Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
60. Tidak Enak Badan


__ADS_3

Sudah dua hari Boby berada di Surabaya. Selama itu juga Novia tidak pernah makan nasi. Dia hanya


makan makanan ringan seperti keripik dan lain-lainnya.


Dia juga bingung dengan kondisinya. Mulutnya tidak mau diajak mengunyah nasi. Kalaupun dia ingin makan nasi, itupun harus di suapi sama suaminya. Dan sekarang suaminya sedang berada di luar kota.


Berkali-kali bi Susi memaksanya untuk makan nasi. Tapi lagi-lagi Novia menolak. Bahkan sekarang, Novia sering merasakan pusing di kepalanya. Apa mungkin karena dia tidak pernah makan nasi, terus vertigonya kumat? pikir Novia.


Pagi itu, Novia tidak berangkat kerja. Pusing di kepalanya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. Sedari habis subuhan, Novia tidak keluar kamar.


Tok...tok...tok...pintu kamar Novia di ketuk.


" Mbak Nov...." panggil bibi sambil melongok ke dalam karena pintu kamar Novia terbuka sedikit.


" Masuk bi."


Bi Susi masuk ke kamar Novia dan mendekat ke ranjang.


" Mbak, masih pusing?" tanya bi Susi yang memang sedari semalam sudah tahu kalau Novia sedang tidak enak badan.


Novia hanya mengangguk.


" Mbak, makan dulu ya. Mungkin mbak Novia sakit karena tidak mau makan nasi. "


" Males bi. "


" Tadi mas Boby telepon ke telepon rumah, bibi yang angkat. Mas Boby tanya, mbak Novia sudah makan apa belum. Ya bibi jawab aja kalau belum. Sekarang mbak Novia makan ya. Entar mas Boby marahin bibi lagi kalau mbak Nov nggak mau makan. " bujuk bi Susi.


" Bikinin bubur aja bi. Yang gurih ya bi buburnya. " pinta Novia.


" Iya mbak. Sebentar, bibi buatkan dulu. "


Novia mengangguk.


I love it when you call me senorita...


" Bi, bentar. Tolong ambilkan ponsel Novia di atas meja rias itu bi. "


Bibi yang tadinya sudah berjalan mau meninggalkan kamar Novia, kembali ke dalam mengambilkan ponsel Novia.


" Mas Boby mbak. Video call. " ucap bibi.


" Paling mau marahin Novia bi." keluh Novia.


Bibi memberikan ponsel ke Novia dan segera keluar dari kamar untuk ke dapur.

__ADS_1


" Assalamualaikum mas. " sapa Novia setelah mengusap layar ponselnya.


" Waalaikum salam. " wajah Boby terlihat dari layar.


Novia tersenyum melihat wajah tampan suaminya.


" Kata bibi, kamu nggak mau makan nasi setelah aku pergi ya?"


" Mulut aku nggak mau ngunyah nasi mas. Rasanya pahit. "


" Kemarin aku bilang, kalau kamu nggak mau makan nasi, kamu bisa sakit. Dan sekarang beneran kan kamu sakit?"


" Nggak pa-pa mas. Cuma pusing. "


" Nggak pa-pa gimana. Wajah kamu aja pucat gitu."


" Iya mas. Bentar lagi aku makan. Bibi baru buatin bubur. "


" Kamu jangan bikin aku khawatir yang. Aku nggak bisa nemenin kamu kalau kamu sakit gini. "


" Nggak pa-pa mas. Bibi selalu nemenin aku. Tadi malam aja bibi tidur di sini. Aku suruh tidur di sebelah aku, dianya nggak mau. Malah tidur di sofa. "


" Tetep aja aku cemas, yang. Habis makan, terus ke dokter ya. Biar di antar Remon. "


" Ajak bibi. Jangan hanya berdua sama Remon. "


Novia menjawab dengan anggukan sambil tersenyum manis mendengar nada bicara sang suami yang sedang cemburu.


" Kamu kok belum berangkat ke proyek mas?"


" Bentar lagi. Oh iya, yang. Mungkin aku nggak bisa pulang besok. Jadwal di Surabaya akan lebih lama. Klien yang di sini, maunya di awal pembangunan, aku harus mengawasinya sendiri. Jadi mungkin Minggu depan aku baru bisa pulang."


Novia tersenyum sambil mengangguk.


" Nggak pa-pa mas. Kamu selesaikan dulu urusan kamu di sana. "


" Iya. Tapi kamu harus ngabarin aku kondisi kamu, oke. "


" Iya mas. "


" Aku tutup dulu teleponnya ya. Aku mau siap-siap ke proyek. "


Novia mengangguk. Panggilanpun di akhiri. Novia kembali menutup matanya. Pusing di kepalanya terasa lagi. Padahal tadi ketika Boby meneleponnya, rasa pusing itu hilang.


Beberapa saat kemudian, bi Susi masuk kembali ke kamar dengan membawa sepiring bubur.

__ADS_1


" Mbak, buburnya udah jadi. Dimakan dulu ya. Biar perutnya ada isinya." ucap bibi sambil duduk di sebelah Novia tidur.


Novia membuka matanya dan berusaha duduk bersandar di sandaran ranjang.


" Bibi suapi ya. "


Novia mengangguk atas tawaran bi Susi. Bibi mulai menyuapi Novia sedikit-sedikit. Baru tiga kali suapan, Novia merasa perutnya seperti di aduk-aduk.


" Huek...." Novia menutup mulutnya. " Huek..." kali ini Novia sudah tidak bisa menahan rasa ingin muntah yang teramat sangat.


Akhirnya dia segera turun dari ranjang dan lari ke kamar mandi. Bi Susi mengikuti Novia.


" Huek....huek...huek...." Novia memuntahkan semua isi perutnya. Bibi memijat ringan tengkuk Novia.


Setelah di rasa perutnya sudah kosong, novia menyiram kloset kemudian berkumur membersihkan mulutnya. Kini tubuh Novia terasa sangat lemas. Bi Susi membantu memapah Novia berjalan ke tempat tidur lagi.


" Kok jadi gini mbak. Kita ke dokter aja ya?"


Novia menggeleng. " Mungkin benar vertigo ku yang kambuh bi. Biasanya emang muntah-muntah gini. Bibi tolong ambilkan obat yang ada di laci meja rias itu. Aku nyimpen obat vertigo di situ. "


Bibi berjalan ke meja rias Novia. Mencari apa yang di maksud Novia. Setelah menemukannya, dia kembali ke sisi Novia.


" Yang ini mbak?"


" Iya bi."


" Apa nggak sebaiknya ke dokter aja mbak?"


" Nggak usah bi. Biasanya habis minum obat itu, terus tidur bentar, habis itu enakan."


" Tapi buburnya di makan lagi ya. Biar perutnya ada isinya. Baru minum obat."


Novia mengangguk. Bibi mulai menyuapi kembali. Baru satu suapan, perut Novia terasa di aduk-aduk kembali. Novia berusaha menahannya dengan menutup mulutnya.


" Bi, udah. Aku pengen muntah lagi. Biar aku langsung minum obat aja. "


" Iya mbak. " bibi mengambilkannya obat dan meletakkan obat itu di tangan Novia.


Novia meminum obat itu dan kembali merebahkan tubuhnya. Berusaha untuk tidur kembali.


Setelah menyelimuti tubuh Novia, bi Susi keluar dari kamar.


****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2