Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
67. Aku hamil, mas


__ADS_3

Hari terus berganti. Semenjak bertemu kembali dengan Karell, sikap Boby terhadap Novia berubah total. Sekarang dia menjadi tidak peduli terhadap Novia. Kalau di rumah, dia lebih banyak diamnya.


Boby juga sering menghabiskan waktunya bersama Karell. Kalau Novia bertanya, dia selalu menjawab kalau pekerjaannya sangat banyak dan harus sering lembur.


Novia berusaha untuk mengerti alasan Boby. Walaupun sebenarnya dia benar-benar merasakan sikap Boby yang berubah. Terkadang pikiran buruk bersarang di otaknya. Tapi sebisa mungkin dia menepis pemikiran itu.


Bahkan untuk kehamilannya saja Novia tidak pernah punya kesempatan untuk mengatakannya. Karena kalau Novia mengajaknya berbicara, Boby pasti beranjak pergi dengan berbagai alasannya.


Bi Susi pun melihat perubahan sikap Boby terhadap istrinya. Beliau sebenarnya juga kasihan terhadap Novia. Tapi dia tahu kalau dia hanya seorang pembantu di sana. Dia tidak punya hak untuk mencampuri urusan majikannya.


Seringkali bi Susi mendapati Novia yang sedang duduk melamun. Entah apa yang di pikirkan Novia. Seperti saat ini, bi Susi kembali mendapati Novia sedang termenung sambil menangis.


" Mbak Novia..." panggil bi Susi.


Novia masih tidak bergeming dengan panggilan bi Susi.


" Mbak Novia. " panggil bibi kembali, kali ini dengan memegang pundak Novia.


" Bibi. " sahut Novia agak terkejut. Cepat-cepat dia mengusap air matanya.


" Mbak Novia menangis?" tanya bibi sambil duduk di bangku yang sama dengan Novia.


" Nggak kok bi. " jawab Novia gelagapan masih sibuk menghapus air matanya. Diapun berusaha menampilkan senyumannya.


" Mbak Novia, kalau ada masalah, cerita sama bibi ya. Bibi siap mendengarkan apapun keluh kesah mbak Nov. "


Novia tersenyum dan mengangguk.


" Bibi lihat, akhir-akhir ini mbak Nov sering melamun. Pasti ada yang di pikirkan."


" Nggak kok bi. Novia cuma kangen sama ibu sama bapak. " elak Novia.


" Mbak Novia bukan pembohong yang baik. Bibi tahu apa yang di pikirkan mbak Nov. Mbak Nov pasti sedang memikirkan mas Boby kan?"


Novia malah kembali tersenyum.


" Bibi juga merasakan kok kalau sikap mas Boby berubah. " lanjut bi Susi mencoba memancing Novia untuk mengeluarkan unek-uneknya.


Kini air mata Novia mengalir kembali. Bibi melihatnya. Dielusnya pundak Novia sambil ditepuk-tepuk perlahan mencoba menenangkan.

__ADS_1


" Mas Boby kenapa berubah bi? Apa Novia berbuat salah?" tanya Novia sesenggukan.


" Mbak Novia nggak salah. Mungkin mas Boby sedang banyak pekerjaan. "


" Dulu mas Boby juga banyak kerjaan bi. Tapi dia nggak pernah seperti ini ke Novia. Mas Boby seperti enggan untuk bertemu Nov bi. Kalau Novia dekati, Nov ajak bicara, mas Boby selalu menghindar bi....hiks...hiks..." tangis Novia semakin menjadi.


Bi Susi mencoba menenangkan dengan memeluknya.


" Apa mbak Novia sudah memberi tahu soal kehamilan mbak Nov?" tanya bibi sambil melepas pelukannya.


Novia menggeleng lemah.


" Novia tidak punya kesempatan untuk mengatakannya bi. Mas Boby selalu menghindari Nov."


" Kalau menurut bibi, sebaiknya mbak Novia segera mengatakannya sama mas Boby. "


" Novia takut bi. Novia takut mas Boby nggak mau nerima anak ini. "


" Sstt..mbak Novia tidak boleh bilang seperti itu. Mana mungkin mas Boby menolak anaknya sendiri. Bibi yakin mas Boby pasti sangat bahagia mendengar kabar baik ini. Lagian perut mbak Novia sudah semakin terlihat agak besar. Kalau mas Boby tahunya setelah perut ini sudah besar, dia pasti kecewa. " ucap bibi sambil mengelus perut Novia.


" Benarkah bi? "


Malam itu, Novia bertekad untuk segera memberitahu Boby soal kehamilannya. Dia harus menunggu waktu yang tepat.


Hari Minggu tiba. Hari itu, Novia dan Boby sama-sama libur dari pekerjaan mereka. Boby juga berada di rumah.


Novia keluar dari kamar dengan membawa sebuah amplop kecil. Di ruang tengah, dia mendapati Boby sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya sambil tersenyum sesekali.


" Mas.. " panggil Novia sambil duduk di sofa depan sofa yang di duduki Boby.


" Hm " jawab Boby tanpa menoleh ke Novia sama sekali.


" Aku mau menyampaikan sesuatu sama kamu mas. "


" Katakan saja. Tidak usah banyak basa basi. " jawab Boby masih sibuk membaca dan membalas chat. Cara bicara Boby sekarang juga sudah berubah. Dia menjadi ketus jika berbicara dengan Novia.


" Ini. " Novia memberikan amplop yang di bawanya tadi ke Boby.


Boby melihat amplop itu. " Apa ini? "

__ADS_1


" Bukalah. "


Boby mengambil amplop itu dari tangan Novia dan segera membukanya. Boby kebingungan melihat isi amplop tersebut. Sebuah hasil USG.


" Apa ini? Kenapa kamu menunjukkan hasil USG ini ke aku?" tanya Boby sambil menunjuk hasil USG itu.


" Itu gambar anak kamu mas. " Novia menjawab dengan ketakutan karena wajah suaminya yang sangat tidak bersahabat.


Boby mengernyitkan dahinya sambil terus menatap tajam ke Novia.


" Apa maksud kamu? " tanya Boby.


Yah, kini panggilan ' sayang' sudah tidak pernah terdengar lagi dari mulut Boby untuk istrinya.


" Aku ....Aku hamil mas. Anak kamu. Anak kita. " jelas Novia dengan suara bergetar antara takut dan ingin menangis.


" Apa?" ucap Boby terkejut dengan suara tinggi. Dia kembali melihat hasil USG itu. Kemudian meletakkannya di atas meja. Tanpa berkata apa-apa, dia meninggalkan Novia dan masuk ke dalam kamar.


Novia hanya bisa memandang punggung Boby yang berlalu dari hadapannya. Bulir-bulir air mata mulai menetes dari mata Novia.


Dikamar, Boby uring-uringan. Dia mengacak-acak meja yang ada di kamar. Membuat barang-barang yang ada di atas meja berserakan kemana-mana.


" Kenapa harus sekarang? Kenapa?" gumam Boby sambil menarik rambutnya.


" Tidak. Tidak. Aku tidak bisa kehilangan Karell untuk kedua kalinya. Aku bisa melepas semuanya. Tapi tidak dengan Karell. " ucap Boby berbicara sendiri.


Merasa frustasi, Boby mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar dari kamar. Di ruang tengah dia bertemu dengan Novia yang masih duduk di tempat tadi dia meninggalkannya. Tapi kini mata Novia terlihat basah oleh air mata.


Tapi Boby menutup mata dengan kondisi Novia. Dia melanjutkan langkahnya. Baru satu langkah dia berjalan, Novia memanggilnya.


" Mau kemana mas?" tanya Novia sambil bangkit dari duduknya.


Boby berhenti sebentar. Kemudian melanjutkan langkahnya kembali tanpa melihat maupun menjawab pertanyaan Novia.


Novia kembali menangis melihat sikap Boby yang semakin tidak dia mengerti. Bahkan Boby tidak peduli dengan kehamilannya.


****


bersambung

__ADS_1


Author kasih sedikit konflik ya kak...biar tidak ngebosenin ceritanya. Biar ada nangis-nangisnya gitu...


__ADS_2