
Hai para reader'sku ....maaf ya tiga hari author nggak update episode...soalnya author lagi sibuk sama kerjaan...
Insyaallah hari ini author up 2 episode..🙏🙏🙏
________________________________________________
Hari terus berganti. Novia dan Boby, mereka di sibukkan dengan berbagai pekerjaan. Novia yang menyiapkan acara ulang tahun sekolah, kemudian di susul adanya ulangan harian bersama. Membuatnya selalu berangkat ke sekolah lebih awal.
Begitu juga dengan Boby. Pekerjaannya di kantor lagi banyak. Ada beberapa proyek baru. Dan proyek baru tersebut ada di luar kota semua. Ada yang di Surabaya, di Surakarta, di Tegal, bahkan ada juga yang di Jakarta. Dia harus sering keluar kota. Bahkan dia juga masih harus sering bolak-balik ke Yogya.
Kini intensitas pertemuan sepasang suami istri itu menjadi sangat jarang. Novia yang sering berangkat pagi, dan Boby yang hampir tiap hari pulang larut malam. Apalagi sekarang Andre sedang sibuk mempersiapkan pernikahan.
Novia dan Boby hanya bertukar kabar lewat hp. Itu saja juga sangat jarang. Walaupun setelah Minggu ulangan harian bersama selesai, Novia tetap jarang bertemu dengan suaminya. Dia mengerti kalau suaminya memang sedang sangat sibuk sekarang.
Dia lebih sering menghabiskan waktu dengan bi Susi. Beberapa hari terakhir ini Novia merasa sangat malas untuk beraktivitas apapun. Dia hanya ingin di atas tempat tidur. Bahkan untuk makan saja dia sangat malas.
" Mbak Novia, ayo makan dulu. "
" Iya bi. Bentar. " sahut Novia dari dalam kamar.
Bi Susi berlalu dari depan kamar Novia. Selang beberapa waktu, Novia masih belum keluar dari kamar. Bi Susi kembali mendekati kamar Novia.
Tok...Tok...Tok...
" Mbak Novia...Bibi masuk ya. "
" Iya bi. Masuk aja. "
Bibi membuka pintu kamar kemudian masuk ke kamar Novia.
" Mbak, ayo makan siang dulu. " ajak bi Susi sambil mendekat ke ranjang Novia.
" Nov nggak lapar bi. Nov males makan, males ngapa-ngapain. Badan Nov rasanya capek banget."
" Nanti kalau mbak Novia nggak makan, bisa sakit malah. "
Novia menggelengkan kepala dengan posisi masih tetap tidur miring. Bi Susi menghampiri, duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
" Mau bibi panggilkan tukang urut?"
Novia kembali menggeleng. " Nggak usah bi. Novia minta tolong bibi aja. Tolong pijitin tangan sama kaki Novia ya bi. Tapi jangan kenceng-kenceng. "
" Iya mbak. Tapi habis bibi pijit, mbak Novia harus makan. "
Novia mengangguk. Bi Susi mulai memijat pelan kaki Novia.
" Mbak Nov, kenapa beberapa hari ini susah banget makannya?" tanya bi Susi sambil memijat Novia.
" Nggak tahu bi. Nggak selera. Mulutku tuh rasanya males mau ngunyah makanan. Rasanya pengen tidur aja. Ngantuk terus bi."
" Kok bisa gitu ya mbak. Apa mungkin karena kecapekan kemarin habis ada acara di sekolah?"
" Kayaknya nggak deh bi. Acara di sekolah kan udah selesai dari dua Minggu yang lalu. Tapi badan aku terasa kayak gini kan baru ada kalau satu minggu ini bi."
" Nggak biasanya mbak Novia kayak gini. "
" Iya bi. Mau kerja aja tuh rasanya maleeeess banget. "
Tapi ternyata Novia malah tidur lagi. Bi Susi mau membangunkan untuk mengajaknya makan, tapi kasihan. Akhirnya bi Susi keluar dari kamar untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi.
Hari itu, Boby sengaja pulang tidak terlalu malam. Karena sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Novia. Kalaupun bertemu paling cuma sebentar ketika pagi hari.
" Assalamualaikum bi." sapa Boby pada bi Susi yang ada di dapur.
" Waalaikum salam. Eh, mas Boby sudah pulang."
" Iya bi. Sengaja kerjaannya di tinggal. Udah beberapa minggu saya selalu pulang larut. Capek juga bi. Novia mana?"
Boby merasa kangen dengan kebiasaan Novia yang selalu menyambutnya dengan senyum manisnya ketika ia pulang kerja. Sudah hampir tiga minggu dia pulang selalu larut malam dan Novia pasti sudah tidur.
Tapi hari ini ketika dia pulang masih agak sorean, kenapa Novia tidak kelihatan.
" Mbak Novia ada di kamarnya. Habis kerja langsung masuk ke kamar dan belum keluar sampai sekarang. "
" Kenapa bi? Apa dia sakit?"
__ADS_1
" Sepertinya sih tidak. Cuma mbak Nov tadi bilang, beberapa hari ini dia merasa badannya capek semua, sampai buat ngunyah makanan juga males. Jadinya, beberapa hari ini mbak Novia susah makan. Tadi aja bibi suruh makan siang katanya males. Eh, malah tidur. Sampai sekarang belum bangun. "
" Tumben...Kok bisa gitu ya bi. Biar saya lihat dulu. " Boby berjalan menuju ke kamar Novia. Dia membuka pintunya. Terlihat suasana kamar Novia masih gelap dan jendela juga kordennya belum tertutup.
Boby menghidupkan saklar lampu dan berjalan mendekat ke ranjang. Dia melihat Novia yang masih tertidur dalam posisi meringkuk mengapit guling.
Boby berjalan ke arah jendela. Menutupnya kemudian menutup kordennya. Kemudian dia kembali ke ranjang. Duduk di tepi ranjang. Di tepuknya pelan bahu Novia yang sedang tertidur memunggunginya.
" Nov....Novia..." panggil Boby.
Novia masih belum bergeming.
" Novia, bangun Sayang... Udah malem. Bangun dulu. " panggil Boby kembali. Kini tangannya beralih menepuk pelan pipi Novia.
Novia menggeliat. Dan mulai membuka matanya. Mengerjabkannya berulang kali, baru dia melihat ke arah Boby.
" Mas, udah pulang?" Novia bangun dari posisi tidurnya. Mencium punggung tangan Boby dengan masih mengumpulkan kesadarannya.
" Iya. Sengaja aku pulang lebih awal. Pengen ketemu sama istriku. Eh, sampai rumah malah istriku ini masih tidur. " goda Boby sambil mencolek hidung Novia.
" Maaf mas. Aku juga nggak tahu kenapa akhir-akhir ini aku males ngapa-ngapain, pengennya tidur aja. Kalau udah tidur ya kayak ini tadi bangunnya susah. Bawaannya ngantuuuk aja..."
Boby geleng-geleng kepala mendengar cerita istrinya.
" Ya udah sekarang ayo mandi. Udah malem ini. Terus kita makan. Bibi bilang kamu dari siang belum makan. "
" Kamu juga belum mandi kayaknya mas. " Novia mendekat ke Boby sambil mengendus-endus tubuh Boby. " Tuh, masih bau asem. " Novia kembali mengendus-endus tubuh Boby. Entah kenapa dia menikmati bau badan Boby.
" Masak sih?" Boby mengendus-endus bau badannya sendiri. Kemudian dia tersenyum. " Agak asem sih memang. Tapi kayaknya kamu suka. " goda Boby kembali. Novia langsung menjauhkan tubuhnya dari boby, sambil berpura-pura menutup hidung.
Boby Mengacak-acak rambut istrinya. Kemudian dia bangkit. " Aku mandi dulu. Kamu juga cepetan mandi. Bau asem juga. " ucap Boby sambil menutup hidungnya juga.
Boby meninggalkan kamar Novia sambil tertawa melihat tingkah Novia.
****
bersambung
__ADS_1