
" Kita makan di luar dulu baru pulang, oke." ajak Boby ketika habis dari rumah Novia.
" Ntar bibi udah masak di rumah."
" Nggak. Tadi aku udah bilang ke bibi kalau kita mau makan di luar. "
" Mau makan dimana kita?" tanya Novia.
" Mmm makan dimana ya enaknya? Kamu mau makan apa?"
" Aku....mau makan ayam bakar terus telur dadar sama bakso goreng di Super Penyet. Pakai sambal cabe hijau. Wuihhhh...seger banget kayaknya. " ucap Novia sambil menelan ludah. Entah kenapa tiba-tiba Novia pengen banget makan menu tadi. Sampai ludahnya hampir keluar dari mulut.
" Oke...Kita kesana."
Segera Boby melajukan mobilnya ke restoran yang di inginkan Novia. Tak berselang lama, mereka sampai di lokasi.
" Mau pesen apa ? " tanya pelayan.
" Saya mau ikan bakar yang paha, telur dadar, bakso goreng, sambal cabe hijau double. Minumnya milkshake coklat, kasih esnya dikit aja."
" Yakin mau pakai es?" tanya Boby heran.
Novia mengangguk mantap.
" Kamu katanya kalau minum es, ada alergi? Terus gampang pusing. Ntar kalau pusing besok nggak bisa kerja kan."
" Tapi aku pengen banget minum dingin. Dikit aja esnya. Insyaallah nggak pa-pa."
Boby hanya bisa menggelengkan kepala.
" Kamu mau makan apa mas? "
" Aku ayam bakar aja mbak. Yang dada ya. Sambalnya yang biasa aja. Terus minumnya avocado float. "
" Ada yang lain pak, Bu?"
" Sementara itu aja. " jawab Boby.
Pelayan pergi meninggalkan mereka.
" Gimana mas urusan yang di Yogyakarta?"
" Ternyata kamu bener. Pegawaiku yang licik. Jadi, dia berusaha meminta keuntungan buat pribadi dia ke supplier. Padahal pak Tejo nggak suka dengan hal yang berbau ketidakjujuran. Beliau memang sengaja menghentikan pemasokan karena beliau ingin aku tahu kebusukan pegawaiku. "
" Jadi gitu..." Novia manggut-manggut.
" Iya. Dan lagi nih, ternyata pegawaiku itu bermain licik udah lama banget. Dari proyek-proyek yang dulu juga gitu. "
" Terus sekarang pegawai kamu itu gimana?"
" Aku pecat. Aku nggak butuh pegawai yang suka bermain belakang."
" Terus untuk bahan bangunan gimana?"
" Pak Tejo tetep mau memasok bahan bangunan ke proyekku, tapi dengan syarat, aku atau Andre harus turun tangan sendiri mengurus pemasokan bahan bangunannya. Jadi ya, mau tidak mau, aku bakalan sering pergi ke Yogyakarta. Paling nggak satu bulan bisa tiga atau empat kali. Apalagi kan si Andre dua bulan lagi mau nikah. Dia pasti sibuk. Mau tidak mau, aku yang harus menghandle sendiri proyek yang di Yogya. "
" Ya nggak apa-apa. Udah bagus supplier nya mau tetep jadi supplier kamu. Kalau nggak kan kamu bisa rugi besar mas. "
__ADS_1
" Iya sih. Cuman...aku jadi harus sering ninggalin kamu. "
" Nggak pa-pa mas. Ada bibi di rumah. "
Tak lama mereka bercakap-cakap, makanan pesanan mereka telah tiba. Mereka segera menyantap hidangan itu.
Boby agak kaget melihat nafsu makan Novia. Tidak biasanya Novia makan sebanyak malam ini. Semua menu makanan yang di pesannya di makan dengan lahap. Boby jadi berpikir, apakah Novia yang asli memang agak rakus seperti ini, atau apa mungkin karena Novia sedang benar-benar lapar?
" Sayang, tumben makan kamu nafsu banget. Tadi siang nggak makan siang ya? "
" Makan soto kok di kantin tadi. Tapi nggak tahu kenapa, makanan ini enak banget. Sayang kalau nggak di habiskan. " jawab Novia sambil agak kepedesan makan sambal.
" Sayang, makan sambalnya dikit-dikit aja. Tuh, kamu udah kepedesan gitu. Entar perutnya sakit. "
" Nggak mas. Enak banget ini. Udah dari tadi aku pengen makan sambal ini. Kamu juga tumben hari ini cerewet banget mas." ucap Novia masih sambil serius dengan makanannya.
Boby hanya geleng-geleng kepala. " Aku heran aja lihat nafsu makan kamu malam ini. "
Novia tidak menjawab omongan Boby. Dia terus melanjutkan acara makannya.
Setelah makanannya habis, minuman Novia juga ikutan habis. Tapi dia masih ingin minum. Dia melirik minuman suaminya yang masih setengah gelas. Ludahnya kembali keluar.
" Mas, boleh minta minumnya nggak?"
" Masih pengen minum? Ya udah pesen lagi aja. "
Novia langsung geleng-geleng. " Aku maunya punya kamu. "
" Tapi ini dingin. Esnya banyak, Sayang. "
Akhirnya Boby mengalah. Dia memberikan minumannya ke Novia. Novia segera menenggak habis avocado float milik Boby.
Ups. Novia menutup mulutnya. " Yah, habis mas. " ucap Novia sambil memperlihatkan gelas yang sudah kosong ke Boby. Boby tersenyum.
" Nggak pa-pa. Kalau kamu masih mau lagi, kita pesen lagi. "
Novia cepat menggeleng. " Kenyang. Udah nggak muat" ucapnya sambil menunjuk ke perutnya.
" Ya udah, kita pulang. "
Mereka pun beranjak menuju kasir dan membayar makanan tadi. Sepanjang perjalanan pulang, Boby masih tidak habis pikir dengan sikap Novia tadi. Biasanya dia yang pemilih makanan dan selalu menjaga porsi makannya, tadi terlihat sangat berbeda.
Ketika sampai di dekat perumahan mereka, tiba-tiba Novia meminta berhenti di depan mini market.
" Mas, mas, berhenti. "
Boby yang agak terkejut, segera menginjak remnya.
" Kenapa sayang?"
" Beliin camilan. Di situ. " pinta Novia sambil menunjuk ke mini market.
" Sejak kapan kamu suka ngemil?"
" Sejak kemarin. Kemarin udah beli, tapi ini udah habis."
" Oke. Mau camilan apa? Biar aku yang turun."
__ADS_1
" Mmmm.... apa aja deh. Yang penting yang gurih- gurih sama yang ada pedes-pedesnya."
Boby segera turun dari mobil dan berjalan menuju minimarket.
Tak lama kemudian, Boby kembali dengan membawa sekantung camilan di tangannya. Sampai di mobil, Novia menerimanya dengan mata berbinar. Lagi-lagi Boby di buat heran oleh istrinya.
Lima menit kemudian, mereka sampai di rumah. Bibi membukakan pintu buat mereka. Kemudian kembali ke rumah belakang. Boby masuk ke kamar untuk mengganti baju. Novia menaruh tas di kamar, kemudian menaruh camilan yang tadi di belikan Boby ke dalam lemari di dapur.
Setelah menaruh camilannya, Novia membuat kopi untuk suaminya.
Tiba-tiba, ada tangan seseorang yang melingkar di perutnya. Siapa lagi kalau bukan suaminya yang saat itu sedang memeluknya dari belakang.
" Ya Allah mas, kamu ... ngagetin aja...untung air panasnya nggak tumpah. " ucap Novia sambil melirik ke samping.
Boby bergelayut manja ke Novia. Dia menaruh kepalanya di pundak Novia sambil tangannya memeluk erat pinggang Novia.
" Lagi bikin apa yang?"
" Lagi bikinin kamu kopi. "
" Kok di bikinin kopi? Emang kamu mau aku begadang?" goda Boby.
" Ya nggak. Biasanya kamu kan kalau pulang dari mana aja, minta di bikinin kopi. " Boby mengecup pipi Novia berkali-kali. Membuat Novia jadi geli.
" Mas, jangan gini...Geli..." protes Novia sambil menghindar dari bibir Boby.
" Aku kangen sama kamu. Tiga minggu lho kita nggak ketemu. "
" Tiap hari kan juga v call . "
" Ya beda lah. Enakan kalau ketemu langsung kayak gini. "
Novia menggelengkan kepala sambil mengaduk kopi yang ada di cangkir.
" Yang, aku kangen sama kamu. Aku pengen...." bisik Boby di telinga Novia sambil mengendus-endus kepala Novia yang sudah tidak memakai kerudung.
" Mulai kan mesumnya."
" Mesum sama istri sendiri kan halal. Sayang, yuk.." rengek Boby.
" Ayo kemana?" tanya Novia pura-pura tidak tahu.
" Ke kamar. Nih, adiknya udah kangen banget sama kamu. " bisik Boby sambil menggesek-gesekkan adik kecilnya ke pa**** Novia.
" Apaan sih mas." Muka Novia langsung memerah. Di lepasnya tangan Boby yang melingkar di perutnya, kemudian membawa kopi yang sudah siap untuk di minum.
Boby membuntuti. Setelah Novia meletakkan cangkir kopi itu di meja, Boby langsung memutar tubuh Novia supaya menghadapnya. Di taruhlah salah satu tangannya di tengkuk Novia dan yang satunya lagi di pinggang.
Boby mulai memberi kecupan manis di bibir Novia. Merasa tidak ada penolakan dari Novia, kecupan itu berubah menjadi ciuman yang panas. Noviapun ikut terbawa situasi. Dia menyambut dan membalas ciuman Boby.
Mendapat balasan dari Novia, kini tangan Boby mulai merambat ke bagian tubuh Novia yang lain. Dan ketika sedang asyiknya beromantisan, tiba-tiba pintu depan terketuk.
Tok...tok...tok...
****
bersambung
__ADS_1