Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
22. Kecemasan


__ADS_3

Tring.... bunyi notifikasi pesan masuk di ponsel Boby.


Malam itu, Boby sedang ngobrol ringan dengan Andre ditaman belakang rumah Boby sambil ditemani segelas kopi.


Boby melihat pesan dari siapa. Melihat nama yang tertera di sana, dia menyunggingkan senyum tipis dari bibirnya. Andre pun tak menyia-nyiakan pemandangan itu. Rasa ingin tahunya muncul.


" Siapa Bob? Raut wajah lo kok jadi sumringah gitu. " tanya Andre sambil memasukkan kacang ke dalam mulutnya.


" Novia!" jawab Boby singkat.


Boby segera membuka pesan tersebut. Dia tersenyum lagi. Tapi tak berselang lama, senyum itu hilang. Berubah menjadi kecemasan.


" Apa katanya?"


" Dia ngajak ketemuan besok."


" Bagus dong. Tapi... kenapa muka lo jadi berubah? Lo nggak seneng, ketemu do'i?"


" Gue...gue takut dia nolak gue."


" Nolak elo?? Maksudnya? Emang lo udah nembak dia?"


" Hem..." jawab Boby sambil menganggukkan kepala.


" Waaahhh... parah lo. Nggak bagi-bagi cerita sama gue. Kapan lo nembak dia? Pokoknya ceritain, dari awal sampai akhir. Titik! "


" Udah seminggu lebih gue nembak dia. Gue ngerasa dia agak syok. "


" Dia syok denger lo bilang cinta sama dia? Kok bisa??"


" Bisa lah. Lo kan yang cari info kemarin. Dia masih ngarepin mantannya. Dia belum bisa membuka hati untuk yang lain. "


" Terus??"


" Banyak yang kita bicarakan. Dia nanya ke gue, gue beneran cinta nggak ke dia. Terus dia bilang ke gue, kalau dia cuman nganggep gue sahabat, kakak, nggak lebih."


" Lo jawab apa?"


" Gue bilang gue suka sama dia. Kalau cinta mungkin belum."


" B*go lo... Kenapa lo nggak bilang lo cinta sama dia. Cewek itu butuh cinta. Bukan cuma kata suka."

__ADS_1


" Ya karena emang gue ngerasa gue belum cinta sama dia. Gue cuma suka. Gue cuma nyaman sama dia. Gue nggak kayak elo ya. Yang suka ngegombalin cewek."


" Hizzzz.....Terus..."


" Ya gue bilang, kalau gue janji akan berusaha mencintai dia. Karena gue yakin, nggak akan sulit buat jatuh cinta sama dia. Gue ajak dia untuk belajar saling mencintai. "


" Dia jawab apa?"


" Yah...dia tetep nggak yakin. Akhirnya, gue kasih dia waktu lah buat berpikir. Eh, malah habis itu, dia kayak menghindar dari gue. Gue chat cuma di read. Gue telepon nggak pernah diangkat. Bahkan lo aja kena tipu. "


" Gue kena tipu?"


" Iya. Kemarin pas dia minta ijin nggak bisa ikut ke proyek karena sakit, dia bilang dia nggak bisa ngubungin gue. Padahal sama sekali nggak ada telepon ato chat dari dia. "


" Pantesan aja. Tumben-tumbenan dia telepon gue. Biasanya kalau ada apa-apa kan dia langsung ke elo."


Percakapan pun terus berlanjut hingga tengah malam. Setelah Andre berpamitan pulang, Boby masuk ke dalam kamarnya.


Tapi malam itu, Boby tidak bisa tidur nyenyak. Resah. Gelisah. Memikirkan apa yang akan di katakan oleh Novia esok.


Pagi menjelang. Pagi itu Boby bangun pagi banget. Masuk ke kamar mandi, menghidupkan shower, dan mandi dengan express. Setelah mandi, dia bersiap-siap untuk ke kantor.


Bahkan meeting yang di laksanakan siang itupun berantakan. Selama meeting, Boby hanya terus memandang ponselnya. Menunggu kabar dari Novia. Jam berapa mereka akan bertemu. Dan di pikirannya yang terlintas hanyalah kekhawatiran kalau Novia mengajak bertemu hanya untuk menolak lamarannya. Beberapa staf yang mengajukan pertanyaan, tidak di tanggapi sama sekali.


Akhirnya, Andre memutuskan untuk mengcancel meeting tersebut. Dia tidak yakin, bosnya itu bisa bekerja dengan benar hari ini.


Setelah meeting di bubarkan, Boby segera kembali ke ruangannya. Di ruangannya, dia terlihat sangat gusar. Beberapa kali dia mengusap wajahnya dengan kasar. Mengacak-acak rambutnya.


Kenapa dia bisa segusar ini hanya karena takut lamarannya di tolak seorang guru di sekolah swasta? Sebenarnya apa yang terjadi pada diri Boby? Saat ini Boby merasa lebih kacau, lebih cemas dibandingkan ketika dia mau mengungkapkan perasaannya kepada Karell.


Aaahhhh... Boby berteriak sambil mengacak rambutnya frustasi.


Tring... Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Notifikasi pesan masuk.


Segera dia membuka pesan tersebut.


** Kita ketemu di taman kota habis magrib ya mas.


** Iya.


Jantung Boby berdetak semakin kencang. Perasaan was-was datang lebih dahsyat dari sebelumnya.

__ADS_1


••••


Petang menjelang. Sehabis menunaikan sholat magrib, Boby segera bersiap ke taman kota. Dia mengenakan kemeja berwarna biru laut dan jas casual yang berwarna sama dengan celananya. Menyisir rambutnya rapi, dan tidak lupa memakai parfum favoritnya.


Setelah di rasa sudah sempurna dengan penampilannya, Boby menyambar kunci mobil dan ponsel yang ada di atas nakas.


Seperempat jam kemudian, dia sampai di taman kota. Dia segera turun dari mobil. Dengan setengah berlari, dia menuju sebuah bangku yang ada di tengah taman. Dia khawatir kalau Novia sudah sampai duluan. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tampak beberapa pemuda pemudi berada di taman itu.


Huh... Ternyata Novia belum sampai. batin Boby dengan nafas ngos-ngosan. Kemudian dia duduk di bangku tersebut.


Lima menit.... Sepuluh menit...Lima belas menit.. Boby menunggu dengan cemas. Yang di tunggu-tunggu belum juga nampak. Sebentar- sebentar dia duduk, kemudian sebentar-sebentar dia berdiri. Berjalan mondar-mandir dengan tangan kanan berkacak pinggang.


Kenapa Novia lama sekali? Apa dia tidak jadi datang? Ah... Apa dia berubah pikiran? Apa kena macet? Sepertinya tidak ada macet. Oh, pasti karena jarak rumah Novia kesini lumayan jauh. Jadi dia terlambat. Berbagai pertanyaan dan spekulasi muncul di pikiran Boby.


Kembali dia melirik jam tangannya.


Tepat di menit ke delapan belas penantiannya, yang di tunggu-tunggu pun datang.


Dengan tas di bahu, celana jeans berwarna biru muda, hem panjang yang menutupi pa****nya, dengan lengan tiga perempat berwarna navy dan jilbab segiempat berwarna navy pula, Novia datang. Dia terlihat celingukan mencari keberadaan Boby di taman itu.


Setelah menemukan keberadaan Boby yang ada di tengah taman, noviapun berjalan menghampiri Boby.


" Maaf, aku terlambat." sapa Novia dari belakang Boby.


Seketika Boby membalikkan badannya. Kaget, jelas. Terlihat Novia dengan senyum manisnya.


" Ah, Novia." jawab Boby sambil menetralkan suaranya, supaya terlihat santai. Padahal hatinya sudah tak menentu rasanya.


" Jarak dari rumah kesini lumayan jauh. Jadi butuh waktu agak lama mas. "


" Iya,, nggak pa-pa. Aku aja yang datangnya kecepetan."


Novia duduk di bangku yang tadi di duduki Boby. Perasaan Boby semakin tidak menentu. Dia jadi serba salah sendiri. Mau duduk, tapi hatinya tidak mau diajak duduk. Mau tetap berdiri, tapi capek juga.🤦


Apa yang mau di katakan Novia??


*****


bersambung


see you on the next episode ya..😘😘

__ADS_1


__ADS_2