
Selama dua hari satu malam orang tua Novia menginap di rumah sakit menjaga Novia. Semua hal yang biasanya Boby lakukan, semua di lakukan oleh ibu mertuanya. Karena memang semenjak sadar dari komanya, Novia selalu menolak apapun yang mau di lakukan suaminya. Dia lebih memilih suster yang melakukannya.
Novia merasa agak tenang dan santai karena ibunya berada di sana. Sudah dua hari Novia melakukan terapi untuk syaraf motoriknya. Tangan dan kakinya sudah agak bisa di gerakkan meskipun belum begitu kuat. Kalau hanya untuk bangkit dari tidurnya, atau berpindah posisi tidur, Novia sudah bisa melakukannya sendiri. Untuk makan, Novia sudah bisa makan sendiri meskipun dengan gerakan yang lambat.
Sore itu, jadwal terapi Novia kembali. Karena orang tuanya sudah pulang, terpaksa Novia bersedia di temani Boby untuk terapi.
Hari itu Novia masih melakukan terapi untuk tangannya. Dokter Sigit sendiri yang membantu Novia untuk melakukan gerakan-gerakan pada tangannya. Sebenarnya Boby tidak begitu menyukainya. Karena menurutnya, dia juga bisa membantu Novia.
Dokter Sigit adalah dokter yang telah menjadi seorang ahli syaraf terkemuka di usianya yang masih muda. Saat ini usianya baru 27 tahun. Dia adalah seorang dokter tampan, berkulit putih, hidungnya mancung, tubuhnya tinggi. Menurut informasi yang Boby dapatkan, dokter Sigit itu keturunan Jawa-Korea. Jadi jelas kalau tampangnya bak oppa-oppa Korea gitu. Dan satu poin lagi yang membuat Boby tidak begitu menyukai dokter Sigit. Dokter Sigit masih bujang. Dan Boby selalu merasa ada sesuatu dalam tatapan dokter itu terhadap istrinya.
" Ibu Novia, sekarang anda coba sendiri seperti apa yang tadi saya ajarkan. " perintah dokter Sigit.
Novia melakukan seperti yang dokter perintahkan. Dan hasilnya tidak terlalu buruk.
" Bagus Bu. Kalau begini, besok kita sudah mulai bisa terapi untuk kaki. "
" Iya dokter. Terimakasih banyak. " jawab Novia.
" Bu Novia sering-seringlah keluar untuk menghirup udara segar. Jalan-jalan di taman sepertinya mengasyikkan. Itu akan sangat membantu proses pemulihan. "
" Iya dok. " jawab Novia dengan senyuman manis khas Novia. Senyuman yang dulu membuat Boby selalu terngiang dalam ingatan.
Boby yang melihat istri dan dokternya berbincang akrab, apalagi di tambah senyuman yang terukir dari bibir istrinya, membuat Boby geram. Hatinya terasa panas. Pikirannya juga panas dan menjalar kemana-mana.
" Apakah terapinya sudah selesai dok? Kalau sudah selesai, saya mau membawa istri saya kembali ke kamar. Dia masih butuh istirahat. " ucap Boby agak ketus.
Novia memandang Boby dengan pandangan tidak mengerti. Kenapa suaminya bersikap seperti itu terhadap dokter Sigit.
" Iya bapak, silahkan. Terapi istri anda sudah selesai. " jawab dokter Sigit dengan senyuman.
Segera Boby membawa Novia keluar dari ruang terapi. Dokter Sigit memandang ke arah mereka dengan senyuman yang tak dapat di artikan.
' Kamu memang cantik. Tidak hanya di wajahnya. Kamu juga mempunyai inner beauty yang..ahhh...mikir apa aku ini? Dia sudah bersuami, bro...' gumam dokter Sigit lirih.
' Pantas saja suamimu begitu takut kehilanganmu. Karena memang kamu pantas untuk di miliki. ' pikir dokter Sigit. Kemudian dia mengusap wajahnya kasar.
Setelah sampai di kamar, Novia memanggil suster untuk membantunya membersihkan tubuh. Semenjak dia sadar, dia tidak menginginkan Boby melakukannya lagi. Malu tentu saja.
Suster membantu membersihkan tubuhnya dengan sangat hati-hati. Karena itulah pesan dari Boby. Tidak boleh sampai lecet.
" Ibu pasti bahagia mempunyai suami seperti pak Boby. "
__ADS_1
" Kok gitu sus? "
" Iya. Saya bisa melihat betapa suami ibu saaaaangat mencintai Bu Novia. Selama ibu berada di rumah sakit, tidak pernah sedikitpun beliau meninggalkan ibu. Dia tidak pernah membiarkan kami membantunya merawat ibu. Beliau hanya memperbolehkan kami membantu dalam hal medis. Semua beliau lakukan sendiri. " jelas suster.
Novia merasa terharu dengan cerita suster itu. Walaupun masih ada rasa sakit jika mengingat kejadian yang dulu, tapi tidak bisa Novia pungkiri kalau suaminya memang sangat perhatian dengannya.
Malam menjelang.
Novia masih terduduk sambil memainkan ponselnya. Melihat foto-foto anaknya. Dia begitu merindukan anaknya. Ingin segera bisa menggendongnya.
Tiba-tiba saja perutnya sakit, memberontak. Sepertinya kandung kemihnya penuh.
" Sshhh..." Novia mendesis. Dia bergerak ingin turun dari ranjang tapi dia masih belum mampu. Memang semenjak sore tadi, dia sendiri yang minta untuk tidak memakai pampers.
Boby yang sedang duduk di sofa sambil memangku laptop, melihat ke arah Novia yang sedang bergerak tidak nyaman. Kemudian dia bangkit dan berjalan mendekat ke ranjang.
" Kamu kenapa? Butuh sesuatu? " tanya Boby agak panik.
Novia masih belum menjawab. Sebenarnya dia sudah tidak tahan, tapi ingin bilang kalau kebelet, dia malu.
" Hei, Sayang... Kamu kenapa? Ada yang sakit? Kamu seperti menahan sesuatu. "
Novia masih tetap diam.
Novia masih terdiam. Kemudian " Aku pengen pipis. " ucap Novia pelan sambil menggigit bibir bawahnya.
" Pftt.." Boby berusaha menahan tawanya mendengar jawaban Novia. " Oke.. sebentar. "
Boby berlalu ke kamar mandi dan keluar membawa pispot.
" Aku nggak mau pakai itu. Jijik. " ucap Novia ketika melihat Boby membawakannya pispot.
" Terus gimana? Kamu kan udah nggak mau pakai pampers. "
" Mau ke kamar mandi aja. "
" Ooohhh " Boby kembali ke kamar mandi untuk mengembalikan pispot.
Setelah dari kamar mandi, Boby kembali mendekati Novia. Dia menaruh tangannya di bawah lutut dan punggung Novia bersiap untuk menggendongnya.
" Mau ngapain? " tanya Novia terkejut.
__ADS_1
" Katanya pengen pipis... nggak mau pakai pispot..ya ke kamar mandi kan? emang bisa jalan sendiri? "
Novia hanya diam dan menunduk ketika tubuhnya di angkat oleh Boby. Berada dalam dekapan suaminya seperti ini, membuat jantungnya berdegup kencang.
Tidak jauh beda dengan Boby. Jantungnya juga berdegup kencang. Sesekali dia mencuri lirikan ke Novia.
Sampai di kamar mandi, Boby mendudukkan Novia di meja toilet.
" Pegangan sini dulu. " Boby menaruh tangan Novia di bahunya. Kemudian dia membuka tutup kloset.
Kemudian dia mengangkat tubuh Novia kembali dan mendudukkan Novia di atas kloset duduk. Novia resah kebingungan. Dia bingung bagaimana dia membuka celana dalamnya. Tangannya sudah bisa membuka, tapi bagaimana caranya dia menurunkan celananya sedangkan kakinya belum kuat menopang tubuhnya.
Boby seperti bisa membaca pikiran Novia. " Aku bantu ya?" tanyanya
" Ha?" Novia terkejut dengan pertanyaan Boby.
" Kamu pasti kebingungan bagaimana melepas celanamu. Aku akan tutup mata. Kamu nggak usah malu. " ucap Boby sambil tersenyum penuh kemenangan.
Karena sudah tidak tahan, Novia menurut. Dia mengalungkan tangannya ke leher Boby. Boby menutup mata dan membantu Novia melepas celananya.
Setelah celananya terlepas, Novia duduk kembali ke atas kloset dengan tangan yang masih tetap mengalung di leher Boby sebagai pegangan. Dan posisi Boby agak menunduk sehingga jelas saat ini mereka sedang berpelukan.
" Sudah. " ucap Novia malu-malu.
Boby segera menyiram bekas kenc**** Novia. Boby hendak membantu membersihkan tubuh Novia tapi tanganmya di cekal Novia.
Boby menghela nafas panjang.
" Aku bisa sendiri. Cukup pegangi aku aja. " ucap Novia ketus.
Setelah selesai semua dengan berbagai drama, Boby mengangkat tubuh Novia kembali untuk di bawa ke tempat tidur. Kemudian dia menyelimuti tubuh Novia kembali.
" Aku mohon, jangan sungkan sama aku kalau butuh sesuatu. Aku selalu di sini untuk kamu. Apapun itu, katakanlah dan nggak usah malu. Aku ini suamimu. Halal untuk kamu. Dan kamu juga halal untuk aku. "
Novia tidak menjawab perkataan Boby.
" Jangan terlalu lama mendiamkanku ya?" pinta Boby lembut. " Istirahatlah. Aku mencintaimu. " lanjutnya sambil mengecup pucuk kepala Novia.
Ada rasa bahagia dan juga sakit di hati Novia. Bahagia karena merasa di cintai oleh suaminya. Suami yang sangat di rindukannya. Tapi juga ada rasa sakit jika teringat kesalahan suaminya.
****
__ADS_1
bersambung