
" Mama nggak habis pikir sama jalan pikiran kamu, Boby. Apa sih baiknya mantan kamu itu? Dari awal kamu berhubungan dengan dia, mama sudah tidak suka. Gara-gara dia kamu ninggalin mama di sini sendiri. Gara-gara dia kamu menolak meneruskan usaha almarhum papa kamu. Dan sekarang gara-gara dia juga kamu menelantarkan menantu dan calon cucu mama. " ungkap Bu Vera geram.
" Maaf ma...." hanya itu kata yang dapat Boby ucapkan. Boby turun dari duduknya. Dia bersimpuh di hadapan mamanya. Menggenggam tangan mamanya erat. Menjatuhkan kepalanya di pangkuan mamanya sambil menangis terisak.
Bu Vera memijit pelipisnya karena tiba-tiba kepalanya terasa berat dengan salah satu tangannya yang tidak di genggam Boby.
" Lalu sekarang mau kamu bagaimana? Kamu mau menceraikan istri kamu? Mama akan dengan senang hati membantu. Karena mama akan mencarikan penggantimu untuk Novia. Karena setelah kamu menceraikan Novia, dialah anak mama. Bukan kamu. "
Boby menengadahkan kepalanya.
" Nggak ma. Boby nggak akan pernah menceraikan Novia. Boby mencintainya ma. Sangat mencintainya. "
" Kalau kamu mencintainya, kenapa kamu berselingkuh? "
" Tidak ada niatan buat Boby berselingkuh ma. Boby juga tidak pernah menerima Karell kembali. Boby hanya tidak bisa menolak permintaan Karell yang selalu minta untuk di temani. " Boby kembali menunduk.
" Tapi Boby janji ma. Hal itu tidak akan terjadi lagi." tambahnya.
" Yakin kamu tidak akan berselingkuh lagi? Setahu mama, selingkuh itu penyakit. Sekali kamu pernah melakukannya, maka kamu bisa melakukannya lagi. "
" Nggak ma. Boby janji, nggak akan pernah melakukannya lagi. Boby nggak ingin pisah sama Novia juga anak Boby. Boby nggak ingin kehilangan mereka. " air mata Boby kembali mengalir.
Bu Vera yang memang baru sekali ini melihat anaknya menangis, ikut menangis. Sepertinya anaknya ini benar-benar terpuruk.
" Boby nyesel ma. Boby nggak akan ngulangi lagi. Boby udah ngerasain beratnya berada jauh dari Novia seperti apa. Boby nggak kuat ma. Boby nggak kuat...." isak tangis Boby mulai terdengar sendu.
Bu Vera mengelus kepala Boby yang berada di pangkuannya. Dia merasa anaknya ini benar-benar menyesal.
" Sudahlah nak. Mama akan maafin kamu jika memang benar kamu menyesal dan nggak akan membuat kesalahan yang sama. "
__ADS_1
" Boby janji ma. " Boby mengangkat kepalanya.
Bu Vera menghapus air mata Boby yang ada di pipinya. " Udah, jangan nangis lagi. Nanti gantengnya hilang. " ucap Bu Vera sambil tersenyum mengejek.
" Sini. Duduk sini. " Bu Vera menepuk tempat duduk kosong yang ada di sebelahnya.
Boby bangkit dan duduk di sebelah mamanya.
" Ma, gimana kabar Novia dan calon anak Boby? "
" Mama....mana mama tahu...Kamu kan suaminya. " jawab Bu Vera gelagapan.
" Boby tahu ma. Mama yang bawa Novia. Sepertinya Novia juga ada di rumah ini kan ma? "
" Siapa yang bilang? " elak Bu Vera.
" Ma, Boby tahu kondisi kehamilan Novia dulu seperti apa. Dokter melarang Novia bertemu dengan Boby. Boby janji nggak akan memperlihatkan wajah Boby di depan Novia sampai anak kami lahir. Karena Boby tahu, kehadiran Boby akan memperburuk keadaannya. "
" Novia dan bayinya baik-baik saja. Mereka sehat walaupun agak rentan. Sebentar...mama punya fotonya. " Bu Vera mengusap layar ponselnya dan membuka galeri.
" Ini, foto istri kamu yang baru mama ambil kemarin. " Bu Vera memperlihatkan foto Novia yang sedang menyiram bunga di taman itu.
Boby mengambil ponsel Bu Vera dari tangan mamanya. Di pandangnya foto itu dalam-dalam. Terlihat sang istri tampak begitu cantik dengan perut buncitnya. Boby tersenyum, tapi ada sebulir air mata di pelupuk matanya.
Dia benar-benar menyesal. Sangat menyesali kesalahannya. Seharusnya jika dia tidak melakukannya kesalahan itu, maka saat ini dia bisa mengelus perut buncit istrinya. Bisa merasakan pergerakan anaknya yang ada di dalam kandungan istrinya.
" Anak kamu aktif sekali. Dia sering nendang. Sampai kadang mamanya kewalahan. Kamu lihat kan, istrimu kurus. Dan dia harus membawa anak kalian kemana-mana. Di tambah lagi kalau anak kamu nendang. Tubuhnya pasti agak limbung."
Boby masih tetap fokus ke foto Novia yang ada di ponsel mamanya. Kemudian dia mengirim foto itu ke ponselnya.
__ADS_1
" Ma, boleh Boby malam ini menginap di sini?" tanya Boby penuh harap.
" Tapi nak...Novia gimana? "
" Boby janji nggak akan keluar kamar ma. Dan Boby akan keluar dari rumah besok pagi-pagi sekali. Boby..." Boby menunduk. " Boby ingin berada di dekat Novia meskipun tanpa sepengetahuan Novia ma. "
" Baiklah. " jawab Bu Vera akhirnya menyerah.
" Mama jangan kasih tahu Novia kalau Boby menginap. Biar dia tahunya Boby langsung balik. Dengan begitu, dia bisa keluar dari kamar. Kasihan kalau dia harus berdiam diri di kamar terus. Dia juga butuh udara segar. "
" Iya. Nanti kalau kamu butuh apa-apa, kamu chat mama aja. Biar mama suruh Yani nganter ke kamar. "
Boby mengangguk. Dan tanpa sepengetahuan mereka, ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari kamar yang ada di lantai dua. Siapa lagi kalau bukan Novia.
Saat Novia mengetahui suaminya ada di rumah itu, sebenarnya Novia mengalami serangan panik. Tapi di hatinya dia juga merindukan sosok suaminya. Entah karena bayi yang ada di kandungannya, atau memang dia sendiri yang rindu, Novia ingin sekali melihat Boby.
Akhirnya dia memutuskan untuk berdiri di dekat jendela dan melihat kalau suaminya sedang berbicara dengan mamanya di taman belakang. Jantungnya berdebar kencang melihat Boby. Dan tiba-tiba saja perutnya kram. Diapun beranjak dari jendela dan berjalan sambil berpegangan dengan segala yang ada di dekatnya untuk ke tempat tidur.
Disaat yang bersamaan, Boby mengangkat kepalanya melihat ke jendela kamar yang menghadap ke taman tempatnya berada sekarang. Dia merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
' Apakah itu Novia? Semoga tidak Ya Allah... Jangan sampai Novia melihatku. ' doa Boby dalam hati.
" Ma, Boby ke kamar aja ya...Biar Novia bisa keluar kamar. Kasihan dia di kamar sedari tadi. "
Bu Vera mengangguk. Dan Boby segera masuk ke kamarnya. Sampai di dalam kamar, dia mencium khas bau Novia. Dia yakin, sebelum dia datang, istrinya itu pasti tinggal di kamarnya.
Boby tersenyum membayangkan istrinya sedang berbaring di ranjangnya. Dia mendekat ke tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di dengan posisi miring sambil mencium selimut dan meraba bantal yang ada di sampingnya. Dan tak berapa lama, dia sudah terlelap masuk ke dunia mimpi. Tidurnya begitu lelap. Padahal sudah beberapa bulan ini dia tidak pernah bisa tidur nyenyak, semenjak perginya Novia.
****
__ADS_1
bersambung