Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
90. Tujuh Bulanan


__ADS_3

Hari terus berganti. Usia kandungan Novia kini sudah menginjak tujuh bulan. Setiap hari, Candra selalu menemaninya. Dia sudah bak suami siaga. Dan memang seperti itulah perasaan Candra sekarang. Dia merasa menjadi suami Novia. Menjadi seorang calon ayah.


Selama bersama tinggal di daerah pegunungan, Novia merasa bahagia. Dia merasa bersyukur, ada Candra di sampingnya yang selalu menemaninya. Para tetangga di sekitar vila yang di tempati Novia juga baik. Mereka sering mengajak Novia ngobrol.


" Makasih ya mas...Novia merasa bahagia tinggal di sini. Mas selalu menemani Novia. "


" Alhamdulillah kalau kamu bahagia di temani mas. Jika memang setelah anak ini lahir, dan kamu jadi bercerai, mas akan sangat bahagia kalau kamu menerima mas untuk menjadi pendamping hidup kamu dan menjadi ayah anak kamu."


" Mas, kita udah pernah membicarakan ini. Novia nggak mau kasih harapan kosong sama mas. Kita jalani saja semuanya sesuai kehendak Allah. Jika memang Allah menghendaki kita untuk bersama, Novia juga nggak akan bisa nolak. " ujar Novia sambil tersenyum.


Candra juga menanggapi dengan senyuman. ' Semoga Allah memang menghendaki kita untuk bersama. Amin ' doa Candra dalam hati.


" Oh iya, persiapan untuk acara tujuh bulanan lusa sudah mas serahkan sama pak Solik dan istrinya. Soalnya mas nggak tahu cara di sini seperti apa. "


" Mas, nggak perlu repot-repot. Novia kan udah bilang, nggak usah ada acara tujuh bulanan segala. "


" Mas juga udah bilang, wajib dik...Kamu hamil anak pertama. Jadi harus ada acara tujuh bulanan. Udah, nggak usah bantah. "


" Iya...iya mas..."


Hari berganti. Hari ini, Candra mengadakan acara tujuh bulanan Novia. Candra mengundang beberapa tetangga untuk ikut mengaji. Istri pak Solik juga memanggil dukun beranak yang ada di desa itu untuk melakukan prosesi tujuh bulanan Novia.


Setelah acara mengaji selesai, Candra melakukan semua ritual yang harus di lakukan oleh seorang suami ketika tujuh bulanan. Mulai dari memecah kelapa, kemudian menggantikan Novia menelan telur ayam mentah.


Candra melakukannya dengan hati bahagia. Dia melakukan semuanya untuk anak dan istrinya. Ah, sungguh romantis...Hi...hi..hi...


" Capek dik? " tanyanya pada Novia setelah acara selesai.


" Nggak sih mas. Cuman agak ribet perut buncit gini harus pakai jarit gini. " jawab Novia yang memang terlihat kesusahan ketika akan duduk.


Candra tersenyum dan menghampiri Novia.


" Dik, kakimu bengkak?" tanya Candra cemas ketika melihat kaki Novia.

__ADS_1


" Iya mas. Sejak tadi pagi. Nggak tahu kenapa. Rasanya juga agak ngilu. Terus kaku kalau di buat jalan. "


" Sebentar..Aku tanya sama Bu Romlah. " ujar Candra kemudian berlalu ke belakang.


Tak berselang lama, Candra kembali.


" Yuk, aku antar ke kamar. Istirahat. "


Candra membantu Novia bangkit dari duduknya. Karena Novia sangat kesusahan berdiri karena selain perutnya yang buncit, dia juga sedang memakai jarit.


" Kamu ganti baju dulu, aku ambilkan air hangat ke belakang. "


Novia mengangguk. Sebelum keluar, Candra mengambilkan baju piyama panjang milik Novia di almari. Sungguh perhatian sekali Candra ke Novia. Novia jadi membayangkan, seandainya saja suaminya yang seperti itu, betapa bahagianya hatinya.


Tak lama setelah Novia selesai berganti baju, Candra datang kembali dengan membawa baskom yang berisi air hangat dan waslap.


" Buat apa bawa air di baskom segala mas? "


" Udah, kamu duduk dulu yuk. " Candra menggandeng Novia untuk duduk di ranjang. Kemudian dia menaikkan kaki Novia satu persatu ke atas ranjang.


" Kata Bu Romlah, kalau lagi hamil terus kakinya bengkak itu wajar. Biar nggak terlalu bengkak dan nggak ngilu, beliau bilang di kompres sama di pijit aja. " jelas Candra sambil memijat kaki Novia lembut.


Novia hanya bisa tersenyum merasakan perhatian Candra yang tiada duanya. Seandainya saja Candra dulu tidak menolaknya, mungkin dia akan bahagia sekarang mendapatkan perhatian Candra yang seperti ini. Karena dia pasti sudah menjadi istri Candra sekarang. Dan bahkan anak yang di kandungnya ini juga anak Candra.


Tapi takdir berkata lain. Hatinya sudah bukan milik Candra lagi. Dan hidupnya juga sudah menjadi milik laki-laki lain.


" Makasih ya mas. " ucap Novia sambil memandang Candra.


" Kamu kenapa sih selalu bilang makasih, maaf. Nggak ada kata-kata yang lain? " jawab Candra tanpa memandang ke arah Novia.


" Ya karena mas udah terlalu baik sama Novia. Padahal Nov dulu pernah nyakitin hati mas Candra. "


" Justru mas yang sangat bersalah. Seandainya mas nggak sok-sokan nolak kamu, jadi kamu nggak perlu menjalani hidup yang seperti ini. "

__ADS_1


" Mas nggak salah apa-apa. Mas sekarang udah banyak banget bantuin Nov. Kalau nggak ada mas, Novia nggak tahu harus menghadapi ini semua seperti apa. Novia mungkin sudah bunuh diri mas."


" Hus... ngomong apa sih kamu ini? Bunuh diri itu dosa. Kamu tahu itu kan? " jawab Candra dengan melototkan matanya.


" Ya kan seandainya mas. Jangan marah dong. Au...." tiba-tiba Novia meringis.


" Kenapa dik? " Candra terlebih cemas melihat Novia meringis kesakitan.


" Si kecil nendang kencang banget. Kamu si mas marahin mamanya. Dia nggak terima kayaknya. " jawab Novia sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang berjejer rapi.


" Masak sih? Coba mas pegang. "


Candra memegang perut Novia. Kemudian di elusnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Candra mengelus perut Novia. Karena bayi Novia sangat nyaman jika dielus oleh Candra. Novia jadi bisa tidur dengan nyenyak setiap malam.


" Sayang, maafin ayah, oke...Ayah nggak jadi marah sama mama kamu. Kamu jangan nendang kencang-kencang. Mama kesakitan nak. " ucap Candra ke bayi yang ada di dalam perut Novia.


Yah, semenjak mereka hidup di Kudus, Candra meminta ijin sama Novia supaya anak Novia memanggilnya ayah kelak. Dan Novia tidak keberatan. Karena memang Candra lah yang menjaga dan menghidupi mereka.


Sebenarnya Novia ingin menghidupi dirinya sendiri. Mencukupi kebutuhannya sendiri. Karena walaupun tidak banyak, dia masih punya tabungan. Tapi Candra tidak mengijinkannya. Semua kebutuhan Novia dan bayinya, dialah yang menanggung.


" Mas, lihat nih. Kayaknya ini siku tangannya. " Novia memperlihatkan bagian perut sampingnya yang terlihat ada tonjolan kecil.


Candra mengelusnya. Setelah Candra mengelus perut Novia, maka sang bayi pun akan tenang kembali. Tidak menendang terlalu kencang. Sepertinya, anak Novia ini nurut sama Candra.


" Oh iya, kapan kita belanja perlengkapan untuk si kecil kalau sudah lahir? Kalau orang tua bilang, kalau udah 7 bulan, kita boleh membeli baju, dan semua perlengkapan yang lain untuk si kecil. "


" Besok aja lah mas. Kata dokter kan masih dua bulan lagi baru lahir ini si kecil. Kalau di beli sekarang, Nov jadi pengen lihat kalau udah di pakai, kayak apa. "


" Mmm...ya udah deh. Mas ikut kamu aja. Yuk, mas bantuin pindah posisi. Udah malam, kamu harus istirahat, tidur. "


Novia mengikuti perintah Candra. Dia merebahkan tubuhnya di posisi miring. Karena semenjak kandungannya membesar, dia sudah tidak nyaman tidur telentang.


Seperti biasa, ketika akan tidur, Candra menggosok sambil memijat pelan pinggang Novia, sampai Novia jatuh tertidur. Baru dia akan masuk ke kamarnya untuk beristirahat juga.

__ADS_1


****


bersambung


__ADS_2