Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
143. Mau melahirkan


__ADS_3

Siang itu Novia sedang duduk di bangku taman belakang rumah. Dia menunggui Athar yang sedang bermain. Tiba-tiba pinggangnya terasa nyeri. Kemudian perutnya juga terasa sakit.


" Ssshhh..." Novia mendesis sambil mencengkeram bangku.


Sebentar kemudian, rasa nyeri itu hilang.


" Apa aku mau melahirkan? " gumam Novia pelan. " Bukankah masih minggu depan. Ini seperti ketika Athar mau lahir. " lanjutnya.


Karena rasa sakit itu hilang, dia kembali membaca novel, sambil terkadang melihat Athar yang sedang bermain menerbangkan pesawat.


Tiga puluh menit kemudian, rasa sakit datang kembali.


" Auu..." pekiknya.


Athar yang masih asyik bermain, mendengar pekikan mamanya, langsung berlari ke arah mamanya.


" Mama kenapa? " tanya Athar saat melihat mamanya meringis kesakitan sambil memegang perutnya.


" Mungkin dedek mau lahir ini Kak. " jawab Novia.


Kemudian dia mengatur nafas. Mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya.


Athar segera meraih ponselnya. Dia memencet nomor telepon papanya. Sampai nada panggilan ketiga, masih belum di angkat.


" Bi....bibi ..." panggil Athar ke bi Susi.


" Iya mas Athar. Ada apa? " tanya bibi yang datang dengan tergopoh-gopoh.


" Dedek mau keluar bi. Ayo bibi bantu dedeknya keluar. Kasihan mama, kesakitan. " ucap Athar dengan polosnya.


" MasyaAllah..Mbak, udah waktunya? " tanya bi Susi ke Novia.


" Mungkin bi. Perut Novia udah sakit bi. Seperti waktu mau lahirin Athar. " jawab Novia sambil sesekali menyeka keringat dingin yang mengalir di pelipisnya.


Athar masih sibuk menghubungi papanya. Karena papanya masih tidak menjawab panggilannya, akhirnya Athar menghubungi Candra. Tepat baru panggilan pertama, panggilannya di terima.


" Assalamualaikum, Athar. "


" Waalaikum salam, ayah. Ayah, dedeknya Athar mau lahir. Tapi Athar nggak tahu bagaimana ngeluarin dedek dari perut mama. Mama kesakitan ayah. " ucap Athar panjang lebar.


" Astaghfirullah. Athar sudah kasih tahu papa? "


" Belum ayah. Papa tidak bisa di telpon. Ayah kan udah punya dedek Zaki. Ayah pasti tahu caranya ngeluarin dedeknya Athar dari perut mama. " ucap Athar panik.


" Tunggu sebentar ya. Ayah akan segera kerumah."


Panggilan di akhiri. Tepat setelah panggilan ayahnya di akhiri, ponsel Athar berbunyi.


" Halo, papa. Papa....dedek mau keluar. " ucap Athar ketika dia menerima telepon dari papanya.


" Apa? Jangan bercanda nak. "


" Beneran papa. Athar nggak bohong. Mama kesakitan ini. " ucap Athar.


Novia yang mendengarnya, segera menepuk bahu Athar, meminta ponsel Athar.


" Sebentar, pa. Mama mau bicara. " ucap Athar.


" Halo, mas. " sapa Novia sambil tersenyum. Dia tidak ingin suaminya panik.


" Halo, sayang. Apa benar kamu mau lahiran? Bukankah masih minggu depan waktunya sayang?"


" Iya, sepertinya mas. Sepertinya anak kita ingin segera melihat dunia. "


" Aku akan segera pulang. "


" Kamu nggak usah terburu-buru, sayang. Anak kita masih butuh beberapa jam untuk lahir. "


" Aku pulang sekarang. "

__ADS_1


Tut ..Tut...Tut... panggilan di akhiri sepihak. Baru saja Novia akan mengeluarkan suara, tapi suaminya sudah mengakhiri panggilannya.


" Kita masuk bi. " ajak Novia.


Bi Susi segera membantu Novia berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah. Athar mengikutinya dari sebelah. Dia juga ikut memegang tangan mamanya.


Boby sampai halaman rumah setelah setengah jam. Tepat di saat dia memasuki halaman rumah, sebuah mobil juga memasuki halaman.


Boby menengok ke belakang. Chandra? tanyanya dalam hati.


Setelah turun dari mobil, Candra menghampiri Boby.


" Athar tadi telepon, katanya mamanya mau melahirkan. Dan kamu tidak bisa di hubungi. Jadi Athar tadi menghubungiku. " ucap Candra memberi penjelasan supaya Boby tidak salah paham. Karena dia melihat tatapan lain dari mata Boby.


" Hm. Tadi aku sedang meeting dan ponselku tertinggal di ruang kerjaku. Terimakasih sudah kesini. "


" Sama-sama. Boleh aku ikut masuk? "


" Masuklah. Aku juga pasti butuh seseorang untuk menjaga Athar karena aku ingin menemani istriku saat melahirkan. "


Kemudian Boby berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah diikuti Candra dari belakang.


Saat tiba di ruang keluarga, dia melihat Novia sedang berjalan mondar-mandir.


" Sayang..." panggil Boby.


Novia menoleh dan memperlihatkan sebuah senyuman indah dari bibirnya.


Boby mendekat, kemudian memberinya kecupan di kepala.


" Bibi, apa baju-baju Novia sudah di siapkan? " tanya Boby.


" Sudah, mas. "


" Kita ke rumah sakit sekarang. " ucap Boby dengan suara yang panik.


" Mas, kamu tenang dulu. Aku baik-baik saja. " ucap Novia menenangkan.


" Kita ke rumah sakit, oke. " ajak Boby kembali.


Novia mengangguk sambil tersenyum. Dan tiba-tiba, rasa sakit itu datang lagi. Novia mencengkeram bahu suaminya sambil menunduk. Hal itu membuat Boby semakin panik. Dia mengangkat tubuh Novia dan berjalan keluar rumah. Candra dan Athar mengikuti dari belakang.


Sampai di dekat mobil, Candra membukakan pintu penumpang untuk Novia. Boby mendudukkan Novia di jok belakang.


" Kamu temanilah istrimu. Aku yang nyetir. " ucap Candra.


"Aku sendiri saja. " jawab Boby.


" Kamu lagi panik. Tidak baik nyetir sendiri. Lebih baik kamu temani istrimu di belakang. Dia lebih butuh kamu. Aku yang akan mengantar kalian. Kamu tenang aja. Kita akan sampai di rumah sakit secepatnya. "


Boby mengangguk. Dia masuk ke dalam mobil di sebelah Novia. Candra menyuruh Athar untuk duduk di sebelahnya menyetir.


Boby tampak makin panik tiap kali Novia merasa kesakitan. Novia tidak mengeluh sama sekali. Dia malah selalu tersenyum saat melihat suaminya. Hal itu membuat Boby semakin frustasi.


" Sayang, apa sangat sakit? " tanya Boby sambil menyeka keringat dingin yang mengucur di dahi Novia.


Novia menggeleng. Tapi tiba-tiba, rasa sakit itu kembali datang.


" Ssshhh..." Novia mendesis pelan sambil mencengkeram paha suaminya.


Boby tahu dari kuatnya tangan Novia mencengkeram pahanya, saat ini istrinya itu sedang merasakan sakit yang luar biasa.


Boby tidak bisa berbuat banyak. Dia memeluk sambil mengelus pinggang Novia berharap hal itu bisa merasakan sakit yang di rasakan Novia.


" Katakan sakit jika memang itu sakit, sayang. Jangan kamu rasakan sendiri. Ijinkan aku juga merasakan sakit itu. " ucap Boby sambil memeluk dan mengecup pucuk kepala Novia.


Novia mengangguk sambil kembali mendesis dan mencengkeram kemeja suaminya. Rasa sakit yang dia rasakan semakin luar biasa.


" Candra, cepat sedikit. " ucap Boby.

__ADS_1


" Iya. Ini sudah ngebut. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. " jawab Candra yang tidak kalah paniknya.


Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di depan pintu UGD. Boby segera turun dari mobil. Diikuti Candra dan Athar. Tanpa menunggu suster datang membawakan ranjang, Boby sudah menggendong Novia masuk ke UGD.


" Suster...." panggil Candra sambil menggandeng tangan Athar.


Seorang suster datang menghampiri.


" Tolong sus, istri saya mau melahirkan. " teriak Boby.


Suster tadi segera mengambil sebuah ranjang dan meminta Boby untuk meletakkan Novia di atas ranjang tersebut.


" Saya mau dokter Fiskha. Cepat panggil dia sus. " ucap Boby sambil sedikit membentak suster.


" Tunggu sebentar pak. " suster tersebut berlalu sebentar, kemudian kembali lagi.


" Sebentar lagi dokter Fiskha kemari. Saya akan mengecek tekanan darah istri anda terlebih dahulu. " ucap suster.


Boby terus menggenggam tangan Novia. Athar pun tidak mau kalah. Dia menggenggam tangan mamanya yang satunya.


Tak lama setelah suster selesai mengecek tekanan darah Novia, dokter Fiskha tiba.


" Selamat sore ibu Novia. " sapa dokter Fiskha.


" Sore dok. " jawab Novia sambil tersenyum. Kebetulan, saat itu dia sedang tidak merasakan sakit.


" Sepertinya lebih cepat dari perkiraan ya. Baiklah, saya akan mengecek sudah pembukaan berapa ya. Tolong, bapak keluar dulu. Sama adik kecil juga ya. "


" Athar mau di sini nemenin mama aja. " jawab Athar.


" Kita keluar dulu yuk sayang. " ajak Candra.


" Nggak mau. Athar mau di sini. "


" Sayang, Athar keluar dulu sama ayah ya...Athar kan anak pintar. Athar mau dedeknya cepet lahir kan? " ucap Novia halus.


" Nanti mama sendirian. "


" Mama nggak sendirian sayang. Papa akan nemenin mama. Ada Bu dokter juga. " jawab Boby.


Athar melihat ke Novia, kemudian ke dokter Fiskha, kemudian ke papanya bergantian.


" Athar tungguin di luar ya ma. Papa jangan tinggalin mama. "


" Iya sayang, pasti. " jawab Boby.


" Athar mau cium mama dulu papa. " ucap Athar meminta gendong papanya untuk mencium pipi mamanya, karena ranjangnya tinggi.


Boby mengangkat tubuh Athar, kemudian mendekatkannya ke mamanya. Athar mencium pipi mamanya, kemudian mencium perut mamanya.


" Kakak tunggu di luar ya dek. " ucapnya.


kemudian Athar meminta turun dari gendongan papanya, dan dia keluar ke ruang tunggu bersama Candra.


Setelah Candra dan Athar keluar, dokter segera mengecek pembukaan Novia.


" Baru pembukaan empat. Masih lumayan lama ini. " kata dokter.


" Masih berapa lama lagi dok? " tanya Boby cemas.


" Masing-masing orang berbeda-beda pak. Kemungkinan antara 5-6 jam lagi. Kami akan memindahkan istri anda ke ruang perawatan dulu. Nanti jika pembukaan hampir komplit, kami akan membawa Bu Novia ke ruang tindakan. "


Boby mengangguk sambil menatap Novia dan mengelus pipinya.


" Ibu, nanti jangan turun dari tempat tidur ya. Nanti Bu Novia tiduran, sambil miring ke kiri ya. Takutnya nanti kalau di buat jalan, air ketubannya pecah tapi bayinya belum mau keluar. "


Novia dan Boby mendengarkan penjelasan dokter sambil kadang-kadang mengangguk.


" Nanti setiap setengah jam sekali, kami akan mengecek kondisi Bu Novia. " tambah dokter Fiskha.

__ADS_1


****


bersambung


__ADS_2