Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
118. Seratus delapan belas


__ADS_3

" Aku mau pulang ke rumah ibu. " ucap Novia.


Jeddarrrr....bagai ada petir menyambar hati Boby.


" Kita pulang dulu ke rumah, nanti sore baru ke rumah ibu. " bujuk Boby .


" Kalau nggak mau anter, aku bisa naik taksi. " jawab Novia sambil mengambil Athar dari gendongan Boby.


Boby menolak memberikan Athar. " Oke. Kita langsung ke rumah ibu sekarang. " Akhirnya Boby mengalah. Daripada sang istri jadi marah-marah.


Remon mengantar mereka ke rumah pak Samsul. Empat puluh menit perjalanan mereka tiba di rumah orang tua Novia.


" Assalamualaikum..." sapa Novia.


Mereka memasuki rumah yang tampak sepi.


" Assalamualaikum..ibu...Bu...." panggil Novia.


" Waalaikum salam. " jawab ibu dari dalam kamar. Sepertinya Bu Arum sedang istirahat siang.


Bu Arum membuka pintu kamar dan keluar.


" MasyaAllah.... Kalian...oh, cucu nenek..." Bu Arum melihat kedatangan mereka sampai mulutnya menganga.


Novia mendekat ke Bu Arum dan memeluknya.


" Ibu sehat kan? "


" Alhamdulillah, ibu sama bapak sehat. "

__ADS_1


" Bu.." Boby mendekat dan mencium punggung tangan Bu Arum.


Bu Arum mengelus pundak menantunya sambil tersenyum.


" Bapak mana Bu? "


" Bapakmu lagi ke rumah pak RT...Biasa, cari teman ngobrol. Cucu nenek tidur ya? " Bu Arum mendekati Athar yang sedang dalam gendongan Boby.


" Iya Bu. Udah sejak turun dari pesawat tadi dia tertidur. " jawab Novia.


" Tidurkan dulu di kamar. Kasihan dia juga pasti butuh tidur yang nyaman. Kasihan papanya juga harus gendong bocah segendut ini. " ucap Bu Arum sambil mengelus pipi sang cucu.


" Iya Bu. Bang Re, bisa minta tolong, turunin barang-barang Novia sama Athar? Nanti taruh sini aja bang. " ucap Novia ke Remon.


Tapi Remon tidak langsung menuruti permintaan Novia. Dia memandang ke arah Boby yang tampak menghela nafas berat sambil memejamkan matanya sekejap. Remon menunggu perintah dari bosnya, apakah dia harus menuruti Bu bos atau tidak.


Boby mengerti kalau Remon menunggu jawaban darinya. Boby mengangguk. Remon yang mengerti arti jawaban dari sang atasan, langsung keluar rumah menuju ke mobil untuk menurunkan semua barang-barang Novia dan Athar.


" Habis ini, kamu pulang dulu. Ak..."


" Kamu sama Athar di sini. Aku juga harus di.."


" Jangan menyela perkataanku dulu mas. " Novia berhenti sejenak. Boby nampak mengusap wajahnya kasar. " Biarkan aku berpikir dengan jernih. Tanpa ada kamu di dekatku. Aku tidak bisa kalau harus seperti ini terus. Aku harus memutuskan apa yang harus kita lakukan dengan pernikahan kita. "


" Maksudnya? Maksud kamu apa Sayang? Pernikahan kita baik-baik aja. "


" Tolong mas. Ijinkan aku di sini. Aku butuh waktu dan butuh kesendirian untuk berpikir. Tolong, jangan menghubungiku sebelum aku yang menghubungimu. Dan tolong juga, jangan menemuiku sebelum aku memintamu. "


Duarrr.... kembali sebuah petir bagai menyambar hati Boby. Bahkan lebih keras dari tadi. Apa yang dari tadi di takutinya, benar-benar terjadi.

__ADS_1


Semua ini sudah Novia pikirkan semenjak dia pulang dari mall waktu di Jakarta dulu. Dia tidak bisa kalau harus hidup tidak nyaman seperti ini. Dia butuh waktu dan tempat yang tepat untuk berpikir. Apakah dia akan menyudahi pernikahannya atau apakah dia memang masih mencintai suaminya itu? Kalau dia masih menyimpan cinta itu, maka dia harus bisa memaafkan kesalahan sang suami dan bersama-sama memperbaiki kehidupan pernikahan mereka.


Oleh karena itu, Novia memutuskan untuk pulang ke Semarang. Yang artinya, pulang ke rumah orang tuanya.


" Nggak bisa begitu dong Sa..."


" Tolong mas. " potong Novia.


Boby berkacak pinggang dengan sebelah tangan, dan tangan yang sebelahnya lagi digunakan untuk mengacak rambutnya. Kemudian dia memegang dan mengusap tengkuknya yang terasa berat.


" Aku tidak bisa kalau tidak bertemu anakku. " ucap Boby sebagai alasan.


" Aku tidak akan melarangmu untuk bertemu Athar. Kamu papanya. Kamu punya hak atas dia. Jadi kamu bisa suruh bang Remon kesini buat ambil Athar untuk ketemu sama kamu."


" Hah! Baik. Tapi seenggaknya, ijinkan aku di sini sampai Athar bangun dan bapak juga sudah pulang. "


Novia mengangguk kemudian keluar dari kamar meninggalkan Boby yang masih kacau perasaannya.


Boby merebahkan tubuhnya di samping Athar. Di pandanginya wajah si kecil yang sedang tertidur pulas itu.


" Mungkin inilah hukuman buat papa yang dulu pernah menyia-nyiakan kalian. Maafkan papa ya nak. Maafkan papa..." ucap Boby kepada sang anak sambil tak di sangka air mata mengalir dari sudut matanya.


****


bersambung


Maaf ya kakak-kakak semua...


Chapter ini adalah chapter tersingkat yang pernah author tulis. Soalnya, sampai sini author kehilangan ide cerita.. Insyaallah besok author sambung lagi ceritanya. Semoga aja besok ide ceritanya udah balik lagi...🤭🤭🥰🥰

__ADS_1


Selamat malam reader'sku semuanya....


__ADS_2