
Sudah dua hari semenjak Novia berterus terang tentang kehamilannya, Boby tidak pulang ke rumah. Perasaan Novia kini semakin diaduk-aduk. Sudah badannya sering lemas karena masih muntah-muntah di pagi hari, kini ditambah lagi sikap sang suami yang sama sekali tidak dia mengerti.
Novia yang awalnya yakin kalau sang suami akan sangat bahagia mendengar dia sedang mengandung, kini keyakinan itu seperti tertelan bumi. Boby justru memberikan reaksi yang di luar dugaan.
Berbagai pikiran buruk hinggap di pikiran Novia. Setelah dua hari tidak pulang, akhirnya Boby pulang juga. Novia merasa senang karena sang suami pulang. Dari yang di jadwalkan dokter, hari ini dia harus memeriksakan kandungannya kembali. Kalau suaminya sudah pulang, maka dia bisa ke dokter bersama sang suami.
" Sudah pulang mas?" sapa Novia ketika melihat suaminya tiba. Novia berusaha menunjukkan senyum manisnya.
" Hm. "
" Mau aku buatkan kopi?"
" Hm."
Novia beranjak pergi ke dapur untuk membuat kopi. Tanpa novia sadari, Boby memperhatikannya dari belakang. Boby melihat perut Novia yang sudah tidak rata.
Ada perasaan aneh yang di rasakan Boby ketika melihat perut Novia. Seperti rasa bersalah, rasa sedih yang bercampur dengan rasa bahagia. Boby tidak bisa mengartikannya. Tapi buru-buru di tepisnya pikiran itu.
" Kopinya mas. " Novia memberikan cangkir kopi ke Boby.
" Taruh aja di meja. "
Novia menaruh cangkir kopi itu ke meja di depan Boby. Diapun juga duduk di sofa yang ada di ruang kerja Boby. Dia memberanikan diri untuk berbicara dengan Boby.
" Mas, hari ini jadwalku check up kandungan. Dokter bilang harus sama suamiku. Kamu bisa kan nemenin aku? "
" Kamu nggak lihat kalau aku sibuk. " jawab Boby ketus. Yang memang saat itu, Boby sedang membaca beberapa dokumen yang di bawanya pulang.
" Cuma sebentar mas. "
" Sama bibi aja. Kemarin juga sama bibi bisa kan."
" Tapi dokter bilang harus sama suamiku mas. "
" Kamu jadi orang ngeyel banget sih. Aku bilang aku lagi sibuk ya sibuk. " ucap Boby dengan nada tinggi.
" Kalau kamu nggak mau sama bibi, periksa sendiri kan juga bisa. " tambahnya.
__ADS_1
" Apa kamu nggak ingin melihat anak kita? "
" Besok kalau udah lahir juga aku lihat. " jawab Boby tanpa melihat ke arah Novia.
Jawaban yang membuat Novia tidak dapat menahan air matanya.
" Mas. Apa kamu tidak menginginkan anak ini? " Novia bertanya dengan air mata berlinangan.
Boby tidak memberikan jawaban apapun.
" Mas, apa kamu tidak pernah menginginkan anak dariku?" tanya Novia kembali.
Boby yang tersulut emosi menggebrak meja sambil beranjak dari duduknya.
" Karena dia datang di waktu yang tidak tepat. Puas kamu?" jawab Boby. Kemudian dia pergi meninggalkan Novia.
" Mas...mas...apa maksud kamu mas?" panggil Novia tapi Boby menulikan telinganya.
Boby kembali meninggalkan rumah. Novia menangis sejadi-jadinya. Bibi yang mendengar pertengkaran majikannya, datang menghampiri Novia dan memeluknya. Bi Susi pun ikut menangis.
Bi Susi tidak tahu harus berkata apa kepada Novia. Dia hanya bisa memeluknya untuk menenangkannya.
Malam itu Novia tidak bisa tidur nyenyak. Dia masih memikirkan perkataan suaminya sore tadi. Hari itu Novia juga tidak jadi memeriksakan kandungannya ke dokter.
••••
Keesokan harinya, Novia kembali mengalami morning sickness. Tapi dia tetap harus pergi bekerja.
" Mbak Nov mau pergi kerja? " tanya bi Susi yang bertemu Novia di dapur.
" Iya bi. Kalau aku terlalu sering nggak berangkat, aku bisa di pecat bi. Kalau aku di pecat, gimana nanti nasib anakku?" jawab Novia sambil mengelus perutnya. " Bibi tahu sendiri kan, mas Boby tidak menginginkan anak ini. Novia juga tidak tahu sampai kapan Novia hidup di rumah ini." tambahnya sambil menahan air mata yang sudah mulai menggenang di sudut matanya.
" Mbak Nov tidak akan pergi kemana-mana. Bibi yakin. Mbak Nov yang sabar. Gusti Allah pasti memberi yang terbaik buat mbak Novia. Yang penting sekarang, yang harus mbak Novia pikirkan adalah si jabang bayi ini. " ucap bi Susi lembut sambil mengelus perut Novia.
Novia tersenyum dan mengangguk walaupun hatinya gundah.
" Nanti mbak Nov jadi ke dokter kan?"
__ADS_1
" Insyaallah bi. Nanti dari tempat kerja Nov langsung ke dokter. "
" Ndak bibi temani?"
" Ndak usah bi. Nov bisa sendiri. "
" Ya sudah kalau begitu. Ini, susunya dan roti bakarnya di habiskan dulu. "
" Makasih bi. "
Novia menenggak susu ibu hamil yang telah di siapkan bi Susi. Kemudian memakan roti bakar sedikit-sedikit.
" Assalamualaikum...." sapa seseorang yang baru masuk rumah.
" Waalaikum salam. " jawab Novia dan bi Susi bersamaan.
" Sudah siap Bu bos?" tanya Remon.
" Iya bang bentar lagi. " Novia menenggak habis susu yang masih tersisa tadi.
Memang setelah Novia hamil, Remon selalu mengantar jemput Novia kemanapun Novia pergi. Sebenarnya Remon mengetahui kondisi yang di alami Novia. Remon juga tahu alasan perubahan sikap Boby ke istrinya. Tapi dia hanya bisa diam. Dia hanya bisa membantu menjaga Novia dan si jabang bayi.
Itulah sebabnya Remon selalu siap mengantar Novia kemanapun. Sebenarnya, Boby juga agak mengkhawatirkan Novia. Makanya dia juga sering menyuruh Remon mengawasi Novia. Boby masih ada perhatian sama istrinya.
" Ayo bang Re. Kita berangkat. Bi, Nov berangkat kerja dulu. "
" Sudah bawa baju ganti mbak?"
" Sudah bi. Assalamualaikum. "
" Waalaikum salam. "
Novia dan Remon pergi meninggalkan rumah. Dibalik kesedihannya, Novia masih merasa bersyukur, karena masih ada bi Susi dan Remon yang sangat memperhatikannya.
****
bersambung
__ADS_1