
Tring.. bunyi notifikasi pesan masuk.
Dengan segera Boby membuka ponselnya.
** Mama besok Sabtu ke Semarang. Kamu kasih tahu calon istrimu buat ketemu mama. Sekalian kamu siapkan segala sesuatu buat acara lamaran. Cincinnya jangan lupa. Mama udah ngabarin om Harso sama tantemu biar ikut melamar.
isi pesan dari sang mama.
** Siap mamaku sayang. balas Boby.
** Mama nggak bisa lama di sana. Jadi usahakan, Sabtu malam mama bisa ketemu pacarmu. Terus Senin malam kita lamaran ke rumahnya.
** Iya ma. Besok Boby langsung menyiapkan semuanya.
Saat itu juga, Boby menelepon Novia untuk kasih kabar.
Tut...Tut...Tut... bunyi sambungan telepon.
" Halo, assalamualaikum, mas "
" Waalaikum salam. Lagi sibuk nggak Nov? "
" Nggak sih mas. Ini baru jam istirahat. Kenapa? "
" Sabtu besok, mamaku mau kesini. Mama pengen ketemu kamu. Kamu ada waktu? "
What? Ketemu calon mertua?? Oh my God.... Ini beneran aku mau nikah??pikir Novia. Sejenak Novia tampak ragu dengan keputusannya.
" Halo, Nov..." panggil Boby karena Novia tidak kunjung menjawab.
" Iya mas, iya.. Insyaallah Novia bisa. "
" Kalau gitu, ntar pulang kerja aku jemput. Kita beli seserahan buat kamu."
" Apa mas?"
" Nanti kamu aku jemput, kita beli cincin dan lain-lain buat acara lamaran. Senin malam mama sama keluarga aku yang lain mau melamar kamu secara resmi. "
" What? Senin malam lusa ini?"
" Hemm!"
" Kok cepet banget ? Nggak bisa di tunda dulu? "
" Mama nggak bisa di sini lama-lama. Jadi biar sekalian udah di sininya. "
" Ta...."
" Ya udah ya Nov...Aku mau nerusin kerja dulu. Nanti aku jemput seperti biasa. " kemudian Boby menutup teleponnya. Sengaja dia potong perkataan Novia. Karena dia tahu past, Novia pasti akan protes.
Apa-apaan ...main tutup aja... gerutu Novia.
•••
Siang menjelang. Seperti ucapannya, siang itu Boby sudah menunggu Novia didepan gerbang sekolah. Berdiri bersender di samping mobil dengan kaki kanan bertumpu ke kaki kiri. Kaca mata hitam bertengger di matanya. Seperti biasanya, dia sangat terlihat tampan. Beberapa siswi perempuan berusaha menggodanya. Tapi si tampan hanya diam saja.
Baru setelah Novia datang, dia tersenyum manis. Mempersilahkan Novia masuk ke mobil. Kemudian dia juga masuk ke dalam mobil.
" Kunci motor, udah kamu titipin satpam? "
Novia mengangguk sambil memasang seatbelt. Setelah Boby juga memasang seatbelt, dia mulai menjalankan mobilnya.
Setelah setengah jam berlalu, akhirnya mereka sampai di mall. Boby mengajak Novia masuk ke mall.
" Kita cari baju dulu. Oke? " ajak Boby. Kembali Novia hanya mengangguk. Tepatnya, dia hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Di toko, Boby sendiri yang sibuk memilih baju untuk Novia. Sedangkan Novia hanya mengangguk dan menggeleng.
Empat potong baju telah terpilih. Boby berniat untuk memilih lagi. Tapi di halang oleh Novia.
" Udah cukup mas. "
" Kita pilih dua stel lagi, oke.."
" Udah mas. Itu udah banyak mas. Di kampungku biasanya dapat dua stel itu udah banyak."
" Itu kan kalau yang melamar tetanggamu sendiri. Beda lah kalau yang melamar itu seorang Boby Permana. "
" His...narsis banget jadi orang. "
Bobypun tertawa.
" Ya udah. Ayo kita cari sepatu sama sandal. "
" Hmm. Aku mau pilih sendiri. " ucap Novia. Khawatir drama seperti tadi terulang lagi.
Kemudian mereka ke tempat sepatu. Novia hanya memilih sebuah sepatu dan sebuah sandal. Boby hendak protes tapi lagi-lagi Novia menolak. Akhirnya Boby mengikuti kemauan sang calon istri.
Boby pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya. Tapi Novia tidak mau mengikuti ke kasir. Dia memilih duduk di bangku yang ada di toko itu.
Di kasir, Boby mendapat godaan dari mbak-mbak kasir.
" Kok belinya pakaian sama sepatu perempuan semua mas. Buat mamanya ya? Saya juga mau mas di beliin. "
" Ini buat calon istri saya. Mbak kalau mau, minta sama calon suaminya mbak sana. Jangan sama calon suami orang. " jawab Boby agak sedikit kasar.
" Mas ganteng...tapi sayang...galak..." dengus si kasir pelan.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Boby berjalan ke arah Novia berada.
" Kenapa tadi di kasir mas? Kok mbak-mbaknya BT gitu. "
Novia menanggapi dengan mencebikkan bibir bawahnya. Boby tertawa melihat ekspresi Novia.
Setelah dari toko baju, mereka ke counter make up. Tentu saja kalau urusan make up, Boby tidak ikut-ikutan. Mana ngerti dia sama urusan make up. Dia membiarkan Novia memilih sendiri.
Setelah sibuk memilih make up, kini tinggal yang terakhir, ke toko perhiasan. Tentu saja Boby mengajak Novia ke toko perhiasan no 1 di mall tersebut.
Membaca nama toko yang mau di masuki, Novia menghentikan langkahnya dan menarik lengan baju Boby. Seketika Boby menoleh ke belakang.
" Kenapa Nov? "
" Jangan di sini deh mas belinya. Ke toko yang lain aja. "
" Kenapa emangnya? Perhiasan di sini kualitasnya nomer satu lho. "
" Iya tahu...makanya nggak usah beli di sini. Mahal. "
Boby memutar tubuhnya ke arah Novia. Dia tersenyum dengan tingkah guru yang ada di depannya ini. Emang kelewat polos ato gimana Novia ini. Kalau cewek lain, pasti akan berbinar wajahnya diajak membeli perhiasan di toko ini. Tapi tidak dengan Novia. Dia terlihat malas.
" Hei, yang beli siapa?"
" Mas. "
" Ya udah ayo..Aku pengen beli di sini. Kamu tenang aja, beli perhiasan di sini nggak bakal bikin aku jadi gelandangan. Aku akan tetep bisa menghidupi kamu kelak."
" Ck ! " Novia masih tetap diam tak bergeming. Akhirnya, Boby menarik tangannya untuk masuk ke dalam toko.
Di dalam toko, Novia hanya diam. Boby yang sibuk memilih perhiasan. Mulai dari kalung, gelang, anting, dan cincin.
" Nov, ayo dong kamu yang milih. Ini besok kamu yang makai. Jadi kamu pilih mana yang kamu suka. "
__ADS_1
Akhirnya karena Boby terus memaksa, Novia mau memilih perhiasan tersebut. Karena mau ngerjain Boby, sengaja Novia milih satu set perhiasan yang harganya cukup fantastis. Memang model itu terlihat sangat elegan.
" Aku mau yang itu. Nggak usah milih satu-satu..Dapet satu set langsung. Udah ada cincinnya juga. "
" Oke...Mbak, kita mau ambil yang model itu." ucap Boby ke pegawai di situ.
" Ini pak. Mbaknya bisa di coba dulu cincinnya. Pas apa tidak. Kalau tidak, bisa kita buat ulang sesuai ukuran jari mbak. "
Novia menerima cincin itu dari pegawai toko. Dia mencobanya. Ternyata cincinnya kebesaran.
" Kebesaran mbak. Nggak jadi yang ini deh. " ucap Novia. Dia merasa bersalah telah mengerjai Boby.
" Mbaknya tadi kan bilang bisa di buat ulang sesuai dengan jari kamu. "
Novia menggelengkan kepala.
" Mbak, kita tetep ambil yang ini. Cincinnya aja di ganti ukurannya ya. " ucap Boby ke pegawai toko. Pegawai toko itu mengiyakan dan segera membuat nota pembelian.
" Mas, aku nggak jadi mau perhiasan yang tadi. Pilih yang lain aja. "
" Kenapa? Tadi katanya kamu suka yang itu. "
" Nggak. Tadi aku asal ngomong aja. Perhiasan tadi harganya paling mahal di sini. Aku sengaja mau ngerjain kamu. " jelas Novia sambil menunduk.
Boby tersenyum mendengar penjelasan Novia. Sebenarnya dia sudah tahu kalau Novia hanya mengerjainya. Secara tadi di ajak masuk ke toko ini aja nggak mau karena mahal-mahal perhiasannya.
Tak lama kemudian, pegawai toko itu menyerahkan nota pembelian. Benar saja harga perhiasan tadi fantastis. 150 juta. Wow...
Boby mengeluarkan kartu goldnya. Melihat Boby mau menyerahkan kartu itu ke pegawai toko tadi, Novia melarangnya. Novia memegang tangan Boby yang sedang memegang kartu debit goldnya sambil memandang Boby dan menggelengkan kepalanya.
Boby menanggapi dengan senyuman. Dia ganti memegang tangan Novia yang sedari tadi memegang tangannya dengan tangan yang satunya. Kemudian dia menyerahkan kartu tersebut ke pegawai toko.
Pembayaran selesai. Pegawai toko memberikan perhiasan tadi ke Boby, meninggalkan cincinnya. Karena cincinnya harus di buat ulang ukurannya.
" Mbak, cincinnya bisa jadi besok lusa kan? Soalnya hari Senin mau dipakai." tanya Boby.
" Iya pak. "
Kemudian mereka berdua meninggalkan toko perhiasan tersebut.
Novia berjalan di belakang Boby. Dia masih menunduk. Sungguh, dia benar-benar tidak enak hati terhadap Boby.
" Kita makan dulu ya.. Udah hampir malam." ajak Boby.
" Mas, kembaliin aja perhiasannya. Kita beli yang lain aja. " rengek Novia.
Boby pura-pura tidak mendengar. Dia terus berjalan menuju tempat makan yang ada di mall.
Ketika sampai di tempat makan, Novia masih tetap merengek meminta perhiasan tadi di kembalikan.
" Mas, kalau mas malu buat balikin, Novia aja yang balikin. Siniin nota sama perhiasannya." ucap Novia sambil menyodorkan tangannya.
" Besok Senin aku kasih ke kamu nota sama perhiasannya. Kamu sabar ya. " jawab Boby bercanda.
" Mas, jangan becanda aja. Beneran bawa sini. Dikembalikan aja itu. Novia nggak mau perhiasan yang mahal-mahal. Yang biasa aja." ucap Novia tapi Boby tetap tak bergeming. " Mas....ya? " lanjut Novia.
" Nov, sebenarnya aku tadi udah tahu kalau kamu cuma pengen ngerjain aku. Tapi memang dari awal aku berniat beliin perhiasan ini buat kamu. Bagiku, perhiasan ini nggak mahal. Masih mahalan waktu deketin kamu. Lama-lama kalau kamu nggak nerima lamaran aku, aku bisa gagal jantung. Biaya operasi, trs cangkok jantung, biaya pemulihan, bisa jauh lebih mahal malah. " Boby menjelaskan sambil tertawa kecil.
" Tauklah mas...capek ngomong sama kamu. "
Akhirnya Novia mengalah. Boby pun tersenyum sambil mengusap pelan kepala Novia.
****
bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya kak....😘🥰🥰🙏🙏