
Candra semakin geram mendengar cerita bi Susi. Sungguh tidak bisa di biarkan. pikirnya. Percuma kemarin dia mendatangi kantor Boby dan mencoba membuat Boby cemburu.
" Bisa-bisanya dia membawa perempuan lain ke rumah. Sungguh tidak punya perasaan suami Novia itu. Benar-benar bre****k. " umpatnya.
Kini tekadnya sudah bulat. Dia akan benar-benar mengambil Novia kembali. Dia tidak akan membiarkan Novia tersakiti lagi. Kalau kemarin dia masih berpikir bahwa suami Novia masih bisa membahagiakan Novia, kini tidak lagi. Mau di bilang dia itu pebinor tak masalah.
Sepulang dari rumah sakit, Candra tidak akan membiarkan Novia melihat suaminya lagi. Dia tidak akan membiarkan Novia menginjakkan kakinya lagi di rumah itu.
" Keluarga nyonya Novia. " panggil perawat.
Candra dan bi Susi berdiri bersamaan dan mendekat ke perawat.
" Kami keluarganya sus. Bagaimana keadaan Novia? tanya Candra.
" Nyonya Novia masih belum sadarkan diri. Tapi dokter bilang, pasien sudah bisa di pindahkan ke kamar perawatan. Dan dokter Dea minta bertemu dengan salah satu keluarga. "
Candra memandang ke bi Susi meminta persetujuan. Bi Susi mengangguk.
" Iya sus. Saya yang akan menemui dokter Dea. "
" Baik pak. Dan ibu bisa mendampingi pasien untuk pindah ke kamar perawatan. "
" Iya sus. " jawab bi Susi.
Candra mengikuti perawat untuk menemui dokter kandungan Novia. Dan bi Susi pergi menghampiri Novia yang masih di UGD.
" Selamat malam, dok. " sapa Candra.
" Selamat malam, bapak. Oh, walinya Bu Novia ya?"
" Iya dok. "
Dokter Dea nampak celingukan mencari seseorang. " Suami Bu Novia mana pak? "
" Maaf dok. Suaminya tidak bisa kesini. Dia sedang keluar kota. "
" Oh..." dokter Dea nampak kecewa. " Sebenarnya saya ingin sekali bertemu dengan suami ibu Novia. Karena beliau pasti yang lebih mengerti tentang ibu Novia. "
" Maaf dok. Sebenarnya bagaimana dengan kondisi Novia? "
__ADS_1
" Maaf bapak. Saya hanya bisa menjelaskan kondisi ibu Novia kepada suaminya. "
Candra menghela nafas panjang dan menghembuskannya.
" Dokter, dokter tidak perlu bertemu dengan suami Novia. Dokter bisa menjelaskannya kepada saya. Karena saya rasa, seandainya dokter bertemu suami Novia pun percuma. Dia tidak akan peduli. "
Dokter Dea mengernyitkan dahinya. " Apa maksud bapak? "
" Begini dok. " Candra menjeda omongannya untuk mengambil nafas. " Dulu dokter menjelaskan kepada saya kalau Novia sedang banyak pikiran yang menyebabkan kandungannya bermasalah. Sebenarnya dok, suaminya lah akar permasalahan yang Novia hadapi. "
Dokter Dea masih tampak kebingungan.
" Suami Novia tidak pernah peduli dengan kehamilan istrinya. Dia...dia mempunyai wanita lain. "
Dokter nampak terkejut. Kemudian dia manggut-manggut. Jadi begitu permasalahannya. Makanya Bu Novia tidak pernah mengecek kandungan diantar oleh suaminya. Batin dokter Dea.
" Bagaimana kondisi Novia sekarang dok? "
Dokter Dea menghela nafas panjang.
" Kondisi bu Novia tidak bagus pak. Kondisinya cukup memprihatinkan. Saya cemas dengan keadaan janinnya. Kondisi psikologis sang ibu sangat berpengaruh terhadap perkembangan janin pak. Bu Novia sudah mengalami kondisi seperti ini dua kali. Kalau sampai dia mengalaminya sekali lagi, saya tidak menjamin keselamatannya. "
" Jika sampai Bu Novia tidak sadarkan diri sekali lagi, maka kalau tidak bayinya yang tidak tertolong, maka Bu Novia yang yang tidak bisa di selamatkan. "
" Apa dok? Apa separah itu kondisinya? "
" Iya pak. Dari ketika ibu Novia pingsan yang pertama saya sudah wanti-wanti untuk hati-hati. Untuk menjaga kesehatan dan psikologisnya. Tapi Bu Novia sampai anfal lagi seperti ini. Kalau misalnya janinnya ini masih muda umurnya, mungkin saya akan menyarankan untuk di gugurkan saja. Tapi untuk sekarang itu tidak mungkin. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke empat. "
Candra tampak lemas mendengar penjelasan dari dokter.
" Apabila bu Novia setelah ini tidak sampai mengalami keadaan seperti ini lagi, bayinya tetap akan lahir prematur. Saya yakin itu jika dengan kondisi psikologis bu Novia masih seperti ini. "
Candra mengusap wajahnya kasar. " Ya Allah..."
" Dokter, menurut dokter apa yang bisa kami lakukan supaya Novia jangan sampai mengalami hal seperti ini lagi? "
" Kalau saran saya, untuk sementara Novia harus berada jauh dari akar permasalahan. Jika memang suaminya yang membuat kondisinya seperti ini, maka dengan terpaksa dia harus di jauhkan dari suaminya. Supaya pikirannya tenang. Dia juga butuh hiburan. Butuh suasana yang baru."
" Baiklah dok. Jika itu yang terbaik untuknya saat ini. Saya mohon pamit dulu. "
__ADS_1
" Iya pak. Silahkan. "
Candra meninggalkan ruangan dokter Dea dan berjalan menuju ruang rawat inap Novia.
**Kriet
Bunyi pintu di buka.
" Bagaimana keadaannya bi? "
" Tadi mbak Novia sempat sadar. Tapi langsung menangis histeris. Jadi perawat menyuntikkan obat penenang. "
" Bi, saya mau bicara sama bibi sebentar. Kita ke depan yuk bi. "
Bi Susi mengangguk kemudian mengikuti Candra keluar dari ruangan Novia.
" Ada apa mas? " tanya bibi ke Candra saat mereka sudah berada di luar ruangan Novia.
" Saya tadi bicara banyak dengan dokter kandungannya Novia bi. Dokter bilang kondisi Novia sekarang tidak baik. Kalau sampai dia mengalami hal seperti ini sekali lagi, maka itu akan membahayakan keselamatannya juga anak yang di kandungnya bi. Dan dokter menyarankan supaya Novia diajak pergi untuk sementara waktu. Pergi dari kehidupan keseharian dia yang bisa mengingatkannya akan penderitaannya. "
" Apa sampai seburuk itu kondisinya? "
Candra menjawab dengan anggukan lesu.
" Astaghfirullah...Ya Allah...Ya Rabb.. Bagaimana ini mas? Apa yang harus kita lakukan? Tidak mungkin kita memberitahu keluarganya. Mbak Novia melarang untuk memberitahu keluarganya. "
" Saya tadi sudah memikirkan jalan keluarnya bi. Saya akan membawa Novia pergi. Saya akan memberikan suasana baru untuknya. "
" Tapi mas...Ini..."
" Saya tahu ini seharusnya tidak boleh saya lakukan. Karena bagaimanapun Novia adalah seorang istri. Tapi tidak ada jalan lain bi. Bibi kan juga tahu, jika bersama saya, Novia bisa makan. Lalu suapa lagi orang yang tepat untuk membantunya bangkit bi?"
Bi Susi masih tampak berpikir.
" Bi, percaya sama saya. Ini semua untuk kebaikan Novia dan anaknya. Novia tidak boleh menginjakkan kakinya lagi di rumah itu. "
Bi Susi masih tetap terdiam. Bingung harus bagaimana. Apa dia harus membiarkan istri majikannya itu di bawa oleh mantan kekasihnya? Ataukah dia harus tetap mempertahankan Novia supaya tetap kembali ke rumah Boby?
***
__ADS_1
bersambung