Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
72. Sama sekali tidak khawatir


__ADS_3

Pagi menjelang. Candra keluar dari kamar mandi. Dia mendapati Novia sudah terbangun dari tidurnya.


" Kamu udah bangun? "


Novia mengangguk. Kemudian dia membuka selimut dan berusaha turun dari ranjang.


" Mau kemana?" tanya Candra sambil bergegas mendekati Novia yang agak kesusahan karena selang infus yang yang masih bergelantung di tangannya.


" Mau ke kamar mandi. Mau ambil wudhu. Sejak semalam Nov tidak menjalankan kewajiban Nov. "


" Baiklah. Ayo aku bantu. " Candra memegang bahu Novia untuk memapahnya berjalan.


Tapi Novia segera menepisnya. " Nggak usah. Nov bisa sendiri. "


Candra mengerti Novia menolak bantuannya. Karena mereka memang bukan muhrim. Tidak sepantasnya yang bukan muhrimnya memegang-megang.


" Ya udah. Biar aku pegang infusnya. "


Novia mengangguk. Candra memegang selang infus dan mengantar Novia ke kamar mandi. Setelah sampai di kamar mandi, Candra menaruh selang di tempat yang sudah di sediakan. Kemudian dia meninggalkan Novia di kamar mandi sendirian.


Novia segera mencuci muka, buang air, kemudian mengambil wudhu. Setelah selesai semua, Novia keluar dari kamar mandi. Candra segera membantu membawakan selang infus.


" Mas Candra bawa sarung?" tanya Novia karena dia tidak membawa mukena.


" Iya bawa. Sebentar. "


Candra segera mengambil sarung yang di taruh di sofa tadi dan memberikannya ke Novia. Kemudian Novia menjalankan sholat subuh dengan memakai bawahan sarung untuk menutup telapak kakinya. Yang atas, karena dia sudah memakai baju panjang dan juga hijab, maka dia tetap bisa melakukan ibadahnya.


" Tadi malam ada yang menelepon di ponselmu. Maaf kalau aku lancang mengangkatnya. " ucap Candra ketika Novia selesai melakukan sholat.


" Siapa? "


" Nama yang tertera 'rumah'. Yang bicara ibu-ibu. "


" Oh, bi Susi. Dia pembantu di rumah suamiku. Apa yang beliau bilang. Di rumah itu, dia sudah seperti ibuku. "


" Dia tanya, kamu dimana. Kenapa sudah malam nggak pulang-pulang. "


" Mas bilang apa sama bibi?"

__ADS_1


" Aku bilang kalau kamu aku bawa ke rumah sakit. Aku bilang kalau kamu pingsan dan dokter nyuruh kamu rawat inap. Semalam ibu-ibu itu mau nyusul kesini tapi aku larang. Sudah malam juga. Kasihan kalau harus kesini."


" Bisa minta tolong ambilkan tasku mas?" pinta Novia.


Candra segera mengambil tas Novia dan memberikannya ke Novia. Novia segera mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya itu.


Membuka layar ponsel. Tidak ada miss call maupun pesan masuk.


' Apa mas Boby tidak mencariku semalam? Apa sama sekali dia tidak mengkhawatirkanku? ' tanya Novia dalam hati.


Air mata kembali mengalir dari mata Novia. Dia merasa Boby sudah tidak peduli dengannya sama sekali. Padahal dia sedang mengandung anaknya.


" Kamu kenapa menangis lagi dik? " tanya Candra. Sebenarnya Candra sudah bisa menebak apa yang membuat Novia menangis.


Novia segera menghapus air matanya. " Nggak pa-pa mas. " Novia berusaha untuk tersenyum.


" Maaf ya mas. Nov jadi ngerepotin mas. "


" Sama sekali tidak dik. Aku sama sekali tidak merasa di repotkan. Aku malah senang bisa membantumu. Aku juga senang bisa melihatmu lagi. " Candra tersenyum.


Senyuman yang dulu mampu meluluhkan hati Novia. Mendengar ucapan Candra, Novia menjadi salah tingkah.


Tok..tok..tok..pintu kamar terbuka.


" Selamat pagi. Sarapannya ya Bu. " ucap perawat mengantar makanan untuk Novia.


" Iya. Terimakasih. " jawab Novia sambil tersenyum.


Perawat itu kemudian keluar.


Seperti biasa, Novia nampak malas melihat makanan yang kini tersaji di meja sebelah tempat tidurnya. Candra menggeser meja itu ke hadapan Novia.


" Ayo di makan. Dokter bilang, kamu dan bayimu butuh makanan. "


Dengan malas, Novia menyendok makanan yang ada di piring itu. Baru satu suap makanan itu masuk ke mulut, perut Novia sudah seperti di aduk-aduk.


Segera dia menggeser meja yang ada makanannya tadi, dan dia turun dari ranjang.


" Mau kemana dik?" tanya Candra.

__ADS_1


Novia menggeleng sambil menutup mulutnya menahan muntah. Candra segera membantu membawakan selang infus. Novia masuk ke kamar mandi dan membuka kloset.


Candra yang rupanya lumayan tanggap, segera memijit tengkuk Novia supaya Novia lebih mudah untuk mengeluarkan isi perutnya.


Setelah selesai muntah, Novia berdiri dari posisi menunduknya, kemudian menggapai tombol untuk mengeluarkan air di kloset. Tapi Candra melarang, dan dia yang membersihkan bekas muntahan Novia.


Setelah membersihkan muka dan berkumur, Novia kembali ke tempat tidur dengan di bantu Candra. Seperti biasanya, sehabis muntah, badan Novia terasa sangat lemas. Seperti tidak mempunyai tulang. Dia merebahkan tubuhnya miring, kemudian menutup matanya.


" Apa kamu sering seperti ini? " tanya Candra sambil menyelimuti tubuh Novia.


Novia mengangguk. " Semenjak hamil, setiap pagi atau setiap Nov berusaha mengisi perut, pasti seperti ini. Setelah itu, tubuh Nov akan terasa sangat lemas seperti ini. "


" Ya sudah, kamu istirahat dulu. Kamu mungkin nggak suka dengan makanannya. Kamu mau makan sesuatu? Biar aku carikan. Biasanya wanita hamil ngidam pengen makan apa gitu. "


Novia diam tidak menjawab. Sebenarnya dia ingin makan sesuatu sudah sejak lama. tapi dia sungkan memintanya sama Candra. Karena seharusnya suaminya yang harus memenuhi semua keinginannya selama hamil. Tapi pada kenyataannya suaminya tidak pernah peduli.


" Dik Nov, kamu harus makan. Untuk bayi yang masih ada di kandunganmu. Kalau kamu nggak makan, maka bayimu tidak bisa tumbuh dengan baik. Dia butuh nutrisi. "


" Sebenarnya Nov...Novia pengen makan cumi asam pedas. Tapi Novia nggak mau yang di masak sama chef. Nov pengennya yang di masak ala kampung. Cumi segar yang baru di beli dari pasar. Tapi nanti merepotkan mas Candra. Harusnya Nov minta ini sama mas Boby. "


" Cuman itu? Nggak masalah buatku. Kamu tidak perlu sungkan. Aku akan ke pasar sekarang. Setelah dapat cuminya, aku sendiri yang akan memasaknya untukmu. Tak apa kan kalau kamu harus di sini sendiri? " ucap Candra dengan senyum tulusnya.


Novia menggeleng. " Nggak pa-pa mas. Maaf Nov merepotkan ya mas. "


Candra tersenyum sambil mengusap ujung kepala Novia yang terlapis hijab. Kemudian Candra melangkah keluar dari kamar.


" Mas..." panggil Novia ketika Candra hendak membuka pintu. Seketika Candra berbalik badan.


" Aku juga mau yang masih setengah muda. Bukan mangga muda. "


Candra tampak mengernyit bingung dengan mangga yang di maksud Novia.


" Jadi mangganya itu belum matang. Tapi juga nggak mentah. Mangganya harus yang sudah agak kuning warnanya, tapi masih agak keras buahnya. Jangan yang sudah empuk. Sama sambal rujak. Sambal rujaknya agak di banyakin garamnya. " jelas Novia dengan menggebu-gebu.


Candra tersenyum mendengarnya. Kemudian mengangguk. Walaupun permintaan Novia yang satu ini agak susah, tapi dia akan tetap mencarikannya.


****


bersambung

__ADS_1


Like nya jangan lupa ya para reader's ku...


__ADS_2