
Sudah hampir satu minggu Boby di Yogyakarta. Hampir tiap hari Boby selalu menelepon istrinya. Walaupun hanya sekedar say hello. Hampir tiap hari dia merindukan istrinya. Apalagi kalau malam tiba. Bayangan malam pertama mereka membuatnya tidak bisa tidur.
Seperti malam ini, setelah kembali ke hotel, Boby langsung melakukan video call dengan Novia.
" Halo Assalamualaikum, mas."
Tampak wajah cantik Novia di layar smartphone Boby.
" Waalaikum salam, Sayang."
" Lagi ngapain?"
" Nggak lagi ngapa-ngapain. Tadi habis mengoreksi hasil ulangan anak-anak."
" Tumben bawa kerjaan pulang?"
" Iya, habis daripada di rumah bosan nggak ada kerjaan."
" Sebenarnya ada lho kerjaan di rumah."
" Apaan? Orang semua udah di kerjain sama bibi. Aku mau bantuin aja nggak di bolehin. Mau masak juga males kalau di makan sendiri."
" Ada lho yang. Kerjaan sangat penting malah. "
Novia mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan maksud Boby.
" Kerjaan merindukan aku, Sayang."
" Hihhh, lebay kamu mas."
" Biarin...Lebay sama istri sendiri."
" Kamu baru pulang? Kok masih pakai baju kayak gitu. Masih jelek gitu mukanya."
" He'em. Mau mandi dulu tapi keburu udah nggak sabar pengen lihat istriku yang cantik."
Mendengar gombalan suaminya, Novia mencibirkan bibirnya.
__ADS_1
" Yang, kamu lagi di mana ini?"
" Di kamar tidur. Kenapa?"
" Buka kerudungnya dong. Pengen lihat rambutmu."
" Bentar. " Novia meletakkan ponselnya di atas kasur, kemudian dia melepas kerudung dan penjepit rambutnya.
" Wah, istriku memang benar-benar cantik. Jadi pengen nyium. Jadi pengen cepat pulang, terus mengulang malam yang bersejarah lagi."
Blushhh...pipi Novia langsung bersemu merah mendengar ucapan Boby.
" Kerjaan kamu gimana di sana mas? Udah ketemu solusinya?"
Novia berusaha mengalihkan pembicaraan panas yang Boby ciptakan.
Boby mendesah pelan. " Belum. Akar permasalahannya belum ketemu. Sampai hari ini, pak Tejo, supplier bahan bangunan itu belum mau ketemu sama aku. Beliau bilang, mau ketemu sama aku kalau akar permasalahannya sudah aku temukan."
" Terus sementara ini, spekulasi kamu apa mas? Apa masih tetap yang kemungkinan kalau dia bekerja sama dengan kontraktor yang kalah itu?"
" Seperti dugaan kamu. Aku yang su'udzon. Ternyata bukan itu permasalahannya. Justru kontraktor pesaingku itu orangnya baik. Aku benar-benar bingung, apa yang membuat pak Tejo marah seperti itu. "
" Maksudnya?" Boby terlihat antusias dengan masukan dari istrinya.
" Maksud aku gini mas. Mungkin aja ada pegawaimu yang membuat masalah dengan suppliernya."
Boby tampak berpikir. " Tapi orang yang aku taruh di proyek ini adalah orang-orang kerjanya bagus semua."
" Ya, siapa tahu mas. Apa salahnya kamu menyelidikinya? Kasihan para pekerja yang di lapangan kalau proyeknya terhenti terlalu lama."
" Boleh juga sih masukan kamu. Akan memakan waktu yang cukup lama untuk menyelidiki hal ini. Besok aku akan mulai melakukan penyelidikan terhadap pegawaiku."
Novia mengangguk.
" Yah, bakal lama kita nggak ketemu, yang... Padahal aku udah kangen banget. Pengen...itu.."
" Itu apa?Hiiii... pasti mikir jorok ya... Pikirannya mesum ya..."
__ADS_1
" Nggak ada salahnya mesum sama istri sendiri. Yang, buka baju kamu dong..." pinta Boby dengan tampang memelas.
Novia melototkan matanya terkejut dengan permintaan sang suami yang absurb. Novia jadi tidak habis pikir kalau ternyata suaminya memiliki sisi seperti ini. Padahal kesehariannya Boby adalah seorang pria yang kaku.
" Yang, ayo dong.. bentar aja." pinta Boby kembali karena Novia tidak memberikan jawaban tapi malah bengong.
Novia menggeleng. " Kenapa harus buka baju sih mas? Yang benar aja deh.."
" Yang, aku pengen... Lihat nih..." Boby mengarahkan layar ponselnya ke celananya yang terlihat sesuatu menonjol di sana.
" Kamu ini ada-ada aja. Ntar malah kamu sendiri yang tersiksa. "
" Nggak yang. Aku single aja. Tapi kamu bantuin. Cuma buka baju kamu aja. "
Tampang Boby benar-benar memelas. Tapi Novia tetap bersikeras. Dia sangat malu untuk melakukannya.
" Nggak ah mas. Aku malu. Besok aja kalau kamu udah pulang. Mending kamu sekarang mandi, biar seger badannya."
" Tapi beneran besok kalau pulang ya. Aku akan menagihnya." Novia mengangguk menjawabnya.
" Ya udah aku mandi dulu. Main single aja di kamar mandi."
" Tuh kan jorok lagi bicaranya "
Boby tersenyum. " Ya udah aku tutup dulu teleponnya. "
" Iya. Jangan lupa makan malam dulu. Terus jangan begadang."
" Siap nyonya. Kasih ciuman dulu." Boby mengerlingkan sebelah matanya.
Novia memberi senyuman singkat lewat layar ponselnya. Dan di balas dengan Boby melakukan hal yang sama.
Setelah panggilan di akhiri, Boby beranjak ke kamar mandi.
Dan di seberang sana, Novia keluar dari kamar untuk menonton TV.
***
__ADS_1
bersambung