
" Inget pesanku." ucap Boby saat di dekat pintu mobil.
Tadi siang dia mengantar Novia pulang ke rumah ibunya. Dan sekarang karena hari sudah sore, dia akan pulang.
" Iya-iya bosku...."
" Besok aku jemput. Nanti malam kalau aku telepon, harus diangkat. "
" Insyaallah." jawab Novia sambil mengangguk.
" Ya udah aku pulang dulu." Novia mencium punggung tangan Boby, dan Boby mencium keningnya.
" Hati-hati di jalan."
Boby memasuki mobil. Setelah mobil Boby berlalu, Novia masuk kembali ke dalam rumah. Dia duduk di ruang keluarga bersama ibu dan bapaknya.
" Bagaimana mana pernikahan kamu, nduk?"
" Alhamdulillah, baik Bu..."
" Suamimu gimana? Baik kan sama kamu?"
" Mas Boby baik Bu. Ibu nggak perlu khawatir. Mas Boby sangat perhatian sama Nov. Ibu tahu, mas Boby ngasih Nov kartu debit yang isinya Bu, masyaallah banyaknya Bu. Nov malah jadi takut mau makai kartu itu."
" Iyo to nduk? Berarti suamimu ini memang orang kaya ya.. Berarti sekarang semua kebutuhanmu tercukupi ya nduk?"
" Iya Bu. Tapi aku nggak berani pakai. Aku hanya menggunakan uang yang di kasih cash. Lagian Bu, aku juga masih punya gaji bulanan sendiri. "
" Emang berapa isi kartu itu?"
" Banyak sekali Bu. Waktu pertama mas Boby kasih, isinya lima milyar. Terus habis itu, setiap bulan masih diisi lagi, 100 juta perbulannya."
Ibu geleng-geleng seakan tak percaya kekayaan menantunya sebesar itu. Sedangkan pak Samsul hanya diam menyimak obrolan ibu anak itu.
Petangpun tiba. Adzan Maghrib berkumandang. Bu Arum dan Novia segera berlalu ke kamar masing-masing untuk melaksanakan sholat.
Sekitar jam setengah 8, Dedi datang untuk menjemput Novia.
" Kita capcuss sekarang mbak? Anak-anak udah pada ngumpul." ajak Dedi.
" Oke. bentar, ambil sandal dulu." Novia masuk ke rumah dan kembali keluar dengan menenteng sandal di tangan kanannya.
" Oke let's go. Kita cabut." ajak Novia.
Dedi menghidupkan mesin motornya dan Novia segera membonceng di belakang. Mereka berangkat ke basecamp.
Ternyata Dedi benar. Di basecamp sudah ramai. Teman-teman yang lain sudah pada datang.
" Weeehhhh...Bu bendahara sudah datang. " sapa Bayu.
Toni langsung menengok ke arah Novia datang setelah mendengar si Bayu memanggil Bu bendahara.
" Bu bendahara...Bu bendahara... udah resign kali. Tuh Bu bendahara yang baru." Novia menunjuk ke Siska yang menggantikan dirinya menjadi bendahara yang baru karena dia mengundurkan diri dari perkumpulan setelah menikah.
" Iya Bu mantan. Novia sekarang sombong banget. Mentang-mentang udah bersuami jadi lupa sama kita-kita."
__ADS_1
" Eh, kalau aku lupa, aku nggak bakalan di sini sekarang. Kamu tuh ya... Walaupun kita tidak pernah bertemu, kalian itu selalu ada di hatiku. "
" Lebay' nya kumat deh...."
Novia tertawa lepas. Kemudian dia duduk di antara teman-teman yang lain.
" Gimana sama pernikahanmu mbak?" tanya Dedi.
" Alhamdulillah baik Ded. Suamiku begitu perhatian sama aku. Dia beneran sayang sama aku."
" Apa kamu bahagia dengan pernikahan itu?"
" Alhamdulillah..iya. Dulu yang ku pikir akan berat menjalani pernikahan itu, ternyata aku salah. Aku nyaman dengan kehidupan pernikahanku."
" Syukurlah kalau memang begitu. Aku seneng dengernya. Oh iya mbak, apa kamu pernah ketemu Candra setelah kamu menikah?"
" Nggak. Sama sekali. Sebenarnya dia beberapa kali telepon. Tapi tidak pernah aku angkat. Dia juga mengirim pesan. Tapi tidak pernah aku balas juga. Aku benar-benar ingin melupakan dia. Semuanya tentang dia. Aku akan memulai kehidupanku yang baru bersama suamiku. "
Kalau mbak Novia sudah berpikir seperti itu, lebih baik aku tidak usah menceritakan tentang Candra. Batin Dedi.
" Emang kenapa Ded?"
" Nggak pa-pa sih. Cuma nanya aja. "
" Eh Nov..." sapa Toni tiba-tiba datang.
" Toni. "
" Kamu apa kabar?"
" Alhamdulillah aku baik. Kamu sendiri bagaimana?"
" Patah hati dia mbak." ucap Dedi.
Toni melotot ke arah Dedi. Tapi Dedi malah tersenyum mengejek. Untung Novia tidak memperpanjang perkataan Dedi.
Masakan telah matang. Mulai dari sate kambing, sosis bakar, gulai kambing, semua sudah siap untuk di makan. Mereka semua pun segera menghabiskan makanan-makanan itu.
Setelah acara makan-makan, mereka kembali mengobrol. Baru asyik mengobrol, tiba-tiba ponsel Novia berbunyi.
Novia mengambil ponselnya dari dalam tas. Ternyata video call dari sang suami.
" Bentar ya guys, aku terima telepon dulu. " pamit Novia ke teman-temannya.
Sampai di tempat yang agak sepi, Novia mengusap layar ponselnya.
" Assalamualaikum mas. "
" Waalaikum salam. Kamu belum pulang?"
" Belum mas. Mungkin bentar lagi. "
" Udah malem ini. Udah hampir jam 11. "
" Iya mas. Bentar lagi. Kamu sendiri, kenapa belum tidur? Besok kan harus kerja. "
__ADS_1
" Nggak bisa tidur."
" Habis ngopi?"
" Nggak. Habisnya nggak ada kamu di rumah. Jadi rasanya aneh. Sepi. "
" Halah dulu juga sendirian aja di rumah nggak pa-pa."
" Ya beda lah. Sekarang kalau nggak ada kamu rasanya ada yang kurang."
" Gombal aja kamu. Mending mas buruan tidur. Biar besok nggak kesiangan. "
" Hmm. Kamu inget pesanku kan?"
Novia mengangguk.
" Nggak ada Candra kan di sana?"
" Nggak ada mas. "
" Mana coba aku lihat. "
" Nggak percaya banget sih. Nih..." Novia mengarahkan kamera ponselnya ke tempat teman-temannya berkumpul.
" Nggak ada kan?"
" Iya. "
" Ooh, jadi kamu VCall karena mau ngecek beneran ada mas Candra apa nggak, gitu?"
" Nggak. Aku cuma kangen sama kamu. Kangen sama istriku. Biar aku bisa tidur habis ini. "
" Halah, lebay kamu mas. "
" Tadi diantar siapa?"
" Di jemput Dedi. Nanti sekalian diantar pulangnya."
" Jangan macem-macem."
" Ya Allah mas. Kamu tenang aja. Dedi itu sudah aku anggap adik sendiri. Dia juga gitu. Udah anggap aku ini kakaknya. Lagian nih mas, dia udah punya cewek. Kamu ini su'udzon aja bawaannya."
" Bukannya su'udzon..Tapi hati-hati namanya."
" Iya deh iya. Ya udah sana cepetan tidur. "
" Iya. Kamu juga lekas pulang. Jangan malam-malam. "
" He'em. "
" Ya udah, assalamualaikum. Miss you.." pamit Boby sambil memberi kecupan singkat lewat ponsel.
" Waalaikum salam. "
Panggilan terputus. Novia jadi geli sendiri melihat sikap Boby sekarang. Agak lebay kalau Novia bilang.
__ADS_1
Tapi mungkin itulah cinta. Membuat orang bertingkah konyol.
****