Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
111. Seratus sebelas


__ADS_3

Setelah bertemu Athar, menggendongnya sampai puas, Candra berpamitan ke semua yang ada di ruangan Novia. Hari itu adalah kali kedua dia bertemu dengan si kecil. Dia tidak mampu menggambarkan perasaannya. Dia begitu sayang dengan Athar. Ingin rasanya membawa si kecil pulang.


Walaupun ada rasa cemburu di hati Boby melihat Candra memperlakukan anaknya, Boby tetap berusaha untuk berbesar hati. Bagaimanapun juga, Candra lah yang selalu ada di samping Novia ketika Athar masih dalam kandungan Novia. Otomatis Athar juga dekat dengan Candra.


Setelah semua orang pulang, suasana sepi kembali merayap di ruangan itu. Boby yang biasanya banyak mengajak Novia bicara, malam itu dia lebih banyak diam.


Pagi hari menjelang. Jadwal terapi Novia hari itu di majukan menjadi pagi hari karena siang nanti dokter Sigit ada jadwal operasi. Seperti biasa, Boby selalu menemani Novia untuk terapi. Dia tidak akan membiarkan Novia melakukan terapi sendiri. Mengingat yang menerapi adalah dokter Sigit tentu saja.


Perkembangan terapi Novia hari itu sangat memuaskan. Kaki Novia sudah jauh lebih bisa di buat jalan untuk jarak yang jauh dan lebih kuat untuk di buat berdiri. Dokter Sigit juga mengatakan kalau dalam waktu dua atau tiga hari lagi, Novia sudah boleh meninggalkan rumah sakit.


Betapa bahagianya Novia mendengar kabar itu. Dia akan segera bisa menggendong si kecil dengan puas. Tidur memeluk si kecil sepanjang malam. Membayangkan hal itu, Novia tersenyum tipis.


Begitu juga Boby, tak kalah bahagia. Merasa akan bisa berkumpul kembali dengan keluarga kecilnya. Istri dan anaknya. Bercanda bersama, tidur dengan memeluk si kecil. Malam-malam terbangun untuk mengganti popok si kecil, membantu istri ketika si kecil kelaparan. Ah, indahnya. Dan satu lagi tentunya. Novia tidak akan bertemu dengan dokter keganjenan itu. Huft!!!


Setelah selesai terapi, Boby segera mendorong kursi roda Novia menuju ke kamar. Ternyata si kecil Athar sudah berada di kamar itu bersama Omanya.


" Sayang....anak mama...." Novia begitu sumringah melihat anaknya.


Si kecil Athar yang saat itu sedang bermain tangannya, seperti tahu kalau sang mama sudah ada di kamar, tiba-tiba merengek.


" Kenapa ini kesayangan Oma? Kangen sama mama ya? " Bu Vera berdiri dari duduknya dan mendekat ke Novia.


Novia merentangkan kedua tangannya untuk menggendong si kecil. Si kecil Athar langsung tersenyum ketika sudah dalam dekapan mamanya.


Novia berusaha bangkit berdiri dari kursi roda karena dia takut kalau Athar kejedot sandaran kursi kepalanya. Boby langsung membantunya untuk berdiri dan memapahnya berjalan.


" Duduklah di ranjang. Kakimu pasti capek habis terapi. " ujar Boby. Novia hanya mengikuti usulan suaminya.


" Ya ampun Bob...Kamu ini... Masih belum bercukur juga. Hih...jijik mama lama-lama lihat muka kamu. "


" Di sini nggak ada alat cukurnya ma..." ucap Boby ngeles.


" Kamu kan bisa ke salon. Sekalian potong rambut. Biar rapi. Tampang kamu itu udah kayak bapak-bapak umur 40 tahun. Kelihatan tua banget. Anak aja baru lahir. " ledek mamanya.


Novia hanya mendengar perdebatan antara mama dan anak sambil tersenyum tipis.


" Sekalian besok kalau udah pulang ma. Kata dokter 2 atau 3 hari lagi Novia udah boleh pulang."


" Beneran? " tanya Bu Vera tak percaya. " Bener Nov, kamu udah boleh pulang?"


" Iya ma. "


" Alhamdulillah...mama seneng dengernya. Eh tapi tetep aja kamu harus potong rambut sama bercukur dulu, Bob. Mama yakin, istri kamu juga jijik lama-lama lihat muka kamu yang rimbun seperti itu. "


Boby langsung melihat ke arah Novia. Begitu juga Novia. Tatapan mata mereka bertemu. Tapi Novia segera membuang pandangannya ke arah lain.


Boby jadi ingat. Dulu Novia pernah bilang kalau dia sangat tidak suka melihat seorang laki-laki yang jambangnya lebat. Geli dan jijik katanya. Boby mengelus mukanya yang di tumbuhi banyak bulu.


" Iya ma. Nanti Boby potong rambut sekalian bersihin ini. "


" Kenapa harus nanti? Kenapa nggak sekarang? "


" Masih ada Athar ma. Boby juga kangen kali ma. " jawab Boby dengan agak cemberut.

__ADS_1


Setelah perdebatan kecil antara mama dan anak, si kecil Athar rupanya sudah tertidur pulas dalam dekapan mamanya.


" Yah, tidur anak papa. Papa kan pengen ajak main nak. " Boby terlihat kecewa melihat si kecil telah tertidur.


Tapi Boby tetap mengambil Athar dari dekapan Novia. Di gendongnya sambil terus di kecupi pipi gembul Athar. Mungkin karena merasa geli sama bulu-bulu papanya, Athar tertidur sambil terus bergerak-gerak kecil. Bu Vera dan Novia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Karena hari telah sore, Athar di ajak pulang oleh Omanya. Setelah Athar pulang, Boby pun ikut berpamitan ke Novia kalau dia ada sedikit keperluan di luar. Jadilah Novia seorang diri di dalam kamar.


Setelah mandi sore dan melaksanakan sholat ashar, Novia merasa kesepian berada di kamar itu sendirian. Akhirnya dia memutuskan untuk jalan-jalan di taman rumah sakit. Novia memanggil suster untuk membantunya berjalan sampai ke taman.


" Terimakasih suster, sudah mengantar saya. " ucap Novia kepada suster itu.


" Sama-sama ibu. Mau saya temani sekalian? "


" Tidak usah suster. Suster bisa kembali. Saya mau menghabiskan waktu sore ini di sini. Nanti kalau suami saya sudah kembali, dia pasti menyusul saya kesini. "


" Baiklah Bu Novia. Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat menikmati sore yang indah. "


Setelah berpamitan, suster itu meninggalkan Novia sendirian. Jadilah Novia seorang diri di taman itu. Dia duduk di salah satu bangku yang ada di taman itu. Dia melihat ada beberapa pasien juga ada di sana.


Dari kejauhan seseorang memperhatikannya.


" Seperti Novia itu. Sendirian? " gumam orang tersebut.


Kemudian dia berjalan mendekat untuk memastikan kalau yang di lihatnya itu adalah Novia atau bukan. Dan ketika dia sudah berada di dekat Novia, dia baru yakin kalau ternyata itu benar Novia.


" Assalamualaikum, ibu Novia. " sapa orang tersebut.


" Boleh saya duduk di sini? "


" Boleh, dok. Silahkan. " jawab Novia sambil menggeser duduknya sedikit.


" Kok sendirian aja? Suaminya mana? "


" Oh, iya nih dok. Tadi mas Boby pamit keluar sebentar. Lama-lama di kamar sendirian BT juga. Akhirnya ya kesini aja. Sambil menikmati udara sore. "


" Lalu, kok tidak bawa kursi roda? " tanya dokter Sigit sambil melihat ke sekeliling.


" Tadi jalan dok. Di bantu sama suster. "


" Sudah kuat kakinya di pakai jalan dari kamar kesini? " tanya dokter merasa excited.


" Alhamdulillah dok iya. "


" Alhamdulillah.."


" Dokter kok tumben santai? Sudah selesai prakteknya? "


" Habis dari operasi. Niatnya mau menghirup udara segar dulu. Eh, nggak tahunya ketemu kamu di sini. Asyik juga ada temen ngobrol. "


Novia tersenyum menanggapi cerita dokter Sigit.


" Oh iya, nggak pa-pa ya kalau saya ajak bicara informal? Biar lebih enak aja ngobrolnya. "

__ADS_1


" Iya dok, nggak pa-pa. Eh iya, bukankah jadwal operasi dokter sudah tadi siang ya? Kok baru selesai? "


" Iya. Biasalah agak complicated. Jadi lumayan lama operasinya. Ini sih hitungannya masih mending, cuma 5 jam. Ada juga yang sampai 12 jam lho. "


" 12 jam dok? Wow, nggak ada yang gantiin gitu? "


" Ya nggak ada. Kalau di gantiin repot jadinya. Bisa-bisa salah langkah. "


" Oh iya ya dok." tanggap Novia sambil mengusap tengkuknya dan sedikit tersenyum.


" Kalau nggak di ruangan atau kalau saya lagi nggak kerja, panggil nama aja lah biar bisa lebih akrab. "


" Nggak enak juga lah kalau cuma panggil nama dok. Secara sepertinya saya lebih muda dari dokter. "


" Sepertinya sih. Hehehe..." jawab dokter Sigit sambil terkekeh.


" Ya udah saya panggil mas Sigit aja kalau gitu. "


" Mmm... boleh...saya panggil kamu Novia aja ya. "


" Boleh dok...eh, mas..." kemudian mereka tertawa bersama.


Percakapan terus berlanjut diantara mereka. Banyak hal yang ditanyakan dokter Sigit mengenai Novia. Mengenai kehidupannya pastinya. Sampai tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Adzan Maghrib mulai berkumandang.


" Wah, udah magrib ternyata. " ucap Novia.


" Iya nih. Nggak terasa. Kamu sebaiknya kembali ke kamar. Udara malam nggak bagus buat kesehatan. "


" Iya. Nov juga mau kembali ke kamar. Tapi kok mas Boby belum ada telepon ya. " ucap Novia sambil mencari ponselnya. " Astaghfirullah...Hpku ketinggalan. Pantas aja nggak ada dering sama sekali. " lanjutnya sambil menepuk jidatnya.


" Ya udah, ayo aku antar ke kamar. "


" Malah ngerepotin mas Sigit ini. "


" Nggak. Lagian jam praktekku juga sudah selesai. Habis nganter kamu aku juga mau pulang. "


" Beneran nih nggak ngerepotin? "


" Hm. " jawab Sigit sambil berdiri dan menjulurkan lengannya sebagai pegangan Novia.


Novia juga ikut berdiri dan berjalan perlahan sambil berpegangan pada lengan dokter Sigit.


Mereka berjalan sambil masih saling berbincang. Dengan sesekali dokter Sigit mengajaknya bercanda.


Di tempat lain, Boby bingung mencari Novia. Karena setibanya dia di kamar, dia tidak bisa menemukan Novia di manapun. Akhirnya dia memutuskan bertanya ke salah satu suster yang berjaga. Dan mereka memberi tahu kalau tadi salah satu dari mereka mengantar Novia ke taman.


Diapun segera menyusul Novia ke kamar. Sesampainya di lantai satu, dia melihat pemandangan yang membuat mata dan hatinya memanas.


Berani-beraninya dia. gumam Boby sambil mengepal tangannya.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2