Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
142. Saat Athar di kandunganku


__ADS_3

" Sayang, bagaimana keadaan kamu ketika mengandung Athar? " tanya Boby.


Saat ini mereka sedang berada di dalam kamar. Mereka duduk di atas ranjang dengan bersandar di sandaran ranjang. Novia berselonjor dengan kaki saling menyilang. Boby tiduran di paha Novia sambil membelai perut Novia yang sudah agak menonjol.


" Waktu itu...." Novia mengingat kembali yang dia rasakan ketika hamil Athar.


" Waktu usia kandunganku mungkin baru satu bulan, setiap pagi aku mengalami morning sick. Tiap pagi mual, muntah, lemes. Seperti kamu kemarin mas. Itu terjadi sebelum aku mengetahui kalau aku hamil sampai usia kandunganku 4 empat bulan. Terus aku juga mengalami ngidam. Beberapa jenis makanan aku juga menginginkannya. Sebenarnya...kehamilanku yang dulu lebih ribet daripada yang ini. " cerita Novia.


Boby bangkit dari tidurannya. Dia duduk di sebelah Novia. Mengelus rambutnya penuh kasih sayang. Dia merasa sangat bersalah.


" Maafkan aku, sayang. Aku sangat berdosa padamu. Kamu mengalami itu semua, dan aku malah tidak memperhatikanmu sama sekali. " ucap Boby sambil memandang ke arah Novia dengan mata berkaca-kaca.


Novia memegang kedua pipi Boby. Mengusap air mata yang menetes di pipi Boby.


" Jangan di bahas lagi yang dulu. Kehamilanku kali ini, aku sangat bahagia. Aku sangat bersyukur ada kamu di sisiku. Kamu melakukan semuanya untukku. Bahkan kamu melakukannya dua kali lebih baik dari yang seharusnya."


Novia mencium bibir Boby dengan dalam. Dia ingin menunjukkan betapa bahagianya dan betapa bersyukurnya dia saat ini.


Boby membalas ciuman itu dengan dalam pula.


" Apa semua yang kamu inginkan dulu, Candra yang memenuhinya? " tanya Boby kembali ketika ciuman mereka sudah lepas.


" Tidak. Hanya beberapa yang mas Candra penuhi. Itu hanya beberapa hal yang aku tidak bisa memenuhinya sendiri. Aku tidak bisa mendapatkannya sendiri. Selebihnya, aku membelinya sendiri. " ucap Novia sambil tersenyum hangat.


" Bibi pernah bilang, waktu hamil, kamu juga ...kamu.... sangat ingin tidur dalam pelukanku. " ucap Boby lirih sambil menunduk. " Kamu ingin mencium bau tubuhku ketika mau tidur. Sehingga kamu mengambil baju yang habis aku pakai. " lanjutnya masih sambil menunduk.


Novia tersenyum. " Iya. Setiap malam, bahkan aku tidak bisa tidur karena sangat merindukanmu. Pernah juga, habis tengah malam, aku membawa selimut tebal dan tidur di depan kamarmu. Untung saja kamu tidak keluar malam itu. "


Boby merengkuh tubuh Novia. Dia memeluknya erat. Sangat erat.


" Apa saja yang di lakukan Candra untukmu? Apa kamu juga tidur sambil di peluk dia? " tanya Boby kembali setelah melepas pelukannya.


Novia melotot sambil memukul dada Boby. " Kamu ya mas. Aku ini masih punya etika. Mana mungkin aku tidur dalam pelukan laki-laki lain saat aku sudah punya suami. " ujar Novia ketus.


" Maaf, sayang. Aku hanya ingin tahu, apa saja yang dilakukan Candra untukmu. "


" Mas Candra, dia menyuapiku makan. Karena kalau tidak disuapi, aku susah mencerna makanan. "


" Kenapa harus di suapi Candra? Apa bibi tidak bisa menyuapimu? "


" Anak kamu nggak mau makan kalau bukan dari kamu atau mas Candra. Sedangkan kamu, nggak mau nyuapin aku. Ya udah, daripada aku dan anak kamu kelaparan. "


Boby menghela nafas panjang mendengar cerita Novia. " Maaf. " kembali dia mengucapkan maaf.


" Terus, ketika kakiku bengkak, mas Candra tiap aku mau tidur, dia mijitin kaki aku. Soalnya, kalau nggak di pijit, paginya aku nggak bisa jalan. "

__ADS_1


" Ya Tuhan...Aku melewatkan banyak hal. Maafkan aku, sayang. " ucap Boby getir.


" Sudah, nggak usah di bahas lagi. Mending kita tidur aja. Udah malam." ucap Novia mengakhiri pembicaraan tentang masa lalu.


" Eits, tunggu dulu sayang. Kamu belum minum susu. Sebentar, aku buatkan dulu. " ucap Boby sambil bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar.


••••


" Mama, dedeknya cowok kayak dedek Zaki apa cewek? " tanya Athar ketika mereka sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton TV.


" Kakak pengennya dedeknya cowok apa cewek? " tanya Novia balik.


" Athar lebih suka cowok ma. Kalau cewek, nanti kayak temen Athar di sekolah. Sukanya nangis. " jawab Athar dengan polosnya.


Novia dan Boby tertawa mendengar penjelasan anaknya. Boby mengusap puncak kepala Athar.


" Anak papa bisa aja. Kalau papa pengen dedeknya nanti cewek. Biar bisa papa belikan boneka yang banyak. " ucap Boby.


" Cowok papa. Biar nggak cengeng. "


" Cewek, sayang. Biar ada yang suka nangis di rumah. " ucap Boby tidak mau kalah.


" Cowoooookkkk papaaaa....." ucap Athar. " Iya kan ma? " tanya Athar meminta pembelaan.


Boby dan Athar mencium pipi Novia bersamaan.


" Mama yang terbaik. " ucap mereka bersamaan sambil mengacungkan jempolnya.


Novia tiba-tiba memegang tangan Boby dan Athar, kemudian menaruhnya di atas perutnya.


" Dedeknya gerak-gerak. " ucapnya. Membuat Boby dan Athar merasa excited.


Mereka mencium perut Novia bergantian.


" Ma, kalau dedeknya gerak-gerak, perut mama sakit? " tanya Athar masih sambil mengelus perut mamanya.


Novia menggeleng. " Tidak, sayang. Mama cuma merasa agak geli. "


Athar manggut-manggut.


Kehamilan Novia sekarang sudah memasuki usia 8 bulan. Terkadang, dia sudah mulai merasakan pegel di pinggang. Kakinya juga sudah mulai membengkak.


" Sayang, kaki kamu bengkak lagi. " ucap Boby.


Novia melihat ke kakinya. " Dikit sih ini pa. "

__ADS_1


Boby bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur. Athar masih dengan senantiasa menemani mamanya sambil memijit pinggang mamanya.


" Kalau di pijit Athar, nggak sakit kan ma? "


" Nggak, sayang. "


Kemudian Boby muncul kembali dengan membawa baskom berisi air hangat dan washlap.


Dia mengangkat kaki Novia dan di taruhnya di atas pangkuannya. Dia mengompres kaki Novia yang sebelah, dan membalurkannya minyak urut ke kaki yang sebelahnya. Dia memijit pelan kaki Novia, bergantian.


" Papa, Athar juga mau mengompres kaki mama. "


" Oke. Nih. " Boby memberikan washlap ke Athar.


" Awas, papa geser dikit. Papa yang gantiin mijit pinggang mama. " ucap Athar.


Boby hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya. Athar begitu menyayangi mamanya.


" Siap, bos. " jawab Boby.


Kini mereka bekerja sama memijit Novia.


" Ma, besok lahiran operasi aja ya. " pinta Boby.


Novia menggeleng. " Nggak, pa. Mama maunya lahiran normal aja. "


" Tapi kalau normal kan sakit ma. "


" Papa tahu dari mana? "


" Si Andre yang cerita. Sama beberapa karyawan papa. Mereka bilang, kalau lahiran normal sakit, terus prosesnya lama. "


" Itulah indahnya melahirkan. Kalau operasi, kita tidak akan merasakan indahnya proses melahirkan. "


" Ma... Papa nggak mau lihat mama kesakitan. "


" Nggak pa-pa papa. Semua wanita juga merasakannya. "


" Mama ini kalau di kasih tahu, susah. "


Novia tersenyum sambil mengelus pipi suaminya yang sedang merajuk.


****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2