Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
78. Sepupu


__ADS_3

Semenjak kedatangan Candra di kantornya kemarin dulu itu, Boby sering uring-uringan. Sering marah-marah tidak jelas. Pikirannya kalut. Hatinya juga kalut dan bimbang.


Di satu sisi dia tidak ingin melepaskan istrinya. Apalagi membayangkan istrinya akan menjadi milik laki-laki lain. Tapi di satu sisi dia juga tidak bisa melepaskan Karell. Apa tidak bisa sekali saja dia egois dan memiliki kedua-duanya? Itulah pertanyaan yang ada di pikirannya saat ini.


Tulilut.... tulilut... tulilut...bunyi ponsel Boby.


Dia segera mengambil ponsel yang ada di sakunya.


" Halo. "


" Halo, sayang. Kamu lagi di kantor?" tanya Karell


" Iya. Ada apa? "


" Sayang, apa besok kau bisa menemaniku jalan-jalan? Aku bosan sekali hanya berdiam diri di rumah. "


" Maaf, sepertinya aku tidak bisa kalau besok. "


" Kau sibuk? "


" Besok aku harus pergi ke Surabaya. Lusa, Andre mau menikah. "


" Andre mau menikah? Apa aku boleh ikut? Aku juga ingin datang ke pernikahannya. "


Boby tidak langsung menjawab. Dia bingung apa Karell bisa ikut dengannya atau tidak. Bagaimanapun dia adalah laki-laki beristri. Apa pantas dia bepergian dengan perempuan lain?


" Halo, sayang... Boleh aku ikut? "


" Iya. " jawab Boby tanpa sadar. Karena memang dari dulu dia tidak bisa menolak apapun yang Karell katakan.


" Jam berapa kita akan berangkat? "


Boby baru sadar kalau dia telah mengajak Karell. Diapun menyesalinya. Boby mengusap wajahnya kasar.


" Tapi setelah itu aku tidak bisa langsung pulang. Aku harus menyelesaikan beberapa urusan di sana. " ucapnya. Boby berharap Karell membatalkan niatnya untuk ikut setelah tahu kalau setelah itu Boby tidak bisa menemaninya.


" Tidak masalah. Aku akan kembali ke Semarang sendiri. "


" Hah!" Boby menghembuskan nafas kasar. Dia agak kesal terhadap dirinya sendiri.


" Jam berapa kita berangkat? "


" Pesawat jam 4 sore. "


" Kau sudah membeli tiketnya? Lalu bagaimana denganku? Aku ingin kita berangkat bersama. "

__ADS_1


" Biar nanti coba aku carikan tiketnya. "


" Baiklah sayang. Aku tutup dulu teleponnya. Bye, honey..."


Panggilan di akhiri. Boby kembali menghela nafas panjang. Di bukanya laci meja kerjanya. Dia mengambil dua lembar tiket pesawat dari dalam laci itu.


Dia sengaja membeli tiket ke Surabaya dua. Awalnya dia akan mengajak istrinya untuk datang ke pernikahan Andre. Tapi belum sempat dia mengatakannya kepada Novia. Dan kini sudah tidak mungkin dia mengajak Novia. Karena dia terlanjur mengajak Karell.


Setelah pergulatan batin yang cukup alot setelah kedatangan Candra di kantornya kemarin dulu itu, Boby telah memutuskan untuk meminta maaf kepada Novia. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan istrinya. Dia ingin bisa selalu dekat dengan anaknya. Bayi yang masih dalam kandungan istrinya. Dia tidak bisa membayangkan kalau sampai dia kehilangan istri dan anaknya.


Dia berencana untuk berterus terang kepada Karell. Dan dia akan memutuskan hubungannya dengan Karell demi anak dan istrinya.


Tapi lagi-lagi dia tidak bisa menolak Karell. Semua yang telah dia rencanakan hancur dalam waktu seketika.


••••


Hari berganti. Hari itu Boby pulang dari kantor lebih awal. Dia harus menyiapkan bajunya untuk di bawa ke Surabaya. Kalau dulu, Novia yang akan menyiapkan segala keperluan jika dia hendak bepergian keluar kota.


Jam 14.50


Tok... tok...tok... pintu depan rumah diketuk seseorang. Novia yang saat itu sedang melalui ruang tengah mendengar suara pintu di ketuk. Dia segera ke depan membuka pintu.


" Halo, selamat sore. " sapa tamu itu.


" Maaf mbak. Mau ketemu siapa? " lanjut Novia.


Perempuan itu tersenyum dengan berjalan masuk ke dalam rumah sebelum Novia mempersilahkan. Noviapun di buat terkejut.


" Saya mau bertemu Boby. Dia ada kan? " jawab perempuan itu sambil terus berjalan menuju ruang tengah. Novia mengikuti dari belakang.


" Mbak, maaf...mbak ini siapa ya? "


Pintu kamar Boby terbuka dari dalam. Boby keluar dari dalam kamar. Diapun sangat terkejut melihat Karell datang ke rumahnya. Dan lebih terkejut lagi, di belakang Karell, Novia sedang berjalan mengikuti Karell.


" Maaf mas, mbak ini mencarimu. " ucap Novia menyadarkan Boby yang sedari tadi masih bengong melihat kedatangan Karell.


" Karell. " ucap Boby.


Novia mendengar samar-samar mendengar sebuah nama yang tidak asing baginya di sebutkan oleh suaminya. Sekarang dia ingat dimana dia pernah bertemu perempuan itu.


Bayang-bayang perempuan itu bergelayut manja di pundak suaminya di P mall waktu dulu mencuat kembali. Matanya terasa panas sekarang. Hatinya terasa perih. Luka yang masih menganga kini terluka kembali.


" Kenapa kamu kesini? " Boby bertanya kepada Karell.


" Maaf sayang, aku kasihan kalau kamu harus menjemputku ke rumah. Kalau mau ke bandara kan lebih dekat kalau dari sini. " jawab Karell sambil mendekat ke Boby. Dia hendak mencium pipi Boby, tapi Boby menghindar.

__ADS_1


Boby memandang Novia yang masih tetap berdiri di tempatnya tadi.


" Aku juga sekalian mau bantuin kamu packing. "


" Nggak usah. Terimakasih. Aku sudah selesai packing. "


" Oh iya, sayang. Ini siapa? " tanya Karell menunjuk ke Novia.


" Dia...Dia Novia. " jawab Boby gelagapan.


" Hai, Novia. Kenalin, aku Karell. Pacarnya Boby. " sapa Karell ke Novia sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.


Deg. Jantung Novia terasa mau lepas dari tempatnya saat mendengar ucapan Karell. Bobypun tak kalah kaget. Jantungnya juga serasa lepas.


Novia menyambut uluran tangan Karell dengan berat hati. Diapun memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Novia berusaha keras menahan air matanya supaya tidak menetes.


" Dia siapa kamu sayang? " tanya Karell ke Boby.


" Dia...Dia sepupu aku. " jawab Boby.


Benar-benar mulut Boby tidak bisa diajak bekerja sama dengan pikiran dan hatinya. Bukan itu yang ingin di katakan Boby.


Mendengar jawaban Boby, seketika Novia mengalihkan pandangannya ke Boby. Di tatapnya lekat mata suaminya. Bobypun jadi salah tingkah.


" Oh, sepupu kamu. Sepertinya dulu kita belum pernah bertemu ya. Soalnya dulu pas saya kesini tidak pernah melihat kamu. Ya... memang sudah lama juga sih saya tidak kesini. " jelas Karell yang tidak di dengarkan sedikit pun oleh Novia.


Novia masih menatap Boby lekat. Tapi Boby sudah tidak berani menatapnya.


" Novia, saya ini sudah lama berhubungan dengan Boby. Tapi karena kebodohan saya, saya malah meninggalkan dia keluar negeri. Padahal dia begitu menyayangi saya. Aku benar-benar menyesal. Untung saja, sekarang dia masih tetap seperti dulu. Dia mau menerima saya kembali. " tambah Karell sambil tersenyum bahagia dan menyandarkan kepalanya di pundak Boby.


Mata dan hati Novia benar-benar terasa panas dan kebas. Sekuat mungkin dia menahan air matanya.


" Kamu tunggulah di depan. Aku ambil koperku dulu. " potong Boby supaya Karell tidak semakin bercerita jauh.


" Baiklah. " Karell berlalu. " Sampai jumpa lagi, Novia. " ucap Karell ketika di dekat Novia. Sekilas, Karell memperhatikan perut Novia yang terlihat buncit seperti wanita yang sedang hamil. Ingin rasanya Karell bertanya. Tapi diurungkannya karena dia baru bertemu sekali. Mungkin dia akan bertanya kalau mereka bertemu lagi.


Karell keluar dan Boby masuk ke kamar untuk mengambil kopernya. Novia masih setia menunggu suaminya keluar dari kamar. Air matanya sudah mulai menetes. Tapi buru-buru di usapnya. Dia tidak ingin terlihat rapuh di depan suaminya.


Boby keluar dari kamar. Dia melihat Novia sekilas tanpa berkata apa-apa. Kemudian kembali berjalan. Tapi Novia menghalangi dengan memegang tangannya.


" Kemana mas?" tanya Novia dengan sisa-sisa tenaganya.


****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2