
Perasaan Boby tak tergambarkan saat ini. Seneng, sudah pasti. Berbagai pertanyaan telah mampir di pikiran Boby.
" Kamu kenapa kok selalu pesan minuman tanpa es? Padahal yang namanya juice, paling seger ya pakai es. " Boby memulai bertanya dengan pertanyaan yang ringan. ( Udah kayak polisi aja )
" Soalnya kalau habis minum es suka pusing. Tapi anehnya, kalau es cream nggak pa-pa. " jawab Novia enteng.
" Berarti suka makan es krim? Nggak takut gemuk? "
" Suka banget. Kalau masalah gemuk, nggak tahu Kenapa, tubuh aku dari dulu ya segini - gini aja. Mau makan banyak, ngemil, yaaa tetep aja segini. "
" Wah, berarti harus di syukuri. "
Novia merespon dengan anggukan. Sambil menyeruput juice jambu pesanannya.
" Oh iya. Kamu masih hutang penjelasan ke aku lho. Kenapa aku tadi nggak boleh turun dari mobil? "
Mendengar pertanyaan itu membuat Novia membelalakkan matanya.
" Kalau di ceritain panjang mas. "
" Nggak pa-pa... aku siap dengerin. Sampai besok pagi juga nggak pa-pa." jawab Boby membuat Novia tertawa.
" Sebenernya mas, aku tuh di suruh cepetan nikah sama bapak sama ibu. Ibu bilang, sering di tanyain para tetangga, kok punya anak udah 25 tahun belum menikah juga... ada juga yang bilang ke ibu, ntar aku jadi perawan tua, dan masih banyak lagi omongan para tetangga yang......yah, gitu lah mas. "
Boby terlihat antusias mendengarkan cerita Novia.
" Di kampung, aku kan ikut perkumpulan pemuda kampung. Nah di situ, anggotanya kebanyakan cowok. Ceweknya cuma empat orang termasuk aku. Itu aja yang satu habis nikah satu bulan yang lalu, yang satunya lagi beberapa bulan lagi juga mau nikah. Para ibu-ibu rempong di kampungku, sering pada bergosip, katanya aku cuma suka jalan bareng sama cowok, gonta ganti tanpa ada status menikah. Pedes banget lah mulut ibu ibu itu. " tambah Novia.
" Terus, kenapa kamu nggak nikah aja? "
" Hm?? emang orang nikah itu gampang mas?? kalau belum nemu yang pas di hati gimana?"
" Emang orang yang pas di hati kamu, yang kayak gimana? Siapa tahu aja aku punya kenalan yang pas di hati kamu. "
" Mas Boby ni bisa aja." sahut Novia sambil setengah tertawa.
" Beneran lho. " jawab Boby sambil menyeruput minumannya.
__ADS_1
" Ya pastinya seiman. Kalau kata ibu, aku harus milih calon yang bisa jadi imam buat aku, bisa bahagiain aku. Karena menurut ibu, aku ini harus di tata lagi. "
" Maksudnya? "
" Sebenernya nih mas, sebelum aku kuliah di keguruan, aku tuh agak tomboy. Aku lebih suka dan lebih nyaman bersahabat dengan cowok. Soalnya menurut aku, sahabatan sama cewek tuh ribet. Terus aku juga agak selengekan. Pas masih di SMP sama SMA, suka telat masuk sekolah, kadang suka bolos. Nongkrong di mall sama temen-temen. "
" Wow...Nakal juga ya dulu. Kirain dari dulu udah kayak gini. "
" Tapi aku tetep tau batasan lah mas. Nggak nyampe nyeleweng. Sekolah juga pasti dapat prestasi. Tiap akhir semester, pasti peringkat satu atau dua."
Boby masih tetap menjadi pendengar setia.
" Pas udah masuk kuliah di keguruan, aku mulai berubah. Lebih serius dalam pendidikan. Tapi aku juga mikir dan bersyukur saat ini. Nakalku, sikap selengekanku, udah aku bawa waktu muda. Sekarang aku bisa jauh menjadi seorang yang lebih baik karena pengalaman. Kalau kita perhatikan nih, sekarang banyak lho, orang yang dulunya alim, pendiam, eh sekarang blangsatan. Bener nggak?"
" Bener juga. "
" Sekarang aku jadi punya pengalaman, gimana caranya ngatasin murid yang suka bolos, suka telat, suka aneh - aneh.."
Bagus juga pemikirannya. batin Boby.
Banyak hal yang Novia ceritakan tentang dirinya ke Boby. Sambil sesekali di selingi dengan candaan. Terlihat mereka menjadi lebih akrab. Tidak ada kecanggungan ketika mereka sedang bercerita.
" Tadi kan udah kenalan. "
" Maksudnya bukan itu. Maksud aku tuh, dia siapanya kamu? "
" Dia....dia temen...iya, dia temen aku. " jawab Novia gelagapan.
" Masak sih cuma temen?" tanya Boby kembali yang tidak percaya dengan jawaban Novia.
Novia jadi salah tingkah sendiri. Dan itu membuat Boby tambah penasaran. Sangat nggak mungkin mereka hanya berteman. Pasti ada sesuatu yang lain. Batin Boby.
" Dari tadi yang di bahas aku mulu. Sekarang giliran mas Boby dong yang cerita soal mas. "
Melihat gadis yang di hadapannya ini keberatan untuk membahas soal cowok yang mereka temui tadi, akhirnya Boby mengalah.
" Emang kamu mau tahu aku soal apa??"
__ADS_1
" Apa aja? Tadi kan aku udah banyak cerita soal aku . Mungkin udah dari A sampai Z. He..he..he.."
" Bingung, mau cerita dari mana. "
" Ya udah, aku tanya aja deh. Mmm, mas Boby asli dari kota Semarang? "
" Bukan. Aku asli dari Jakarta. "
" Terus kok bisa hidup di sini? Apa orang tua mas pindah kerja kesini?"
" Nggak. Mama aku masih di Jakarta. Kalau papa, udah meninggal ketika aku masih kuliah."
" Oh, maaf mas. Malah jadi membuat mas ingat. "
" Nggak pa-pa. Dulu, waktu aku masih kuliah di ausy, aku punya pacar. Namanya Karell. Bisa dibilang dia adalah cinta pertama aku. Yah, walaupun bukan pacar pertama. " ucap Boby memulai ceritanya sambil tersenyum tipis mengingat Karell.
" Dia asli orang sini. Aku berpikir, hubunganku dengannya akan berlanjut sampai pernikahan. Aku mengikutinya kesini, memulai usaha di sini. Karena...dia bilang, walaupun dia sudah menikah kelak, dia nggak mau pergi dari kota kelahirannya."
Kemudian Boby tersenyum sinis. " Ternyata aku salah. Setelah aku memulai karirku di kota ini, mungkin sudah sekitar tiga setengah tahun yang lalu, Karell malah pergi entah kemana tanpa satu patah katapun kepadaku."
Boby menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. " Berkali-kali, mama memintaku kembali ke Jakarta. Tapi tidak pernah aku dengarkan. Setiap kali mama telepon, atau aku pulang, mama selalu menanyakan hal yang sama. "
" Nanyain soal mbak Karell?"
" Bukan. Mama sebenarnya nggak begitu suka sama Karell. Waktu kuliah dulu, Karell bekerja jadi model. Dan mama sama sekali nggak pengen punya menantu seorang model. Yang mama tanyain ' Boby, kapan kamu bawa calon istri pulang?' begitu aja yang mama bahas."
Novia hanya menahan tawanya mendengar kata-kata Boby yang menirukan mamanya. " Terus...." Dia semakin tertarik dengan cerita Boby.
" Terus, yang lebih parahnya lagi, terakhir mama telepon, mama ngasih waktu aku tiga bulan buat cari calon istri, dan membawanya ke Jakarta. Kalau nggak, mama bakal jodohin aku sama anak temen arisannya. Konyol nggak sih??" lanjut Boby sambil geleng-geleng kepala.
" Kalau menurutku sih, ucapan mama mas Boby itu bener loh. Secara mas Boby dilihat dari usia udah pantes buat nikah. Mamanya pasti pengen punya cucu. "
" Iya, pantes sih pantes...tapi cari calon istri dalam waktu tiga bulan. Mana mungkin? Dan kamu tahu, waktuku sampai saat ini, udah tinggal satu setengah bulan."
" Mmm, kalau aku lihat sih, bukannya nggak mungkin mas Boby cari istri dalam waktu dekat, tapi kayaknya mas Boby nih yang nggak mau, karena masih nungguin seseorang. Bener nggak? " tebak Novia sambil tersenyum.
Boby pun ikutan tersenyum, kemudian menunduk dan menghela nafas pelan.
__ADS_1
****
bersambung ya guys.....