan. Dan semakin dia melangkah, tangis anak itu semakin jelas terdengar.


Novia semakin mempercepat langkahnya. Dia melihat bayangan seorang anak lelaki kecil diantara semak-semak.


" Anakku... Anakku....Kaukah itu nak??" teriak Novia sambil terus berlari.


Dalam larinya tadi, Novia mengingat kalau dia mempunyai seorang anak. Tapi dia tidak tahu dimana anaknya sekarang berada.


" Anakku....dimana kamu nak? " teriaknya kembali.


Dari dalam semak-semak yang berada dekat dengan dirinya, keluarlah seorang anak laki-laki kecil gemuk.


" Mama....." panggil anak itu sambil berlari menghampiri Novia.


Anak kecil itu menabrakkan dirinya ke Novia, kemudian memeluk erat Novia sambil terus menangis.


" Mama....aku kangen sama mama. Peluk aku ma...." ucap anak kecil tadi.


Novia membalas pelukan anak kecil tadi erat. " Mama juga kangen nak...."


" Mama...ayo kita pulang ma.."


" Pulang kemana nak? Rumah mama disini. " ucap Novia sambil melepas pelukan dari anak kecil itu.


" Rumah mama bukan disini. Rumah mama ada di sana. " ucap anak kecil itu sambil menunjuk ke arah seberang.

__ADS_1


" Tapi mama tinggal di sini nak. "


" Bukan ma. Rumah mama disana. Semua orang nungguin mama pulang. Papa, oma, kakek, nenek... semuanya nungguin mama pulang. Semuanya sayang sama mama."


Novia terdiam. Dia masih bingung mencerna kata-kata anak kecil yang mengaku anaknya itu. Memang selama ini, walaupun dia ada di sana sendirian, tapi dia sering mendengar orang-orang berbicara. Seperti berbicara dengan dirinya. Apa itu suara orang-orang yang di maksud anak kecil itu. Bahkan hampir tiap hari dia mendengar suara seorang pria yang tidak asing di telinganya selalu meminta maaf dan mengatakan kalau dia sangat mencintainya. Apa mungkin itu suara suaminya?


" Ayo ma, kita pulang sekarang..." anak kecil itu menarik tangannya dan mengajaknya berjalan mendekat ke sebuah pintu.


Sebuah pintu yang tiba-tiba muncul di sana. Bahkan selama dia berada di tempat itu, dia sama sekali tidak melihat pintu itu.


Ketika sampai di depan pintu itu, Novia menghentikan langkahnya. Dia menatap nanar pintu itu. Apakah dia harus masuk kesana? Apa memang benar dia harus pulang? Kemudian Novia menatap anak kecil itu lagi.


" Aku bahkan belum punya nama ma. Mama yang harus memberiku nama setelah kita pulang nanti."


Novia menitikkan air matanya mendengar penjelasan si kecil. Anak itu kembali menarik tangannya.


" Ayo ma. Keburu pintunya tertutup lagi. "


Bersamaan dengan itu, alat pendeteksi jantung, tekanan darah, dan yang lainnya berbunyi tidak seperti biasanya. Semua yang ada di ruang rawat Novia langsung panik. Bersamaan dengan itu juga, si kecil telah kembali tertidur pulas dan melepas pu**** s*** mamanya.


Dari pelupuk mata Novia menetes setetes air mata.


" Suster, apa yang terjadi sus? " tanya Boby panik.


" Tekanan darah dan nadi ibu Novia meningkat. Jantungnya juga terpacu kencang. " jawab suster tak kalah panik.


Segera suster memencet tombol panggilan ke ruang jaga perawat.


" Ada yang bisa kami bantu? " tanya perawat di sebelah.


" Sus, ini suster Rina. Tolong panggilkan dokter Ryan secepatnya. Bilang langsung ke VVIP 02 ya. Emergency. " panggilan berakhir.


" Ibu, tolong di ambil dulu si kecilnya. " pinta suster.

__ADS_1


Bibi segera mengambil si kecil dari pangkuan Novia. Setelah si kecil pindah tangan, Boby segera turun dari ranjang dan membantu suster menidurkan Novia kembali.


Tak lama kemudian, dua orang dokter dan beberapa perawat masuk ke ruangan.


" Apa yang terjadi sus? " tanya dokter Ryan. Dokter penyakit dalam yang menangani Novia selama ini.


" Tadi kita sudah melakukan saran dari dokter, menyusukan si kecil langsung ke ibunya. Setelah beberapa saat, tiba-tiba layar di monitor menunjukkan tekanan darah juga alat vital yang lain naik drastis dok. "


Dokter memberikan isyarat ke perawat untuk mengajak Boby dan yang lainnya meninggalkan ruangan dulu.


Salah seorang perawat mengangguk.


" Bapak, ibu, sebaiknya tunggu di luar dulu. Biar dokter memeriksa kondisi pasien. " ucap salah seorang suster menunjuk ke arah pintu.


Bu Vera, Boby, dan bibi mengangguk mengerti arahan suster.


" Dokter, tolong istri saya dok. " pinta Boby sebelum dia keluar dari ruangan.


" Insyaallah pak. " jawab dokter Ryan.


Boby dan yang lainnya segera keluar dari ruangan. Dokter segera melakukan pengecekan total ke Novia. Dokter Sigit sang dokter syaraf mengecek syaraf motorik Novia. Dan dokter Ryan memeriksa Novia dengan stetoskopnya.


Setelah satu jam berada di dalam ruangan, akhirnya dokter Ryan dan dokter Sigit keluar dari ruangan. Boby segera menghampiri.


" Dokter, bagaimana dengan istri saya dok? "


" Syukur Alhamdulillah pak Boby... Istri anda menunjukkan perkembangan yang sangat drastis. Sepertinya metode kita kali ini membuahkan hasil. " jawab dokter Ryan dengan seulas senyum di bibirnya.


****


bersambung


Hari ini author up 2 episode ya...Yah, walaupun dalam waktu yang tidak bersamaan. Semoga para reader'sku puas dan tidak terlalu penasaran sama Novia....🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2