
" Kamu sudah sehat?" tanya Boby menghilangkan kecanggungan yang ada di antara mereka.
" Alhamdulillah. Udah."
Boby menghela nafas panjang. Mengatur nafasnya.
" Kamu... kenapa menghindar dari aku?" tanya Boby pelan.
" Maaf mas. Aku cuma ingin menjernihkan pikiran."
" Maaf ya. Karena aku, kamu jadi tambah masalah. Mungkin kamu sakit juga karena kepikiran sama omonganku." ucap Boby merasa bersalah.
Novia tersenyum tipis. Berusaha melupakan kegugupannya. Dia berdoa dalam hati semoga keputusan yang dia ambil adalah keputusan yang tepat.
" Nggak kok. " kata-katanya terhenti sebentar. Dia mengambil nafas dalam-dalam. " Mas, boleh aku tanya sesuatu?"
Boby menganggukkan kepalanya.
" Mas, kalau seandainya kita menikah, akan seperti apa hubungan kita? "
Boby menautkan kedua alisnya tampak bingung dengan pertanyaan yang diajukan Novia.
" Maksudku... Kalau kita menikah tanpa cinta diantara kita, apa yang akan kamu lakukan untuk pernikahan itu? Mas Boby sudah tahu kan, hatiku kemana? Dan aku juga tahu, hatimu kemana. Apa mungkin jika kita menikah, pernikahan itu akan berhasil?" jelas Novia.
" Nov, tidak ada seorangpun yang tahu masa depan itu seperti apa. Yang aku tahu, saat ini, aku menyukaimu. Aku akan membahagiakanmu. Aku akan berusaha membuat hati dan pikiranku, hanya milikmu. Dan aku juga akan berusaha membuat aku memiliki hatimu juga." jawab Boby tegas.
" Tapi mas, sudah satu tahun lebih aku selalu berusaha mengubah hatiku, tapi tidak pernah bisa. Hatiku tetap tidak mau berpindah arah. Melakukan pernikahan tanpa cinta, menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta, aku tidak bisa membayangkannya."
" Jangan kamu bayangkan. Kita coba jalani." Boby menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
" Kamu tidak bisa mengubah hatimu, karena kamu berusaha seorang diri tanpa ada yang mendampingi. Kalau kamu percaya padaku, aku akan mendampingimu, aku akan membantumu untuk mengubah hatimu. Mungkin kamu merasa aku terlalu gombal. Karena aku juga merasakan hal yang sama. Tapi setelah mengenalmu, sedikit demi sedikit aku bisa mengubah arah hatiku. Aku yakin, kamupun pasti bisa."
Novia terdiam tidak menjawab apapun perkataan Boby.
" Aku tahu apa yang kamu cemaskan. Seperti yang pernah aku bilang. Pacaran setelah menikah akan lebih indah. Jadi kita akan memulai pernikahan kita dengan berpacaran. Saling mengenal satu sama lain. Aku tidak akan menuntut hakku sebagai suami sebelum kamu siap." Boby menghentikan perkataannya.
Dia melihat ekspresi wajah Novia. Boby bingung mengartikan raut wajah Novia. Novia tetap diam.
" Nov, jika persoalan ini sangat menggangu pikiran kamu,,,aku tidak akan memaksamu. Kamu bisa memikirkannya lagi. Tidak perlu kita bahas sekarang. Ato..." ucapan Boby terjeda sesaat. Dia menunduk mengambil nafas dalam-dalam.
" Ato...kalau kamu memang tidak siap, kamu lupakan semua omonganku. " ucap Boby tidak tega melihat raut wajah Novia yang terlihat tertekan. Mungkin lebih baik dia mengalah daripada membuat Novia lebih terbebani. Boby merasa pikiran dan hatinya benar-benar kacau saat ini.
Bismillahirrahmanirrahim..doa Novia dalam hati sebelum dia berucap.
" Nggak mas. Novia sudah memikirkan semuanya. " Novia menghentikan ucapannya sesaat.
" Insyaallah Novia siap. " lanjutnya.
" Maksudnya?" tanya Boby dengan wajah cengonya.
" Novia siap menerima lamaran mas Boby." Novia berusaha menjawab dengan mengulas senyum. Walaupun saat ini Novia masih belum yakin dengan keputusannya, tapi dia berusaha untuk tidak menampakkannya di depan Boby.
" Apa Nov? Apa aku nggak salah denger?" Raut wajah Boby seketika berubah sangat cerah.
" Insyaallah Novia siap menerima lamaranmu mas."
" Beneran ini? Ini...ini... serius Novia?" Boby tidak bisa lagi menyembunyikan wajah bahagianya. Bagaikan menang lotre.
Novia menjawab dengan anggukan kepala.
" Sungguh?" saking senangnya, Boby hampir memeluk Novia kalau saja Novia tidak sedikit menghindar. " Sorry... sorry..."
Kemudian Boby berdiri membelakangi Novia. Dia mengayunkan tangannya..Yesss...Novia menerima lamaranku. Sungguh kebahagiaan yang tiada terkira dalam hidup Boby.
Dia berbalik badan, duduk didepan Novia dengan satu kaki berada di tanah, dan satu kakinya lagi menyangga tangan. Tangannya menggenggam tangan Novia. Sebenarnya Novia canggung dengan posisi seperti ini. Tapi dia tidak berkesempatan untuk menolak genggaman tangan Boby.
" Thank you...Terima kasih banyak. " ucap Boby sambil menatap mata Novia. Dan kemudian dia mencium punggung tangan Novia. Novia terkejut dengan perlakuan Boby.
••••
" Aku akan menemui orang tuamu sekarang juga. " ucap Boby setelah mereka sampai di depan rumah Novia.
Yah, setelah ngobrol banyak di taman, terjadi sedikit perdebatan di antara mereka. Boby ingin mengantar Novia pulang. Sedangkan Novia keberatan, dengan alasan kalau dia membawa motor sendiri. Boby pun tidak hilang akal. Segera dia menghubungi security yang berjaga di kantornya untuk datang ke taman dan membawa motor Novia ke kantornya.
Akhirnya Novia mengalah setelah melihat security kantor Boby datang dan membawa motornya pergi. Boby mengajaknya makan malam dan kemudian mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan Boby tersenyum tipis melirik ke arah Novia yang masih cemberut karena motornya di bawa sang security.
Sebenarnya Novia merasa masalahnya menguap begitu saja oleh sikap Boby. Di samping Boby, tiba-tiba masalahnya bisa dia lupakan.
" Ayo turun."
" Mas, jangan sekarang ya. " jawab Novia memohon. Dia sebenarnya bingung harus bilang apa ke orang tuanya.
" Maksud baik itu jangan di tunda-tunda. Ayo cepetan turun.." Boby turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Novia.
__ADS_1
" Ayo..." ajaknya. Tapi yang di ajak malah terlihat tidak ingin turun. " Ayo cepetan...." tambahnya.
" Ini sebenarnya yang punya rumah siapa sih. Kok kamu yang ngebet banget pengen masuk rumah?" tanya Novia sambil memanyunkan bibirnya.
" Jadi nggak mau turun? Oke ...ya udah...kita ke rumah kita aja." canda Boby sambil mau menutup pintu mobil.
Novia segera menghalangi dengan tangannya.
" Rumah kita? Kapan kita punya rumah. Huh..."
" Sebentar lagi kita mau nikah. Ya otomatis rumahku jadi rumah kita lah." jawab Boby meneruskan candaannya. Boby terlihat gemas dengan Novia sikap Novia kalau lagi sewot. Lucu juga menurut Boby.
" Apaan sih." seketika Novia turun dari mobil dan berjalan menuju rumahnya. Boby mengikutinya dari belakang.
Sebelum membuka pintu, Novia membalikkan badan ke arah Boby.
" Cuman kenalan ya.. jangan bicara terlalu jauh dulu."
Boby menjawab dengan anggukan sambil tersenyum menyeringai.
Novia membuka pintu " Assalamualaikum"
" Waalaikum salam. " jawab Bu Arum.
" Duduk dulu mas." ucap Novia mempersilahkan Boby untuk duduk.
" Bu...Pak..." panggil Novia.
" Ada apa sih nduk? " tanya pak Samsul setelah Novia sampai di ruang keluarga.
" Ada temen Nov. Katanya mau kenalan sama bapak sama ibu. Tuh.. diluar." jawab Novia sambil menunjuk ruang tamu dengan dagunya.
Kemudian pak Samsul dan Bu Arum beranjak dari duduknya menuju ruang tamu.
Melihat kedatangan orang tua Novia, Boby segera berdiri. Berjabat tangan dengan pak Samsul dan Bu Arum.
" Teman kerja Novia ya?" tanya pak Samsul setelah mempersilahkan Boby supaya duduk kembali.
" Iya, pak."
" Sebentar... sebentar...Ibu kayaknya pernah ketemu. Dimana ya?" ucap Bu Arum sembari mengingat-ingat.
" Di rumah ini bu. Kemarin waktu Novia sakit, saya kesini. Berniat mau menjenguk. Tapi yang di jenguk malah asyik tidur. " Goda Boby sambil melirik ke arah Novia. Novia nampak baru ngeh kalau yang kemarin yang bawain parcel buah gede banget itu Boby.
Belum sempat Boby menjawab, ibu mendahului " Oh iya... Bener... bener...dia ini nduk yang kemarin kesini. Yang waktu itu ibu lupa nggak nanyain namanya." ibu jadi heboh sendiri.
" Iya Bu. Saya Boby. Saya temen kerja Novia kalau di proyek pembangunan gedung sekolah yang baru."
" Oh, nak Boby ini temen kerja di luar. Saya kira temen sama-sama guru. " ucap bapak.
" Bapak ini. Tampang kayak gini nggak pantes jadi guru pak." sahut Novia sambil nyengir melirik ke arah Boby. Boby hanya tersenyum.
" Nak Boby ini kok tiba-tiba mau ketemu bapak sama ibu ini sebenarnya ada apa?" tanya pak Samsul.
Mendengar hal pak Samsul, seketika itu juga Novia melotot ke arah Boby memberi isyarat supaya Boby tidak bilang apa-apa dulu ke orang tuanya.
" Mmmm... boleh saya minta minum dulu? Nov, bisa buatin minum nggak?" pinta Boby sengaja supaya Novia meninggalkan mereka.
" Oh... bentar."
Setelah kepergian Novia, Boby mulai menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke rumah itu. Bapak manggut-manggut mendengarkan penjelasan Boby.
Sang ibu terlihat berbinar. Terlihat Bu Arum sangat bahagia mendengarnya.
" Syukur alhamdulilah pak.. Akhirnya Novia mau menikah juga." ucap Bu Arum.
Novia muncul dari balik dinding ruang tamu dengan membawa segelas sirup jeruk.
" Ini mas"
" Jadi kapan orang tua nak Boby diajak kesini?" tanya pak Samsul.
Novia terlihat bingung dengan pertanyaan bapaknya.
" Secepatnya pak. Secepatnya saya akan memberi kabar ke mama. Dan secepatnya juga mama akan saya ajak kesini untuk melamar Novia secara resmi. "
Novia melotot ke arah Boby. Tapi rupanya Boby pura-pura tidak menghiraukan Novia. Dia masih asyik berbincang dengan pak Samsul.
•••
Ketika jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, Boby berpamitan ke orang tua Novia.
Novia agak kesal sebenarnya. Dia merasa di cuekin.
__ADS_1
" Aku pulang dulu ya. " pamit Boby ketika sampai di dekat mobil.
" Hmmm!" jawab Novia tanpa melihat ke arah Boby.
Nyebelin banget sih jadi orang. batin Novia sebal dengan sikap Boby.
Boby berjalan mendekat ke Novia.
" Hey, kamu marah?"
Yang ditanya hanya cuek.
" Kalau marah ntar cantiknya luntur lho." ucap Boby ngegombal receh.
Novia masih tetap diam cuek.
" Mm, jadi bales nih ceritanya. Aku di cuekin." lanjut Boby sambil menoel hidung Novia.
" Apaan sih." Novia menepis tangan Boby.
" Habisnya dari tadi diajak ngobrol diem aja."
" Mas Boby sih bikin Novia kesel. "
" Kesel kenapa?"
" Tadi kan Novia bilang, jangan bicara apa-apa dulu sama bapak sama ibu. Eh, mas Boby malah sengaja nyuruh aku ke dalem buatin minum."
" I am sorry. Kalau kita punya niat yang baik, kenapa harus di tunda-tunda?"
Padahal dalam hati Boby, dia sengaja bilang ke orang tua Novia tentang niatnya memperistri Novia. Rupanya dia takut Novia berubah pikiran. Sepertinya dia juga harus segera merencanakan pernikahan dalam waktu dekat.
" Lagian ya. Kamu sekarang nggak punya beban untuk memberi tahu bapak sama ibu kamu kan?"
" Iya...iya..." jawab Novia masih dengan nada sewot.
" Kok masih marah aja? Aku kan udah minta maaf. Udah dong marahnya. Calon suamimu ini mau pulang lho. Kasih senyuman kek." pinta Boby.
Novia menyunggingkan senyum dengan terpaksa.
" Gitu banget senyumnya...??"
" Terus besok aku kerja gimana? Motor aku di curi orang."
" Besok juga balik motornya. Udah dong cemberutnya. Besok aku anter ke tempat kerja."
" Nggak usah lah mas. Besok aku minta tolong temen aku buat nganter. Mas suruh pak satpam yang tadi buat nganter motor aku ke sekolah aja."
" Nggak... nggak...kamu nggak boleh dibonceng sama temen kamu. Kamu ini udah punya calon suami. Biar besok calon suamimu ini yang nganter. Lagian temen kamu pasti cowok. Nggak ada pokoknya" jawab Boby pias.
Melihat tampang Boby, seketika Novia tertawa lepas.
" Kok malah ketawa?"
" Habisnya kamu lucu. Tau aja kalau temen aku cowok. Ha..ha..ha.." Novia benar-benar tidak bisa menahan tawanya.
Akhirnya aku melihatmu tertawa Nov. Tetaplah tertawa dan tersenyum. Jangan bersedih lagi. Aku akan selalu membuatmu bahagia. ucap Boby dalam hati.
" Ya udah ah. Udah malem..Mas Boby pulang gih."
Boby mengangguk. Kemudian dia berjalan ke samping mobil dan membuka pintu mobil.
" Hati-hati di jalan. Nggak usah ngebut." pinta Novia.
Nyesss. Adem rasanya hati Boby mendapat perhatian Novia. Dia tersenyum.
" Aku pulang dulu. Besok aku jemput jam berapa?"
" Jam setengah tujuh mas Boby sampai sini. "
" Oke. Nanti kita chatting ya.."
" Iya ... kalau nggak ketiduran." jawab Novia sambil tersenyum.
" Udah, kamu masuk rumah sana. Udaranya dingin. Kamu kan baru sembuh. Aku pulang. Assalamualaikum." pamit Boby kemudian masuk ke dalam mobil.
" Waalaikum salam."
***
bersambung
Episode ini agak panjang ya..mau author jadiin dua episode tapi kayaknya episode yang belakang kependekan.
__ADS_1
Jangan lupa tekan like ya kak... di vote juga...😘😘