Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
42. Liburan


__ADS_3

Akhir tahun sebentar lagi tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Boby mengajak seluruh karyawannya berlibur bersama-sama. Kalau tahun-tahun sebelumnya, Boby menyewa bus untuk berlibur ke luar kota, kali ini Boby berencana mengajak mereka touring memakai motor.


Rencananya dia akan mengajak mereka ke Sarangan. Dia berencana mengambil rute dari Semarang, kemudian ke Surakarta, kemudian lewat Tawang Mangu, baru ke Sarangan.


" Nov, akhir Minggu ini, kita akan berlibur. Kamu juga udah libur panjang kan ini?"


" Iya mas. Emang mau berlibur kemana kita?"


" Ke Sarangan."


" Sarangan yang dekat sama Tawangmangu itu?"


" Iya. Kita besok naik motor ramai-ramai sama semua karyawanku. "


" Lah kok naik motor? Emang karyawanmu bisa naik motor semua? Terus yang cewek-cewek gimana?"


" Karyawanku kan kebanyakan cowok. Dan tentu saja mereka bisa naik motor. Kalau yang cewek, ntar biar boncengan sama yang cowok."


" Terus apa semua karyawanmu punya motor semua?"


" Kalau masalah itu, semuanya aku sewain."


" Kamu terlalu baik jadi bos." Novia hanya bisa geleng-geleng kepala.


" Kapan kita berangkat?"


" Sabtu pagi. Kita akan di sana selama empat hari. Kita akan merayakan tahun baru di sana. "


" Empat hari? Lama banget... berarti harus bawa baju ganti banyak dong. Bawanya gimana? Masak iya kopernya di bawa pakai motor? Berat dong."


" Kamu tenang aja...Ntar ada mobil yang ngikutin kita. Bawa bekal, koper-koper dan perlengkapan yang lain."


" Sudah tertata rapi rupanya rencanamu ini. Mmm... kalau aku bawa motor sendiri, boleh nggak? Pasti asyik..." Novia bertanya memakai mode merayu.


" Nggak boleh. Kamu bonceng aku."


" Bonceng kan nggak asyik mas. "


" Novia, Sarangan itu jauh. Jalanan ramai. Mana mungkin aku biarin kamu bawa motor sendiri."


" Ck.. Emang kamu bisa bawa motor?"


" Wah, sembarangan kamu ya.. Ya bisa lah. Laki kok nggak bisa bawa motor." ucap Boby tak terima di bilang tidak bisa bawa motor.


" Ya kan habisnya aku nggak pernah lihat kamu bawa motor. Kemana-mana bawa mobil. "


••••


Hari yang di tunggu-tunggu tiba. Semua karyawan Boby sudah berkumpul di depan kantor. Tinggal menunggu bos mereka datang.


Andre dan Remon juga tampak sibuk mengkondisikan banyak hal. Mulai dari mobil yang akan mengangkut barang bawaan mereka, sampai hal-hal terkecil juga.


Tak lama kemudian, sang bos tiba bersama dengan istrinya. Semua karyawan menyapa mereka dengan membungkukkan badannya. Di sana Novia mendapati seorang wanita yang di rasa asing olehnya.


" Mas, kamu punya karyawan baru?"


" Nggak."


" Terus..itu siapa yang di dekat bang Andre?"


" Oh, itu tunangannya Andre. Kemarin sore baru datang dari Surabaya. Yuk, aku kenalin."


Mereka berjalan mendekat ke Andre dan tunangannya.


" Hai, Shin...Apa kabar?" Boby menjabat tangan tunangan Andre.


" Alhamdulillah aku baik, pak bos..."

__ADS_1


" Kamu ini..."


" Siapa ini pak bos?" tanya tunangan Andre ke Boby sambil menunjuk ke Novia.


" Ini Bu bos, yang." jawab Andre.


" Oooo... istri kamu? Hai..." sapa tunangan Andre menjabat tangan Novia. " Kenalin, aku Shinta tunangannya Andre. "


" Hai juga mbak Shinta...Aku Novia."


" Wah, pak bos pinter banget nyari istri... Cantik bener. Pantesan di deketin sama si Sofia nggak mau. "


" Udah deh... jangan mulai..."


Novia hanya diam menyimak pembicaraan mereka.


" Yuk, kita berangkat sekarang. Buru kesiangan. " ajak Boby.


" Terus motor kamu mana mas? Kita tadi kesini kan pakai mobil." Novia mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari kira-kira motor Boby yang mana.


Boby menggandeng tangannya berjalan menuju motor yang ada di sebelah mobilnya tadi terparkir.


" Kita pakai ini." tunjuk Boby. Boby membawa Kawasaki ninja.


Boby berjalan menuju mobil. Mengambil jaketnya dan jaket Novia. Setelah dia memakai jaketnya, dia berjalan kembali mendekati Novia.


" Sini, pakai jaketmu." Boby memakaikan jaket ke badan Novia. Menarik resletingnya ke atas.


Kemudian mengambil helm yang ada di jok motor. Memakaikan helm itu ke kepala Novia. Di perlakukan seistimewa itu oleh suaminya, Novia hanya bisa terdiam.


" Kita ngontrak di sini guysss..." celetuk Remon.


Semua karyawan ternyata sudah siap di atas motor semua. Mereka semua memperhatikan perlakuan Boby ke istrinya. Para karyawati hanya bisa baper sambil membayangkan punya suami seperti bosnya.


" Ayo, kita berangkat. " Boby meminta Novia naik ke atas motor. " Kalau kamu capek, bilang..oke..kita bisa istirahat dulu."


Setelah dia di atas motor, Boby menarik kedua tangannya melingkar di perut boby supaya dia berpegangan.


" Pegangan yang kenceng. Biar romantis." Boby tersenyum licik.


Novia nyengir sambil mencubit perut Boby. Yang di cubit malah tertawa renyah. Tapi Novia tetap meletakkan tangannya melingkar di perut Boby.


Merekapun akhirnya berangkat beriring-iringan. Boby di paling depan, kemudian Remon selalu berada di sebelahnya. Menjaga keamanan si bos. Andre berada di belakangnya dengan membonceng sang kekasih, Shinta. Kemudian diikuti para pegawai yang lain. Dan mobil yang membawa perlengkapan, berada di paling belakang.


••••


Sampai di Tawangmangu, mereka berhenti untuk beristirahat. Mereka berhenti di sebuah warung pinggir jalan yang menjual kelapa muda. Siang-siang, panas menyengat, minum kelapa muda langsung dari kelapanya sangat menyegarkan.


Kebetulan di dekat tempat mereka berhenti ada sebuah musholla kecil. Novia mengambil perlengkapan sholat yang dia taruh di tas gendongnya.


" Mas, aku ke musholla itu ya. Sudah masuk waktu dzuhur. " pamit Novia.


" Bentar, aku ikut. Kita berjamaah sekalian. " Boby melepas jaketnya dan meletakkannya di atas motor.


" Guyss, kita sholat di situ dulu sekalian. Sudah Dzuhur. " ajak Boby ke pegawainya.


Para pegawai yang beragama Islam mengikuti instruksi Boby. Mereka mengambil wudhu, dan sholat berjamaah.


Setelah melaksanakan sholat, Novia menselonjorkan kakinya dan bersandar di dinding teras musholla.


" Capek ya?" tanya Boby yang tiba-tiba sudah menyusul Novia dan duduk di sampingnya.


" Lumayan. Punggung yang rasanya agak pegal-pegal. "


" Mau aku pijitin dulu?" Boby hendak menyentuh punggung Novia tapi Novia segera menghindar.


" Nggak usah mas. Kan kamu justru yang capek. Aku kan cuma bonceng."

__ADS_1


" Iya sih capek banget. Nggak nyangka ternyata jauh juga. Apa mungkin karena udah lama aku nggak bawa motor kali. "


" Bisa jadi. Bisa jadi karena faktor usia juga. " ucap Novia hampir tertawa tapi dia tahan.


" Kenapa? Mau bilang aku udah tua gitu."


" Ya kan beberapa bulan lagi, usia kamu udah genap kepala tiga mas. Masih mau bilang ABG?" ejek Novia.


Boby mencubit pipi Novia.


" Au. Sakit tahu mas. Nih, pipiku jadi bolong. "


" Kamu bisa aja. Itu kan lesung pipimu. "


Novia menanggapi dengan tawa.


" Udah ah, ayo berangkat lagi. "


" Bentar lagi, aku masih capek. Ngantuk lagi. "


" Tapi yang lain udah pada nungguin itu. Kan nggak enak mas. "


" Tapi aku ngantuk. Biarin aku tidur bentar. "


" Ayo mas. " Novia bangkit dari duduknya dan menarik tangan Boby supaya ikut berdiri.


Bobypun mengikuti. Novia memakai jaket dan helmnya kembali. Boby juga memakai jaket dan helmnya.


" Pinjam kunci motornya bentar mas."


" Buat apa?" Boby menyodorkan kunci motor ke Novia.


Novia mengambil kunci itu dan dia naik ke atas motor.


" Nov, kamu ngapain duduk di situ?" tanya Boby bingung.


" Ya jalan lah. Ayo kamu juga naik mas."


Boby dan yang lain tampak masih kebingungan.


" Kamu mau boncengin aku?" Novia mengangguk. " Emang kamu bisa bawa motor ini?"


" Wah... jangan ngeledek. Gini-gini kalau cuma motor gini aja urusan kecil. Udah, ayo cepetan..."


" Yakin?"


" Banget. Udah lah, daripada kamu yang boncengin, terus kamu ngantuk, terus kita ada apa-apa gimana?" Novia menarik tangan Boby supaya cepat naik ke motor.


" Bu bos, yakin bisa? Biar Bu bos bonceng saya aja, terus pak bos biar di bonceng sama Indra kalau emang pak bos ngantuk. "


" Tenang aja bang Re...dulu sebelum jadi guru, saya sering bawa motor gini punya ipar saya. "


Boby yang nggak mau istrinya di bonceng sama Remon, langsung naik ke jok belakang Novia.


" Ya udah deh, ayo jalan. " ucap Boby sambil memeluk Novia erat dari belakang.


" Isss. Mas jangan kenceng-kenceng pegangannya. " Novia merasa geli dan kurang nyaman di peluk seperti itu.


" Ini namanya meluk, bukan megang. Udah, ayo cepetan..."


Akhirnya Novia mengalah. Dia mulai menjalankan motornya dengan lincah. Tidak kalah dengan para karyawan yang lain. Remon hanya bisa merasa takjub dengan Bu Bosnya yang serba bisa.


Dan Boby sempat terlelap sebentar karena matanya benar-benar mengantuk. Tapi dia tetap bisa merasakan bagaimana lihainya Novia mengendarai motor itu.


****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2