
Pagi itu Novia pergi ke kantor bersama suaminya. Seperti janjinya kemarin, dia akan membantu pekerjaan suaminya.
Ini adalah pertama kalinya Novia menginjakkan kakinya di kantor sang suami. Kantor yang lumayan besar. Bangunannya terdiri dari tiga lantai, dengan jumlah karyawan sekitar 20 orang.
Lantai dasar di gunakan untuk front office dan customer service dan bagian pengadaan bahan bangunan. Lantai dua terdiri beberapa ruangan untuk bagian HRD, bagian design, dan bagian perencanaan. Untuk lantai paling atas, ada ruang meeting, ruangan bagian keuangan, ruangan CEO dan dua ruangan lagi yaitu ruangan untuk Andre dan Remon.
Mulai dari lantai dasar, para pegawai memberi hormat dengan menundukkan kepala kepada pemilik perusahaan. Ada sedikit kasak kusuk di antara pegawai yang bertanya-tanya siapakah perempuan yang datang bersama si bos ke kantor. Padahal selama ini bosnya tidak pernah membawa seorang wanitapun. Apa mungkin dia istri bos?
Novia berjalan mengekor sang suami. Dia juga ikut menundukkan kepala untuk membalas sapaan dari para pegawai.
" Kita langsung naik ke ruanganku saja. "
Novia mengangguk. Boby menggandeng tangannya. Yang secara otomatis menjelaskan ke semua pegawainya tentang siapa Novia.
Sampai di ruangan, Boby memanggil kepala bagian keuangan.
" Selamat pagi pak. " sapa kepala bagian keuangan.
" Masuk Dit. Gini, untuk laporan tahunan yang sudah selesai, kamu bawa kesini. Biar istriku yang mengecek. "
" Oh, iya pak. " Adit menoleh ke arah Novia sebentar sambil mengulas senyum. Dan di balas senyum juga oleh Novia.
Wah, jadi ini istri bos. Cantik sekali. Batin Adit. Kemudian dia meninggalkan ruangan Boby.
" Pegawaimu masih muda-muda semua ya mas. "
" Iya. Sengaja aku milih pegawai yang muda, yang cekatan, dan bertanggung jawab tentunya. Mereka adalah orang-orang terpilih. Walaupun masih muda, tapi etos kerjanya hebat. " jelas Boby mengunggulkan pegawainya.
" Kamu tahu, mereka bekerja di sini sudah semenjak aku mendirikan usaha ini. Dan selama itu pula tidak ada pegawai yang resign atau aku pecat. "
" Wow. Hebat kamu mas. Berarti kamu atasan yang baik. Makanya pegawaimu betah kerja sama kamu."
" Kalau aku sih tidak hanya hebat sebagai atasan. Tapi jadi suami juga hebat." Boby tersenyum membanggakan dirinya.
Novia menanggapinya dengan mencibirkan bibirnya.
Tak berselang lama, Adit muncul kembali dengan membawa beberapa map. Kemudian mereka di sibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing. Adit masih tetap di situ untuk membantu Novia menunjukkan bagian-bagian yang tidak di mengerti oleh Novia.
Sedangkan Boby sibuk dengan pekerjaan yang lain. Dia membiarkan istrinya bekerja dengan Adit di sofa, dan dia duduk di kursi kerjanya.
" Wah, ada Bu bos di sini. " Andre masuk ke ruangan Boby tanpa mengetuk terlebih dahulu.
" Eh, mas Andre. Baru kelihatan. "
__ADS_1
Andre ikut duduk di sofa. Mencoba melihat apa yang sedang di kerjakan oleh istri Bosnya.
" Nov, kok kamu masih panggil dia mas. Aku kan udah bilang, yang kamu panggil mas, cukup aku aja. " protes Boby.
" Emang kenapa kalau Bu bos manggil gue mas. Dari pertama kenal juga udah gitu manggilnya." ucap Andre membela diri.
" Iya...iya...aku ralat...bang Andre..oke bang?" ucap Novia sambil mengarahkan pandangannya ke Andre.
" Oke lah. Mau kamu panggil apa aja juga aku sih oke-oke aja. Yang manggil perempuan secantik kamu ini. " goda Andre sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Klotak. Sebuah bolpoin mampir di depan Andre.
" Apa sih bos?" Andre mengambil bolpoin itu.
" Bini gue itu. Awas macem-macem. " Boby melotot ke Andre.
" Iya, tahu ..."
Adit yang menyaksikan kekonyolan Bosnya dan sahabatnya itu hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Tepat jam sebelas seperempat, pekerjaan mereka usai semua.
" Wah, Bu Novia hebat. Kalau nggak di bantu sama Bu Novia, pekerjaan ini belum tentu selesai. " puji Adit.
" Saya yang seharusnya berterima kasih. Kalau begitu, saya pamit dulu, Bu Novia, pak Boby. "
Novia dan Boby menjawab dengan anggukan.
Setelah Adit keluar dari ruangan Boby, Boby berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Novia. Dia mendudukkan pantatnya di sofa sebelah Novia duduk.
" Capek ya?" tanyanya sambil mengelus pucuk kepala Novia yang tertutup kerudung.
" Nggak juga. " seulas senyum terukir di bibir manis Novia.
" Seharusnya ini kan hari libur kamu. "
" Nggak pa-pa. Daripada di rumah manyun sendiri. Lagian nggak ada salahnya membantu pekerjaan suami sendiri. "
Nyesss...Adem rasanya hati Boby mendengar Novia menyebutnya suami. Jarang sekali Novia mengatakan itu. Atau bahkan belum pernah sama sekali.
" Makasih ya. "
" Jangan makasih aja dong. Traktir aku makan. Lapeerr. " Novia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
__ADS_1
" Oke. Kita makan sekarang. Aku juga udah laper. Yuk." Boby mengambil tangan Novia yang masih ada di pangkuan dan menggandengnya.
Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir.
" Kita ke Paragon. Kita makan di sana. Kamu mau makan apa?"
" Mmmm...Aku mau chicken muffin with egg di McDonald's. Sama es krim. "
" Oke. Kita kesana."
Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata. Jalanan lumayan padat. Karena kantor Boby letaknya tidak begitu jauh dari Paragon, maka hanya butuh waktu dua puluh menit mereka telah sampai.
Setelah memarkir mobil, mereka berdua turun dari area parkir lantai empat. Berjalan menuju McDonald's.
Suasana di McDonald's agak ramai. Karena memang sudah waktunya makan siang. Tapi beruntung mereka masih mendapat tempat duduk.
Boby menyuruh Novia duduk, sedangkan dia ke kasir untuk memesan makanan.
" Wow, yummy." seru Novia melihat Boby datang dengan membawa nampan yang berisi makanan dan es krim pesanan Novia.
" Silahkan di nikmati nyonya Permana."
" Terimakasih banyak tuan Permana."
Mereka mulai menikmati makanan yang ada di depan mereka.
" Oh iya mas. Seminggu lagi Sari kan mau nikah. Jadi mungkin aku akan sering pulang ke rumah ibu. Bantu-bantu nyiapin resepsinya. "
" Iya nggak pa-pa. Kamu mau nginep di rumah ibu aja atau gimana? Daripada kamu mondar-mandir."
" Aku nginepnya besok kalau udah dekat sama hari H aja deh. Kan kamu juga di rumah mas. "
" Nggak pa-pa kalau kamu nginap di rumah ibu. Di rumah juga udah ada bi Susi. Ada yang masakin."
" Gampang lah itu. Entar aku pikirin lagi. Habis ini kita langsung pulang, apa kamu mau ke kantor lagi?"
" Nggak sih. Kerjaan aku tadi udah kelar. Mending sekalian udah di sini, kita cari baju buat besok nikahannya Sari. "
Novia mengangguk .
****
bersambung
__ADS_1