Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
70. Pingsan


__ADS_3

' Apa benar itu kamu mas??' batin Novia sambil berjalan mengikuti laki-laki itu.


Sampai di parkiran, Novia melihat laki-laki membukakan pintu mobil untuk perempuan itu. Saat itu dia mengenali mobil yang di bawa laki-laki itu.


" Mas Boby.... Benar itu kamu mas. Jadi ini yang membuatmu berubah? Ini yang membuatmu tidak peduli dengan calon anakmu mas?" ucap Novia perlahan sambil berlinang air mata.


Novia melihat mobil suaminya meninggalkan area parkiran. Novia kembali berjalan meninggalkan area parkiran juga. Air mata terus mengalir di kedua sudut matanya. Bibirnya bergetar menahan isakan. Pikirannya kosong.


Novia terus berjalan tanpa arah. Dia tidak peduli dengan orang-orang di sekeliling yang memperhatikannya. Sampai ketika sebuah mobil yang baru turun dari parkiran hampir menabraknya.


" Awas..." seorang laki-laki menarik tubuh Novia ke samping agak keras sehingga tubuh Novia terhuyung dan jatuh di atas tubuh laki-laki yang menolongnya tadi.


" Novia..." panggil laki-laki itu ketika dia melihat wajah Novia dari dekat.


Yah. Laki-laki yang menolong Novia adalah Candra.


Flash back on


Sore itu, Candra sedang mencari bahan makanan untuk cafenya di P mall. Dia memarkirkan mobilnya di lantai paling bawah.


Ketika dia sedang berjalan hendak menuju parkiran untuk mengambil mobilnya, Candra melihat seorang perempuan yang sedang berjalan di tengah jalan tanpa memperhatikan jalan. Dan ada sebuah mobil yang meluncur dengan cepat dari area parkir menuju perempuan tadi berjalan.


Dengan cepat Candra berlari ke arah perempuan tadi. Kemudian menarik tubuh perempuan tadi dengan cepat yang akhirnya malah membuat perempuan itu jatuh di atasnya.


Candra terkejut ketika melihat wajah perempuan itu.


" Novia.." panggilnya.


Candra mengamati wajah mantan kekasihnya itu. Terlihat kalau Novia habis menangis karena masih ada sisa air mata di matanya. Candrapun bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa perempuan yang masih sangat di cintainya ini menangis di tengah jalan bahkan hampir tertabrak mobil.


Flash back end


" Dik Nov..." panggilnya kembali.


Novia memandang Candra dalam diam. Kemudian berdiri dari jatuhnya. Tanpa mengatakan sepatah katapun, dia mulai berjalan meninggalkan Candra.


Candra segera bangkit dari jatuhnya dan mengejar Novia. Setelah dekat dengan Novia, Candra menarik tangan Novia.


" Dik Nov..." panggil Candra.


Novia menepis tangan Candra. Kemudian berjalan kembali. Candra kembali mengejar.


Kali ini Candra memegang tangan Novia dengan kuat supaya Novia tidak bisa menepisnya.


" Novia..." teriaknya.

__ADS_1


Novia masih tetap terdiam dengan pandangan kosong. Dari sudut matanya mulai keluar air mata kembali. Candra semakin bingung melihatnya. Kira-kira apa yang telah terjadi dengan perempuan di depannya ini.


Ketika hendak bertanya, Candra mendapati tubuh Novia yang tiba-tiba melemah. Tubuhnya terhuyung ke samping. Untung saja Candra segera meraih tubuhnya sehingga tubuhnya tidak jatuh ke tanah. Novia pingsan.


Candra menjadi kalang kabut. Novia berada dalam pelukannya dengan kondisi yang tidak sadarkan diri.


" Nov...Novia... Bangun Nov..." panggil Candra berusaha menyadarkan Novia. Tapi Novia tetap dalam kondisi pingsan.


Orang-orang mulai berkerumun mendekat.


" Kenapa mas dengan istrinya?" tanya salah satu orang.


Candra terkejut dengan pertanyaan itu. Istri. Orang-orang mengira Novia adalah istrinya.


" Sa...saya tidak tahu. Tiba-tiba dia pingsan. " jawab Candra terbata.


" Sebaiknya cepat di bawa ke rumah sakit mas istrinya. Kasihan. " ucap orang lain lagi.


" Mm..maaf mbak. Bisa minta tolong pegangi istri saya sebentar. Saya mau ambil mobil di parkiran sebentar. " pinta Candra ke salah satu orang di sana.


Orang itu mengangguk kemudian menggantikan posisi Candra yang tengah memeluk tubuh Novia.


Candra segera berlari ke parkiran dan mengambil mobil. Setelah mengambil mobil, Candra segera mengangkat tubuh Novia dan di masukkan ke mobil.


Segera Candra melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit terdekat. Sampai di depan pintu UGD, Candra mengangkat tubuh Novia kembali. Dia memasuki ruangan. Tampak suster mendorong ranjang pasien ke arahnya.


" Sebentar pak. Akan kami tangani dulu. Bapak tunggu di sini. Dan silahkan anda ke bagian administrasi dulu untuk mengisi data pasien. " tutur suster tadi.


Candra mengangguk. Setelah melihat Novia sudah masuk ke UGD, Candra segera menuju ruang administrasi. Mengisi beberapa formulir untuk pasien. Setelah mengurus pendaftaran pasien, Candra kembali ke ruang tunggu UGD.


" Bapak. " panggil suster.


" Iya sus. " Candra bangkit dari duduknya.


" Apakah pasien tadi adalah istri anda?" tanya suster.


Candra bingung harus menjawab apa.


" Memangnya apa yang terjadi sus? Bagaimana keadaannya?"


" Kami belum bisa memastikan apa yang menyebabkan pasien pingsan. Dan kami juga belum bisa memberikan obat apapun karena istri anda sedang hamil. "


Candra terkejut mendengarnya. Dia membelalakkan matanya ketika suster tadi berkata kalau Novia sedang hamil.


" Kami harus menunggu dokter kandungan tiba baru bisa memberikan obat. Tapi untuk sementara, diagnosis dokter UGD, istri anda kekurangan cairan dan juga kekurangan nutrisi. " jelas suster lebih lanjut.

__ADS_1


" Sus, keluarga pasien yang baru masuk tadi di panggil dokter Dea. " ucap suster lain yang baru keluar dari UGD.


" Oh iya sus. Bapak, mari silahkan. Dokter kandungan ingin berbicara dengan anda. "


Tanpa berkata apapun, Candra mengikuti langkah suster dan masuk ke ruang UGD. Di UGD, Candra sempat melihat Novia yang sudah di pasang infus di tangannya dan selang oksigen di hidungnya. Ada rasa bersalah menyelimuti hatinya melihat kondisi Novia yang seperti itu.


Suster mempersilahkan Candra untuk ke ruang dokter. Di sana dokter Dea telah menunggu.


" Silahkan duduk, pak. " ucap dokter Dea.


" Terimakasih dok. " jawab Candra.


" Tadi waktu istri anda periksa, istri anda bilang kalau anda sedang berada di luar kota. Kok sekarang anda bisa ada di sini?" tanya dokter Dea yang merasa aneh.


" Maaf dok. Sebenarnya saya bukan suaminya. Saya temannya dok. Kebetulan saya tadi bertemu dia di jalan dan tiba-tiba dia pingsan. "


Dokter Dea manggut-manggut.


" Makanya saya tadi merasa aneh. Soalnya baru tadi sore Bu Novia dari tempat saya memeriksakan kandungannya dan bilang kalau suaminya tidak bisa menemani karena sedang di luar kota. Kok tiba-tiba ini ada di sini. "


" Memangnya sudah berapa bulan usia kandungannya dok?"


" Tiga bulan pak. Sebenarnya tadi saya mau menjelaskan kondisi kandungan dan juga kesehatan Bu Novia tapi karena dia datang sendirian, jadi saya urungkan. Saya khawatir dia kepikiran. Tidak baik juga buat kandungannya. Tadi saya berharap suaminya ikut. "


" Memangnya bagaimana kondisi Novia dan bayinya dok? "


" Saya akan ceritakan ke bapak. Tolong bapak kasih tahu suaminya. Jadi begini pak. Sebenarnya kondisi kandungan Bu Novia sangat lemah. Rentan keguguran. Selain karena kurangnya asupan gizi, sepertinya Bu Novia sedang banyak pikiran. Sedangkan wanita hamil itu harus selalu happy, bahagia, jangan sampai berpikir yang terlalu serius. "


" Lalu kondisi Novia sendiri bagaimana dok? "


" Kondisi Bu Novia juga tidak bagus pak. Kondisi kehamilan seperti yang di alami Bu Novia ini bisa membahayakan hidupnya. "


Candra mengusap wajah kasar. " Lalu solusinya bagaimana dok? "


" Solusinya ada pada diri Bu Novia sendiri dan orang-orang yang di dekatnya. Saya tidak tahu masalah apa yang sedang di alami Bu Novia. Tapi saya minta, orang-orang terdekatnya harus bisa membantunya untuk bangkit. "


" Iya dok. Saya akan sampaikan ke keluarganya. "


" Untuk sementara, Bu Novia harus di rawat inap. Karena kondisinya sangat lemah. Dan dia juga belum sadarkan diri. "


" Iya dok. Saya akan mendaftarkan ruangan untuknya. Terimakasih banyak dok. "


" Iya pak sama-sama. "


Candra meninggalkan ruangan dokter UGD. Dia kembali ke ruang administrasi dan mendaftarkan Novia untuk rawat inap.

__ADS_1


****


bersambung


__ADS_2