Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
115. Seratus lima belas


__ADS_3

Boby yang awalnya berencana untuk kembali di hari itu juga usai pertemuannya dengan klien, rencana itu kini tinggal rencana. Klien memundurkan meetingnya di sore hari dan klien itu meminta draft kontrak dengan di lampiri gambaran design untuk mall yang akan di bangun secepatnya.


Alhasil, Boby harus mengurungkan niatnya untuk segera kembali ke Jakarta. Malam itu Boby harus lembur menyelesaikan permintaan dari klien supaya dia bisa kembali ke Jakarta secepatnya.


Malam itu Boby lembur untuk menyelesaikan design awal mall yang di minta oleh kliennya. Tapi ternyata, Boby tetap tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya di malam itu juga. Karena tubuhnya begitu capek.


Pada keesokan harinya, Boby bangun pagi sekali dan melanjutkan pekerjaannya. Ketika siang menjelang, draft kontrak dan design awal bangunan baru selesai semua. Segera dia menghubungi Andre supaya Andre membuat jadwal ketemu dengan klien itu secepatnya.


Tapi mungkin nasibnya belum mujur. Klien yang mau dia temui, tidak bisa menemuinya di hari itu, karena sedang berada di luar kota dan akan kembali esok hari.


" Arrggh!!" Boby mengerang frustasi. Dia sudah sangat merindukan anak dan istrinya. Dua hari tidak bertemu membuat mood-nya memburuk.


Akhirnya dia memutuskan untuk melakukan panggilan video ke Novia. Karena selama dua hari ini, dia hanya mengirim pesan singkat ke istrinya itu.


" Halo assalamualaikum. " sapa Novia di seberang. Novia meletakkan ponselnya di atas bantal, menyandar ke ranjang.


" Waalaikum salam. Lagi apa Yang? " tanya Boby karena melihat Novia sedang sibuk.


" Habis mandiin Athar. Ini lagi ganti bajunya. " jawab Novia sambil tetap sibuk.


" Oh,,,kamu apa kabar? "


" Baik mas. "


" Athar gimana? "


" Baik juga. "


" Nakal nggak dia? "


" Nggak. "


Boby menghela nafas berat mendengar semua jawaban istrinya yang hanya seadanya. Dia sengaja memancing pertanyaan yang nantinya dia pikir akan mendapatkan jawaban yang panjang, sehingga dia bisa berlama-lama bervideo call-an dengan sang istri tercinta eh ternyata....Kandas sudah angan-angan Boby. Dia jadi bingung harus bicara apa sekarang.


" Bentar Sayang...diam dulu nak. Udah mau selesai ini. " terdengar suara Novia dari seberang. Sepertinya si kecil tidak mau diam.


Setelah usianya genap 4 bulan, Athar benar-benar sangat aktif. Dia sudah mulai tengkurap. Meskipun kadang kesulitan untuk kembali. Badannya juga bertambah gemuk. Sampai di usianya yang 4 bulan, Athar tetap tidak mau minum susu formula.


Boby masih setia menunggu sampai Novia selesai memakaikan baju Athar. Terkadang terdengar suara celotehan si kecil. Membuatnya semakin merindukan si gembulnya.


" Nah, selesai sudah. Uluh...uluh...anak mama ganteng banget ya. " terdengar kembali suara Novia.


Terlihat di layar, Novia sudah menggendong Athar sambil mengecup gemas pipinya. Melihat pemandangan itu membuat Boby ingin segera kembali ke Jakarta.


" Anak papa udah ganteng ya? " tanya Boby.

__ADS_1


" Iya papa. " jawab Novia dengan suara mirip anak kecil.


Novia mengambil ponselnya dan mendekatkan ponselnya ke depan Athar sehingga Boby bisa melihat wajah anaknya dengan leluasa.


Melihat wajah papanya di layar ponsel, Athar berusaha meraih ponsel itu dari tangan mamanya.


" Jangan sayang, nanti handphone mama jatuh. "


Boby menggoda si kecil. Meskipun hanya melalui ponselnya, Boby bahagia tetap bisa mengajak si kecil bermain yang membuat si kecil terkekeh-kekeh.


" Novia, aku tidak jadi bisa pulang hari ini. Maaf. Kliennya belum bisa kasih jadwal meeting lagi. "


" Hmm!" jawab Novia.


" Gantengnya papa nggak boleh nakal ya. Harus jadi anak baik. "


Seperti paham dengan maksud sang papa, Athar kembali berceloteh.


" Aku tutup teleponnya ya. Aku mau mandi. "


" Iya. Sampai ketemu besok. I love you my dear. "


" Hm. " kembali Novia menjawab dengan deheman.


" Waalaikum salam. " panggilan di akhiri.


Hari berganti. Sore itu Novia ingin membawa Athar jalan-jalan. Sekalian ingin membelikannya baju. Karena baju yang ada sudah hampir tidak muat semua.


" Mama, boleh Novia ajak Athar jalan-jalan? Sekalian Novia mau membelikan baju untuknya. Bajunya udah pada kekecilan ma. "


" Pergilah sayang. Biar di temani Lani ya. Jangan pergi sendiri. Kamu ke mall punya kita aja. "


" Iya ma. Kalau gitu, Novia siap-siap dulu. "


" Sini Athar gendong Oma dulu. Biar mama ganti baju. " Bu Vera mengambil Athar dari gendongan Novia. " Kita kasih tahu mbak Lani yuk. Biar nemenin Athar jalan-jalan. " tambahnya.


Novia berganti baju, begitu juga dengan Lani. Setelah selesai, mereka berangkat dengan diantar oleh mang Diman sopir keluarga Boby.


Mobil berjalan sangat lambat di jalan raya. Karena begitulah kondisi jalanan ibukota yang tak akan jauh dari kemacetan. Meskipun begitu Athar sangat menikmati perjalanan. Dia sangat suka melihat motor dan mobil yang ada di sebelah mobil yang di tumpanginya.


Setelah melakukan perjalanan setengah jam lamanya, sampailah mereka di mall kepunyaan Bu Vera.


Novia menggendong Athar dan turun dari mobil, diikuti oleh Lani. Kemudian Lani menyiapkan stroller Athar.


" Duduk sini ya sayang. " Novia mendudukkan Athar di atas stroller. Dan lani yang mendorong.

__ADS_1


" Ayo lan. " ajak Novia.


Mereka mulai memasuki gedung mall berlantai 11 itu. Mereka berjalan sambil melihat kekiri dan ke kanan. Mencari sesuatu yang mungkin menarik untuk di beli.


" Kita ke situ lan. Siapa tahu ada baju yang cocok buat Athar. "


" Iya non. " jawab Lani.


Mereka memasuki salah satu outlet baju yang cukup besar di mall itu. Novia mulai melihat dan mencari baju untuk si kecil.


" Novia. " tiba-tiba seseorang memanggilnya.


" Dokter..." Novia terkejut bertemu dengan orang itu.


" Hm! Lupa ya harus manggil apa. "


" Oh iya. Mas Sigit. Maaf lupa. " jawab Novia sambil menepuk jidatnya.


" Halo anak ganteng.." sapa Sigit ke Athar sambil mencubit pipi Athar.


" Halo om. " Novia yang menjawab dengan suara menirukan anak kecil.


" Mas Sigit lagi jalan-jalan juga? Lagi free? "


" Iya nih. Baru habis dari rumah sakit sih. Kebetulan ada yang harus saya beli. Jadi sekalian mampir kesini. Kamu , juga jalan-jalan? "


" Iya sih mas. Nyari suasana baru. Sekalian mau beliin baju buat Athar. Baju pada kekecilan. "


" Kekecilan ya bajunya. Mana coba om lihat. Seberapa berat kamu jagoan? " Sigit mengambil Athar dari stroller dan menggendongnya. " Widihhh...bener kalau baju kamu kekecilan ya. " ucap Sigit sambil menciumi pipi gembul Athar. Membuat empunya kegelian.


" Kamu sehat kan Nov? "


" Alhamdulillah mas. Novia sehat. Udah balik seperti sedia kala. "


" Alhamdulillah. Tapi tetep harus jaga kesehatan terus lho. Tapi kamu kok masih tetap kurus gitu? Nggak makan kamu? "


" Ya makan lah mas. Banyak malahan. Empat sehat lima sempurna pokoknya. Cuman mungkin karena ASI eksklusif ya. Jadi makanannya di bagi dua sama dia. " ucap Novia sambil menunjuk ke arah Athar yang masih dalam gendongan Sigit.


" Hmmm... Jadi, makanan mama di habisin sama kamu ya? Hm?Hm?" goda Sigit sambil menggelitiki Athar. Membuat si kecil itu tertawa terbahak-bahak.


" Ehm!" tiba-tiba seseorang berdehem di dekat mereka tanpa mereka tahu sejak kapan orang tersebut berada di dekat mereka.


****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2