Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
119. Seratus sembilan belas


__ADS_3

Hari terus berganti. Boby benar-benar mengikuti permintaan Novia. Sama sekali dia tidak pernah datang ke rumah mertuanya. Hanya Remon maupun Andre yang setiap dua hari sekali dia mintai tolong untuk menjemput Athar supaya dia bisa bertemu dengan anak semata wayangnya itu.


" Lo kok kacau lagi kayak gini sih bro?" tanya Andre yang ketika itu sedang makan siang bersama Boby sehabis mengantarkan si bos kecil ke rumah neneknya.


Boby mengusap wajahnya kasar.


" Gimana gue nggak kacau? Gue sekarang seperti sedang berdiri di tepi jurang yang sangat dalam. Kanan kiri gue jurang semua. Salah langkah dikit aja, gue pasti mati. "


"Lo yang sabar ya bro. Gue yakin, Novia pasti kembali sama lo. Dia wanita yang berhati mulia. Gue yakin, dia pasti bisa maafin lo. " ucap Andre sambil menepuk pundak Boby.


" Semoga aja. Saat ini, hanya Novia yang bisa tolongin gue. "


" Apa dia sama sekali nggak chat lo? "


Boby menggeleng lemah.


Setelah pulang dari rumah mertuanya hari itu, hidup Boby terasa kembali seperti saat Novia menghilang dulu. Makan dan minum terasa susah untuk di telan. Setiap malam dia selalu terjaga.


Hatinya selalu cemas dan gelisah. Dia tidak akan sanggup jika harus kehilangan Novia. Dia tidak akan bisa melanjutkan hidupnya jika sampai Novia memutuskan untuk meninggalkannya.


Dia benar-benar sangat mencintai istrinya itu. Sangat dan sangat. Dia selalu merutuki kebodohannya yang terlambat menyadari betapa cintanya dia terhadap sang istri.


Kalau dia menyadari perasaannya sejak awal, maka saat ini mereka pasti hidup bahagia bersama dengan buah hati mereka.


Di tempat lain, perasaan Novia pun tak kalah beda. Setiap malam dia selalu berpikir dan berpikir. Apa yang sebenarnya diinginkan hatinya. Sambil menatap si kecil yang sedang tertidur pulas, ada rasa tidak tega jika dia harus memisahkannya dengan papanya. Diapun merasa seperti ada lubang di dalam hatinya.


Tiap hari berganti, lubang itu terasa semakin lebar. Dia merasa lubang itu harus di tutup, tapi belum tahu bagaimana menutup lubang itu. Terkadang hatinya juga terasa nyeri.


••••


Setelah kepulangan Novia, teman-teman Novia yang di kampung, juga teman dari tempatnya kerja dulu, pada berdatangan. Untuk menjenguk Novia juga si kecil.


Mereka begitu antusias melihat anak Novia. Bayi yang sudah berusia 5 bulan itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Wajahnya tampan seperti papanya, kulitnya putih, matanya coklat dan bulat seperti mata mamanya, hidungnya mancung seperti papanya.

__ADS_1


Tak jarang teman Novia yang di kampung, hampir tiap hari mampir ke rumah Novia untuk sekedar menggendong dan bermain bersama Athar. Terutama teman-temannya yang masih single.


Candra pun tak kalah rajin datang ke rumah itu untuk bermain bersama Athar.


" Wah, anak ayah lucunya?? Kenapa wajahmu begitu mirip sama papamu? Hem? Kenapa nggak ada mirip-miripnya sama ayah? " protes Candra sambil memberengut pura-pura marah.


Di ciumnya seluruh wajah Athar tanpa kecuali.


" Mas Candra ini bisa aja. Ya jelas nggak mirip lah. Orang Athar kan anaknya Nov sama mas Boby. Kalau Athar anak Nov sama mas Candra, baru Athar pasti mirip sama mas. "


" Lah kamu sih milih punya anak sama laki-laki lain nggak sama aku. "


" Hizz...Siapa suruh dulu sok-sokan nolak Nov. Nyesel kan sekarang?" cibir Novia.


Memang hubungan Novia sama Candra kini sudah layaknya adik dan kakak. Mereka sudah biasa saling bercanda dan saling mengejek. Meskipun Candra masih memendam rasa yang begitu kuat untuk Novia, dia akan berusaha untuk selalu memendamnya saja. Dia lebih memilih memendam rasa daripada harus berjauhan dari Novia juga Athar.


" Iya nyesel. Soalnya aku nggak tahu sih kalau punya anak sama kamu, bisa dapat begini gantengnya."


" Ha....ha...ha...." terdengar suara tawa Candra.


" Mama kamu marah. Kamu besok jangan sering marah-marah ya. Cepet tua. "


Novia makin sebel dibuatnya.


Selera humor Candra sepertinya semakin hari semakin meningkat. Dulu dia itu pendiam, yang pastinya tidak pandai bercanda.


Pembicaraan mereka semakin asyik.


Diseberang jalan ada seseorang yang sedang memandang ke arah mereka dengan pandangan yang sulit di artikan. Ada rasa marah, cemburu, penyesalan dan sebagainya. Siapa lagi kalau bukan Boby. Hampir tiap hari sebenarnya dia selalu mendatangi rumah itu. Biarpun hanya bisa melihat Novia dari kejauhan, dia sudah akan sangat bahagia. Bisa sedikit mengobati kerinduannya.


Tapi setiap dia datang dan melihat Candra ada di sana dan dengan asyiknya mereka bercanda ria, dia merasa tidak terima. Tapi ketika dia teringat janjinya ketika Novia koma, dia berusaha menepis rasa marahnya. Dia sudah berjanji akan merelakan Novia jika Novia ingin kembali bersama mantan kekasihnya itu. Asalkan Novia bahagia. Dan melihat Novia yang bisa tertawa lepas jika bersama Candra, membuat Boby merasa sudah tidak punya kesempatan lagi.


" Mas, pak Ahmad kemarin datang kesini jengukin Nov. Terus beliau juga minta Nov kembali mengajar di sekolah lagi. "

__ADS_1


" Terus kamu gimana? "


" Nov masih bingung. Nov sih pengennya mengajar kembali. Punya penghasilan sendiri. Tapi Athar gimana?"


" Kenapa kamu nggak minta ijin sama Boby? Ijin suami kan penting. "


" Nggak mas. Kalau Nov minta ijin sama juga bohong. Nggak bakal di bolehin. "


" Kalau kamu tanya pendapatku sih aku terserah kamu. Kalau kamu emang pengen ngajar lagi, pengen kerja lagi nggak masalah. Athar kan bisa di jagain sama ibu. Atau ikut aku ke cafe juga bisa. Seneng banget aku malah kalau anak ganteng ini ikut. Ya kan sayang? " ucap Candra sambil mencium pipi Athar.


" Kalau Athar ikut mas, ntar bikin mas nggak laku loh. Gadis-gadis mikirnya mas udah punya anak. "


" Biarin ya nak. Ayah kan emang udah punya anak. Ini si ganteng. Lagian nih ya, kalau besok ada yang mau nikah sama aku, harus bisa nerima anak aku yang ganteng ini. "


Novia hanya bisa geleng-geleng kepala.


" Dik, boleh nggak aku bawa Athar ke cafe? "


" Emang mas bisa jagain Athar? "


" Eh, jangan ngeledek. Pasti bisa lah."


" Kalau dia laper gimana? "


" Kamu bawain lah ASI persediaan. Mas bisa kok dik.. Percaya sama aku...Anak kamu ini akan baik-baik saja. Oke? "


" Iya deh. Kalau gitu bentar, Nov siapin bawaan Athar. "


Kemudian Novia masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan barang-barang Athar.


****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2