
" Assalamualaikum..." bi Susi mengucapkan salam ketika masuk ke ruang rawat Novia.
" Waalaikum salam. " jawab Novia dan Candra bersamaan.
Bi Susi masuk ke dalam ruangan. Saat itu Candra sedang menyuapi Novia.
" Semua sudah bibi kemas di sini. " ucap bibi sambil menunjukkan koper besar yang dia bawa tadi.
" Iya bi. Makasih. "
Candra menaruh piring di atas meja, karena Novia telah selesai makan. Bibi menghampiri mereka. Remon juga masuk ke dalam kamar.
" Assalamualaikum." sapa Remon.
" Waalaikum salam, bang. " jawab Novia.
" Gimana kabarnya bu bos? " tanya Remon.
" Alhamdulillah, bang. Aku udah baikan. Bang Re, jangan memanggilku bu bos lagi. Mungkin sebentar lagi aku sudah bukan istri pak bos. "
" Bagi saya, mbak Novia tetap bu bos saya satu-satunya. "
" Bang Re bisa aja. "
" Apa kata dokter mbak? "
" Alhamdulillah, dokter bilang kondisi Novia sudah membaik. Mungkin lusa Novia sudah bisa keluar dari rumah sakit. "
" Alhamdulillah mbak. Mas Candra sudah ada tujuan, jadinya mau ajak mbak Novia kemana? " tanya bi Susi.
" Sudah bi. Rencananya saya mau mengajaknya tinggal di Kudus. Di sana ada daerah pegunungan. Memang di desa bi. Tapi udara di sana bagus. Bagus juga buat kesehatan Novia dan anaknya. "
" Berarti sudah dapat tempat tinggal di sana? Kok mas Candra nggak ngasih tahu Novia? " tanya Novia.
" Sudah. Kebetulan mas punya teman yang punya vila di sana. Waktu mas cerita, dia langsung suruh mas sama kamu tinggal di sana aja. "
" Alhamdulillah kalau begitu. Re, kamu tahu kota Kudus apa tidak?" tanya bibi.
" Emang kenapa bi? "
__ADS_1
" Ya kalau besok mbak Novia sudah tinggal di sana, kamu yang nganter bibi nengokin. "
" Oh, gampang itu bi. Bisa di cari pakai google map. Atau mas Candra bisa langsung share loc alamatnya. Bisa langsung ketemu. "
" Ohh..." bibi manggut-manggut.
" Bang Re, bisa minta tolong? "
" Iya mbak. "
" Bisa tolong mintakan kertas sama sekalian pinjamkan bolpen ke perawat? "
Remon mengangguk kemudian keluar untuk meminjam apa yang di mau Novia. Tak lama kemudian, dia masuk kembali dengan membawa kertas dan bolpen dan menyerahkannya kepada Novia.
" Makasih bang. " ucap Novia.
Kemudian Novia menulis sesuatu di atas kertas itu. Setelah selesai menulis, Novia mengambil dompet yang ada di dalam tasnya. Novia mengeluarkan sebuah kartu debit.
" Bi, bisa Novia minta tolong? "
" Iya mbak. " Bibi segera menghampiri Novia.
" Sama ini juga bi. " Novia menyerahkan kartu debit ke tangan bibi. " Kartu ini di kasih mas Boby ketika Novia baru jadi istrinya. Ini Novia kembalikan. "
" Kok di kembalikan mbak? Ini udah jadi haknya mbak Novia. Di sini ada kewajiban mas Boby sebagai suami untuk menafkahi mbak Nov juga anak ini. " ucap bibi sambil mengelus perut Novia.
Novia menggeleng. " Nggak bi. Jika semuanya harus berakhir, maka Novia nggak mau membawa apapun. Lagian selama menjadi istrinya, sama sekali Novia tidak pernah mengambil uang dari kartu ini. Sepeserpun bi. Novia masih punya gaji bi. Novia bisa menghidupi Novia sama anak Nov tanpa sokongan darinya. "
" Baiklah mbak. Bibi akan memberikan ini ke mas Boby. "
" Makasih bi. Oh ya bang Re. Bang Re jangan pernah cerita sama Rifa kalau Nov pergi dari rumah mas Boby ya. Jangan kasih tahu juga Novia dimana. "
" Siap mbak. "
••••
Hari berganti. Shinta dan Andre sudah berada di Semarang saat ini. Sesuai dengan rencana, dari bandara mereka ke rumah sakit.
Ketika masuk ke dalam rumah sakit, seseorang mengikuti. Karell melihat Shinta dan Andre masuk ke dalam rumah sakit. Niat hati ingin menyapa. Tapi melihat Shinta dan Andre tampak terburu-buru, Karell mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Karena ada rasa penasaran, Karell diam-diam mengikuti Shinta dan Andre. Sampai di depan kamar rawat inap, Karell melihat Shinta membuka pintu itu. Ketika pintu terbuka, Karell mengenali pasien yang ada di kamar itu.
" Itu kan sepupu Boby yang di kenalkan ke aku kemarin. Tapi Shinta juga mengenalnya? " gumamnya.
Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu sampai Shinta keluar dari kamar itu.
Setelah setengah jam menunggu, Karell melihat Shinta keluar dari kamar sendirian. Buru-buru Karell menyusulnya.
" Shinta..." panggil Karell.
" Karell. " Shinta terlihat kaget dengan kehadiran Karell di sana. Sekilas Shinta melirik ke pintu kamar yang telah tertutup.
" Maaf Shinta, boleh aku bicara denganmu sebentar? " tanya Karell to the point.
" Ada apa Karell? Kelihatannya serius. "
" Iya. Tapi sebaiknya jangan bicara di sini. Kita ke taman sana aja. "
Shinta mengangguk. Dia mengikuti langkah Karell.
" Ada apa Karell? " tanya Shinta ketika mereka telah duduk di bangku taman.
" Tolong Shinta, jawab aku dengan jujur. Siapa yang kamu tengok tadi? "
" Oh, teman aku. "
" Teman kamu siapa? Sepertinya aku juga mengenal teman kamu itu. "
Shinta nampak terkejut. " Mungkin saking wajahnya mirip dengan teman kamu. " jawab Shinta menghilangkan kekagetannya.
" Aku mengenalnya sebagai sepupu Boby. Apa kamu juga mengenalnya sebagai sepupu Boby ? "
Shinta terdiam. Dia tampak berpikir. Apa aku jawab jujur saja siapa Novia ya? tanya Shinta dalam hati.
" Tolong jawab aku Shin, siapa dia sebenarnya? "
****
bersambung
__ADS_1