
Hari pernikahan sudah di depan mata. Pagi itu Novia bangun dengan sangat malas. Hampir semalaman Novia tidak bisa memejamkan matanya. Memikirkan apa yang akan terjadi esok hari.
" Mbak Noviaaaaaa......banguuuuuunnnn....." suara Sari, saudara sepupu dari Novia membangunkan Novia.
" Berisik ! " sahut Novia malas sambil menyelimuti badannya lagi.
" Mbak, bangun...! Itu periasnya udah dateng. "
Novia tak bersuara. Rupanya dia kembali tertidur. Sari berusaha membangunkan lagi. Dia menggoyang- goyangkan tubuh Novia dengan agak keras.
" Apaan sih Sar... Masih ngantuk ini.." protes Novia dengan suara serak .
" Mbak, periasnya udah dateng... cepetan bangun, terus mandi..."
." Suruh rias yang lain dulu aja. Aku belakangan. " jawab Novia masih dengan mata terpejam.
" Mbak..! Nggak bisa gitu...Mbak kan pengantinnya. Ya harus mbak dulu yang utama. Merias pengantin itu lama lho mbak..." jelas Sari jengkel. Diapun menarik tangan Novia sehingga Novia terduduk.
Dengan terpaksa, Novia pun bangun dan beranjak ke kamar mandi.
Bagaimana tidak mengantuk. Kalau hampir semalam suntuk dia tidak bisa memejamkan matanya. Yang ada di pikirannya hanya Candra dan Candra. Dia tidak menyangka kalau sebentar lagi dia akan menikah.
Yah, menikah dengan seseorang yang bahkan baru dikenalnya tiga bulan yang lalu. Padahal selama ini dia selalu berpikir kalau dia akan menikah dengan Candra.
Apa kabarnya Candra sekarang? Apa dia tahu kalau Novia akan menikah hari ini? Atau dia tidak tahu? Kalau dia tahu, bagaimana perasaannya? Apakah dia akan berlari kemari dan membatalkan pernikahan ini? Ataukah dia hanya tetap diam saja ? Berbagai pertanyaan tetap bernaung di kepala Novia saat ini.
Novia keluar dari kamar mandi dengan lesu. Tempat tidur yang tadi di tinggalkannya masih morat marit, kini telah tertata rapi. Bahkan seprainya juga sudah di ganti. Bed covernya juga.
Terlihat juga di kamar itu dua perias tengah sibuk membuka tas riasnya. Di atas meja sebelah meja rias, terdapat sepiring nasi.
Novia duduk di tepi ranjang. Ingin lari meninggalkan rumah rasanya. Lari ke pelukan Candra. Tapi hanyalah mimpi. Karena si mantan saja sudah tidak mau menerima dia lagi. Sekarang dia hanya bisa berpasrah diri kepada Yang Maha Kuasa. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuknya. Apapun itu, dia akan belajar ikhlas menjalaninya.
" Mbak, ini sarapannya di makan dulu. " Ucap salah satu perias sambil menyodorkan piring ke hadapan Novia.
Tentu saja hal itu membuyarkan lamunan Novia. Novia menerima piring itu dengan malas.
" Makasih mbak. " ucap Novia.
" Mbak manten kok kayaknya nggak semangat gitu. Mau jadi manten kok kayaknya malah lesu gitu. "
" Kurang tidur mbak. Jadi masih ngantuk."
__ADS_1
" Mm... nggak bisa karena mau nikah itu biasa mbak. Biasanya para calon pengantin perempuan itu nggak bisa tidur karena memikirkan malam pertama. Yang katanya sakit mbak. Mbak juga pasti takut itu ya?" goda perias tersebut.
" Mbak bisa aja. " jawab Novia sambil memakan sarapannya.
••••
Tepat jam 8 rombongan pengantin pria tiba di kediaman pengantin wanita. Boby terlihat semakin menawan dengan balutan kemeja berwarna putih, dasi putih tulang, celana putih, dan jas juga berwarna putih. Tak lupa dia juga mengenakan peci berwarna putih.
Om Hendro sebagai perwakilan dari pak Samsul, mempersilahkan mereka masuk. Boby di giring untuk duduk di tempat yang telah di siapkan untuk ijab Kabul. Sang mama dengan wajah yang berseri-seri selalu mendampingi.
Setelah Boby duduk di hadapan penghulu, seorang perias datang dan mengalungkan bunga ke leher Boby.
" Apakah semuanya sudah siap?" tanya pak penghulu.
" Insyaallah sudah pak. " jawab pak Samsul.
" Bapak mau menikahkan sendiri, apa wali hakim?"
" Saya akan menikahkan sendiri. "
" Baik. Bagaimana dengan calon pengantin? Apa sudah siap?" tanya pak penghulu Kepada Boby.
" Insyaallah, siap. "
Bobypun juga ikut tersenyum dan mengangguk.
" Para saksi, sudah siap ya?"
Para saksi pernikahan dari kedua belah pihak menganggukkan kepala.
" Sebelumnya saya ingin bertanya dulu, apa ada diantara saudara sekalian yang hadir di sini merasa keberatan dengan pernikahan ini?" tanya pak penghulu kepada para tamu undangan.
Dari balik tirai di ruangan sebelah, terbersit harapan kalau Candra akan datang saat ini dan membatalkan pernikahan ini.
Tapi harapan tinggal harapan. Tak ada seorang pun yang merasa keberatan. Ingin rasanya dia kabur saja. Tapi apalah daya. Pernikahan ini dia sendiri yang menyetujuinya.
" Baik. Kita mulai sekarang. Saudara Boby, silahkan menjabat tangan pak Samsul." tuntun pak penghulu.
Boby menjabat tangan pak Samsul.
" Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Boby Permana bin bpk Surya Permana alm, dengan anak saya Novia Alisy binti Samsul Prakoso dengan mas kawin sepasang cincin kawin berlian seberat 12 gram dan uang tunai sebesar 12.072.020 rupiah dibayar tunai. " ucap pak Samsul.
__ADS_1
" Saya terima nikah dan kawinnya Novia Alisy binti bapak Samsul Prakoso dengan mas kawin sepasang cincin kawin berlian seberat 12 gram dan uang tunai sebesar 12.072.020 rupiah dibayar tunai. " ucap Boby dengan lancar.
" Bagaimana para saksi sah? " tanya pak penghulu.
" Saahhh...." seru para saksi.
" Alhamdulillahirobbil ' alamin. Bismillahirrahmanirrahim......" pak penghulu membacakan doa.
Setelah doa selesai, pak penghulu meminta pengantin wanita untuk menuju ke tempat suaminya.
Dengan di dampingi oleh ibu dan kakaknya, Novia berjalan perlahan menuju pelaminan. Hari ini dia mengenakan gaun pengantin berwarna putih dan hijab panjang berwarna putih senada dengan pakaian pengantin pria.
Saat ini, wajah Novia masih di tutup dengan kerudung. Sehingga, Boby melirik ke arahnya, tidak dapat melihat wajahnya.
Setelah sampai di pelaminan, Novia duduk di sebelah Boby.
" Silahkan saudara Boby, dibaca buku nikahnya. " ucap pak penghulu.
Boby mulai membaca sighat nikah. Di sebelahnya, Novia hanya diam meremas jari jemarinya. Entah apa yang di pikirkannya.
Setelah selesai membaca sighat nikah, pak penghulu menyuruh mereka membubuhkan tanda tangan di buku nikah.
" Baik, sekarang saudara Boby, bisa di buka kerudung pengantinnya. Silahkan di lihat, apa benar itu perempuan yang anda nikahi atau tidak." perintah pak penghulu.
Boby mulai mengangkat kerudung yang menutupi wajah istrinya. Satu...dua...tiga...deg... subhanallah...istriku cantik sekali. ucap Boby dalam hati.
Kemudian Bu Vera menyerahkan cincin kawin untuk mereka pakai. Novia mengambil satu cincin. Dengan tangan gemetar, ia sematkan cincin itu ke jari manis Boby, kemudian dia mencium tangan Boby.
Setelah itu bobypun mengambil cincin yang satunya, dan di sematkan ke jari manis Novia, kemudian dia mengecup kening Novia. Kecupan itu berhenti di sana selama beberapa detik. Deg.. perasaan apa ini ketika Novia merasakan detak jantungnya berdegup kencang.
Perayaanpun berlanjut. Sepasang pengantin baru tadi berdiri menyambut ucapan selamat dari para tamu undangan. Dua jam lamanya mereka harus berdiri berjabat tangan dengan banyak tamu. Senyum manis terukir di bibir Boby dan Novia selama menyambut tamu.
Di belahan dunia yang lain ( maksud author, di tempat lain ) ada seseorang yang menangis di dalam kamarnya. Siapa lagi kalau bukan mantan Novia si Candra. Dia mendengar kabar Novia menikah hari ini baru tadi ketika dia mengantar ibunya ke rumah saudaranya yang kebetulan satu kampung dengan Novia.
Sungguh hancur hatinya. Dunianya serasa berhenti berputar. Perempuan yang selama ini di cintanya, kini telah menjadi milik orang lain. Dia telah kehilangan cintanya. Padahal dia baru saja memutuskan untuk memulai kembali dengan Novia. Rencananya dia akan memberi kejutan di ulang tahun Novia yang ke 26 seminggu lagi.
Tapi justru dia yang mendapat kejutan mematikan. Ada rasa penyesalan hinggap di hati Candra. Kenapa kemarin saat Novia meminta untuk memulai lagi dia harus menolaknya? Kenapa dia jadi bodoh seperti ini?
Ada juga rasa kecewa yang teramat sangat. Apa maksud Novia kemarin meminta memulai dari awal? Apa hanya untuk menyakitinya lagi? Kenapa Novia harus meminta kembali kalau memang dia sudah punya calon suami? Suami... Suami...Satu kata yang sangat di benci Candra saat ini.
****
__ADS_1
bersambung dulu ya guys....