
Mohon maaf ya pembacaku, kemarin author tidak update... padahal author janji bakal update tiap hari...
Maaafffff banget... Kemarin author banyak kerjaan...🙏🙏🙏
________________________________________________
" Antarkan dua stel baju ke rumah istriku. " perintah Boby ke anak buah kepercayaannya selain Andre melalui ponselnya.
" Siap pak. Mau baju santai apa resmi? "
" Santai aja. Tapi jangan celana pendek. Celana panjang. Sekalian tanyakan sama Andre, tiket pesawat untukku sama istriku sudah ready apa belum. "
" Iya pak. "
" Oiya tanyakan juga, tiket pesawat untuk mertuaku sudah dapat apa belum. Kalau sudah, nanti suruh bawa kemari sekalian mengantarku ke bandara."
" Iya. Ada lagi pak?"
" Mobil yang aku percayakan ke kamu gimana?"
" Kemarin saya sudah ke sorum, tapi untuk warna yang bapak mau, lagi kosong. Menunggu kiriman datang."
" Kamu urus. Yang penting ketika aku kembali ke kota ini, mobil sudah ada di rumah. "
" Iya pak. Saya usahakan. "
" Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. "
Kemudian Tut...Tut...Tut... panggilan di akhiri.
Setelah melakukan panggilan telepon, Boby berjalan masuk ke dalam rumah kembali. Di dalam rumah, Boby melihat Novia yang hendak masuk kamar.
" Nov, kamu udah merapikan baju kamu buat ke Jakarta?"
" Belum. Kan masih besok berangkatnya. "
" Kita akan berangkat nanti sore. Bapak, ibu, sama keluarga yang lain yang berangkatnya besok. "
" Nah, kok baru bilang. Aku tahunya kan kita berangkat bareng-bareng besok. Ini udah jam segini. Belum siap-siap sama sekali. " ucap Novia sambil menggerutu kesal sama suaminya.
" Ya udah si... nggak usah pake cemberut gitu. Mending buruan siap-siap. Ayo, aku bantuin." sahut Boby sambil mendorong Novia untuk masuk ke dalam kamar.
••••
Sore telah tiba. Novia dan Boby sudah bersiap-siap untuk berangkat. Remon, asisten kedua Boby, yang akan mengantar ke bandara juga sudah tiba di sana.
Novia dan Boby pun berpamitan dengan keluarga besarnya. Tapi ada sedikit insiden kecil terjadi di depan rumah.
Seorang remaja laki-laki berdiri di depan gerbang rumah Novia. Remon yang melihat, langsung menegurnya.
" Mau cari siapa dik?"
" Maaf bang. Bu Novia ada? "
" Oh, muridnya Bu Novia? Tunggu sebentar, saya panggilkan. Remon berlalu dari hadapan remaja tadi.
" Maaf Bu, ada yang mencari. " ucap Remon ke Novia.
" Siapa pak? eh mas...eh bang..." tanya Novia ke Remon sambil menggaruk tengkuknya karena bingung harus manggil apa ke Remon.
" Panggil nama aja. Namanya Remon. " sahut Boby.
" Ih, ya nggak sopan lah. "
" Ya udah panggil pak Remon. Beres. "
" Tapi saya belum setua itu kali bos..." bantah Remon.
__ADS_1
Boby mendelik kan matanya. " Ya udah terserah kamu mau manggil apa. Yang penting jangan mas. Cuman aku aja yang kamu panggil mas. " lanjut Boby pada akhirnya.
Remon adalah seorang laki-laki yang cukup tampan. Tidak kalah tampan dari bosnya. Tubuhnya gagah, dan atletis. Dia jago dalam karate. Sebelum diangkat menjadi asisten Boby, dia adalah bodyguard Boby dari Jakarta.
" Iya, Mas..." Novia sengaja menekan kata mas. " Siapa tadi bang, yang nyari ?"
" Nggak tahu Bu, kayaknya sih muridnya ibu. " jawab Remon. Padahal dia sudah tahu siapa yang mencari istri dari bosnya ini. Sengaja dia bilang tidak tahu, karena dia takut ada bom yang akan meledak.
Kemudian Novia keluar dari rumah diikuti Boby di belakangnya.
Wah, bakal seru. batin Remon dalam hati sambil tersenyum licik.
Novia terkejut melihat siapa yang datang. Dennis. Bobypun tak kalah kagetnya.
" Dennis, ada apa?" tanya Novia menghampiri. Boby tak mau ketinggalan ketika dia mengetahui siapa yang mencari istrinya.
" Mau ketemu ibu. " jawab Dennis sambil melirik ke arah Boby.
" Bisa bicara berdua Bu?" lanjutnya.
Boby merasa tersindir. " Maaf boy, ada perlu apa kamu sama istri saya?" sengaja Boby menekan kata istri ketika memotong omongan Dennis.
Perasaan tak nyaman mulai hinggap di hati Boby. Dia seakan tak rela istrinya berbicara hanya berdua dengan pria lain. Apalagi dia tahu siapa laki-laki itu.
" Ada apa Dennis? Bilang aja di sini.."
Dennis terlihat ragu untuk berbicara. Dia menatap ke arah Boby. Dennis menghela nafas panjang. Dia tiba-tiba jadi tidak percaya diri setelah beradu pandang dengan Boby.
" Bu, saya dengar ibu sudah menikah?"
" Iya. Saya suaminya. " sahut Boby tanpa memberi Novia kesempatan untuk menjawab.
Novia menatap Boby sambil geleng-geleng kepala. Tidak habis pikir dengan sikap suaminya.
" Benar itu Bu?" tanya Dennis kembali.
Novia mengangguk.
" Boy, kamu itu harus introspeksi diri. Usia kamu berapa? Dia ini gurumu lho. Nggak sepantasnya kamu bicara seperti itu." ucap Boby dengan nada emosi hampir kehilangan kesabaran.
Novia memegang tangannya menenangkan. Di tatap istrinya seperti itu, sepertinya dia harus diam.
" Dennis, ibu sudah bilang sama kamu kan? Ibu sudah menjelaskan semua. Kehidupan kita berbeda. Sangat jauh berbeda. Kamu sebaiknya mencari kehidupan yang sama dengan kamu. " Novia menjeda sebentar ucapannya. Kemudian melanjutkannya " Soal pernikahan saya, benar sekali. Saya menikah kemarin. Dan ini, suami saya. " sambil menggandeng tangan Boby.
Boby terlihat sangat berbangga hati ketika sang istri menyebutnya suami.
Dennis menunduk. Tidak berani menatap Novia dan juga Boby. Hatinya terasa sangat sakit.
Kemudian dia berkata " Saya mencintai ibu sudah hampir tiga tahun. Kenapa ibu tidak bisa melihat saya? Kenapa ibu bisa melihat dia? Yang baru ibu kenal? "
" Dennis, jodoh itu Tuhan yang mengatur. Kalau memang ibu berjodoh dengan dia, walaupun bertemu cuma satu hari, pasti akan menikah juga. " jelas Novia. Boby masih tetap tersenyum mendengar kata-kata Novia.
" Ini nggak adil Bu..." ucap Dennis dengan suara bergetar menahan tangis.
" Dennis, maaf. Hanya itu yang bisa ibu ucapkan. Ibu tidak tahu harus berbicara apa. "
Tanpa berpamitan, Dennis berlalu meninggalkan rumah Novia. Dia melajukan motornya dengan kencang. Novia hanya diam tanpa berbuat apa-apa.
Boby memegang bahu Novia kemudian menggandengnya.
" Kita berangkat sekarang. " ajak Boby
Kemudian mereka berangkat ke bandara diantar oleh Remon.
Tiga puluh menit kemudian, sampailah mereka di bandara. Novia nampak bingung.
" Loh, kok ke bandara mas? Bukannya ke terminal?" tanya Novia kebingungan.
__ADS_1
" Emang ke bandara. Masak naik pesawat kok lewat terminal. Nggak muat istriku..."
" Tahu kalau pesawat itu adanya di bandara. Cuman aku pikir, kita ke Jakarta nya naik bus."
" Naik bus lama. Bisa semalaman kita di perjalanan. Tapi kalau naik pesawat cepet. Paling empat puluh lima menit nyampe. "
Novia manggut-manggut. Tapi raut wajahnya berubah. Ada ketegangan di sana. Bobypun melihatnya.
" Kamu kenapa? Sakit? "
Novia hanya menggeleng.
" Pak bos, kopernya sudah ready. Sudah saya kasihkan ke petugas. " sela Remon.
" Sipp. Andre gimana? Udah sampai sini?"
" Sudah. Tadi pak Andre bilang sudah ada di pintu keberangkatan. "
" Oke.. Remon, kantor gue serahin ke elo. Awasi juga pekerja di lapangan. Gue berangkat dulu. " pesan Boby kepada Remon.
" Siap pak bos. Happy wedding." jawab Remon sambil tersenyum ke arah Boby.
Boby menjawab dengan anggukan sambil menepuk pundak Remon, kemudian dia berjalan diikuti oleh Novia.
Ketika sampai di pintu keberangkatan, Novia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia menarik lengan kemeja Boby. Bobypun jadi ikut berhenti. Dia menengok ke Novia. Kemudian mengernyitkan kedua alisnya.
" Kamu kenapa? " Tanyanya lembut.
" Aku...aku... takut.." jawab Novia gugup.
" Hey, takut kenapa?" tanya Boby langsung membalikkan badan menghadap Novia.
Novia berjinjit dan berbisik ke telinga Boby " Aku belum pernah naik pesawat. "
Kemudian dia tertunduk malu. Hampir saja Boby tertawa melihat kelakuan istrinya. Tapi dia tahan tentu saja. Khawatir sang istri tersinggung terus marah-marah.
" Nggak pa-pa. Kan ada aku. " jawab Boby sambil memegang tangan Novia. Dan benar saja tangan Novia tampak mengeluarkan keringat dingin.
Kemudian Boby mengelus tangan itu menenangkan.
" Kita naik bus aja yuk. " pinta Novia merengek.
" Nggak pa-pa Novia. Semua akan baik-baik saja. "
" Kalau aku nanti mabuk udara gimana?" tanya Novia kembali sambil menggigit kecil kuku tangannya. Semakin gemas rasanya melihat Novia yang polos seperti ini. Ingin rasanya Boby mendekapnya.
Boby tersenyum agak lebar hampir tertawa. " Nggak bakalan. " jawabnya.
Melihat Boby yang mau tertawa, Novia memperlihatkan wajah BTnya.
" Mau ngetawain aku ya? Karena aku udik..."
Melihat Novia marah, Boby mengusap kepala Novia dan berkata " Nggak, siapa yang ketawa...siapa yang bilang kamu udik..?"
Novia terdiam masih dengan wajah marah campur takut.
" Ya udah ayo. Ntar ketinggalan pesawatnya lagi. Andre udah masuk dari tadi. " ucap Boby dan menggandeng tangan Novia berjalan menuju pesawat.
Semakin dekat dengan badan pesawat, ketakutan Novia menjadi lebih besar. Merekapun masuk ke dalam pesawat. Terlihat Andre sudah duduk di kursi sebelah kursi Boby dan Novia.
Boby menyuruh Novia duduk di dekat jendela. Dia bilang biar Novia bisa sambil melihat pemandangan di luar.
Tak berapa lama, terdengar pramugari memberitahukan kepada segenap penumpang untuk mengenakan seatbelt karena pesawat akan segera take off.
Novia di serang kepanikan kembali. Setelah di bantu sang suami memasang seatbelt, Novia kembali meremas - remas jemarinya sambil memejamkan matanya dan berdoa.
Melihat kepanikan Novia, Boby menggenggam tanganmya. Berusaha menyalurkan ketenangan disana.
__ADS_1
****
bersambung