
Hari itu, baru jam 2 siang Boby pulang dari kantor.
" Mas, kok udah pulang? Baru jam 2 lho ini. " tanya Novia.
" Kangen sama bidadariku. " jawab Boby sambil mengecup kening Novia. " Juga sama jagoanku. " lanjutnya sambil mencium pipi Athar yang sedang di gendong mamanya.
" Mau minum apa mas? Mau kopi apa teh hijau aja? " tawar Novia.
" Mmm... juice alpukat aja lah. Enak kayaknya. Seger. "
" Oke. Bentar aku buatin dulu. " jawab Novia.
" Anak mama duduk sini dulu ya. " lanjut Novia sambil meletakkan Athar di kursi mainannya.
" Siniin aja baby Athar. Gendong papa yuk.." ucap Boby mengambil Athar dari gendongan mamanya.
Boby mengikuti Novia berjalan di belakangnya sambil menggendong Athar menuju ke dapur.
" Yang, aku udah ambil antrian di dokter kandungan. "
" Jadi mas? "
" Jadi dong. Nanti jam 4 kita berangkat. Biar Athar di rumah sama bibi. Kita dapat nomer awal. "
" Manut aja lah. " jawab Novia pasrah.
" Kamu kenapa sih yang? Sepertinya kok kamu keberatan kalau aku minta buat ikut program KB? "
" Ngeri. " jawab Novia singkat sambil bergidik.
" Kok ngeri?" tanya Boby sambil mengerutkan dahinya.
" Program KB kan macam-macam. Ada suntik, pil, IUD, terus implan, tubektomi. "
Boby mendengarkan dengan seksama.
" Kalau suntik, masak iya sebulan sekali aku harus di suntik? Hiiii....." Novia bergidik. " Lihat jarum suntik aja takut. "
" Pfftt.." Boby mencoba menahan tawanya mendengar keterangan Novia.
" Kamu ngetawain aku ya? " Novia melotot memandang Boby. " Tapi biarin ah. Di ketawain juga nggak pa-pa. Karena aku emang takut. Terus kalau suntik, kata kebanyakan orang bisa bikin gemuk. Kalau aku gemuk, ntar kamu jadi nggak cinta lagi sama aku. " tambah Novia dengan cueknya.
Boby menjadi semakin gemas melihat Novia. Ternyata Novia cuek orangnya, bukan seorang pemalu, bicaranya banyak juga. Pengetahuan baru bagi Boby soal Novia.
" Kalau pakai pil, itu bahaya. Kalau lupa aja sehari, terus malam sebelumnya kita berhubungan, malah bisa langsung bikin hamil. Kalau implan, hiiii.... tambah ngeri. Alatnya di masukkan di sini. " jelas Novia sambil menunjuk bahunya. " Sini di iris, terus alatnya di masukin. " tambahnya masih sambil mengelus lengannya.
Boby yang sedari tadi hanya menyimak, kini angkat bicara.
" Sayang, mau kamu gemuk, mau kamu kurus, aku tetap akan selalu cinta sama kamu. Yang aku suka dari kamu, bukan hanya karena body kamu. Tapi hati kamu, otak kamu, senyum kamu, bibir kamu.. Pokoknya semua yang ada pada diri kamu. " ucap Boby sambil memegang tangan Novia dengan sebelah tangannya.
" Lagian, masih ada pilihan KB yang lain kan? "
" Ada. IUD. Itu yang paling aman dan paling bagus. Tapi kamu tahu mas? Alatnya di masukkan dari mana? "
" Emang di masukkan lewat mana? "
__ADS_1
" Lewat sini mas. Lewat jalan lahirnya athar. " jelas Novia sambil menunjuk ke bawah.
" Ha?? Apa??" Boby sangat terkejut dengan penjelasan Novia.
Novia langsung mengangguk mantap. Dia yakin, kali ini suaminya pasti berubah pikiran untuk mengajaknya ikut program KB.
Boby tampak berpikir.
" Emang kamu rela mas, aku di lihat laki-laki lain? Meskipun itu dokter. " tambah Novia.
" Bukan cuma di lihat... Tapi di pegang-pegang juga. " tambahnya lagi.
" Nggak!! Nggak boleh. " ucap Boby tegas.
Novia bersorak dalam hati. Sepertinya usahanya untuk mengubah keputusan suaminya berhasil. Novia memang takut untuk ikut KB.
" Bi...Bi Susi...." panggil Boby.
Tak lama kemudian, bi Susi datang menghampiri.
" Bi, ajak Athar ke belakang dulu. " pinta Boby.
" Iya mas. " jawab bi Susi sambil mengambil alih Athar.
Kemudian bi Susi berlalu.
Setelah bi Susi berlalu, Boby mengambil ponselnya dari dalam celananya. Tak lama kemudian, panggilan tersambung.
" Re, kamu kenapa nyari dokter kandungannya laki-laki? Apa tidak ada dokter perempuan? " ucap Boby kepada Remon setelah panggilannya tersambung.
" Maaf bos. Tadi si bos katanya suruh cari dokter kandungan terbaik di kota ini. Bos nggak bilang kalau dokternya harus perempuan. " jawab Remon.
Tut...Tut...Tut... panggilan di akhiri sepihak oleh Boby.
Pupus sudah harapan Novia. Dia tadi sudah bersorak dalam hati. Tapi ternyata suaminya tetap kekeh mengajaknya ke dokter kandungan. Dia hanya bisa pasrah sekarang.
" Kalau memang tidak ada dokter perempuan yang bagus, nggak usah di paksakan mas. "
" Pasti ada. Kalau tidak ada, besok kita ke Jakarta. Kita ke dokter Dinda. "
Novia hanya menghela nafas panjang.
" Ini mas juicenya. "
" Iya sayang. Terimakasih. " Boby menenggak juice itu tanpa jeda.
Novia meninggalkannya sendiri di dapur.
••••
" Ayo yang... cepetan... udah sore ini. " ucap Boby.
" Iya mas. Bentar. " jawab Novia dari dalam kamar.
Remon berhasil menemukan dokter kandungan perempuan yang bagus di kota Semarang. Kini mereka akan segera berangkat ke tempat dokter itu.
__ADS_1
Setelah Novia selesai bersiap-siap, mereka segera berangkat.
Sampai di tempat praktek dokter, mereka bisa langsung masuk menemui dokter karena mereka mendapat nomer antrian satu.
Mereka berbincang-bincang dengan dokter. Banyak hal yang Boby tanyakan. Novia lebih banyak diam. Terlihat di sini, Boby lah yang lebih antusias.
Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya dokter menyarankan kepada Novia untuk memakai IUD.
Novia akhirnya mengiyakan saran dari dokter. Karena kebetulan hari itu Novia masih dalam keadaan ha**. Maka dokter bisa langsung memasang alat IUD ke Novia.
Selama proses pemasangan, Boby selalu menemaninya.
" Mas, kamu duduk aja di sana. " ucap Novia ketika dia sudah berada di ruang penanganan.
" Nggak. Aku mau nemenin kamu di sini. "
" Mas, malu sama dokter sama susternya. " bisik Novia.
" Kenapa mesti malu? Kan aku suami kamu. " jawab Boby dengan suara lantang. Membuat Novia melotot sambil mencubit pinggang suaminya.
" Aduh, yang...Kok di cubit? Sakit tahu.." protes Boby sambil mengelus pinggangnya.
" Aku pengen nemenin kamu sayang. Waktu kamu ngelahirin, aku nggak nemenin kamu. Jadi sekarang kamu ijinin aku, oke?" rengek Boby.
" Ih, lebay kamu mas. "
Dokter dan suster yang mendengar perdebatan mereka hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
" Tidak apa-apa bu. Biarkan bapak menemani. "
Boby memandang Novia dengan senyum kemenangan.
" Kamu ." protes Novia tanpa suara.
" Bapak sama ibu ini seperti pengantin baru ya. Romantis. Kalau ada yang lihat pasti akan mengira kalau bapak ibu ini pengantin baru. Padahal sudah punya seorang anak ya. " ucap dokter sambil mempersiapkan alat yang akan di pasang.
Setelah peralatan siap, dan Novia juga sudah berada di posisinya, dokter mendekat.
" Tunggu dok. Saya boleh lihat? " tanya Boby.
" Boleh. " jawab dokter.
Boby beranjak mendekati dokter, tapi Novia mencekal tangannya.
Boby berhenti dan kemudian memandang ke arah Novia. Novia menggeleng.
" Kenapa yang? " tanya Boby sambil memegang tangan Novia yang berada di lengannya.
" Malu. " bisik Novia. " Kamu nggak usah ikut lihat." tambahnya.
" Kenapa harus malu yang. Masak suami sendiri malu. " goda Boby. Kemudian dia berjalan kembali mendekat ke dokter.
Novia hanya bisa diam. Tidak mungkin dia mendebat sang suami sedangkan di situ ada orang lain.
Akhirnya proses pemasangan alat di lakukan. Boby melihat semua prosesnya dengan sedikit meringis. Meringis merasakan sakit yang Novia rasakan. Padahal Novia tidak merasakan apa-apa.
__ADS_1
****
bersambung