
" Mama kebangetan ya. Nggak lucu tau ma becandanya!" ucap Boby dengan nada kesal.
Bu Vera malah tersenyum-senyum kecil.
" Gimana malam pertamanya?" tanyanya tanpa ada rasa bersalah.
" Hampir masuk angin!" jawab Boby sekenanya.
" Kok bisa?"
" Gimana nggak masuk angin kalau mama nggak kasih baju sama Boby juga Novia. Kamarnya ber-AC. Pintu pakai di kunci dari luar lagi. Mama kayak kurang kerjaan aja ngerjain anaknya. "
" Jangan marah lah sama mama. Kalau mau marah, itu tu sama temen kamu. " ucap Bu Vera dengan menunjuk ke Andre.
" Kok jadi bawa-bawa saya Tante..." protes Andre.
" Kan kamu yang ngasih ide cemerlang."
" Itu kan karena Tante bilang pengen cepet punya cucu." ucap Andre tanpa rasa bersalah juga.
" Dasar lo!" ucap Boby sambil melempar bantal kursi ke muka Andre.
" Maaf bos. Kalau pak bos dan bu bos di kasih baju ntar dedeknya nggak jadi-jadi." jelas Andre sambil tersenyum licik.
" Kalian berdua sama saja!" ucap Boby sambil beranjak berdiri meninggalkan mamanya dan Andre yang masih senyam-senyum tidak jelas.
" Bob, bertahan berapa ronde semalem ? Jam segini kok udah mau nambah aja. Kasihan istri kamu. Habis yang pertama biasanya sakit lho. " kata Bu Vera setengah berteriak karena anaknya sudah berjalan menjauh.
Tapi Boby mendiamkan saja ucapan sang mama. Sakit apaan? Berapa ronde apaan? Yang sakit tu aku ma...bukan dia...batin Boby meronta.
Meninggalkan mereka adalah keputusan yang benar. Melakukan pembicaraan yang unfaefah dengan mama dan sahabatnya malah akan semakin membuatnya menderita batin.
••••
" Beneran kalian mau balik sekarang? Kalian kan belum bulan madu. " ucap Bu Vera karena berat di tinggal menantu barunya.
" Cutinya Novia tinggal besok ma. Kalau bulan madu itu kan gampang. Di rumah juga bisa bulan madu. Nggak ada yang ganggu juga. "
" Sayang, kita kan belum sempat jalan-jalan berdua." kini Bu Vera merengek ke menantunya.
" Kalau mama ada waktu terus mama ke Semarang, kita bisa jalan-jalan. Atau besok kalau pas liburan akhir semester, Novia yang kesini jengukin mama, terus kita jalan-jalan berdua. " kata Novia menenangkan mertuanya sambil memeluk hangat sang mertua.
" Ya udah deh. Kalian hati-hati. Boby, kamu sekarang sudah tidak sendirian lagi. Kamu punya tanggungan. Harus bisa jagain dan bahagiain istri kamu. Jangan sampai anak perempuan mama menangis. Awas kalau sampai menangis."
" Siap komandan!"
" Satu lagi. Segera kasih kabar bahagia ke mama. Mama udah pengen banget gendong cucu. "
" Siap ma. Boby akan bekerja keras kalau itu. Biar mama cepet gendong cucu. "
Mendengar jawaban dari suaminya, Novia langsung mencubit lengan sang suami. Boby hanya bisa meringis dan mengelus lengannya.
" Ya udah ma, kita berangkat dulu. Keburu ketinggalan pesawat."
Bu Vera mengangguk, kemudian memeluk Boby dan Novia bergantian.
Sampai di depan rumah, nampak si sopir telah menunggu. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Perjalanan dari rumah ke bandara memakan waktu hampir satu jam. Jalanan Jakarta yang penuh sesak membuat jarak yang seharusnya bisa ditempuh selama tiga puluh lima menit, kini harus di tempuh selama satu jam.
" Terima kasih pak Sobri" ucap Boby ke pak Sobri, sopir keluarga yang telah bekerja dengan orang tuanya semenjak dia masih SMA.
" Iya den Boby, non Novia. Hati-hati di jalan."
Boby dan Novia mengangguk. Kemudian berjalan sambil mendorong koper Novia. Novia berjalan di samping suaminya.
" Kamu beneran mau naik pesawat? Nggak mau naik bus lagi?" goda Boby.
" Nggak. Enakan naik pesawat. Cepet nyampek. " Jawab Novia ringan.
" Udah nggak takut?"
Novia menggeleng.
" Jangan muntah ya." tambah Boby sambil tersenyum.
Dia sekarang jadi punya hobi baru. Menggoda sang istri dan membuat sang istri marah-marah sungguh menyenangkan. Wajah Novia jadi sangat menggemaskan ketika sedang marah.
" Iiihhhh...siapa yang muntah?"
" Kemarin siapa yang bilang kalau mabuk udara terus kepalanya pusing waktu turun dari pesawat."
" Kan nggak sampai muntah. Cuma pusing doang."
" Kemarin nggak sampai muntah. Kalau ntar muntah gimana?"
" Ya ntar aku muntahin di baju kamu."
" Hih, ogah..." jawab Boby bercanda sambil mempercepat langkah kakinya sehingga Novia agak kesusahan mengikuti.
Bukannya pelan, malah Boby semakin mempercepat langkahnya. Karena tidak bisa menyamakan langkah, akhirnya Novia berhenti sambil memandang punggung suaminya.
Satu...dua...tiga...awas aja kalau kamu sampai nggak balik mas! batin Novia.
Dan benar saja. Menyadari sang istri tidak ada lagi di belakangnya, Boby menghentikan langkahnya dan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Novia. Diapun menoleh ke belakang. Di lihatnya Novia berdiri agak jauh darinya sambil bersedekap menatap tajam ke arahnya.
Boby melangkah kembali ke belakang menyusul istrinya. Terlihat raut wajah kesal Novia semakin jelas.
" Ngapain kembali? Udah sana.. tinggalin aja. Aku mau ke terminal aja. Naik bus biar nggak muntah!"
Boby menjadi serba salah. Istrinya benar-benar marah. Tapi Boby masih sempat tersenyum melihat istrinya marah.
Lucunya istriku. Jadi pengen aku peluk. batin Boby.
" Maaf istriku. Aku pikir kamu masih di belakang aku. Ya udah aku gandeng biar nggak ketinggalan. Siniin tangannya." Boby mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Novia.
Tapi Novia tetap bersedekap. Malah memalingkan mukanya. Wah, ternyata istrinya sedang merajuk.
Boby mendekat.
" Mau siniin sendiri tangannya, ato aku yang ambil sendiri. Aku sih seneng-seneng aja. Biar bisa menyentuh itu.." bisik Boby ke telinga Novia sambil memandang sesuatu.
Novia mengikuti arah pandang Boby. Dan jleb. Arah pandang Boby ada pada dadanya. Buru-buru dia melepas tangannya yang bersedekap dan mengulurkan tangannya ke tangan Boby.
Boby tersenyum penuh kemenangan. Dia jadi punya trik untuk menjinakkan istrinya kalau sedang marah.
__ADS_1
Setelah hidup bersama selama beberapa hari dengan Novia, Boby jadi tahu kalau selain lembut, Novia juga gampang marah dan terkadang juga konyol. Tapi kemarahan Novia tidak membuat Boby takut. Dia justru senang dan kerap kali membuat istrinya marah-marah tidak jelas.
Begitu juga dengan Novia. Novia jadi tahu kalau Boby yang biasanya irit bicara, ternyata sekarang banyak bicara dan usil juga. Kerap kali Novia di buat marah karena keusilannya.
••••
" Selamat datang di rumah kita. " ucap Boby ketika mereka sampai di depan rumah Boby.
Novia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dari luar rumah itu terlihat minimalis tapi elegan. Rumahnya dari luar tidak begitu luas. Di sebelah pintu, ada taman kecil yang membuat pemandangan lebih asri.
" Ayo masuk. " Boby mengajak Novia masuk. Membuka kunci pintu utama.
Setelah pintu terbuka, Boby masuk diikuti Novia di belakangnya. Novia kembali mengedarkan pandangannya.
Ternyata rumahnya lumayan luas. Penataan ruangan yang elegan. Dan terkesan maskulin. Di belakang rumah juga terdapat sebuah taman. Ada sebuah bangku panjang di taman tersebut.
" Beginilah rumahku yang sekarang jadi rumah kita. Kalau kamu nggak suka dengan penataannya, kamu bisa merubahnya." Boby menunjukkan setiap sisi rumah.
" Aku di sini hidup sendiri. Cuma terkadang Andre datang ke sini. Biasanya aku punya pembantu, tapi sudah beberapa bulan ini beliau pulang kampung karena suaminya sakit. Terakhir aku dapat kabar dari dia, sekarang suaminya sudah sembuh, tapi anaknya tidak mau di tinggal. So, di rumah aku ngerjain segalanya sendiri. "
Novia nampak manggut-manggut mendengarkan penjelasan Boby.
" Untuk beberes rumah, biasanya seminggu dua kali, aku menyuruh cleaning servis kantor untuk kesini. Kalau untuk nyuci dan setrika, aku bawa ke laundry. Dan untuk masalah makan, biasanya makan di luar kalau tidak ya pesan antar." tambah Boby.
Novia masih manggut-manggut.
" Oh iya. Gini..aku mau jelasin ke kamu sekali lagi. Kita memang sudah resmi menikah. Tapi seperti yang kamu bilang dulu, pernikahan kita di awali tanpa cinta. Jadi aku menawarkan ke kamu, bagaikan kalau kita mengawalinya dengan berpacaran. Untuk bisa saling mengenal. Gimana? Kamu mau jadi pacar aku?"
" Emang aku bisa nolak mas? Secara kita juga udah nikah. "
" Oke. Benar sekali kamu. Nah, karena kita udah resmi jadian nih, kamu kalau ada apa-apa tidak usah sungkan. Dan...dan kita harus berusaha untuk saling mencintai. Benar begitu kan?"
Novia mengangguk ragu.
" Sekarang aku tunjukkan kamarmu. "
Kamarmu. Novia tampak berpikir. Apa maksud mas Boby dengan kamarmu. Apa dia akan memberiku kamar tersendiri?
" Ayo..." ajak Boby.
Kemudian mereka berjalan menuju sebuah kamar. Boby membuka pintu kamar tersebut.
" Mulai hari ini, ini kamarmu. Dan kamarku yang itu." jelas Boby sambil menunjuk ke kamar yang berada di sebelah kamar Novia.
Novia masih tampak berpikir.
" Kamu pasti tidak akan nyaman kalau kita tidur di kamar yang sama. Aku tahu kamu belum benar-benar siap untuk menjadi istriku yang seutuhnya. Jadi, kita akan memulai pelan-pelan. Kita akan tidur di kamar yang sama, nanti kalau kamu sudah siap. "
Novia masih bengong.
" Kamu istirahatlah. Aku juga mau istirahat. "
Kemudian Boby berlalu meninggalkan Novia yang masih bengong.
Sebenarnya berat bagi Boby membiarkan Novia tidur terpisah darinya. Secara mereka telah sah menjadi suami istri. Tapi demi menjaga perasaan dan kenyamanan sang istri, dia rela mengorbankan keinginannya. Entah sampai kapan.
****
__ADS_1
bersambung
Author tunggu like nya ya....