
Pagi menjelang siang di keesokan harinya, Boby, Novia dan baby Athar tiba di rumah mereka. Terlihat bi Susi menyambut kedatangan mereka di depan pintu utama.
" Bibi ...." panggil Novia yang kemudian berjalan cepat untuk memeluk bi Susi.
Bi Susi memang sudah seperti ibunya. Novia begitu rindu dengan bibi yang satu ini. Bi Susi membalas pelukan Novia.
" Novia kangen sama bibi. " ucap Novia masih sambil memeluk bi Susi.
" Bibi juga kangen. Tapi sepertinya mbak Novia tidak begitu kangen. Buktinya, pulang dari Jakarta sudah lama, tapi tidak menemui bibi. "
Novia melepas pelukannya. " Maaf bibi. Novia butuh waktu sedikit untuk berpikir. " ucap Novia sambil menjentikkan jarinya.
Bi Susi mengangguk mengerti maksud dari Novia.
Boby melihat interaksi istrinya dengan pelayan di rumahnya dengan tersenyum hangat. Dia tidak salah memilih istri. Istrinya itu tidak pernah membeda-bedakan orang. Semua sama di matanya.
Athar yang sedang berada di gendongan papanya ikut memandang ke arah mamanya.
" Tuan muda..." panggil bi Susi kepada Athar.
" Kok tuan muda sih bi. Kayak apa aja. " protes Novia.
" Den Athar kalau gitu. " balas bibi.
Novia menggeleng. Bi Susi berjalan mendekat ke arah Athar. Kemudian mencubit pipi gembul Athar lembut.
" Biar den Athar bibi yang gendong. "
Boby mengangguk sambil tersenyum dan menyerahkan Athar ke bi Susi.
" Aksan di rumah kan bi? " tanya Boby.
Aksan adalah sopir dari kantor Boby yang sekarang akan dia jadikan sopir di rumahnya. Sudah semenjak Novia mau pulang dari Jakarta dulu Aksan mulai bekerja di rumah itu.
Dia adalah pemuda yang baik dan jujur. Dia mempunyai seorang ibu yang sudah tua. Jadi jika malam hari dia sudah tidak di butuhkan, maka dia akan pulang ke rumah. Karena ibunya tinggal sendirian.
" Ada mas. Lagi di belakang. "
" Tolong suruh bawain barang-barang Novia ya bi. Ada di bagasi. "
__ADS_1
" Nggih mas. " jawab bibi.
Bi Susi berjalan masuk ke rumah dengan menggendong Athar untuk memanggil Aksan.
Boby berjalan mendekat ke Novia. Di raihnya pinggang istrinya dan diajaknya sang istri masuk ke rumah.
" Aksan siapa mas? " tanya Novia.
" Dulu dia sopir kantor. Tapi sekarang aku minta dia buat jadi sopir keluarga kita. "
" Kamu kan tidak pernah pakai sopir kalau kemana-mana. Aku juga bisa nyetir sendiri. "
" Sekarang ada Athar, sayang. Kamu nggak akan bisa nyetir sendiri. Lagian aku juga nggak akan ngijinin kamu nyetir sendiri sekarang. Kemana-mana harus di antar sama Aksan. "
" Kok jadi gitu? " tanya Novia sambil mengalihkan pandangannya ke arah suaminya. " Dulu aku nggak bisa nyetir, di beliin mobil, terus di ajarin nyetir. Kok sekarang??"
" Beda sayang. Aku khawatir kalau kamu nyetir sendiri. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu. Sudah cukup sekali aja aku melihat kamu sakit, sayang. " Boby membalas tatapan mata Novia dengan tatapan sendu.
Melihat tatapan mata Boby yang begitu sendu dan lembut, juga kata-katanya, membuat mata Novia berkaca-kaca. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena telah menyakiti dan menelantarkan sang suami.
" Hus, jangan pernah menangis lagi. " ucap Boby lembut sambil memegang kedua pipi Novia. " Mulai sekarang, kita harus selalu tersenyum dan tertawa. Air mata hanya boleh menetes karena kebahagiaan. Air mata kebahagiaan. " lanjut Boby sambil tersenyum hangat.
" Ayo kita masuk. " ajak Boby sambil menuntun tangan Novia. " Welcome home, honey. " lanjutnya sambil mencium pipi Novia ketika mereka sudah sampai di dalam rumah.
Pas setelah acara kecupan, Aksan lewat. " Permisi, tuan, nyonya. "
" San, tolong kamu ambil semua barang-barang istri dan anakku di mobil. Kamu taruh di kamarku." pinta Boby.
" Baik, tuan. Permisi. " pamit Aksan.
" Kok dibawa ke kamar kamu mas? Kan..."
Belum sempat Novia menyelesaikan ucapannya, Boby memotong , " Mulai sekarang nggak ada kamar kamu. Yang ada kamar kita. Aku, kamu, dan anak kita akan tidur di kamar yang sama. Hem?! " ucap Boby lembut sambil menaikkan kedua alisnya.
Boby menggandeng Novia untuk masuk ke dalam rumah lebih dalam. Ada beberapa perubahan letak tatanan. Dan ada beberapa perabot yang di ganti. Hampir semua perabot yang baru berwarna hijau. Warna kesukaan Novia.
Kemudian Boby mengajaknya ke halaman belakang. Suasana taman menjadi baru. Yang dulunya taman itu hanya ada beberapa pot tanaman, kini taman itu di sulap menjadi sebuah taman dengan berbagai bunga yang berwarna-warni. Karena Boby tidak tahu bunga kesukaan Novia itu bunga apa.
" Wuaaahhh, indah banget mas. " ucap Novia terkagum-kagum.
__ADS_1
" Kamu suka? Tapi maaf karena aku tidak tahu bunga kesukaan kamu, jadinya aku tanami bermacam-macam bunga."
" Nggak pa-pa mas. Aku suka. Suka sekali malah. Dan aku tidak mempunyai bunga favorit. Asalkan bunga itu mempunyai warna yang indah, aku pasti suka. Makasih mas. " Novia berucap sambil memandang ke Boby.
Boby mengangguk dan tersenyum.
" Lalu, kenapa perabot di dalam juga di ganti? Bukankah perabot yang dulu masih bagus semua?"
" Aku ingin suasana yang baru. Karena kita akan memulai semuanya dengan yang baru. "
Novia manggut-manggut. " Sekali lagi, terimakasih mas. " ucap Novia yang kemudian dia memeluk pinggang suaminya erat. Dan suaminya pun membalas pelukan itu.
" Aku mencintaimu, Sayang. " ucap Boby sambil mengecup puncak kepala Novia yang tertutup kerudung.
Novia mengangguk menjawab perasaan Boby. Dia masih belum berani membalas ungkapan cinta Boby dengan ucapannya.
" Sekarang, ayo kita lihat kamar kita. "
Novia mengangguk. Kemudian mereka bergandengan tangan kembali dan memasuki rumah bersama-sama. Boby menuntunnya masuk ke dalam kamar.
Suasana kamar Boby juga berubah total. Kamar yang dulunya terkesan maskulin dengan warna dominan hitam putih, kini kamar itu menjadi lebih berwarna. Ada keranjang bayi di sebelah ranjang utama yang berukuran king.
" Kamu juga merubah warna kamar kamu mas? "
" Suasana baru juga. Kamu suka? "
Novia langsung mengangguk. Tapi kemudian dia berucap, " Tapi kenapa mesti ada keranjang tidur bayi di sini? Aku tidak mau kalau harus terpisah sama Athar. Kasihan dia kalau harus tidur sendiri."
Suasana hati Novia menjadi sendu.
" Sayang, dengar. Athar, tetap akan tidur bersama kita. Di ranjang itu. Tapi aku juga berpikir, emmmm.... kalau misalnya kita berkegiatan, maka kasihan si kecil. Pasti tidurnya terganggu. " goda Boby. " Karena desahan mamanya. " bisiknya.
Hal itu membuat membuat muka Novia merah merona karena malu. Boby sangat menyukai melihat wajah Novia yang merah merona seperti itu. Diapun mencubit kedua pipi Novia pelan. Hal itu malah tambah membuat warna merah merona pipi Novia semakin menyala.
***
bersambung
Maaf ya kakak, author mungkin tdk bisa update tiap hari, soalnya author harus merawat ayah yang sedang sakit.
__ADS_1
Mohon doanya ya kak...semoga ayah author cepet sembuh...Jadi author bisa update tiap hari lagi deh....