
Boby terngiang terus menerus omongan Andre. Mamanya pasti sangat marah padanya. Dia harus menjelaskan sendiri. Dia harus bertemu mamanya dan berterus terang tentang semuanya.
Boby juga sempat kepikiran tentang kondisi Novia saat ini. Apakah benar istri dan calon anaknya baik-baik saja. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Boby memutuskan untuk terbang ke Jakarta ke rumah besar.
Selain untuk berterus terang ke mamanya, dia juga ingin tahu kabar istrinya. Walaupun pada awalnya Boby sempat ragu takutnya Novia juga ada di rumah besarnya dan akan berdampak pada kesehatannya jika tiba-tiba bertemu dengannya.
Boby mengambil penerbangan sore untuk ke Jakarta. Karena hari itu dia harus menyelesaikan beberapa berkas pekerjaan di kantor.
Boby sudah tidak sabar untuk sampai di rumah besar. Dia berharap bisa melihat istrinya di sana. Melihat perut buncit istrinya yang sedang mengandung anaknya. Anaknya. Bayinya. Membayangkan hal itu Boby jadi tersenyum sendiri. Ada perasaan menggelitik dalam hatinya.
Boby sengaja naik taksi dari bandara ke rumah besar. Dia tidak memberi kabar ke mamanya kalau dia akan pulang.
Sampai di depan gerbang rumah, dia bertemu satpam rumahnya. Satpam rumahnya agak terkejut melihat Boby datang. Boby hanya membalas sapaan sang satpam dengan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia bergegas masuk ke dalam rumah.
Satpam rumahnya segera mengambil interkom dan memberitahu nyonya besarnya kalau tuan kecilnya datang. Sontak seisi rumah panik. Bagaimana tidak panik kalau Novia sedang di sembunyikan di rumah itu.
" Bi, bibi cepat bawa Novia pindah ke kamar tamu yang ada di lantai dua. Siapa tahu Boby menginap malam ini. Bawa semua barang Novia. Jangan sampai ada yang terlewat di kamar itu. Aku akan mengajak Boby ke taman belakang. Biar bibi bisa membawa Novia keluar. " tutur Bu Vera dengan paniknya.
" Iya nyah. Baik. " bibi segera berlalu.
" Oh iya bi... Sebentar. Ada yang kelupaan. Bibi sekalian kasih tahu Novia jangan keluar dari kamar kalau tidak ingin bertemu suaminya. Kalau dia butuh apa-apa, bibi yang layani. Tapi harus diam-diam. "
" Baik, nyonya. " bibi mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bibi berlalu menuju kamar Boby yang di tempati oleh Novia. Dan Bu Vera segera berlalu ke depan.
" Assalamualaikum ma...Mama..." sapa Boby ketika sudah masuk ke dalam rumah.
" Waalaikum salam. " Jawab Bu Vera masih agak dengan wajah paniknya.
__ADS_1
Boby menyalami dan mencium punggung tangan Bu Vera.
" Kamu kok tumben kesini nggak kasih kabar mama dulu ? "
" Emangnya kalau Boby pulang harus kasih kabar dulu gitu? " jawab Boby sekenanya. Dia bisa melihat gelagat panik mama juga satpam yang di depan tadi. Dari gelagat itu, Boby yakin kalau istrinya ada di rumah itu.
Boby tersenyum dalam hati. Hatinya berbunga-bunga. Meskipun dia tidak melihat Novia, tapi seenggaknya dia bisa dekat dengan Novia. Dia yang awalnya berencana untuk langsung kembali ke Semarang setelah berbincang dengan mamanya, kini dia gagalkan rencana itu. Dia akan menginap di rumah itu malam ini. Walaupun hanya semalam, tapi dia akan senang membayangkan istrinya ada di dekatnya.
" Ayo kita ke taman belakang. Tadi mama lagi nyirami bunga di belakang terus kamu datang. Mama mau sekalian ngabisin minuman mama. "
Bu Vera segera berlalu diikuti oleh Boby. Ketika masuk ke rumah lebih dalam, Boby mengitari rumah itu dengan matanya. Berharap dia bisa melihat Novia di sana.
" Kamu mau minum apa? Biar di bikinin sama Yani. " tanya sang mama ketika mereka sudah duduk di taman belakang rumah.
" Juice jambu aja ma kalau ada. " jawab Boby.
Kemudian Bu Vera memanggil pembantunya yang bernama Yani untuk membuatkan juice jambu untuk Boby.
" Bi Jum kemana ma, kok nggak kelihatan? "
" Ha...?" Bu Vera terkejut dengan pertanyaan anaknya.
" Bi Jum ma, kemana? Mama kok aneh sih sedari tadi. Diajak ngobrol nggak nyambung. "
" Itu...mmm...bi Jum lagi ke tempat saudaranya. Kebetulan saudaranya dari kampung ada yang baru jadi pembantu juga di Jakarta. Jadi bibi kesana. " jawab Bu Vera asal.
Bi Jum adalah pembantu sekaligus pengasuh Boby sejak kecil. Jadi Boby sudah dekat banget sama bi Jum. Setiap dia pulang ke rumah besar, pasti bibi yang di carinya.
' Sepertinya mama bohong. Mungkin bibi disuruh mama jagain Novia. Syukur deh kalau memang gitu. Bi Jum pasti bisa jaga Novia dengan baik.' batin Boby.
__ADS_1
" Kamu kok tiba-tiba ke rumah, pasti ada sesuatu. Nggak mungkin kamu ingat sama mamamu yang udah tua ini kalau nggak ada yang penting. " tuduh mamanya.
" Boby....Boby...mau minta maaf sama mama. " ucap Boby gelagapan.
" Minta maaf kenapa? Kamu punya salah sama mama?" jawab Bu Vera pura-pura tidak tahu maksud Boby.
" Boby yakin, mama pasti sudah tahu tentang rumah tangga Boby. " ucap Boby sambil menunduk.
Bu Vera hanya menarik nafas berat dan mengeluarkannya perlahan.
" Maafin Boby. Selama ini Boby udah bohongin mama. Boby akan jujur semuanya. Dari awal sampai akhir. Habis itu terserah mama. Boby terima kalau mama marah. "
" Hm.." Bu Vera hanya menjawab dengan berdehem.
Kemudian Boby menceritakan semua perihal dia dan Novia mulai dari awal mereka bertemu sampai permasalahan yang dia buat dalam rumah tangganya.
Boby berterus terang tentang alasan yang sebenarnya kenapa dia ingin segera menikahi Novia kala itu. Bu Vera terkejut dengan cerita Boby. Karena beliau memang tidak tahu alasan Boby menikahi Novia. Setahu beliau, Boby menikahi Novia karena memang anaknya itu mencintai Novia.
Bu Vera tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya. Beliau hanya bisa mengelus dada sambil geleng-geleng kepala.
" Kamu bener-bener ya. Seingat mama, mama selalu mengajarkan hal yang baik sama kamu. Bisa-bisanya kamu mempermainkan seorang perempuan. Mamamu ini juga perempuan, Bob..." ucap mamanya dengan amarahnya.
" Maaf ma.. Walaupun alasan Boby seperti itu, tapi Boby yakin kalau Boby pasti bisa mencintai Novia ma. "
" Oh ya? Bukannya kamu malah hanya menyakiti hati menantu mama? Kamu tega-teganya mengkhianatinya. Setelah kamu mendapatkan semua yang ada pada Novia. Kamu mempermainkan perasaannya. Juga kebaikan hatinya. " ucap Bu Vera dengan nada tinggi karena dia memang benar-benar marah dengan anaknya.
Boby hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya mendengar kemarahan mamanya.
****
__ADS_1
bersambung