
Suasana canggung tercipta di antara Boby dan Novia semenjak kejadian ciuman malam itu. Sebenarnya yang canggung hanya Novia. Tapi karena Novia sikapnya agak berubah, Boby jadi ikutan tidak enak.
Hari ini roman touring Peru Boby akan melakukan perjalanan kembali ke kota Semarang. Setelah semalam mereka menghabiskan malam tahun baru di Sarangan. Hari ini mereka akan melakukan perjalanan malam hari.
Karena hampir semalaman suntuk mereka merayakan tahun baru, jadi pagi sampai siang mereka semua tertidur lelap.
Pukul empat sore, rombongan sudah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan.
" Bro, lo mending di bonceng aja lah sama bini lo. Secara bini lo lebih jago bawa motornya. " ejek Andre.
" Sekate-kate aja lo. Jagoan gue lah. Ya nggak sayang?" jawab Boby tak terima. Boby berusaha membuat Novia berbicara.
Novia hanya mengendikkan bahu.
" Lagian kalau bini gue yang boncengin, ntar sampai rumah gue bingung nyari tukang pijat dimana. "
Spontan Novia mencubit lengan Boby.
" Auw." Boby meringis. Dia mengambil tangan Novia melihat kuku jari tangannya.
" Pantesan sakit ... Orang kukunya kayak drakula. "
Boby berusaha mencairkan suasana canggung di antara mereka.
Novia menarik tangannya kasar.
" Kamu tu yang kayak drakula. Sukanya gigit bibir orang. "
Ups. Novia menutup mulutnya yang keceplosan. Boby menahan tawanya. Andre, Shinta, dan Remon yang ada di dekat mereka saling berpandangan. Tidak mengerti dengan ucapan Novia.
" Ayo buruan berangkat. Entar semakin kemaleman. " Novia mengalihkan pembicaraan.
'Cup'.. Boby mencium singkat pipi kanan Novia. Spontan Novia melototkan matanya.
" Kalau kayak gini bukan drakula kan?" bisik Boby di telinga Novia. Kemudian dia naik ke atas motor.
Novia memukul pundak Boby. Kemudian diapun menaikkan tubuhnya ke atas motor di belakang Boby. Boby menarik tangan Novia supaya melingkar di pinggangnya.
Sepanjang perjalanan Boby banyak mengajak Novia ngobrol. Sesekali dia mengangkat tangan Novia dan mengecup punggung tangannya. Novia senyum-senyum sendiri dan tersipu dengan perlakuan Boby. Mungkin dia sudah di buat jatuh cinta kepada suaminya.
Lewat tengah malam mereka baru sampai di rumah masing-masing.
Sampai di rumah, Boby dan Novia langsung masuk ke kamar masing-masing. Rasa kantuk melanda keduanya.
••••
Esok harinya, Boby masih berlibur. Begitu juga dengan Novia.
" Mas, aku nanti boleh pulang ke rumah ibu? Sudah hampir dua minggu aku tidak melihat ibu sama bapak. "
" Iya. Nanti agak siangan ya. Aku antar. "
" Nggak usah mas. Kamu besok kan sudah masuk kerja. Aku sekalian mau ijin, nanti malam mau menginap di rumah ibu. Rencananya nanti malam teman-teman di kampung, mau ngajak ketemu bareng-bareng ngerayain tahun baru yang udah kelewat. "
" Ketemu Candra juga?" selidik Boby dengan wajah cemas. Karena dia dapat informasi dari Remon kalau Candra sedang gencar mencari keberadaan Novia.
" Ya nggak lah mas. Kampung dia dan kampung aku kan beda. Kenapa emangnya kalau aku ketemu Candra?" sekarang giliran Novia yang bertanya dengan menyelidik.
" Nggak boleh. Kamu sama sekali nggak aku bolehin ketemu sama dia. "
__ADS_1
" Iya kenapa?"
" Takutnya kamu berubah pikiran dan..." Boby tidak meneruskan omongannya. Dia memandang ke sembarang arah. Entah kenapa hatinya menjadi kacau membayangkan istrinya bertemu mantan.
" Dan???" desak Novia.
" Dan kamu ninggalin aku. " Boby menunduk.
" Kok bisa punya pikiran seperti itu?"
" Ya kan dulu waktu aku melamar kamu, aku pernah bilang..jika suatu saat kamu tidak bisa memberikan hatimu untukku, dan kamu mau kembali bersama dia, aku....aku akan melepasmu."
Tiba-tiba saja Novia ingin tahu bagaimana hati Boby terhadapnya saat ini.
" Terus sekarang?"
" Entahlah. Setelah hidup bersama kamu, setelah mengenalmu lebih dekat, aku semakin nyaman ada di dekatmu. Perasaan takut kehilanganmu mulai aku rasakan. Aku....aku tidak bisa membayangkan bahwa hidupku kalau kamu pergi dariku. " Boby menarik nafas dalam-dalam.
" Aku tidak akan sanggup melepasmu. Membayangkan kamu bertemu dengan dia aja aku takut." Boby mengusap wajahnya.
" Mas, kamu percaya nggak sama aku?" Boby mengangguk.
Novia mengambil tangan Boby, menggenggamnya.
" Mas, semenjak aku mendengar ijab Kabul yang kamu ucapkan untukku, maka aku sudah meyakinkan hatiku untuk hidup bersamamu. Tidak pernah terlintas di pikiranku aku meninggalkanmu. Mulai hari itu, aku bertekad untuk bisa menerimamu lahir batin. Sekarang aku merasa nyaman ada di dekatmu. Lalu, buat apa lagi aku memikirkan laki-laki lain. "
Boby tersenyum mendengar kata-kata Novia. Dia membalas genggaman tangan Novia.
" Apa itu artinya kamu sudah mencintaiku?" tanya Boby sambil menatap mata Novia dalam.
" Untuk yang itu, aku belum tahu mas. Tapi yang pasti aku nyaman hidup sama kamu. Aku juga nggak pingin pisah dari kamu. Lalu, kamu sendiri bagaimana?" Novia juga memandang mata Boby dalam-dalam.
" Sepertinya.... sepertinya...aku mulai jatuh cinta sama kamu..." Boby memegang pipi kiri Novia. Mengelusnya dengan ibu jarinya.
Tangan kanan Boby kini beralih memegang tengkuk Novia. Mendekatkan wajahnya dengan wajah Novia. Dekat dan semakin dekat, bibirnya menyentuh bibir Novia.
Awal mula ciuman itu hanya seperti kecupan. Karena tidak ada penolakan dari Novia, Boby mulai mel***t bibir Novia pelan. Lama kelamaan lu****n itu semakin memanas. Boby menggigit kecil bibir bawah Novia supaya Novia membuka mulutnya.
Sadar dengan perlakuan Boby, Novia mendorongnya. Nafasnya agak tersengal karena saat Boby menciumnya, dia menahan nafasnya.
" Dua kali bibirku ternoda. " ucap Novia dengan polosnya.
" Maksudnya?" Boby tersenyum licik dan menggoda.
" Kamu udah mengambil ciuman pertama dan keduaku. " ucap Novia sambil merajuk.
" Sepertinya kamu salah. "
Novia malah dibuat bingung dengan perkataan Boby. Dia menautkan kedua alisnya.
" Aku.... sudah mengambil ciuman pertama, kedua, dan ketigamu. "
Novia melepas tangan Boby yang masih melingkar di pinggangnya.
" Kok....?" Novia semakin kebingungan
" Pertama, ketika malam pernikahan Sari. Waktu kita menginap di rumah ibu. Ketika kamu tertidur pulas, bibirmu benar-benar menggodaku. Membuatku ingin merasakannya."
" Apa mas??? Jahat kamu ya..." teriak Novia sambil mengejar Boby yang saat itu langsung berusaha lari dari amukan Novia.
__ADS_1
" Sorry...."
" Dasar cabul....!!! Awas kamu mas...!!" mereka terus saling mengejar.
Tapi tiba-tiba Boby berbalik arah dan mendekap tubuh Novia. Membuat Novia tidak bisa bergerak. Sejenak Boby mendekap tubuhnya. Nafas mereka masih ngos-ngosan.
" Jadi apa benar malam itu adalah ciuman pertamamu?" tanya Boby masih sambil memeluk Novia.
" Siapa bilang?"
Boby menjauhkan tubuhnya dari tubuh Novia tapi tetap melingkarkan tangannya di pinggang Novia.
" Katakan padaku, apa yang aku dengar di Sarangan dulu benar? Apa benar itu ciuman pertamamu?"
Novia tidak menjawab. Dia malah mengalihkan pandangannya.
" Hey, jawab aku. Atau ...kamu mau ciuman keempatmu?" Boby mulai mendekatkan wajahnya kembali.
Novia langsung mengangkat kedua tangannya dan menutup muka Boby dengan kedua telapak tangannya. Tapi Boby malah memegang kedua telapak tangan Novia dan menyingkirkannya dari wajahnya.
" Jawab aku..Atau..."
" Iya...iya... puas?" jawab Novia sewot.
Kedua sudut bibir Boby terangkat membentuk sebuah senyuman.
" Jadi, aku yang mendapatkan yang pertama kali? Benarkah itu? Kamu yakin?"
" Nggak percaya ya udah."
" Bukannya kamu pernah punya pacar sebelumnya? Tapi..."
" Tapi kenapa kok aku belum pernah berciuman gitu? Denger ya mas. Aku memang sudah berpacaran beberapa kali. Tapi untuk ini, aku tidak memberikan pada siapapun. " Novia menunjuk bibirnya.
" Dari awal aku mengenal pacaran, aku sudah bertekad untuk menjaga bibirku. Karena aku hanya akan memberikannya untuk suamiku. Dan sekarang kamu malah sudah mencurinya. " ucap Novia masih dengan mode sewot.
" Hey, aku ini suamimu lho. Berarti sudah benar kan kalau kau memberikan bibirmu untukku."
Novia tampak terdiam.
" Terserah kamu lah mas. Udah ah lepasin. " Novia berusaha melepas tangan Boby dari pinggangnya.
" Aku mau siap-siap. Keburu kesiangan ke rumah ibu'nya. " Novia berjalan menjauh dari Boby.
" Aku antar. "
" Tapi kamu nanti balik pulang ke rumah aja. Nggak usah ikutan nginap di sana. " jawab Novia dari depan pintu kamar.
" Kenapa?"
" Ya kan ntar aku mau ngumpul-ngumpul sama temen aku. Pulangnya pasti sampai malam. Kamu mau ngobrol semalaman sama bapak?"
" Jadi, ketemu sama temen-temen kamu?"
" Jadi lah mas. Aku udah kangen sama mereka. Boleh ya?"
" Boleh. Asal nggak ketemu sama mantan kamu. Terus satu lagi, nggak usah deket-deketan sama ketua perkumpulan itu. "
" Iya .iya...siap pak bos."
__ADS_1
****
bersambung