Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
75. Ke tempat mantan


__ADS_3

Badan Novia semakin hari semakin kurus. Bibi tidak tega melihatnya. Akhirnya, siang itu, bibi ikut Remon menjemput Novia di sekolah. Bi Susi mengajak Novia ke suatu tempat.


Flashback on


Malam ketika Novia meminta kemeja Boby, bi Susi menghubungi Candra.


" Halo, assalamualaikum mas Candra. Ini bi Susi. "


" Waalaikum salam Bi. Ada apa malam-malam kok menelepon. Apa terjadi sesuatu sama Novia?" tanya Candra panik.


" Maaf mas, bibi malam-malam begini telepon. Bibi semakin tidak tega melihat mbak Novia mas. Badannya semakin kurus. "


" Apa Novia masih tidak mau makan bi? "


" Iya mas. Bibi sudah membujuknya. Tapi sepertinya mbak Novia trauma dengan nasi. Karena selagi nasi masuk ke mulutnya, pasti akan keluar lagi. "


" Ya Allah bi. Apa tidak ada cara lain supaya nasi bisa masuk ke mulutnya tanpa dia muntah-muntah bi? "


" Sebenarnya ada mas. Tapi mbak Nov tidak mau."


" Apa itu bi? "


" Dulu mbak Nov pernah tidak memuntahkan makanan yang di makannya ketika di suapi mas Boby. "


Candra melepas nafas beratnya. " Apa bibi sudah mencoba menyuapi Novia? Siapa tahu kalau di suapi dia tidak akan muntah. "


" Sudah mas. Tapi sama saja. "


" Tunggu bentar Bi..." Candra mencoba mengingat sesuatu. " Ah iya... Candra ingat. Waktu di rumah sakit dulu, novia juga begitu bi pas makan. Tapi waktu Candra maksa dia untuk Candra suapi, dia memakan makanannya dengan baik. Dia tidak muntah bi. Bahkan dia makan dengan lahap. "


" Oh iya? Bagaimana kalau kita coba mas? Apapun akan bibi lakukan supaya mbak Novia dan bayinya selalu sehat. "


" Boleh bi. Besok bawa Novia ke cafe saya saja bi. Saya tunggu di sana. Semoga Novia mau makan bi. "


Kemudian Candra memberi tahu alamat cafenya.


Flash back off

__ADS_1


Semenjak ketika Candra mengantar Novia pulang dari rumah sakit itu, bibi sering memberi kabar tentang keadaan Novia ke Candra. Bi Susi juga menceritakan banyak hal tentang hubungan Novia dengan suaminya. Semua yang bibi tahu, selain Remon, Candra lah yang tahu.


" Re, ingat ya. Jangan kasih tahu mas Boby kalau saya mengajak mbak Novia ke tempat mantannya."


" Iya bi. Tenang aja. Remon ngerti. Ini juga demi kebaikan Bu BoS. Re sendiri juga nggak tega melihat kondisinya."


Tak lama kemudian, Novia tampak keluar dari pintu gerbang. Kemudian dia masuk ke dalam mobil.


" Loh, bibi. Tumben ikut jemput Nov. "


" Iya mbak. Bibi mau mengajak mbak Nov ke suatu tempat. Ayo jalan Re. "


" Siap. " jawab Remon.


Mobil melaju ke alamat cafenya Candra. Setelah sampai di cafe, Novia mengernyitkan dahinya melihat papan nama cafe itu. ' Alisy cafe '. Seperti nama belakangnya.


" Kita mau ngapain di sini bi? Novia nggak pengen makan lho. "


" Udah, ayo turun dulu. " ajak bi Susi.


Kemudian Novia mengikuti bi Susi turun dan berjalan masuk ke dalam cafe. Tampak seseorang yang dia kenal di dalam cafe itu sedang berbicara dengan waiters cafe itu.


Candra berbalik badan. " Eh, bibi, Novia.. sudah sampai." Candra agak terkejut melihat Novia. Dia tampak pucat. Dan benar seperti cerita bi Susi, badan Novia kurus. Lebih kurus dari terakhir dia melihatnya.


" Maaf mas. Bibi kayaknya harus pergi dulu. Bibi mau belanja ke supermarket. Mumpung ada Remon. Ada yang nganterin. "


" Loh, bi.. maksudnya gimana ini?" tanya Novia kebingungan.


" Mbak Novia di sini dulu. Ngobrol-ngobrol dulu sama mas Candra. Nanti habis belanja, bibi jemput lagi. Kalau mbak Novia ikut belanja, nanti capek. Kasihan ini. " bibi mengelus perut Novia.


" Novia biar diantar pulang sama Remon aja nggak pa-pa bi. "


" Tidak.. tidak...nanti mbak Novia di rumah sendirian. Bibi khawatir. Sudah, mbak Novia di sini dulu. Setelah bibi selesai, bibi langsung kesini lagi. Titip ya mas. " bi Susi menepuk lengan Candra.


Candra mengangguk. Bibipun meninggalkan mereka berdua.


" Ayo, dik. Masuk. " ajak Candra.

__ADS_1


Novia dengan canggung, berjalan mengikuti langkah Candra. Candra mengajaknya masuk ke ruangannya.


" Duduk dulu dik. Sebentar, biar di buatin minum dulu. "


Novia meletakkan pa****nya di sofa di ruang kerja Candra. Candra keluar untuk membuatkan minuman untuk Novia. Candra sengaja tidak menyuruh pegawainya yang membuat. Karena dia ingin membuatkan yang spesial untuk wanitanya yang spesial.


Di dalam ruangan, Novia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di tembok belakang meja kerja Candra, Novia kembali membaca nama cafe itu. ' Alisy cafe'. Kenapa nama cafe itu bisa sama dengan nama belakangnya?


Tak berselang lama ketika Novia masih sibuk dengan pikirannya, Candra kembali masuk membawa dua gelas minuman. Yang satu berisi juice apel mix buah naga untuk Novia tanpa es, dan yang satu juice jambu untuknya sendiri.


" Di minum dik. " Candra memberikan gelas ke Novia.


Novia menerimanya. " Terimakasih mas. " kemudian Novia mencicipi juice itu. Wah seger banget juicenya. Novia kembali menyeruput juice itu. Dia tampak menikmatinya.


Candra terlihat bahagia melihat Novia menikmati minuman yang di buatnya. Dia juga meminum minumannya.


Kini juice Novia tinggal sedikit. Candra kembali tersenyum .


" Mau nambah? "


Novia menggeleng. Kemudian dia tersenyum penuh arti.


" Mau itu. " Novia menunjuk gelas yang di pegang Candra.


" Ini?" tanya Candra memastikan. Novia mengangguk. " Tapi ini ada esnya. Kamu kan nggak bisa minum es. Biar aku buatkan yang tanpa es. " Candra berdiri.


" Nggak... nggak..." Novia menggeleng-gelengkan kepalanya. " Novia mau yang itu. Novia mau yang punya kamu mas. "


" Tapi ini ada esnya. Nanti kamu pusing. "


" Nggak mas. Novia mau itu. Nggak mau yang lain. Novia nggak bakal pusing. "


Akhirnya Candra duduk kembali. Dia mengalah. Dia memberikan minuman yang sudah di minumnya tadi ke Novia. Novia menerima gelas itu dengan raut wajah yang bahagia. Kemudian dia menenggaknya hingga habis tak bersisa. Entah kenapa Novia bisa bersemangat seperti ini.


Candra hanya bisa melihatnya sambil tersenyum bahagia melihat Novia bahagia hanya dengan hal sepele seperti itu. Mungkin itulah uniknya ibu hamil.


****

__ADS_1


bersambung


__ADS_2