Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
110. Seratus sepuluh


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu, Novia melakukan segala sesuatu di bantu oleh suaminya. Meskipun dengan berat hati karena malu, Novia hanya bisa pasrah saja. Tapi hal itu justru membuat Boby begitu senang. Meskipun Novia masih berbicara dengannya hanya saat penting saja, tapi dia bisa memaklumi. Dia yakin Novia pasti pasti masih kesal terhadap dirinya.


Perkembangan kesehatan Novia sudah baik. Kini dia sudah bisa melakukan banyak hal sendiri. Untuk tangan, tangannya sudah kembali seperti sedia kala. Dia sudah bisa menggendong Athar. Tentu saja dia sudah bisa menyusui bayi Athar sendiri. Dia juga sudah bisa ke kamar mandi sendiri. Walaupun dengan jalan pelan, paling tidak dia bisa melakukan hal yang menurutnya paling memalukan sendiri.


Tok...tok...tok...


" Masuk. " jawab Boby dari dalam kamar.


Pintu terbuka. Nampaklah seorang pemuda yang tentu saja sangat mereka kenal. Meskipun begitu, mereka tetap terkejut dengan kedatangannya.


" Mas Candra..." sapa Novia terkejut.


" Assalamualaikum. "


" Waalaikum salam. " jawab Boby dan Novia bersamaan.


Boby bangkit dari duduknya dan menghampiri Candra untuk menyalaminya.


" Mas Candra Kesini kok nggak bilang-bilang." ujar Novia.


Candra setelah bersalaman dengan Boby, berjalan menghampiri Novia yang saat itu sedang duduk kursi dekat jendela.


" Kan surprise. Kalau ngasih tahu dulu jadinya ya nggak jadi surprise dong. " jawab Candra dengan nada bercanda dan di sambut dengan tawa hangat Novia.


" Mas Candra bisa aja. Udah pinter bercanda ya sekarang. "


" Gimana keadaan kamu sekarang? " tanya Candra sambil mendudukkan pantatnya di kursi di depan Novia.


" Alhamdulillah mas...Nov udah jauh lebih baik sekarang. "


" Syukurlah kalau dik Nov sudah lebih baik sekarang. "


" Cuman tinggal terapi kaki aja sih mas. Kaki Nov masih belum begitu kuat buat jalan lama-lama. " ujar Novia sambil memegang kakinya.


" Yang sabar dik. Sebentar lagi pasti bisa pulih lagi. " jawab Candra dengan tatapan sendunya. " Kamu sih dik... tidurnya kelamaan. Jadinya semua otot kamu pada kaku. " lanjutnya.


" Iya juga sih mas. Novia juga nggak tahu kok bisa ya Novia tidur sampai satu bulan lebih. " jawab Novia dengan tampang polosnya.


Candra tersenyum melihat ekspresi Novia. Perempuan yang satu ini memang selalu bisa membuatnya tersenyum.


" Aku kesini aja... dicuekin sama kamu dik. "

__ADS_1


" Masak sih mas? Masak mas kesini waktu Nov koma? "


" Iyalah...Aku tuh khawatir banget sama kamu. Ketika bi Susi telepon kasih kabar kalau kamu lahiran, tapi terus kamu malah koma, aku langsung aja kesini. Eeehh, nggak tahunya sampai sini malah di cuekin sama kamu dik. " ucap Candra dengan wajah yang di buat sedih.


" Ya Allah mas....Maaf ya... Nov nggak tahu... "


Kenapa kamu bisa terlihat begitu bahagia ketika bertemu laki-laki ini Nov? tanya Boby dalam hati. Kenapa kamu bisa tertawa lepas bersama dia? Apa karena kebodohanku dulu membuat hatimu mengingat dia kembali? Ahhhh.... Kenapa hatiku terasa panas dan sesak seperti ini? Seharusnya aku siap jika hal ini terjadi kan? Karena aku sudah berjanji kepada Novia kalau aku akan melepasnya jika memang laki-laki ini yang bisa membuatnya bahagia. lanjutnya.


Mata Boby tiba-tiba terasa panas. Sepertinya hujan akan turun dari mata Boby. Boby menarik nafas panjang menenangkan hatinya dan menahan supaya air matanya tidak terjatuh.


Tapi rupanya usahanya itu tidak begitu berhasil. Dadanya masih tetap terasa sesak. Apalagi setiap melihat Novia tersenyum ketika berbicara dengan Candra.


Dia tidak bisa terus berada di sini dan menyaksikan mereka bercanda saling tertawa dan tersenyum seperti ini. Akhirnya Boby memutuskan untuk meninggalkan mereka.


" Sorry...Aku keluar dulu. Kebetulan ada yang menemani Novia di sini. Aku mau ke kantin dulu. Secangkir kopi sepertinya enak untuk di nikmati saat ini. " pamit Boby tanpa melihat ke arah Novia dan Candra, dan berjalan meninggalkan kamar rawat itu.


Novia dan Candra melihat ke arah Boby bersamaan. Kemudian mereka saling berpandangan. Tidak mengerti kenapa tiba-tiba Boby meninggalkan mereka. Ah, apa mereka yang keterlaluan karena melupakannya? Lupa kalau ada Boby di ruangan itu?


" Bagaimana suamimu? Apa dia benar-benar sudah berubah? " tanya Candra ketika Boby sudah keluar dari kamar.


" Nov nggak tahu mas. Yang Nov tahu, selama Novia di rumah sakit, mas Boby nggak pernah ninggalin Novia sama sekali. " jawab Novia sambil menunduk.


" Lalu, bagaimana dengan kamu? Bagaimana perasaan kamu sama dia? "


" Apa kamu sudah bisa memaafkan dia? "


Novia kembali menunduk. Kemudian dia menggelengkan kepalanya.


" Hati Novia masih sakit mas kalau mengingat kelakuannya dulu. "


" Apa dia belum minta maaf sama kamu?"


Novia tersenyum tipis. " Tiap hari. Hampir tiap hari dia meminta maaf dan mengatakan kalau dia menyesal. Hampir tiap hari juga dia mengatakan betapa dia sangat menyayangi dan mencintai Novia. "


" Lalu? "


" Novia masih sulit untuk mempercayainya. Tiap kali Novia merasa ingin memaafkannya, saat itu juga rasa sakit itu menghantui Nov. "


" Kalau menurutku, jika memang kamu masih ingin mempertahankan rumah tangga kamu, sebaiknya kamu berusaha untuk melupakan kesalahannya dan memaafkannya. "


" Entahlah mas. Kalau di tanya soal rumah tangga, Nov pastinya ingin memberikan keluarga yang lengkap untuk anakku. Tapi.... hatiku masih terasa berat. "

__ADS_1


" Kalau hanya untuk memberikan keluarga yang lengkap untuk anak kamu, akupun bisa. Aku akan dengan senang hati menjadi sosok ayah untuk si kecil. Jika memang kamu sudah menyerah untuk rumah tangga kamu, datanglah kepadaku. Hanya kepadaku, oke. Jangan menyendiri. Aku akan sangat bahagia menerima kamu dan anak kamu dalam hidupku. "


" Emang mas mau, punya istri janda? Bawa anak lagi. " goda Novia.


" Nggak masalah. Asalkan itu kamu dik. Dan anak kamu tentunya. Mau janda, mau nggak, asalkan itu adalah kamu, aku akan dengan senang hati membuka hidupku. " jawab Candra serius.


" Mas, mas. Mas itu ganteng, mapan, banyak yang masih gadis yang ngantri buat jadi istri mas Candra. Daripada Nov yang nggak jelas ini. Mending mas cari istri yang masih gadis. Belum bekas orang lain. "


" Hus..! Jangan mengatakan dirimu bekas. Bagiku kamu tetap Novia yang selalu aku cinta. "


" Udahlah mas, nggak usah di bahas lagi. Capek kalau harus bahas masalah hidup Novia. "


" Hmm. Si kecil apa kabar? "


" Alhamdulillah...Baik mas. Dia udah tambah gemuk sekarang. Dia juga udah punya nama lho. "


" Oh ya? Siapa nama si gantengku? "


" Atharauf Elvano Permana. Nama panggilannya Athar. "


" Wah, bagus banget namanya. Aku jadi pengen ketemu dia. "


" Insyaallah bentar lagi juga sampai sini dia. Biasanya kalau siang gini, mama bakal bawa dia kesini. Buat Novia susui. "


" Baguslah kalau dia nanti kesini. Aku nggak jadi mampir ke rumah. Oh iya... jangan lupa janji kamu ya...Anak kamu, adalah anak kamu. Dia harus tetap manggil aku ayah. Mau ayahnya yang asli tetap jadi suami kamu ataupun nggak, anak kamu tetap harus manggil aku ayah sampai kapanpun. " ujar Candra dengan nada serius.


" Iya mas, iya. Novia ingat. Athar tetap manggil mas ayah. Dan mas Boby dia panggil papa. Athar pasti seneng banget punya ayah sama papa. Punya dua ayah sekaligus. " ucap Novia sambil menunjuk dua jarinya 'V'.


" Lagian mas, mas juga berjasa banget buat hidup Athar. Kalau nggak ada mas, Novia nggak tahu gimana nasibnya. " tambahnya sambil menerawang ke masa itu.


Candra melihat raut wajah Novia menjadi mendung.


" Udah, nggak usah di ingat lagi yang lalu. Masa lalu itu kalau indah ya di kenang, kalau buruk ya di lupakan. "


Sebuah senyuman terukir di bibir Novia. Kemudian dia mengangguk.


Di samping itu, di depan pintu, seorang laki-laki tengah mengucurkan air mata. Sesekali dia mengusap matanya supaya air matanya tidak mengalir sampai ke pipi.


Boby mendengar semua percakapan Candra dan Novia dari balik pintu. Sepertinya Boby tidak jadi ke kantin.


****

__ADS_1


bersambung


__ADS_2