Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
107. Seratus tujuh


__ADS_3

" Ibu Novia...bisa ibu mendengar saya? Kalau bisa, ibu remas tangan saya. " dokter Sigit kembali bertanya dengan memegang tangan kanan Novia.


Novia mulai merespon. Tangan yang dipegang oleh dokter Sigit mulai di gerakkan. Novia meremas tangan dokter pelan.


Seulas senyum terbit dari bibir dokter Sigit. " Alhamdulillah...." ucapnya.


Ada rasa lega Boby rasakan. Istrinya telah bangun. Perempuan yang di cintainya sudah bangun dari tidur panjangnya. Sebulir air mata menggenang di pelupuk matanya. Dan seulas senyum tipis terukir di bibirnya.


Kini Boby sudah tidak memusingkan masalah Novia marah terhadapnya atau bagaimana. Yang penting sekarang, Novianya telah kembali. Tidak ada yang lebih membahagiakan kecuali hal ini. Jikalau memang Novia marah dan membencinya, maka dia akan berusaha dengan keras untuk meminta maaf dan meluluhkan kembali hati istrinya. Itu saja yang ada dalam pikiran Boby saat ini.


" Bu, sekarang coba buka mata ibu. " pinta dokter Sigit.


Dengan perlahan, Novia mulai membuka matanya. Agak silau di rasanya. Tapi akhirnya mata Novia pun terbuka meskipun matanya terlihat sayu.


" Sekarang, ibu ikuti gerakan jari saya dengan mata ibu. " dokter Sigit menggerakkan jarinya ke kiri dan ke kanan.


Semua perintah dokter, mampu di lakukan Novia. Novia juga sudah mampu untuk berbicara meskipun dengan terbata dan suara yang lirih. Akhirnya semua bisa bernafas dengan lega.


" Dok, ta-pi..kena-pa ta-ngan dan ka-ki sa-ya susah un-tuk di ge-rak-kan? " tanya Novia dengan suara terbata.


" Iya . Ibu harus sabar. Tubuh ibu sudah satu bulan lebih tidak bergerak sama sekali. Jadi, otot-otot dan syaraf-syarafnya masih agak kaku. Nanti dengan terapi yang teratur, saya yakin, tubuh ibu pasti bisa dan kuat untuk melakukan apapun. Untuk sementara, ibu masih butuh bantuan. Ada suami, ada suster yang siap membantu ibu 24 jam penuh. " jelas dokter Sigit dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.


Novia mengangguk pelan tanda dia memahami penjelasan dokter.


" Baiklah, kalau begitu, kami mohon pamit. Kalau ada apa-apa, bapak bisa menghubungi kami. " ucap dokter kepada Boby.


" Iya dok. Terimakasih banyak. " jawab Boby.


" Oh iya, sus, ini nanti terus di siapkan makanan dan minuman untuk ibu Novia." perintah dokter ke salah satu suster.


Dan suster menjawab, " Baik dok. "


" Bu Novia, harus minum dan makan yang banyak, biar tenaganya cepat kembali. "


" Iy-ya dok..Te-rima ka-sih ba-nyak. " jawab Novia sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Dokter dan para perawat meninggalkan kamar Novia. Setelah dokter keluar, Boby mendekati Novia. Di kecupnya kening Novia lama. Novia hanya memejamkan matanya. Tidak mampu menolak, meskipun hatinya terasa sakit.


" Terimakasih banyak. Kamu sudah kembali. " ucap Boby dengan senyum lembutnya.


Boby menatap mata Novia lembut. Novia seakan terhipnotis dengan tatapan itu dan membuat ia melupakan sakit hatinya terhadap sang suami. Diapun membalas senyuman suaminya.


Boby menggenggam tangan kanan Novia dan itu membuat Novia sadar dari keterlenaannya terhadap tatapan mata Boby. Senyum yang tadi mengembang di bibir Novia, kini menghilang.


Boby menyadari hal itu. Tapi dia tidak mau ambil pusing. Dia tahu, istrinya marah. Tapi dia sudah bertekad kalau dia akan memenangkan hati Novia kembali dan mendapatkan maaf dari istrinya.


Boby mencium punggung tangan Novia. Novia memalingkan wajahnya ke arah lain. Sebenarnya dia ingin marah, tapi dia tidak bisa.


" Aku akan memberi kabar mama dan ibu. " ucap Boby sambil berdiri dan sebelah tangannya mengusap puncak kepala Novia lembut.


Boby mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Kemudian dia menghubungi mamanya.


Mamanya terdengar sangat bahagia mendengar kabar baik ini. Tak henti-hentinya dia mengucapkan syukur.


Setelah menghubungi mamanya, Boby menghubungi Ibu mertuanya. Sang ibu mertua juga sangat senang mendengar kabar ini. Kemudian Boby juga memberi kabar ke bi Susi, Andre, juga Remon. Dan tak lupa dia juga memberi kabar ke Candra, meskipun hanya lewat pesan.


Ada perasaan menggelitik di hatinya untuk memprotes penampilan suaminya. Dia jadi risih melihat penampilan suaminya itu. Karena memang Novia tidak pernah suka dengan lelaki yang berkumis dan berjambang lebat seperti itu. Tapi Novia berusaha menahan untuk tidak berbicara dengan Boby.


Saat melihat Boby telah usai melakukan panggilan, dan akan kembali mendekatinya, Novia memejamkan matanya.


" Kamu tertidur, sayang? " ucap Boby sambil mengelus pucuk kepala Novia lembut.


Tak ada jawaban dari Novia.


" Istirahatlah. Tapi jangan tertidur terlalu lama lagi ya. " tambahnya sambil tersenyum.


Boby duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang Novia. Kursi yang selalu menjadi tempat tidurnya, tempat ternyamannya selama istrinya berada di ruangan itu.


Boby mengecek beberapa email yang masuk dari ponselnya. Memang selama dia merawat Novia, Boby melakukan pekerjaannya melalui email. Walaupun tidak datang ke kantor, Boby tetap memantau perusahaannya.


Tok..tok..tok.. bunyi pintu di ketuk.

__ADS_1


Seorang perawat masuk dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.


" Sementara, ibu Novia di kasih bubur dulu ya pak. Mungkin selama dua hari. Karena perut Bu Novia sudah lama tidak mencerna makanan. Khawatirnya kalau langsung di beri nasi, malah akan menimbulkan masalah. Terus minumnya juga yang banyak ya pak. " jelas suster itu.


" Iya sus, terima kasih. " jawab Boby.


Suster meninggalkan ruangan.


" Sayang..." Boby membangunkan Novia sambil mengelus pipi Novia.


" Sayang, bangun. Makan dulu "


Novia mulai membuka matanya.


" Minum ya. "


Boby mengambil gelas dan sedotan dari atas nampan. Kemudian dia menyodorkan sedotan ke mulut Novia.


" Duduk. " pinta Novia.


" Oh, oke. " Boby menaruh gelas dan sedotan di atas meja, kemudian memencet tombol untuk menaikkan bet bagian atas, sehingga Novia bisa dalam posisi duduk.


Setelah Novia merasa nyaman, Boby mengambil gelas dan sedotan tadi dari meja. Kemudian mengarahkan sedotan itu ke mulut Novia.


" Kata dokter, kamu harus minum yang banyak. " kata Boby.


Senyuman tak pernah lepas dari bibir Boby. Satu gelas telah habis.


" Mau langsung makan? Dokter bilang, kamu juga harus makan yang banyak. "


Novia menggeleng.


Boby mengerti. Mungkin Novia masih malas untuk makan. Apalagi dia habis menghabiskan minuman satu gelas.


****

__ADS_1


bersambung


__ADS_2