Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
77. Lebih Baik Lepaskan


__ADS_3

Setelah pertemuan hari itu, Candra sering mengajak Novia makan bersama. Karena hanya dengannya Novia bisa menelan makanan dengan baik.


Sebenarnya Candra begitu geram dengan kelakuan suami Novia. Melihat Novia yang begitu kurus kering dan perut yang semakin membuncit, Candra tidak tega.


Akhirnya, hari itu Candra memutuskan melakukan sesuatu untuk Novia. Dia berharap, suami Novia akan terbuka matanya dan memperlakukan Novia dengan baik. Apabila usahanya ini tidak berhasil, maka dia akan memperjuangkan Novia untuk dirinya. Dia akan mengambil Novia kembali.


Siang itu, berbekal informasi yang di dapatnya, Candra pergi mencari kantor Boby.


" Sepertinya ini tempatnya. " gumam Candra melihat papan nama gedung yang ada di depannya.


Candra keluar dari mobil dan masuk ke dalam gedung itu.


" Siang mbak. " sapa Candra ke resepsionis.


" Siang bapak. Ada yang bisa saya bantu? "


" Apa pak Boby Permana ada di dalam? "


" Ada, pak. Maaf, dengan siapa ya? "


" Saya Mahendra. Saya ingin bertemu dengan pak Boby. Bilang saja saya mau membicarakan bisnis penting dengan beliau." jawab Candra yang sengaja menyebutkan nama belakangnya.


" Sebentar ya pak. Saya tanyakan dulu. "


Kemudian resepsionis menghubungi atasannya. Ketika sudah mendapat jawaban, resepsionis itu kembali memanggil Candra.


" Bapak Mahendra, bapak di tunggu pak Boby di ruangannya. Ruangan beliau ada di lantai tiga. "


" Baik. Terimakasih banyak. " Candra berlalu dan naik ke lift menuju lantai tiga. Saat di lantai tiga, Candra menanyakan letak ruangan Boby pada salah satu pegawai di sana.


Pegawai itu mengantarkan Candra ke ruangan Boby.


Tok...tok... tok...pintu ruangan di ketuk.

__ADS_1


" Masuk. " jawab Boby dari dalam dengan masih sibuk membaca beberapa dokumen di mejanya.


Candra masuk ke ruangan. Setelah Candra masuk, Boby baru menengadahkan kepalanya. Boby agak terkejut melihat kedatangan Candra di kantornya. Dia menebak-nebak apa yang mau di lakukan mantan kekasih istrinya itu di kantornya.


" Selamat siang, pak Boby. " sapa Candra. ' Jadi ini suami Novia?' tanya Candra dalam hati.


" Kau..."


" Oh, sepertinya anda sudah mengenal saya. Bagus lah kalau begitu. Saya tidak perlu memperkenalkan diri. " ucap Candra yang sudah bisa menebak kalau laki-laki di hadapannya ini sudah mengenalnya.


Candra duduk di kursi di hadapan Boby.


" Ada perlu apa anda datang kesini? " tanya Boby dengan nada sinis.


" Seharusnya saya kesini untuk menghajar anda bapak Boby yang terhormat. " jawab Candra dengan nada yang tak kalah sinis.


" Saya tidak mengerti dengan maksud ucapan anda. "


" Lalu, apa mau anda sekarang? "


" Tuan Boby yang terhormat, saya tahu perilaku anda terhadap istri anda. Anda sungguh ba****an."


" Anda tidak perlu ikut campur masalah rumah tangga saya. "


" Saya perlu ikut campur. Karena anda, telah menyakiti perasaan perempuan yang saya cintai." ucap Candra sambil setengah berteriak.


" Perempuan yang anda maksud adalah istri saya. Bukan istri anda. Jadi anda tidak punya hak mencampuri hidupnya. "


" Oh, jadi mentang-mentang karena dia adalah istri anda, jadi anda berhak untuk membuatnya menderita? Iya? "


" Sebaiknya anda keluar dari kantor saya ! " usir Boby.


" Tentu saya akan keluar dari kantor seorang ba*****n seperti anda. " Candra menunjuk Boby dengan telunjuk kanannya.

__ADS_1


" Tapi saya akan mengatakan sesuatu kepada anda." lanjutnya. Candra menghela nafas sejenak. Kembali melanjutkan kata-katanya. " Novia adalah perempuan baik-baik. Dia perempuan yang sangat berharga. Kalau anda memang tidak bisa membahagiakannya, maka lebih baik anda lepaskan dia. "


" Lancang sekali mulut anda. " tandas Boby yang sudah mulai terpancing emosi.


" Bukankah sekarang anda sudah memiliki perempuan lain? Jangan serakah jadi orang. " ucap Candra ringan.


" Tutup mulut kamu! "


" Dengarkan saya tuan Boby. Jika saya tahu Novia kembali menangis dan bersedih karena anda, maka saya yang akan mengambilnya dari anda. Saya akan merebutnya dari anda. Dan satu hal lagi, kalau sampai saya membawa Novia pergi dari sisi anda, maka jangan harap anak yang ada di kandungan Novia sekarang akan mengenal ayah kandungnya. Dia hanya akan mengenal saya sebagai ayahnya. Dulu saya diam membiarkan Anda mengambil Novia dari saya karena saya pikir Novia akan bahagia bersama anda. Tapi setelah saya tahu bagaimana kehidupan Novia sekarang, saya tidak akan tinggal diam. "


" Keluar dari ruangan saya sekarang juga. " teriak Boby sambil berdiri dan menunjuk pintu.


" Tenang, tuan. Saya belum akan mengambil Novia. Jangan emosi dulu. Saya baru akan mengambilnya jika anda berani membuatnya menangis lagi. " tutur Candra masih dengan nada yang santai.


" Ingat tuan. Jangan sampai saya membawa anak dan istri anda pergi. Toh saya juga tidak keberatan untuk membesarkan anak anda. Karena dia adalah anak dari perempuan yang sangat saya cintai. Camkan itu, bapak Boby Permana yang terhormat ! " ucap Candra tegas kemudian dia pergi meninggalkan ruangan Boby.


" Aaaaaaa......!!!!" Boby berteriak di dalam ruangannya sambil mengacak-acak meja kerjanya. Sehingga dokumen-dokumen yang di periksanya tadi berserakan kemana-mana.


Sambil mencengkeram ujung mejanya, gigi Boby bergemeletuk menahan emosi.


" Awas saja sampai dia berani membawa Novia pergi. Akan kuhabisi dia. " gumam Boby.


Sedangkan di lain tempat, Candra yang tadi sempat terbawa emosi, kini senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Dia senang telah berhasil memancing emosi Boby.


Setidaknya, dia merasa kalau masih ada cinta di hati Boby untuk Novia. Kalau memang Boby tidak peduli dengan Novia, maka Boby tidak akan seemosi itu ketika dia mengatakan kalau dia akan membawa Novia pergi.


Candra berharap, Boby segera menyadari kesalahannya dan meminta maaf terhadap Novia.


Walaupun Candra masih sangat mencintai Novia, tapi cintanya bukanlah cinta yang egois. Dia akan bahagia jika melihat perempuan yang dia cintai bahagia. Meski bukan bersamanya.


****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2