Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
97. mengigau


__ADS_3

Setelah di beritahu kalau Boby sudah kembali ke Semarang oleh mama mertuanya, Novia bernafas lega. Dia sudah bisa keluar kamar. Dia bisa makan malam bersama dengan mama mertuanya di meja makan.


Sedangkan bibi, secara diam-diam mengantarkan makan malam ke kamar Boby.


" Den, makan malamnya. " bibi masuk ke kamar Boby. Kala itu Boby baru keluar dari kamar mandi.


" Iya, bi. Makasih. " Boby berjalan menuju ke meja yang telah ada hidangan makan malam yang di antar bibi.


" Gimana keadaan Novia bi? " tanya Boby sambil mengisi piring dengan nasi dan lauk pauk.


" Alhamdulillah den...non Novia sehat. Makannya sekarang juga sudah lumayan mudah. Cuma tidurnya aja yang agak tidak nyaman. "


" Maksudnya bi? "


" Non Novia itu tidurnya susah. Kalau siang ndak pernah bisa tidur siang. Kalau malam tidur kalau ndak di elus-elus pinggang atau perutnya ndak bisa tidur juga. Bibi kasihan den. Makanya non jadi kurus gitu. Tiap malam, kalau ndak saya ya nyonya, selalu nemenin non tidur. Soalnya kadang tengah malam tiba-tiba non gelisah. Tapi kalau udah di elus-elus, baru bisa tidur nyenyak lagi. "


" Gitu bi? Boby nitip istri Boby ya bi. "


" Iya den. Pasti. "


Boby telah selesai makan malam. Bibi langsung membersihkan meja dan sisa makanan Boby.


" Den, kalau aden mau lihat non Novia, aden lihat aja dari jendela. Biasanya, non pasti duduk santai di taman belakang kalau habis makan malam. Karena dia bilang, tiap habis makan, tubuhnya gerah. " ucap bibi ketika mau meninggalkan kamar Boby.


" Iya bi. " jawab Boby dengan mata berbinar.


Setelah bibi keluar, Boby segera berjalan menuju jendela. Di bukanya sedikit tirai jendela kamarnya. Senyuman terulas dari bibirnya. Dia bisa melihat istrinya sedang duduk di bangku taman belakang sambil mendengarkan musik lewat headset.


" Maafkan aku, Cinta..." gumam Boby dari balik jendela sambil memandang Novia. Sebulir air mata jatuh dari pelupuk mata Boby.


Malam telah larut. Semua penghuni rumah sudah terlelap dalam mimpi. Malam itu Novia tidur di temani mama mertuanya. Seperti biasa, sebelum tidur mama mertuanya mengelus-elus pinggang Novia. Dengan begitu, Novia akan cepat terlelap.


Tapi malam itu, mungkin sudah sejak sore, Novia merasa gelisah. Ada rasa takut, cemas, rindu jadi satu. Tentu saja rindu terhadap sang suami. Entah mengapa, hari itu Novia sangat ingin berada dekat dengan suaminya. Bayinya juga hari itu bergerak terus. Sehingga Novia merasa nyeri di pinggangnya, juga merasa agak sakit di bagian perutnya.


" Ma, dedek sejak siang tadi aktif banget. Gerak terus dianya. Novia sampai kewalahan. Jadinya pinggang sama perut Nov rasanya agak sakit. Kenapa ya ma, kok dia gerak terus? Apa karena tadi ayahnya datang? Tapi kan sekarang ayahnya udah nggak di sini. Dia masih gerak terus. " ucap Novia panjang lebar sambil rebahan.

__ADS_1


" Mungkin saja sayang. " jawab Bu Vera sambil mengelus perut Novia. Beliau juga merasakan gerakan bayi itu tidak seperti biasanya.


' Apa kau merindukan ayahmu nak? ' tanya Bu Vera dalam hati.


Malam semakin larut. Sebenarnya Novia telah tertidur. Tapi dalam tidurpun dia tetap gelisah. Tidurnya tidak nyaman. Dia membolak-balikkan posisi badannya.


" Sshh..." Novia tiba-tiba mendesis seperti kesakitan.


Bu Vera langsung terbangun. " Kamu kenapa sayang? Apanya yang sakit? " tanya Bu Vera dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Novia tidak menjawab. Matanya pun masih terpejam. Tapi Bu Vera tetap melihat kegelisahan dalam diri Novia. Beliau juga melihat Novia mengernyitkan dahinya. Seperti menahan sakit.


" Sayang, kamu kenapa? " tanya Bu Vera kembali.


Novia masih tetap diam.


" Apa dia mengigau? " gumam Bu Vera. " Kamu seperti kesakitan begitu. " tambahnya.


Bu Vera memijit pelan pinggang Novia. Tapi Novia masih tetap tampak gelisah. Bu verapun jadi bingung sendiri. Kemudian beliau keluar dari kamar menuju kamar Boby.


" Bob....Boby...." panggilnya.


Tak berselang lama, pintu kamar terbuka. Boby membuka pintunya lebar-lebar.


" Ada apa ma? " tanya Boby.


" Novia... sepertinya dia kesakitan. Tapi mama kurang tau juga sih..." Bu Vera kebingungan menjelaskan ke Boby. " Mama udah mijitin pinggangnya, mengelus perutnya, tapi dia tetap seperti nggak nyaman. " lanjutnya.


" Kok bisa ma? Apa sering seperti itu? "


" Nggak pernah. Kalaupun dia terbangun tengah malam karena tiba-tiba merasa tidak nyaman, biasanya dia langsung terduduk. Terus kalau mama udah mijitin pinggangnya, dia akan tidur lagi. Tapi ini sepertinya Novia nggak sadar. Dia masih dalam posisi tertidur. Tapi dia mendesis seperti kesakitan gitu. "


" Terus Boby harus gimana sekarang ma? " tanya Boby yang mulai panik.


" Mmm...Coba kamu ke kamarnya. Kamu yang elus. Siapa tahu Novia nggak kesakitan. Soalnya tadi sebelum tidur, Novia sempat cerita kalau dia ngerasa pengen banget ketemu kamu. Mungkin aja anakmu kangen sama kamu. "

__ADS_1


" Tapi kalau Novia tahu gimana ma? Boby nggak mau ambil resiko. "


" Insyaallah nggak. Dia juga masih tertidur. Lagian semenjak di sini, Novia lebih suka tidur dalam posisi gelap. Asalkan kamu nggak bersuara aja. "


Boby tampak menimbang usulan mamanya.


" Ya udah deh ma. Ayo!"


Mereka berdua kembali masuk ke kamar Novia. Tapi Bu Vera menyuruh Boby masuk sendiri. Beliau tahu, Boby juga merindukan istrinya.


Boby masuk ke kamar Novia dan menutup pintu kamar dengan perlahan. Benar apa yang di bilang mamanya. Kamar Novia seperti mati lampu. Gelap . Kamar itu hanya di terangi lampu yang berada di luar.


Dengan perlahan, Boby berjalan menuju ranjang. Sampai di dekat ranjang, dia melihat Novia yang tampak gelisah dalam tidurnya. Boby duduk di tepi ranjang.


Boby mengulurkan tangannya untuk membelai perut buncit Novia. Ada gelenyar aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Ada rasa bahagia, senang, cemas, takut dalam hatinya. Hatinya seperti di remas-remas. Ini adalah kali pertama dia membelai perut Novia semenjak Novia mengandung anaknya.


" Mas....mas...." Novia sepertinya mengigau.


Spontan Boby menarik tangannya dari perut Novia dan bersiap pergi dari kamar itu. Karena dia takut dan khawatir Novia melihatnya. Tapi di saat yang bersamaan, tangannya di pegang oleh Novia.


" Pijitin sini..." Novia mengarahkan tangan Boby ke pinggangnya.


Dengan hati-hati dan pelan-pelan, Boby mulai memijit pinggang Novia. Dia khawatir Novia tiba-tiba bangun. Tapi ternyata Novia sama sekali tidak membuka matanya.


Boby menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang. Merebahkan tubuhnya di samping Novia dengan masih memijit pelan pinggang Novia. Dan sepertinya Novia sangat menikmatinya.


Di saat Boby baru merebahkan tubuhnya, tiba-tiba Novia berpindah posisi. Novia menghadap ke Boby. Boby terkejut di buatnya. Di lihatnya mata Novia. Ternyata masih tetap terpejam.


Novia memberanikan diri untuk mengecup kening Novia pelan. Kemudian menaikkan tangannya untuk meraba wajah istrinya. Tapi tiba-tiba tangannya di pegang oleh Novia dan di taruh di atas pinggulnya. Kemudian Novia memajukan tubuhnya dan menempelkan wajahnya ke dada Boby, dan tangannya melingkar di pinggang Boby.


Novia terlihat sangat nyaman dengan posisi itu. Boby tersenyum. Di dekapnya tubuh Novia erat seolah enggan di lepas.


****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2