
" Sayang...Sayang...Tunggu." panggil Boby ketika Boby melihat Novia sudah hampir tiba di depan pintu keluar kantor. Beberapa pegawai nampak bingung melihat bosnya main kejar-kejaran.
" Sayang." Boby menggapai tangan Novia.
Novia menepisnya. Tapi Boby kembali memegang tangannya.
" Sayang, I'm so sorry, oke. Kamu boleh makan apapun sesukamu. Tapi please, jangan marah seperti ini. Hm?" ucap Boby dengan lembut.
" Aku mau pulang. " Novia mengusap air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.
" Oke. Kita pulang sama-sama. Ayo." Boby menggandeng tangan Novia berjalan menuju parkiran mobil.
Di dalam mobil Novia tertidur pulas. Sehingga ketika sampai di depan rumah, Boby mengangkat tubuhnya karena kasihan untuk membangunkannya.
Boby membawa Novia ke kamarnya bukan ke kamar Novia. Melepas sepatu Novia, kemudian melepas kerudung yang ada di kepala Novia.
Kemudian dia juga ikut naik ke atas ranjang. Boby mengelus pipi istrinya kemudian mengecup keningnya agak lama. Akhirnya dia ikut tertidur sambil memeluk Novia.
Ketika Boby dan Novia masih tertidur, ponsel Boby berdering. Saat mendengarnya, Boby langsung membuka matanya, mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Remon yang meneleponnya.
Boby berusaha bangkit dari tidurnya pelan, melepas pelukan tangan Novia yang ada di pinggangnya. Kemudian dia keluar dari kamar untuk menerima panggilan dari Remon.
" Halo Re "
" Halo pak bos. Tiket ke Surabaya sudah saya pesankan. Pesawatnya berangkat pukul tujuh. "
" Apa Andre bisa menggantikanku?"
" Saya tidak tahu, tuan. Ini tuan Andre ada di samping saya. Beliau baru tiba. Sebentar, saya akan berikan ponsel saya. " Remon memberikan ponselnya ke Andre.
" Halo Bob. Ada apa?" sapa Andre.
" Ndre, lo bisa nggak gantiin gue untuk ketemu sama klien kita yang di Surabaya?"
" Kapan?"
" Sekarang berangkatnya. "
" Harus sekarang?"
" Iya. Tiket pesawat udah di beliin si Remon. "
__ADS_1
" Waduh, bro. Sorry banget. Kalau harus berangkat sekarang gue nggak bisa. Si Shinta kan masih di sini. Besok baru pulang, setelah ambil sovenir. Emang lo kenapa? Nggak bisa?"
" Bukannya nggak bisa. Gue cuma khawatir sama bini gue. Kata bibi sudah beberapa hari ini dia susah makannya. Tapi kalau gue yang suapin, dia baru mau makan. Tapi ya udah deh kalau lo nggak bisa. Lo urus dulu nikahan Lo. Biar cepet kelar. "
" Sorry banget ya Bob. "
" It's oke. Santai aja. Ya udah, gue tutup dulu. Lo tolong kasih tau Remon, ntar jangan lupa jemput gue. "
" Oke. Siap."
Boby menutup panggilan teleponnya. Dia melihat jam dinding. Jam lima kurang seperempat. Dia bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan sholat.
Setelah sholat, dia baru membangunkan Novia. Tumben, kali ini Novia cepet banget bangunnya. Novia bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu ketika Boby memberitahu kalau sebentar lagi waktu ashar habis.
Setelah membangunkan Novia, Boby bergegas mengambil koper, dan memasukkan beberapa baju ke dalam koper. Selesai sholat, Novia kembali ke kamar Boby.
" Mas, mau kemana?" tanya Novia kebingungan karena melihat Boby memasukkan beberapa baju ke dalam koper.
" Oh,...Aku harus ke Surabaya malam ini juga. Klien yang di Surabaya ngajak ketemuan besok pagi banget. "
" Yah..." Novia tampak kecewa mendengar suaminya akan pergi.
Novia mengendikkan bahu. Wajahnya terlihat sedih.
" Berapa hari perginya?"
" Belum tahu juga. Rencananya sih paling cuma tiga hari. "
" Ya udah deh. Nggak pa-pa. Tapi...."
" Hm? Tapi apa?" tanya Boby sambil mengelus kepala Novia.
" Suapin dulu. Kalau nggak di suapin, aku nggak mau makan. "
" Iya aku suapin. Istri aku kok manja banget sih sekarang?" goda Boby sambil mengusap kepala atas Novia, membuat rambut Novia agak berantakan.
Novia tanpa malu-malu, mengecup pipi Boby sekilas. Membuat Boby terkejut. Pasalnya, baru kali ini Novia berinisiatif menciumnya duluan. Eh, bukan ciuman. Tapi sekedar kecupan. Tapi hal itu sudah membuat Boby sangat bahagia.
" Kamu berani godain ya sekarang. Kalau nggak mau pergi, aku pasti akan meminta jatahku. " bisik Boby di telinga Novia, membuat Novia tersenyum malu.
Hal ini membuat Boby semakin gemas. Boby menangkup wajah Novia, mendekatkan bibirnya ke bibir Novia. Selama beberapa saat, bibir mereka saling bertautan. Pelan, tangan Boby mulai masuk ke dalam kemeja Novia. Meremas d*d* Novia perlahan.
__ADS_1
Terdengar lenguhan dari mulut Novia. Boby semakin gencar menyentuh Novia. Ciumannya semakin dalam. Dan ketika Boby hendak merebahkan tubuh Novia, Novia menahan dada Boby. Kemudian melepas ciuman panas mereka.
" Mas, ingat. Kamu harus segera berangkat. " ucap Novia.
Boby nampak kecewa. Tangannya masih berada di atas dada Novia. Masih meremas dengan menggebu-gebu.
" Sayang, dada kamu jadi berisi sekarang. Beda sama pertama kali aku pegang. "
" Hizzz, apaan sih mas. " Novia menepis tangan Boby yang berada di atas dadanya.
" Beneran yang. Dulu nggak segini. " Boby kembali menangkup kedua dada Novia.
" Masak sih?" Novia ikut-ikutan menangkup kedua dadanya. " Kayaknya iya. Pantesan bra aku sekarang nggak nyaman banget di pakainya." terang Novia dengan polosnya.
Boby hampir tertawa, tapi ia tahan.
" Berarti aku yang pinter. Baru aku pegang sekali aja langsung berisi. Coba kalau tiap hari aku pegang?" canda Boby sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
" Mas, aku lapar. " rengek Novia tiba-tiba.
Boby langsung bangkit dari atas tubuh Novia.
" Mau makan apa?"
" Nasi goreng. Pakai sosis dan telur. Bikinan bibi, tapi kamu yang nyiapin. "
" Oke. Aku akan kasih tahu bibi. Biar segera di buatin. Kamu mandi dulu sana. "
" Bentar. Aku mau bantu kamu nyiapin bawaan kamu buat ke Surabaya. "
" Oke. Kayaknya tadi tinggal dasi sama jas aku yang belum."
" Iya. Aku yang siapin. "
Boby keluar untuk memberitahu bi Susi untuk membuat nasi goreng dan Novia menyiapkan bawaan boby.
****
bersambung
jangan lupa like ya kak.....
__ADS_1